Kebohongan

1100 Words
“HEI, apakah kalian sudah mendengar apa yang terjadi pada Oriana?” tanya Diandra pada teman-temannya. Kini, mereka tengah berkumpul di sebuah kafe bergengsi dengan desain interior minimalis dan musik jazz yang mengalun di ruangan.  Diandra adalah gadis cantik berambut panjang dengan kulit yang bersih dan penampilan menarik. Dia adalah salah satu teman Oriana di SMK.  Perkataan gadis itu sukses membuat Bastil, pemuda yang paling pendiam di antara mereka, mengangkat wajah.  Hannah, gadis berambut pendek yang terlihat ceria itu mengangguk beberapa kali. “Aku benar-benar merasa kasihan kepadanya. Kehilangan bibinya dan diusir keluar dari rumah.”  Pemuda berparas tampan dengan rambut ikal dan hidung mancung yang ada di depan mereka adalah Gray. Dia mengalihkan tatapan dari layar ponselnya, lantas mengangkat alis. “Apa ini?” katanya. “Apa yang terjadi dengan Oriana?”  Diandra dan Hannah tampak terkejut, tidak percaya dengan apa yang baru mereka lihat.  “Mustahil!” kata Hannah.  “Astaga, kau belum mendengarnya?” Diandra menambahkan. “Kemarin, bibi Oriana meninggal, dan Oriana diusir dari rumah oleh salah satu keluarga bibinya.”  “Wah, aku tidak memercayainya,” jawab Gray.  “Itu benar-benar terjadi,” kata Hannah dengan yakin. “Dia benar-benar dalam masalah. Bayangkan, kau tidak memiliki siapa pun dan harus berpusing-pusing memikirkan apa yang akan kau makan besok. Jangankan membeli baju, kau akan kepusingan hanya untuk membeli listrik. Tidak ada lagi perawatan di salon, liburan ke luar kota, dan makan enak setiap hari.“  Diandra mengangguk bersemangat, bergidik ngeri membayangkan seluruh penuturan Hannah.  “Terlebih jika kau mengingat bagaimana sikap adiknya.”  “Maksudmu Haris?” Hannah bertanya.  “Ya, apakah kau ingat apa yang dia lakukan saat kita berkunjung ke rumah Oriana?”  Hannah mengangguk cepat. “Perbuatannya sungguh keterlaluan.”  “Apa?” Gray bertanya, tidak sabar hanya dengan menjadi pendengar. “Mengapa kalian tidak langsung menceritakannya saja?”  Diandra dan Hannah bertukar pandangan, seolah bertanya siapa yang akan menjelaskan.  “Saat itu, kami sedang bermain di rumah Oriana, dan tiba-tiba datang seorang laki-laki. Dia langsung marah-marah seperti orang kesetanan, bahkan dia tidak mendengar saat Oriana menegurnya.”  Mendengar itu, Gray membiarkan tangannya terangkat ke dagunya. “Dia benar-benar dalam masalah. Bagaimana pendapatmu, Gabriel?”  Pemuda berambut hitam pekat dan berwajah dewasa dengan alis tebal itu menatap mereka dengan bingung. “Apa?”  “Kau, kan, mantan pacar Oriana,” kata Hannah. “Apa kau tidak merasa kasihan atau bagaimana?”  Yang ditanya bergerak gusar di kursinya. “Aku merasa kasihan. Karena itu, sebaiknya kau berhenti mengirim foto tentang kegiatan kita, Hannah,” ujar Gabriel sambil melirik gadis itu. “Itu hanya akan membuat Oriana merasa lebih buruk.”  Hannah merengut sebal. “Baiklah, aku tidak akan melakukannya.”  “Bastil juga sering mengajak Oriana jika kita berencana pergi ke suatu tempat.” Gray menjentikkan jari pada sosok yang dimaksud.  “Tunggu, jadi kau yang membocorkan kegiatan kita pada Oriana?” Hannah menanggapi dengan terkejut.  Bastil hanya mengerutkan dahi dengan tenang. “Memangnya kenapa?”  “Waahh.” Hannah menggeleng. “Aku tidak percaya seorang pendiam sepertimu ternyata benar-benar naif.”  “Dia pasti merasa tidak enak jika terus menolak ajakan itu.” Diandra menjelaskan. “Karena itu, sebaiknya kita berhenti mengajaknya ke mana pun, toh dia akan menolak karena pekerjaan pada akhirnya.”  Semua orang mengangguk terhadap ide itu. Diandra benar. Sebelumnya, mereka telah banyak mencoba, tetapi terus mendapat penolakan dengan alasan yang sama.  “Omong-omong, bagaimana kalau selanjutnya kita menyewa sebuah villa?” ujar Hannah dengan berseri.  “Salah satu kenalanku punya villa yang mewah di luar kota.” Gabriel mengeluarkan ponsel keluaran terbaru yang ia dapat pagi ini. “Aku akan mencoba menghubunginya.”  “Kalau begitu, aku akan segera mendaftar film apa saja yang bisa kita tonton.” Diandra menyarankan, sementara Gray menyambut ide itu dengan bersemangat. Hanya Bastil, yang memilih menatap keluar jendela. Dalam hati bertanya-tanya apa yang sedang Oriana lakukan sekarang.  Flashback end ….  “Pekerjaan ini tidak sulit,” kata seorang pria setelah Oriana duduk. “Kau hanya perlu menemani klien dan melayani mereka layaknya seorang raja. Sebelum itu, boleh aku melihat kemampuanmu?”  Oriana segera berdiri seperti yang diminta dan mendekati pria itu. Dia meraih stik biliar di sisi meja, membidik, dan memukul bola yang tersuusn rapi di atas meja. Satu per satu, bola berbagai warna itu memasuki lubangnya tanpa cacat.  Oriana segera merasa puas saat melihat pria itu terpukau.  “Umurmu … dua puluh satu tahun, benar?”  “Benar, seperti yang tertulis dalam CV-ku,” jawab Oriana, bohong. Pekerjaan ini satu-satunya harapan yang Oriana punya. Jika dia kehilangannya hanya karena umur yang tidak cukup, dia tidak tahu bagaimana harus memenuhi kebutuhan hariannya.   “Baik, kau bisa mulai dan melayani klienmu besok.”  Oriana langsung tersenyum lebar. “Benarkah? Aku akan melakukannya dengan sangat baik!”  Pemuda itu tersenyum, kemudian berjalan mendekat. “Jangan lupa, kenakan pakaian yang menarik,” bisiknya sambil mengedipkan sebelah mata.  Oriana merasa tidak nyaman, tetapi tetap menunjukkan senyum ramah. Ia harus terbiasa dengan perlakuan seperti ini dan menjadi gadis yang penurut mulai sekarang.  Tubuh Oriana sedikit terlonjak saat seseorang membuka pintu ruangan. Dia melihat seorang pria yang jangkung berdiri di ambang pintu, tampak terkejut. Oriana belum pernah melihat pria setampan dirinya, dengan gaya rambut sedikit berantakan dan jaket kulit hitam yang tampak jantan. Walau penampilannya terlihat menarik, Oriana mendapat kesan menyeramkan dari auranya.  “Oh, apakah sudah waktunya?” tanya pria yang menyeleksi Oriana. “Aku akan segera ke sana.”  Oriana masih berdiri dengan pandangan terpaku ke arah pintu setelah keduanya pergi. Bertanya-tanya siapa pria yang baru saja ia lihat.  “Ini hanya perasaanku saja, atau pria tadi memang menatapku dengan pandangan aneh?” gumamnya, kemudian mengangkat bahu tidak peduli.  “Terserahlah. Yang penting, aku berhasil mendapatkan pekerjaan ini!” Dia tersenyum semringah.  Di sisi lain, pemilik tempat hiburan malam itu tersenyum licik begitu berjalan di sisi Adam.  “Dia adalah karyawan baru. Bagaimana? Cantik, bukan?”  Adam hanya menanggapi dengan dehaman pendek.   “Kalau kau tertarik, aku bisa mengaturnya dan membuatmu menjadi orang pertama yang dia layani,” goda pemiliki bar. “Seperti yang kau tahu, karyawan baru selalu lebih menarik. Mereka kikuk dan sangat canggung, benar-benar hiburan yang menarik.”  “Tidak, tidak perlu,” kata Adam. “Aku hanya datang untuk mengurus bisnis kita.”  Pemilik klub malam tersebut mengernyit. Aneh. Padahal, dia sengaja menawarkan karena melihat Adam menatapnya dengan sorot kaget. Selama ini, tidak ada satu pun karyawannya yang berhasil menarik perhatian Adam, bahkan meski dia memaksa Adam untuk mendapatkan satu wanita, pria itu hanya memperlakukannya dengan dingin. Tetapi keadaan berubah sekarang dan dia berani bersumpah jika Adam menunjukkan reaksi yang berbeda kepada Oriana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD