Pengalaman Pertama

1468 Words
Hari pertama Oriana bekerja, gadis itu bangun pagi-pagi buta demi menyiapkan sarapan sekaligus makan malam untuk Haris. Kemudian dia pergi menggunakan angkutan umum saat suasana masih sangat sepi.   Parahnya, stok barang datang hari ini dan dia harus bekerja ekstra untuk mengangkut dan mendata hingga punggungnya hampir remuk saat ia dalam pekerjaan di bar.  Di sana, gadis itu bertemu rekan kerjanya yang bernama Aul.  “Kamu pegawai yang baru, ya?” Dia berkata ramah. “Sini, aku tunjukkin cara kita bekerja. Pertama, kau harus mengganti pakaianmu?”  Oriana memandang dirinya sendiri dan memandang bingung ke arah wanita yang bernama Aul itu. “Tapi, aku baru saja ganti baju,” katanya dengan jujur. Setelah ia datang, ia segera ke ruang ganti dan memakai busana terbaik dari lemarinya.  Tetapi Aul justru mengernyitkan alis dengan tidak setuju.  “Baju itu?” katanya. “Tidak akan ada yang tertarik padamu dengan tampilan seperti itu. Sudah, cepat ganti sama yang ini.”  Tanpa berkata lagi, Oriana segera beranjak dan ternganga begitu melihat dirinya di depan cermin.  Pasalnya, baju pemberian Aul terlihat sangat terbuka dan menonjolkan beberapa bagian tubuhnya.  “Nah, seperti itu, kan, cantik,” puji Aul. “Yuk, kita langsung ke ruangannya.”  Ruangan tempat bermain yang disebut oleh Aul berupa ruangan berisi sofa dengan meja biliar besar di tengah ruangan. Pencahayaan kamar itu tampak remang-remang, tetapi Oriana bisa membayangkan akan seramai apa jika lampu diskonya dinyalakan.  “Pekerjaan kita mudah kok.” Aul mulai menjelaskan. “Nanti, setelah ada tamu, kita akan menemani mereka bermain dan melayani mereka. Mungkin, di awal kamu akan merasa kesulitan, tapi lama-lama pasti terbiasa dengan pekerjaan ini.”  Itu bukan pekerjaan sulit, tetapi menemani bermain biliar dengan pakaian seperti ini adalah hal yang berbeda.  “Ada pertanyaan?”  “Tentang ini ….” Oriana berkata dengan ragu. “Jika salah satu tamumencoba melakukan hal buruk, apa yang harus kita lakukan?”  “Ah, soal itu,” Aul menjawab sambil berjalan keluar dan Oriana mengikutinya. “Pekerjaan kita memang sering dipandang sebelah mata, tetapi klien kita kebanyakan orang kaya kok. Mereka selalu tahu cara menjaga sikap.”  Jawaban itu membuat Oriana bisa bernapas lega. Itu artinya pekerjaan mereka tidak seburuk yang mereka bayangkan.  Tiba-tiba keduanya berhenti saat berpapasan dengan seorang pria yang mengenakan jaket kulit hitam. Dia adalah pria yang Oriana temui kemarin dan Aul menundukkan wajah saat dia berjalan melewati mereka.  “Apakah dia pemilik tempat ini?” tanya Oriana.  “Bukan.” Tiba-tiba wanita itu berbisik seakan mereka sedang membahas topik terlarang.  Oriana langsung menoleh dengan heran. “Lalu, kenapa dia bisa bebas keluar masuk saat kita belum buka? Dia juga datang menerobos kemarin.”  “Hah?” Aul tampak kaget. “Kamu sudah pernah bertemu dia? Kapan? Di mana? Apa yang kalian lakukan?”  Oriana berkedip cepat, kaget dengan pertanyaan beruntun Aul.  “Di … sini? Dia datang saat aku wawancara kemarin,” jawab Oriana, semakin penasaran. “Memangnya, dia siapa?”  “Namanya Adam. Dia adalah tamu spesial,” bisik Aul.  Adam.  Oriana kembali menoleh pada pria itu yang kini hanya terlihat punggungnya di ujung koridor.  Tidak heran dia bisa masuk dan keluar sesuka hati.  “Tapi, kamu jangan berharap,” Aul berkata lagi. “Dia tidak pernah menyewa satu pendamping pun saat bermain, dan sikapnya sangat dingin. Dengar, aku sudah bekerja di sini selama dua tahun, dan tidak pernah berbicara sepatah kata pun dengannya, kecuali saat dia ingin membayar biaya administrasi.”  “Dia sedingin itu?” tanya Oriana kaget dan Aul mengangguk dengan yakin.  “Pokoknya, belum pernah ada dari kami yang berhasil memikatnya.”  Oriana mengangguk mengerti. Pria bernama Adam itu memang menunjukkan sikap dingin yang sama saat mereka bertemu. Oriana sudah mencoba tersenyum, tetapi dia hanya memalingkan wajah.  “Sudah, ayo kita bersiap. Sebentar lagi tempat ini akan menerima pengunjung.”  Dan apa yang dilakukan mereka adalah menunggu di depan meja resepsionis. Beberapa tamu datang dengan membawa rekan mereka masing-masing, dan Oriana nyaris khawatir dia tidak akan mendapat satu tamu pun saat tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka.  “Anda akan memakai ruangan selama berapa jam, Tuan?” tanya Aul, melayani pemesanan ruangan dengan ramah.  “Dua jam saja.”  “Tampaknya anda datang seorang diri. Apakah anda ingin ditemani pemandu yang disediakan dari kami?” Aul kembali menawari.  Saat itu, pria asing itu menatap Oriana dengan senyuman aneh. “Boleh, aku ingin mengambil dia,” katanya sambil menunjuk Oriana.  Gadis itu terlihat sedikit panik, sementara Aul hanya menatapnya dengan jahil.  “Baiklah, di kamar nomor 06.”  Dan begitulah Oriana berakhir memasuki ruangan kelap-kelip bersama pria yang tidak ia kenali.  “Tenang, Oriana,” batin gadis itu. “Ini semua demi Haris.”  Akhirnya, gadis itu mengembuskan napas panjang dan tersenyum setelah menutup pintu.  “Aku akan segera menyusun bola biliarnya.” Dia menawarkan, tetapi pria asing itu justru kembali tersenyum aneh dan mengambil tempat duduk di atas sofa.  “Apa kau pegawai baru di sini?”  Oriana berdiri di sisi meja biliar dan mengangguk.  Dia tertawa. “Kalau begitu, kita harus bersantai dahulu. Sini, duduk di sini.” Dia menepuk sofa di sisinya, dan Oriana bisa merasakan aura yang mengancam dari sikapnya.  Dengan terpaksa, Oriana duduk di sisinya, menyisakan beberapa senti jarak di antara keduanya.  Tetapi pria itu justru bergeser dan membuat kaki mereka bersentuhan.  “Aku memang datang ke sini untuk bermain biliar,” bisiknya, mulai mendekatkan wajah pada Oriana. “Tapi ada sesuatu yang lebih menyenangkan dari biliar dan aku bisa menunjukkannya padamu. Bagaimana?”  Dan Oriana terlonjak berdiri saat pria itu menaruh tangannya di atas pahanya.  “Maaf, Anda tidak diperbolehkan melakukan itu,” kata Oriana, berusaha terlihat sopan meski sangat panik.  “Apa ini?” Dia berdiri dan mencengkeram kedua bahu Oriana. “Mengapa aku tidak bisa melakukannya? Kau pasti akan berterima kasih juga.”  Dan tepat sebelum pria itu mendesaknya, Oriana segera mendorong dan berlari keluar ruangan. Pria itu mengejar di belakang dan Oriana berusaha bersembunyi dengan memasuki salah satu ruangan, tetapi pria itu mengetahuinya dan menerobos ke dalam ruangan yang sama.  “Kau tidak akan bisa kabur dariku!” kecamnya, hingga keduanya berhenti saat menyadari seorang pria di dalam ruangan yang sedang membuang air kecil.  Oriana membelalakkan mata.  Dia adalah Adam.  Bodoh, dia baru saja memasuki tempat paling buruk: toilet pria.  Adam melirik keduanya dengan canggung, kemudian kembali berfokus pada kegiatannya.  “Apa yang kau lakukan? Ayo kita kembali ke ruangan,” ajak pria itu.  Oriana menggeleng dan menatap Adam, tetapi pria itu hanya terdiam, bertindak seolah tidak peduli. Dan Oriana segera kehilangan harapan saat pria berengsek itu menarik tangannya.  “Tolong--!”  “Kami baik-baik saja.” Pria itu menyela, lalu menarik tangan Oriana dengan paksa.  Keduanya terkejut saat sebuah tangan lain menggenggam mereka, dan melepas paksa cengkeraman pada tangan Oriana.  “Sepertinya tidak,” kata Adam, mengambil alih tangan Oriana dan berdiri di sisinya.  “Apa yang kau lakukan?!” Pengunjung itu menyalak. “Aku sudah memesannya! Jika kau melakukan ini, aku akan melapor pada pemilik tempat ini,” ancamnya.  Tetapi Adam tidak terlihat goyah, justru menatap pria itu dengan datar.  “Bagus sekali,” katanya, “Kebetulan juga aku memiliki nomor pemilik tempat ini. Silakan.” Dia menawarkan ponsel hitamnya. “Silakan beritahu dia, sejelas-jelasnya, katakan pembelaanmu.”  Pria itu tidak berkutik.  “Apa yang kau lakukan? Cepat bicara padanya.”  Pria itu menatap Oriana dan Adam bergantian. Sekaan menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan.  “Tunggu apa lagi? Kau ingin melaporkan wanita ini pada bosnya, bukan?”  Alih-alih bersuara, pria itu justru menatap tajam pada Oriana dan mendecak sebelum pergi keluar dengan kesal.  Oriana segera bernapas lega setelah pria itu pergi.  “Terima kasih,” katanya sambil menunduk, merasa sangat malu dengan penampilannya. Hari ini adalah hari pertama dia bekerja dan dia sudah tertiban sial. Dia pasti terlihat sangat buruk di mata Adam.  Adam tidak menjawab. Hanya menatapnya dari ujung kepala hingga ujung jari kaki, kemudian melepaskan jaket kulitnya. Baju Oriana tampak berantakan  “Pakai ini, dan kembalilah besok,” katanya. Ini kali pertama Oriana mendengar suara berat itu.  Tetapi gadis itu menggeleng berulang kali. “Aku harus kembali bekerja. Ini adalah hari pertamaku. Meski tamu pertamaku bukan pria yang baik, sepertinya tamu yang kedua akan bisa bersikap lebih sopan.”  Namun, Adam justru memakaikan jaketnya di sekitar bahu gadis itu.  “Kau bisa kembali besok. Aku akan menghubungi pemilik tempat ini dan menjamin kau tidak akan kehilangan pekerjaanmu.”  Itu tawaran yang sangat bagus, dan nyaris membuat Oriana menangis. Hingga akhirnya gadis itu menundukkan kepala dengan tangan yang gemetaran.  “Terima kasih, dan maaf telah merepotkanmu.” Dia beranjak pergi.  “Kau.”  Oriana berhenti dan menoleh.  Adam mengembuskan napas panjang. Tatapannya tidak terlihat dingin.  “Apakah kau harus melakukan pekerjaan ini?”  Oriana tersenyum dan mengangguk. “Aku harus tetap hidup.”  Dan tangisan gadis itu langsung keluar begitu ia meninggalkan tempat kerjanya.  Dia tidak ingin hidup. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD