Tidak bisakah kamu jujur dengan dirimu sendiri? Tentang apa yang terjadi saat ini. Tentang segala kondisi yang asli. Haruskah kamu berbohong seperti ini?
Magani hampir tidak bisa bernapas, karena Renier terus memangut bibirnya tanpa memberikan jeda. Bahkan keduanya baru ada di perbatasan gerendel, belum masuk ke kamar tetapi baju tidur Magani sudah terlepas menyisakan bra pink. Kaki Magani menekan pinggul Renier, lengan Magani melingkar pada leher Renier saat Renier melahapnya tanpa ampun dan membuatnya semakin kehabisan napas.
Renier memisahkan bibir mereka, menuruni Magani dengan hati-hati. Renier melewati Magani untuk menutup gerendel. Gertaran menyentak Magani saat mengamati badan berotot milik Renier dan badan telanjang yang terpahat sempurna itu sangat menggoda untuk disentuh. Dengan sedikit nekat Magani mengulurkan tangan, menyusuri jemarinya pada garis otot Renier. Tidak berhenti di situ, Magani membiarkan lidahnya menjelajahi dan mengigit lekuk-lekuk otot itu.
Renier menghela napas dengan mendesis, "sepertinya kamu sudah tahu harus melakukan apa."
Renier berbalik dan melepas bra Magani, kemudian melucuti celana Magani dengan terburu-buru. Lalu, menggedong Magani seperti sebelumnya, membawa Magani sampi di tepi ranjang. Magani melepas kaitan kaki dari pinggul Renier, merosot turun dan duduk di ranjang.
"Aku sedang mempelajari hal yang kulupakan." Magani mengulurkan tangan menggapai d**a yang bidang, menyentuh otot-otot yang lagi-lagi membuat badan Magani memanas. Tangan Magani bergerak turun hingga di tepi handuk, dia tidak langsung menyingkirkan benda itu. Magani sengaja mengenggam bagian intim Renier yang mengeras, bergerak naik turun dengan sangat—lambat.
"Magani..." Renier menggeram seolah sedang memberi peringatan. Peringatan yang tidak dianggap oleh Magani.
Renier menyingkirkan tangan Magani, lalu melepas handuknya dan mendorong Magani jatuh terlentang di ranjang. Kemudian Renier menindihnya di ranjang dan bergerak turun. Membuka paha Magani dan menatapnya lamat. "Kamu nggak pernah berubah, Magani... kamu selalu cantik seperti ini."
Magani tersipu. Dia seperti seorang gadis yang bersiap untuk diambil keperawanannya oleh Renier. Ah—apa Renier jadi yang pertama? Atau...
"Aku selalu jadi yang pertama untukmu, Gani," ucap Renier seolah tahu apa yang membuat Magani kehilangan rona merah dari wajahnya.
Belum sempat Magani menanggapi kalimat itu, Renier sudah mendorong masuk—tidak sakit seperti yang dilihat Magani dalam sebuah film, ah, ini bukan yang pertama untuknya tentu saja dia tidak akan merasakan itu. Dengan tekanan yang mantap dan terkedali, sediit demi sedikt Renier mendorong masuk ke badan Magani.
Ini terlalu nikmat. Lebih dari yang Magani bayangkan tetang hubungan intim wanita dan pria.
"Siapa yang kamu pikirkan saat ini, Magani?" tanya Renier dengan suara parau, tidak berhenti—terus menghujam Magani.
"Kamu." Lagi pula siapa lagi yang bisa dia pikirkan di saat seperti ini.
"Katakan lebih keras." Renier kembali menggeram di samping telinga Magani, lalu memiringkan pinggul Magani untuk menghujam lebih dalam.
"Kamu!" kata Magani setengah berteriak. "Aku hanya memikirkan kamu, Renier!" Magani mencengkeram Renier.
Renier melenguh. Satu dorongan penuh, satu jeritan yang memekakan, satu tarikan mundur dan terus berulang-ulang dan semakin kasar.
Dalam setiap dorongan. Dalam setiap hujaman yang semakin dalam, setiap cengkeraman tangan Renier pada pinggul Magani. Renier seolah sedang mempertegas kalau Magani adalah miliknya.
"Nggak ada yang boleh menyentuhmu selain aku," kata Renier sekaligus mengerang. Dalam setiap erangan, gerakan maju mundur, cengkeraman—Renier seperti berteriak milikku, milikku, milikku. Dan Magani membiarkannya... dia memang milik Renier. Sejak dulu. Hari ini. Mungkin selamanya.
Renier memompa lebih cepat. Paha Magani menjepit pinggul pria itu semetara jemari Magani mencakar bahunya. Ini hal paling luar biasa yang dirasakan Magani, sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Magani medongak, bibirnya terbuka dan terengah, dia kehabisan napas, sampai akhirnya berhasil mengucapkan satu kata.
"Renier."
Lalu kembali larut dalam perasaan kuat.
Tidak berapa lama Renier pun mengadah, terengah, lalu menyebutkan nama Magani dengan suara parau. Perlahan Renier menarik diri dan memandangi Magani.
Napas Magani kembali normal, dan tenang. Tapi dia tidak menahan buliran hangat keluar dari sisi matanya—kenapa akhir-akhir ini dia mudah menangis? Menjengkelkan!
"Magani," bisik Renier, semabari berguling di samping Magani, menopang kepala dengan siku lalu menyeka buliran hangat dari sudut mata Magani. "Sakit? Atau kamu marah aku melakukan ini."
Magani mengerjap, memiringkan badan berhadapan dengan Renier dan mengusap lemut rahang pria itu, lalu menggeleng. "Nggak. Aku nggak marah atau sakit. Aku hanya—ya Tuhan, ini hal terbaik yang kurasakan sepanjang hidup."
Bibir Magani tersenyum gemetar.
"Aku lega ternyata aku benar-benar milikmu. Aku bahagia ternyata masalah kita tidak terlalu besar. Aku—" Magani menelan saliva, membalas tatapan Renier mengungkapkan semua emosi yang membuat dadaya kesulitan bernapas selama ini. "Apa yang terjadi malam ini... sugguh membuatku sangat bahagia dan bersyukur, karena pria seperti kamu—mau menikahi wanita seperti aku."
Magani telah puluhan bermimpi tentang Renier, inilah saatnya dia mejalani kehidupan bahagia bersama dengan Renier. Jantung Magani berdebar, Renier berhasil membuatnya seperti seorang ratu, bukan lagi pencuri perhatian. Dia tidak lagi melakukan hal bodoh untuk menarik perhatian, Renier melakukannya tanpa diminta.
"Ini sangat berarti untukku," bisik Magani.
Renier mendekatkan wajahnya pada wajah Magani, menatap mata Magani. Dan Magani membiarkan pria itu melihat seberapa banyak harapannya pada pria itu—pada pernikahan mereka yang dilupakan Magani.
Bibir Renier menyentuh kening Magani dengan lembut. "Ini juga berarti untukku, sayang." Renier membawa Magani masuk dalam pelukannya, jemari Renier menjelajahi bahu polos Magani. "Jangan pergi jauh lagi dari aku. Jangan lagi beri aku alasan untuk melepaskanmu. Cintai aku, Darl..."
Magani memejamkan mata. Darl? Renier memanggilnya Darl. "Kamu memanggilku apa?"
"Darl?"
"Bagaimana? Kok bisa?"
"Kamu memintaku memanggilmu seperti itu saat pertama kali aku meminta kamu jadi pacarku dan pacaran sembunyi-sembunyi di ruang musik."
"What?" Magani keluar dari pelukan Renier, menaikkan satu alis, dan menyelidiki Renier. "Kita pacaran saat SMA?"
Renier mengangguk. "Kan aku udah pernah bilang, sejak aku melihat kamu melempar kue ulang tahun—kita jadi dekat. Entah lah saat itu lapangan basket nggak lagi menarik bagiku, jadi setiap istirahat aku selalu naik ke lantai tiga—bertemu denganmu di ruang musik. Dan kotak makanan darimu menjadi favorit, kamu selalu membawakan makanan yang luar biasa enak."
"Lalu?"
"Kita pendekatan selama dua bulan... lalu kita memutuskan bersama."
"Jadi kita bersama selama bertahun-tahun?"
Renier tertegun sejenak, membelai wajah Magani lembut. "Kita berpisah setelah kelulusan."
"Kenapa?" Renier menghindari tatapan Magani. Pria itu terlentang, dan menguap lebar seolah-olah kelelahan. Tanpa membersihkan badan, atau memakai boxer dan celana pendek Renier menarik selimut setinggi d**a.
"Kita bahas besok, aku kelelahan." Renier menarik Magani sampai terjantuh di dadanya, lalu mendaratkan ciuman singkat di kening dan bibir. "Selamat malam, Darl. I love you more than you know..."
Kemudian Renier memejamkan mata, setelah beberapa menit Magani mendengar dengkuran halus yang menandakan Renier telah terlelap.
Magani menegakkan badannya, turun dari ranjang pelan-pelan. Kemudian mengambil kaus abu yang sempat dia siapkan sesaat setelah Renier memutuskan mandi, lalu memakainya walaupun ukurannya terlalu besar. Magani duduk di kursi samping gerendel, mengintip suasana kolam renang yang sunyi. Tadi itu indah. Renier telah memberikan kenangan indah, tanpa paksaan atau beban berat walaupun Magani sangat tahu—Renier masih menyimpan rahasia besar tentang alasan mereka berpisah.
Renier menjelaskan, tapi itu bukan kebenaran. Renier tidak pandai berbohong, Magani sangat kenal sifat Renier satu itu. Tapi dia membiarkan, toh apa yang telah Renier lakukan mengubah segalanya. Magani jadi paham, Renier sangat mencintainya. Renier tidak mau kehilangan dia. Jadi mungkin saja ucapan Agatha benar; Renier sedang memanfaatkan kondisi ingatannya untuk memperbaiki hubungan.
Jadi tidak masalah.
Magani akan membiarkan semuanya. Dia tidak akan memikirkan hal-hal buruk mulai saat ini, hanya tentang kebersamaan mereka yang bahagia.
Magani kembali mendatangi ranjang, lalu melesak di bawah selimut, di samping badan polos Renier. Dia menarik ujung selimut untuk menutupi badannya, dan merasakan tarikan lengan kuat Renier yang merangkulnya, menariknya ke dalam pelukan.
"Jangan kabur dariku, Darl," gumam Renier dengan mata terpejam.
Magani mendesah dan memejamkan mata. "Aku milikmu, Ren. Aku nggak akan pergi ke mana pun, tidur yang tenang. Aku mencintaimu sejak dulu, dan akan tetap seperti itu selamanya. Aku nggak akan memberikanmu alasan untuk melepaskanku, satu-satu yang kuberikan adalah alasan untuk kamu terus mencintaiku."
Kemudian, Magani memejamkan mata ikut memasuki alam mimpi. Embuasan napas mengenai rambutnya... dan Renier memanggil namanya lagi. Lagi. Dan lagi...
Magani.
Darl.