TCM-9

1171 Words
Berulang kali kucoba hilangkan asa ini. Semakin kucoba, semakin menetap ia tanpa peduli hatiku kesakitan. Renier frustrasi mendengar tangisan Magani. Dulu, dia selalu berharap bisa melihat Magani menangis dalam pelukannya. Kalau hal itu terjadi Renier merasa Magani benar-benar menjadikannya tempat bersandar, tapi Magani tidak pernah melakukannya, sekali pun. Bahkan saat Magani keluar dari rumah, atau saat Renier menyodorkan surat gugatan cerai, Magani tidak menangis. Wanita itu seperti batu. Tapi... akhir-akhir ini, hari ini. Melihat Magani menangis tidak membuat Renier merasa dijadikan tempat bersandar, dia justru kesakitan dan nyaris gila. Renier menyugar rambutnya dan mengadahkan kepala memandangi langit-langit kamar. Dia mengembuskan napas kasar, lalu menyingkirkan tangan yang menutupi wajah Magani. "Setelah aku ceritakan semuanya, apa semua sakit di kepalamu akan berkurang?" Magani mengangguk, masih diikuti air mata. "Oke." Renier duduk di samping badan Magani. Dia tidak langsung bicara, dia butuh beberapa menit waktu untuk meredakan kecemasan dan kekhawatiran yang menghimpit sejak Magani menanyakan tentang ini. Sesuatu yang tidak Renier inginkan. Renier menoleh, dan menemukan Magani telah tenang sekaligus siap mendengar ceritanya. Merasa posisinya tidak nyaman, Renier berbaring miring menghadap Magani. Dia kembali membawa Magani dalam pelukannya, membiarkan dagunya menempel, jemarinya terselip pada rambut halus Magani, lengannya melingkar posesif seolah sedang mempersiapkan posisi menahan Magani. "Awal pernikahan kita sangat menyenangkan. Kita punya banyak waktu untuk melakukan hal sepert ini, berpelukan, nonton dvd, bermesraan sampai kelelahan. Kemudian pekerjaan memangkas kebersamaan kita. Kamu sibuk mengajar, pergi ke luar negeri untuk pertunjukkan, melakukan tour sebulan penuh. Sementara aku... melakukan hal serupa. Sibuk membuat program, pergi ke luar kota mengunjungi calon klien." Renier gemetar merasakan embusan napas Magani menyapu kulit dadanya. Bercerita bukan bagian dari rencananya pulang malam ini. Bercinta dan memastikan Magani miliknya adalah tujuannya. "Kita jarang bertemu... kalau kita berada di rumah ini, kita akan mengunci diri di ruang kerja masing-masing. Sampai pada satu keadaan, kita duduk bersama dan memutuskan untuk memberi jeda pada pernikahan ini." "Kita berteriak?" "Sedikit." "Lalu?" "Kita memilih untuk meninggalkan rumah ini bersama." Keheningan kembali hadir menemani keduanya, tidak ada satu pun yang berniat untuk membuka pembicaraan. Kemudian, Renier memutuskan untuk bergerak lebih dulu. Dengan gerakan lembut dia melepasakan pelukannya, duduk, dan bersiap untuk meninggalkan ranjang. "Lebih baik kamu tidur, Gani... sudah sangat larut. Dan aku mau mandi sebentar," kata Renier tanpa berbalik ke arah Magani. Dan tidak ada tanda-tanda Magani mencegah keputusan Renier. Setelah berhasil masuk kamar mandi, cukup lama Renier mengambil waktu memandangi kaca besar depan wastafel. Dari semua kebodohan yang pernah dia lakukan, ini adalah urutan pertama. Renier menanggalkan semua pakaian dari badannya dengan cepat, lalu berdiri di bawah pancuran sembari membenturkan dahi dengan pelan ke dinding berubin. Harusnya dia saja yang melupakan tentang Magani, bukan sebaliknya. Sejak kapan perpisahan lima bulan menuju perceraian bisa disebabkan oleh sibuk dengan pekerjaan? Keduanya tidak sesibuk yang digambarkan Renier, mereka punya banyak waktu—Magani mempunyai banyak waktu untuk mengurus dua pria sekaligus. Renier tidak mengatakan apa-apa tentang alasan perpisahan mereka, dia menutupinya. Dia hanya berusaha memastikan Magani tetap di sini, rumah mereka, istrinya. Amnesia seperti Magani susah untuk disembuhkan. Artinya ini kesempatan Renier memperbaiki pernikahan mereka. Semarah apa pun Renier pada wanita itu, Magani tetap hidupnya, wanita yang dicintai selama delapan tahun. Dia. Tidak. Akan. Membiarkan. Wanita. Itu. Pergi. Dengan. Mudah. Apa yang diciptakan Tuhan tidak dapat dipisahkan manusia, seperti janji nikah mereka. Renier mengadah dan membiarkan wajahnya dibasahi air, lalu tertawa getir. Dia merasa sedih untuk dirinya. Lima bulan terakhir yang dia pikirkan hanya cara untuk mengeyahkan Magani dari hidupnya, dan hari ini dia memikirkan cara untuk menahan Magani bahkan mengingat janji pernikahan. Ada yang salah dalam dirinya. Renier menyenderkan dahi pada dinding, kemudian bayangan Magani dalam pelukan Cakra muncul. Magani sedang duduk bersandar di dekat kaki piano, Cakra di sampingnya merengkuh bahu Magani dan menyandarkan kepala Magani di dadanya. Keduanya tampak sangat nyaman, dan Magani menangis—entah menangis karena apa. Magani lebih menyandarkan diri pada Cakra, daripada dirinya. Sebelum Renier menerobos masuk ke ruangan itu dan memukul wajah Cakra, dia mendengar Cakra berkata, "Everything gonna be okay, Darl... i'am here with you." Renier mengerang dan memukul dinding dengan kedua tangannya yang terkepal. Sial! Kejadian itu sungguh membuat Renier muak. Dia semakin bertekad untuk menahan Magani di rumah ini apapun caranya, dia tidak akan membiarkan Cakra mengambil miliknya. Setelah yakin sudah mengendalikan diri, Renier menyudahi acara mandinya. Dia mengeringkan badan, melilitkan handuk ke pinggang dan bergegas keluar untuk mengambil bajunya. Dia cukup terkejut mendapati kamar telah kosong, tongkat jalan Magani pun tidak ada. Banyak pikiran buruk merasuki benak Renier. Dia membuka lemari bagian Magani, tidak ada yang berubah. Dia bersiap membuka pintu kamar, tapi semilir angina menyentuh pergelangan kakinya. Tanpa ragu dia membuka gorden berlapis, satu gerendel, dan dia menemukan Magani duduk di pinggir kolam renang. "Ada apa?" tanya Renier. "Memangnya ada apa?" Magani menoleh untuk persekian detik, lalu kembali memandangi kolam renang. Suara Magani terdengar dingin dan tak acuh, membuat kecemasaan Renier kian bertambah. Dia berjalan menghampiri Magani tanpa peduli badannya hampir membatu karena kedinginan. Lihat, dia mengatakan alasan palsu penyebab perpisahan mereka dan Magani berubah dingin. Bagaimana kalau dia menceritakan masalah sebenarnya, kemungkinan besar Magani akan membereskan baju dan mencari pria sialan itu! "Kamu kenapa di sini?" "Mencari angin." Suara Magani melembut, kemudian mendongak. "Pikiranku sedikit penuh, jadi aku sedang mengosongkannya." Tatapan Magani turun ke d**a bidang Renier—ke handuk—lalu kembali ke wajah Renier. "Oh... ini?" Renier mencengkram haduk erat-erat. "Aku panik melihat kamu pergi. Aku pikir kamu pikir setelah mendengar—ya—entahlah." Renier mendadak tersadar ketakutannya mulai kelewatan batas. Renier melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan—berbalik dan bersiap untuk memasuki kamar, membiarkan Magani mengambil waktu untuk mencari angin. Baru saja mengambil berapa langkah, Renier terpaksa berhenti. Magani memeluknya dari belakang, sangat erat. Ini adalah hal terbaik yang Renier alami setelah kecelakaan dan pertengkaran mereka, jadi Renier akan membiarkan posisi ini. Hatinya menghangat dan riuh oleh sukacita. "Aku nggak akan pergi ke mana pun, Ren," ucap Magani pelan dan meyakinkan. "Setahuku, kamu satu-satunya pria yang kuinginkan sejak kita sama-sama dihukum membersihkan lapangan waktu MOS. Dan aku yakin setelahnya pun kamu tetap pria yang kuinginkan..." Renier menangkup punggung tangan Magani dan membelai lembut dengan ibu jarinya, berusaha mengurangi dingin yang keduanya rasakan. "Maafkan aku—" Renier berbalik dan menghentikan kalimat Magani. Dia melingkarkan kedua tangan pada pinggang Magani, menghapus jarak yang tersisa di antara keduanya. "Berhenti terus mengatakan maaf... aku pun salah semudah itu melepaskanmu padahal kamu adalah hidupku." Magani mendongak, bibir wanita itu melengkung. "Setelah ini kita akan baik-baik saja kan?" "Pasti." "Mulai besok kamu harus mengingatkanku semua hal baik yang sering kita lakukan." Renier mengangkat bahu. "Aku nggak mau nunggu besok, aku mulai hari ini. Kamu harus mengingat ini—tanda perdamaian saat kita bertengkar karena hal kecil." Renier memundurkan badannya sedikit, mengamati Magani. "Kamu sudah bisa berjalan tanpa tongkat? Ah—kamu sudah cukup sehat Magani." Kemudian menuntun Magani untuk mengalungkan kedua tangan di lehernya, dan dalam sekali tarikan Magani sudah terangkat dengan kedua kaki melingkar pada pinggul Renier. Satu sudut bibir Renier terangkat, lalu... "Berhenti berpikir hal buruk mulai detik ini, karena setelah kamu masuk ke kamar hanya ada aku dan kehidupan kita yang bahagia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD