Tak adakah malu dalam hatimu dengan memintaku kembali bersama, mengulang segala hal yang sudah kamu minta untuk dihapuskan?
Magani berbaring miring memunggungi pintu kamar. Dia sengaja menggelapkan kamar, berupaya untuk tidur. Dia harus tidur, atau dia akan mulai berteriak memaki Renier yang tidak tahu berada di mana. Sudah tiga minggu sejak dia pulang dari rumah sakit dan terlibat pertengkaran, sejak itu dia tidak melihat Renier. Semua kebutuhannya diurus oleh Ibu Tuti dan dibantu oleh asisten rumah tangga lain, Ami—yang selalu siap membantu Magani kapan pun dibutuhkan seolah Ami tidur di depan kamarnya.
Pintu kamar berderit, sedikit cahaya memasuki kamar diikuti siluet tubuh orang yang sangat dikenal Magani. Badannya menegang, jantunnya berpacu sangat cepat. Magani tidak merubah posisi tidurnya, dia mengepalkan tangan upaya menahan diri agar tidak meledak dan mengganggu ketenangan malam. Kemudian pintu tertutup, siluet menghilang, dan terdengar derap langkah mendekat ke ranjang. Dan yang terjadi selanjutnya sisi kosong di samping Magani terisi.
"Maaf." Gumamam berat datang dari balik punggungnya, dan Magani nyaris berteriak saat ada tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya, lalu menarik badannya mundur kebelakang sedikit. "Maaf mengabaikanmu selama beberapa hari ini."
"Minggu, bukan beberapa hari." Magani berusaha menyingkirkan tangan besar itu dari pinggangnya. "Kamu mengabaikanku selama beberapa minggu, Renier!"
Magani mengembuskan napas perlahan, dia mengatupkan bibir rapat-rapat. Dia harus tenang. Setelah apa yang terjadi, dia beranggapan mereka harus bicara. Menjernihkan suasana, memperbaiki sesuatu, meskipun dia tidak tahu apa yang harus dia diselesaikan atau perbaiki.
Magani berbalik menghadap Renier, tanpa berusah terlepas dari pelukan pria itu.
"Maafkan aku," ujar Renier, lalu Magani hanyut dalam tatapan pria itu saat mencoba memastikan kata maaf Renier memang tulus. Renier memang menyesal, tapi untuk apa? Magani menebak ini bukan karena kejadian tiga minggu lalu yang berakhir dirinya diabaikan. Ada yang lain. Lebih besar. Lebih menyakitkan.
Ketegangan mengisi hening di antara keduanya hingga suara Magani berhasil menyelip. "Apa yang terjadi? Kenapa pergi selalu menjadi penyelesaian di antara kita?"
Renier terlihat terkejut dengan pertanyaan Magani. "Apa?"
"Sebelumnya Agatha bilang kita menjalani hidup masing-masing selama lima bulan, karena kita bertengkar. Tiga minggu lalu, kita bertengkar dan itu terjadi juga—menjalani hidup masing-masing. Apa kita memang seperti ini? Menyelesaikan masalah dengan pergi... dan kata Ibu Tuti; akhirnya rumah ini kembali terisi setelah ditinggalkan lima bulan." Magani merengkuh wajah Renier, pria itu tampak lelah. "Aku—berusaha menuruti Agatha untuk membiarkanmu menceritakan kalau sudah siap, tapi aku nggak bisa. Kamu bilang ini bukan masalah besar, tapi sikapmu mengatakan sebaliknya seolah masalah itu sangat menyakitkan dan membuat kita hampir mati. Aku melihatmu sebagai pria yang kunikahi. Tapi kamu nggak, sering aku mendapati kamu melihatku sebagai orang dengan penyakit menular—wajib dijauhi."
Magani menggeser badannya semakin dekat dengan Renier, memejamkan mata, dan menyatukan kening keduanya. "Aku nggak bisa menunggu untuk tahu masalah yang ada di antara kita... aku nggak bisa bersikap biasa. Aku mau kita menyelesaikan semuanya sebagai satu tim. Kamu ceritakan yang terjadi, lalu kita pecahkan bersama."
Hati Magani ketakutan, kedua tangannya gemetar.
Magani takut masalah di antara mereka memang terlalu besar untuk diselesaikan dalam satu malam, bahkan mungkin berpotensi berakhir pada kalimat; jalani-hidup-masing-masing. Tapi dia tidak bisa terus membiarkan Renier sperti ini. Pria itu terlihat tersiksa dengan semua rasa yang tidak dia ketahui. Magani memang menginginkan kehidupan seperti yang tergambar pada banyak foto di rumah ini. Namun, dia tidak mau Renier menderita karena menjalani kehidupan seperti yang dia harapkan. Jadi... Magani memaksa tahu.
"Aku nggak mau mengingat hal buruk itu..."
"Kenapa?"
"Karena aku mau kita tetap seperti ini. Aku menginginkan kehidupan kita kembali. Aku ingin mendapatkan kesempatan—" Renier tercekat, mempererat pelukannya seolah takut Magani akan pergi setelah mendengar alasan dia TIDAK MAU menceritakan perpisahan mereka.
"Renier..."
"Aku cuman mau kamu bahagia saat bersamaku." Renier mengganti kening dengan bibirnya. "Hanya denganku..."
Magani kembali memejamkan mata, kembali berpikir. Bahagia? Itu hal yang paling dia inginkan, bukan hanya karena Renier menginginkannya. Sudah dari dulu, sejak dia mengerti masa kecilnya berbeda dengan anak lain—bahagia adalah keinginan terbesarnya. Tapi masalahnya, apa Renier juga bisa merasakan bahagia dengannya di saat 'sesuatu' tak kunjung diselesaikan.
"Aku bahagia bersamamu, tapi... aku tetap mau tahu jawabannya." Magani ingin memastikan Renier pun ikut bahagia bersamanya.
Reniere menyeringai kecut. "Kenapa kamu keras kepala, Gani?" Reniere mendorong badan Magani hingga terlentang, lalu memosisikan diri di atasnya. Renier bergerak mendekat. Satu tangan di samping kepala Magani sebagai penopang, sementara satu yang lain sibuk menyusuri badan Magani. "Aku tahu kamu nggak akan pernah berhenti mendapatkan yang kamu mau, selalu seperti itu." Renier menurunkan wajahnya ke samping leher Magani. "Tapi sebelum aku menceritakan itu, aku mau memastikan kamu nggak akan bisa melepaskanku."
Magani menggigil terkena embusan napas yang menerpa lehernya. Merasa gamang harus melakukan apa, karena dia tidak pernah—dia lupa caranya.
"Aku di sini ingin menunjukkan padamu, kalau nggak ada kehidupan lain bagimu. Kamu harus hidup bersamaku terus..." Magani merasakan bibir Renier menyentuh bahunya. "Dan aku ingin kamu tahu... aku sangat mencintai kamu. Aku sangat menginginkan kamu, Magani." Bibir Renier berpindah ke leher Magani. "Apa kamu mencintaiku?"
Renier menelengkan kepala, sambil menunggu jawaban Magani.
"Aku mau jadi satu-satunya pria yang kamu pandang, Magani."
Magani membuka bibir untuk menjawab, tapi mulut Renier sudah lebih dulu meluncur di atas bibir Magani. Ciuman Renier menyingkirkan sejenak pikiran di benak Magani. Tidak ada keraguan, tidak ada pikiran untuk menahan diri. Yang tersisa hanya kepasrahan, dan membiarkan Renier mengendalikan dirinya dengan bibir.
Cara Renier menciumnya sangat berbeda, tidak sama seperti di rumah sakit.
Tekanan bibir Renier kasar, menuntut apa yang menjadi haknya. Bukan untuk menenangkan Magani, bukan pula karena kewajiban yang. Saat ini Renier sedang menunjukkan seberapa besar keinginannya memiliki Magani secara utuh.
Panas mendesis di sepanjang pembuluh darah Magani, turun ke perut dan badannya mendadak menjadi sangat sensitive. Benaknya dipenuhi lanjutan dari ciuman ini. Aktivitas apa yang akan mereka lakukan. Bagaimana cara Magani melakukannya. Apa dia harus bertanya pada Renier perannya dalam aktivitas ini.
Napas keduanya keluar masuk di sela-sela bibir secara begantian. Lidah Renier mendesak masuk, membelai, dan menyusuri rongga mulut Magani dengan lembut. Menarik Magani lebih kuat hingga Magani merasa dia baru saja keluar dari lobang hampa di kehidupannya, dan Renier berhasil membuat Magani yakin... ini tempatnya, di samping Renier.
Magani menyerah untuk mengetahui masalah mereka, terserah segawat apa masalah itu. Selama dia masih bisa merasakan Renier seperti saat ini, dia tidak akan mempermasalahkan hal lain bahkan dia tidak mau ingatannya kembali.
Magani membutuhkan Renier, dan sepertinya Renier pun membutuhkan Magani.
Magani menyusuri kain kemeja Renier, mencengkram bahu dan leher Renier, lalu merenggut ikatan rambut tebalnya hingga terlepas.
Renier melepaskan ciuman, dan menyusurkan kecupan dan gigitan kecil di leher jenjang Magani. Gesekan gigi Renier menyengat hingga ke pusat tubuh Magani dan tanpa bisa ditahan dia mengerang. Terpana karena badannya bisa merasakan sensasi gila seperti ini.
"Apa kamu tahu," geram Renier di leher Magani. "Aku hampir gila merindukanmu selama lima bulan terakhir."
Mata Magani tertutup rapat, dia yakin... dia pun merindukan Renier, mungkin hampir mati. "Aku minta maaf."
"Kamu nggak boleh menyiksaku lagi, Gani." Lidah Renier menyusuri leher Magani dengan belaian lembut yang menggoda, lalu pinggul mereka bersentuhan. "Kamu harus mengerti." Satu tangan Renier menyelip di bawah badan Magani. "Aku nggak akan membiarkanmu memilih pergi lagi dariku... aku nggak akan bisa menahan diri untuk kesekian kalinya." Badan Renier semakin turun dan nyaris menindih badan Magani. "Ini tempatmu Magani. Aku adalah rumahmu, bukan orang lain."
"NGGAK ADA LAGI TEMPAT DI RUMAH INI UNTUK WANITA HINA SEPERTI KAMU! PERGI!"
Magani membuka mata dengan cepat, gelagapan seolah baru saja disergap dengan bantal saat mimpi indah dan kekurangan oksigen.
Suara Renier, batin Magani dan tarikannya pada rambut Renier semakin erat. Penggalan suara lagi... Magani mengerang dalam hati.
Seperti yang terjadi setiap hal ini muncul tiba-tiba, kepala Magani mulai terasa berat dan nyeri, kupingnya berdenging.
"Ini akhirnya Magani, ini akhirnya... aku nggak bisa menjalani hubungan dengan wanita yang nggak pernah benar-benar menginginkan keberadaanku. Lagi pula, hatiku sudah mati untukmu."
Kalimat yang entah kapan diucapkan oleh Renier, menohok hati Magani hingga ke dasar. Renier masih beraktivitas di atasnya, membisikkan kalimat-kalimat yang membuat hati Magani melayang. Tapi banyak kalimat pula berdengung di benak Magani. Bahagia. Sakit. Bergantian menguasai hati Magani, membuat Magani kelelahan, dan menangis...
"Stop, Ren. Aku nggak bisa. Kita harus menyelesaikan dulu masalah ini," pinta Magani putus asa.
Renier berhenti, lalu menegakkan badan dengan posisi berlutut di depan Magani.
Magani menunjuk kepalanya. "Ini terlalu sakit. Setiap hari aku mendengar kalimat yang menunjukkan kamu marah sama aku. Setiap malam aku selalu mendapat bayangan kamu melempar semua barang, meninju dinding, mengumpat. Tapi aku nggak pernah bisa menemukan kekacauan apa yang telah aku lakukan dalam kehidupan kamu, pada pernikahan kita." Magani menutupi wajah dengan kedua tangannya, lalu menangis sekencang yang dia mampu.