Salahkah aku yang mencintaimu tanpa jeda? Salahkah aku yang ingin memilikimu utuh tanpa kata persen?
Jantung Renier nyaris lompat dari tempatnya saat melihat Magani terhuyung ke belakang, beruntung tangannya sigap menangkap badan wanita itu sebelum terjungkal. Dia tidak bisa membayangkan kalau luka di kepala Magani kembali terbentur, pasti sakit bukan main.
Renier membawa Magani kembali ke kamar, lalu membaringkannya di ranjang.
Untuk beberapa detik tidak ada yang dilakukan Renier, selain memperhatikan Magani terpejam dengan wajah kesakitan. Dia menjulurkan tangan ke wajah Magani, lalu bergerak naik turun dalam ritme sangat pelan.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Renier.
Mata Magani terbuka perlahan. Renier tidak lagi menemukan bayangan wajah cekung, pucat dan lebam sana sini yang dia lihat beberapa minggu terakhir. Garis wajah Magani perpaduan lengkung dan sudut yang menarik. Kulitnya halus dan bersih. Magani sehat, walaupun ada bayangan samar di bawah matanya setelah beberapa hari kesulitan tidur di rumah sakit. Tapi, mata sendu. Ada kesakitan di dalam sana. Semakin dalam Renier memaku matanya di sana, semakin dia merasakan sakit dalam setiap tarikan napas.
Renier mengamati sembari menyusuri setiap bagian wajah Magani dengan ibu jarinya. Sebelumnya dia berusaha mengenyahkan wajah ini dari hidupnya, tapi terlalu sulit, semua melekat di benaknya.
"Ada yang bisa kulakukan untuk mengurangi sakitmu?" Sekali lagi Renier bertanya.
Masih dibalas kebisuan Magani dan mata yang berkaca-kaca... sial! Aliran darah Renier berdetak kencang di sepanjang urat nadinya saat menyadari mata berkaca-kaca Magani membuat badannya kaku. Magani tidak pernah menangis. Magani tidak pernah mengizinkan siapa pun memandangnya seperti wanita lemah. Tidak Agatha. Tidak Renier. Dan akhir-akhir ini... Magani terus melakukannya.
Lalu berdampak pada keyakinan Renier sebelumnya. Dia tidak lagi bernapsu untuk mengakhiri jalinan di antara mereka. Dia tidak lagi ingin menghapus Magani dari hidupnya. Rasanya apa yang dikatakan Gilang akan terjadi.
Renier membantu Magani untuk duduk bersandar, kemudian mengambil segelas air dari meja lampu tidur dan menyodorkannya ke tangan Magani. "Minum ini dulu. Aku nggak bisa kasih obat penghilang sakit, karena aturan dokter sehari satu."
Magani mengambil gelas dan mecengkeramnya erat. "Nggak masalah." Dan akhirnya menjawab, "sakit kepalanya sudah bisa aku atasi." Magani mendekatkan gelas ke bibirnya. Setelah beberapa tegakan, Magani mengembalikan sendiri gelas ke meja kecil samping ranjang dan memberanikan diri membalas tatapan Renier.
"Merasa lebih baik?" tanya Renier, sembari berdiri dan berjalan menuju jendela yang dia buka waktu masuk pertama kali ke kamar. Dia menutup gerendel dan menyelimutinya dengan gorden dua lapis untuk mencegah aktivitas mereka jadi tontonan gratis penghuni rumah yang lain.
"Ya... sudah bisa kuatasi."
Renier berbalik menghadap Magani. "Apa sakit seperti itu sering terjadi?"
"Nggak kok."
Renier merasa lega mendengarnya, tapi di saat bersamaan dia berpikir bagaimana kalau Magani memang sering kesakitan seperti tadi, hanya saja tidak mau berterus terang padanya.
Magani selalu pandai menutupi kebenaran. Wanita itu pandai berpura-pura.
Setelah menyalakan AC kamar, Renier kembali duduk di tepi ranjang, mengadu pandangan dengan Magani. Renier menyentuh dagu Magani dengan telunjuk dan ibu jari, mendekatkan wajah Magani ke arahnya, mencari hal yang dicuragai. "Kenapa bisa terjadi? Perubahanmu hanya itungan detik. Merengkuh kepala, meringis, dan kamu nyaris terjungkal ke belakang." Renier siap menemukan apa pun yang tidak sesuai dengan pengakuan Magani.
"Aku mendengar suara Mama Papa, sepertinya sedang bertengkar. Tapi mereka memang selalu bertengkar di depanku, jadi aku rasa bukan sesuatu yang penting," jawab Magani sambil memaksakan senyum muncul. Dengan gerakan lambat Magani menggabungkan tangannya dengan tangan Renier yang ada di dagunya. "Aku mau menemui mereka. Apa bisa kamu mengantarku?"
"Tentu. Ben dan Gilang bisa bertahan sehari lagi tanpa aku di kantor." Walaupun Renier tidak sepenuhnya yakin. Ini cuti terlama yang dia lakukan setelah empat tahun mendirikan perusahaan itu, dan ini tahun terbaik bagi perusahaan banyak klien baru yang memesan program pengaman baik swasta atau pemerintah.
Seharusnya setelah memastikan Magani beristirahat dengan layak, dia bergegas untuk membuat pesanan klien. Tapi yang dia lakukan justru tinggal di sisi Magani, wanita yang Renier paksa datang ke restoran untuk memastikan mereka bisa bekerja sama untuk mempercepat proses perceraian.
"Ren..."
"Iya?"
"Hari ini kamu sibuk?"
Renier menggeleng pelan.
"Bagus. Berarti kamu banyak waktu untuk menjawab beberapa pertanyaan."
Renier sedikit tegang, tapi tetap masih bisa dia tutupi.
Magani menurunkan tangan Renier ke atas paha, memberikan sorot mata teduh untuk Renier.
"Kenapa aku bisa kecelakaan?"
Begitu pertanyaan lolos dari bibir Magani, Renier merasa beberapa organ pentingnya kekurangan pasokan darah.
"Apa alasan kita berpisah selama lima bulan?"
Shit! Agatha memberitahu juga soal perpisahan! Renier memaki dalam hati. Awalnya dia menduga Agatha hanya mengatakan mereka bertengkar, siapa sangka Agatha juga mengatakan berapa lama mereka hidup terpisah.
Atmosfer di antara mereka menjadi aneh.
"Aku lupa," sahut Renier singkat dan ketus.
Alis Magani mengernyit. "Amnesiku menular?" tanyanya retoris.
Renier menarik mundur tangan, melepaskan genggaman tangan keduanya, bergeser mundur beberapa jengkal, lalu menyugar rambutnya dengan kasar dan menggaruk kepalanya sembari berharap bisa menemukan jalan keluar dari obrolan ini. Seharusnya dia mengatakan seberapa sibuk dirinya setelah dua minggu menjaga Magani di rumah sakit, pekerjaannya menggunung. Tapi, beberapa menit lalu dia rela berbohong dan berharap Magani bertanya sesuatu yang membangkitkan kenangan indah mereka, bukan sebaliknya. Sial! Dia tidak mau menghabiskan waktu untuk menceritakan kehancuran mereka. Kemudian menjadi sakit, dan berakhir memaki Magani seperti yang sudah-sudah.
Renier menghela napas berat. Lalu mengembuskannya. "Aku lupa, aku punya deadline yang harus kukerjakan."
"Kata kamu nggak sibuk."
"Aku kan sudah bilang, aku lupa. Kenapa? Kamu keberatan? Mau marah? Aku sudah menghabiskan banyak waktu menunggumu di rumah sakit, itu berakibat pada pekerjaanku."
Magani tampak syok. Hal serupa dirasakan Renier. Dia juga tidak menyangka semudah ini kehilangan kendali, padahal Magani hanya bertanya.
"Maaf," ucap Magani canggung sambil beringsut di ranjang. Magani berhati-hati memandang Renier, sorot matanya memacarkan... apa? Itu bukan bingung. Bukan pula penuh cinta. Renier tidak tahu apa yang ingin disampaikan Magani, tapi apa pun itu pasti bukan hal yang disukai Renier. "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi di sini, di kehidupanku!" Suara Magani tinggi dan bergetar, raut wajahnya gusar. "Selama di rumah sakit nggak ada yang mau bicara tentang apa yang terjadi! Kamu selalu bilang, kita punya banyak waktu setelah di rumah. Agatha bilang, dia nggak berhak! Lalu, aku harus bertanya ke siapa?" Cara bicara Magani semakin berani dan menusuk. "Baik! Aku nggak butuh kalian untuk memberitahuku. Berikan saja semua barang pribadiku, handphone, laptop. Atau apa pun itu, aku bisa mencari sendiri. Aku bisa menghubungi Cakra, dia seperti diary berjalan."
Renier menyingkir dari ranjang, berdiri sambil memandangi Magani. Dia tidak langsung merespon serangan Magani. Dia diam cukup lama dan terus menatap Magani dengan cara yang berhasil membuat raut wajah menantang wanita itu memudar tak tersisa berganti ketakutan.
"Mobilmu dihantam bus besar, sebagian besar bodynya hancur. Terutama bagian belakang, menurutmu apa benda-benda itu selamat? Kakimu saja terjepit. Aku sudah menjawab pertanyaan pertamamu, sisanya kujawab setelah pekerjaanku selesai," kata Renier sinis.
Renier berubah seutuhnya. Tidak ada sisa-sisa kelembutan yang siap diberikan pada Magani. Dia terlihat dominan dan berkuasa, mungkin mempertegas posisinya sebagai suami Magani.
"Dan Cakra... kalian nggak pernah berhubungan dalam jangka waktu yang lama. Jadi dia bukan diary berjalanmu lagi, dia nggak tahu apa yang tejadi di dalam kehidupanmu, hanya aku yang tahu," sambung Renier lagi. Setelahnya Renier keluar dari kamar, meninggalkan yang Magani bungkam seribu bahasa.
Renier memasuki ruang kerja dengan tergesa-gesa, lalu duduk di kursinya dan melipat kedua tangan di meja kerja. Dia mulai menggeleng pelan, tidak percaya baru saja berbohong tentang kecelakaan Magani. Tapi apa yang ditanyakan Magani terlalu berbahaya bagi dirinya, mematikan. Secara tidak langsung dia penyebab utama kecelakaan Magani, dan Magani penyebab utama mereka berpisah.
Renier melirik laci terbawah meja kerjanya, cukup lama dia memandangi tanpa melakukan apa pun. Lalu, menyerah. Dia menjauhkan kursi satu langkah, sedikit membungkuk, menarik laci itu, dan mengeluarkan iPhone dengan case pink. Kondisi ponsel pintar itu dalam keadaan mati total, seolah sudah lama tidak diurus. Renier mengisi baterai dan menunggu selama beberapa menit, kemudian menyalakannya. Terkunci, hanya bisa dengan password atau jari si pemilik—Magani.
Ponsel itu baru nyala dan rentetan pesan masuk.
Cakra : are u okay? Udah seminggu loh nggak ada kabar.
Cakra : Hei! What happen with you?!
Cakra : Darl, don't make me worry.
Renier melempar iPhone ke meja dengan kasar dan mengepalkan tangan kuat. Darahnya mendidih. Satu hal yang ingin dia lakukan, menghanjar wajah Cakra hingga babak belur! Darl? Pria itu bahkan memanggil Darl pada istrinya, dan hebatnya sang istri membiarkan. Sialan!