TCM-6

1543 Words
Karena aku, terlalu sekarat dalam duka yang menghimpit. Sampai aku takut, kamu ikut menderita karena duka ini. *** Magani menatap luar dari kaca mobil, menyusuri jalan yang dia kenal tapi juga asing. Di kedua sisi jalan, banyak ruko dan restoran dengan nama yang sedikit aneh. Banyak yang telah berubah, padahal jalan ini sering dia lewati waktu sekolah dulu. Lalu, Magani mendesah dalam hati. Jalan ini tidak berubah, dia saja yang tidak ingat. Lucunya, di umur belasan Magani sering berharap amnesia. Agar dia bisa melupakan sejenak hidupnya yang kacau dan menyedihkan. Tapi saat ini, Magani benci amnesia. Dia ingin segera mengingat banyak hal, "Itu restoran suki favorit kamu." Suara Renier menarik perhatian Magani kembali ke pria yang duduk di sampingnya, sibuk di balik kemudi. "Kalau kamu lagi malas masak, kita pasti makan di sana." Percaya atau tidak, ini percakapan pertama mereka setelah keluar dari area rumah sakit. Lebih dari sekali mereka saling mengadu pandang seolah sedang berlomba untuk tetap bisu. Saling menguji kekuatan dari hubungan membingungkan yang tersisa sejak Renier mengatakan; kamu nggak pernah melakukan kesalahan. Aku nggak akan pergi, aku akan selalu jadi milikmu, Darl... sekarang dan seterusnya. Ya—Renier mengatakannya, tapi sikap yang dia tunjukkan berbanding terbalik. Renier lebih banyak diam. Tidak lagi sigap setiap kali Magani mengaduh. Mau tidak mau, Magani pun ikut diam. Kemudian pertanyaan-pertanyaan menyebar dalam benak Magani. Apa hubungan mereka memang sekaku ini? Bagaimana mereka menjalani hari di rumah? Apa yang harus dia lakukan sesampainya ke tempat yang disebut rumah mereka oleh Renier? Magani sudah menghabiskan banyak waktu bersama Renier—sepuluh hari, tapi itu di rumah sakit. Banyak dokter dan suster hilir mudik. Ada Gilang, Agatha dan Ben bolak-balik mengunjungi kamar rawat. Magani tidak benar-benar berdua dengan Renier. "Apa lagi yang sering kita lakukan?" Dan Magani memutuskan untuk mencoba berkomunikasi. Renier merengangkan kepala dari satu sisi ke sisi lain sembari mengembuskan napas dengan terburu-buru, dan merenung. "Banyak hal." "Makan?" "Kita butuh makan setiap hari." "Mall?" "Shopping obat stress buat kamu." "Nonton?" "Setiap minggu dua kali, kamu suka jadi yang pertama menikmati film sebelum review bertebaran." Lalu, hening kembali. Sambil menggosok pelipisnya dengan dua jari, Magani menatap lututnya, dia bertanya-tanya apakah obrolan mereka selalu membosankan seperti sekarang. Obrolan ini membosankan "Kita sudah sampai!" seru Renier sembari memasukkan mobil ke pekarangan rumah setelah membuka pagar rumah hitam tinggi dengan remote kecil. Untuk persekian detik Magani melongo, rumah orang tuanya saja tidak menggunakan gerbang otomatis. Eh, rumah orang tua? Magani menoleh ke belakang memandangi jalan yang masih belum terhalang gerbang. Magani kenal perumahan ini. Perumahan rumahnya, rumah orang tuanya. "R-rumah Mama Papa," Magani tergagap. Entah kenapa dia panik. Beberapa hari dia di rumah sakit, tidak satu pun hari orang tuanya datang berkunjung. "Apa?" Renier memandang ke jalan di belakang sana, ikut mengamati, lalu kembali memandang Magani. "Rumah Mama Papa juga di perumahan ini, rumah mereka masih sama kan? Aku mau ke sana." Magani menjelaskan. "Mama dan Papa kamu sudah lama pindah, rumah itu sudah dijual," sahut Renier sembari merengkuh pipi Magani. "Kita masuk rumah dulu ya, nanti kasih tahu rumah baru mereka." Dan kesedihan menyergap Magani. "Mereka masih nggak peduli sama aku." Renier tidak menanggapi, pria itu memilih turun dari mobil. Berlari kecil ke bagasi, menuruni kursi roda, lalu berjalan cepat ke samping pintu Magani dan membukanya. Dan tetap tidak ada tanggapan tentang orang tua Magani. Hanya memberi kode agar Magani siap digendong olehnya untuk pindah ke kursi roda. Bukan ini yang diinginkan Magani, tapi dia tidak punya keberanian untuk membantah. Kursi roda mulai bergerak dan pintu rumah terbuka. Seorang ibu dengan setelan vintage menyambut kedatangan keduanya, berseri-seri saat menyadari kehadiran Magani. "Ya Tuhan, Mbak Gani... Ibu kangen!" seru si Ibu terlihat siap untuk memeluk Magani tapi tidak dilanjutkan saat menyadari kebingungan Magani. Lalu si Ibu memandangi Renier. "Nanti saya jelaskan," kata Renier sembari mengusap bahu Magani. "Gani, ini Ibu Tuti pengurus rumah ini. Dia yang selalu membantu kamu mengatur keperluan rumah kita." Tidak ada hal yang bisa dilakukan Magani, selain memberikan senyum tipis bentuk permintaan maaf karena melupakan Ibu Tuti. Setelah itu Renier mendorong Magani melewati pintu depan rumah dengan gaya minimalis itu. Tempat ini mengagumkan. Tingkat dua dan kaca membentang dari ruang tamu, menyusuri taman yang dilengkapi kolam renang, gazebo, menuju sebuah tempat berpintu pintu pintu. Dan Renier membawanya ke sana. Beberapa detik kemudian yang dilakukan Magani terbelalak kagum. Pintu itu sebuah kamar—kamar dengan pemandangan kolam renang. "Ini kamar utama rumah ini, kamar kita," kata Renier mendorong kursi roda Magani ke tengah kamar. Renier berdiri di dekat jendela kaca dan tersenyum. "Kamu sangat suka kamar dengan pemandangan alam. Itu alasan kenapa daerah kolam renang ini rindang." Lalu Renier membuka gerendel satu demi satu, mengayun panel kaca lebar itu dan menyambungkan kamar dengan area kolam renang. Angin sepoi-sepoi memasuki kamar, menerbangkan gorden putih tipis, bergerak menyentuh badan Magani. "Setiap pagi, kamu selalu menyatukan kamar kita dengan area kolam renang, seperti ini." Lalu Renier kembali ke samping Magani. "Dapur, ruang makan, dan ruang tamu ada di lantai ini. Sementara di lantai dua, ada kamar tamu, dan ruang kerja kita berdua. Setelah kakimu pulih dan bisa diajak berajalan, silakan kamu naik ke atas dan habiskan waktu di ruang musikmu." "Ruang musikku? Aku punya ruang musik sendiri? Jadi, impianku terwujud? Sedari kecil aku mempimpikan memiliki itu, ruang musik sendiri. Astaga! Aku nggak sabar kaki ini sem—" Kalimat terhenti dan Magani panik. Tiba-tiba saja tangan kokoh Renier menarik cepat Magani kegendongannya, dan membawa Magani keluar dari kamar, lalu menaiki tangga dengan cepat menuju lantai dua. "Ren... kamu..." Magani kebingungan dan mendadak kesusahan bernapas. Dia coba bernapas pendek. Dan bernapas lagi. Lebih dalam. Kemudian napas selajutnya seirama dengan napas Renier dan membuat gerakan tubuh keduanya selaras dan terasa intim. Tatapan Magani turun ke tangan Reiner, memperhatikan cara Reiner menggendongnya. Kemudian muncul sebuah adegan tangan memeluk badan dengan posesif, belaian lembut, dan banyak bisikkan bisu. Hanya terjadi persekian detik, seperti cuplikan trailer film dengan durasi sangat cepat. "Ini ruang musik milikmu," kata Renier terengah-engah. Magani berinisiatif membuka pintu, karena sudah pasti pria itu kesusahan membuka pintu. Lagi, Magani terbelalak kagum. Ini ruang musik impiannya. Ruang kedap suara, alat musik klasik yang lengkap, Soundcard External dan Flat Speaker, Condensor Microphone (Mic Condensor), dan dua komputer flat. Renier mendudukan Magani di depan piano intrumen. "Luar biasa bukan? Kamu dan tim-mu sering berlatih di sini, termasuk Agatha." "Agatha? Dia main alat musik juga?" "Dia belum cerita?" Magani menggeleng. "Itu violin miliknya. Kalian patner yang hebat." Magani membentuk huruf vokal O tanpa suara, lalu menjelajahi setiap sudut ruang musik ini dengan matanya. Pandangannya terpaku pada sebuah lemari kaca tingkat empat, banyak foto berpadu apik dengan sekumpulan piala. Itu piala miliknya. Astaga, dia bukan lagi wanita yang mencari perhatian dengan cara yang salah. Magani bersorak dalam hati. Pantas saja Renier mau menikahinya. Magani jemawa. "Bisa tolong kamu ambilkan foto-foto itu? Jaraknya terlalu jauh, aku nggak bisa melihat." Magani baru meminta, dan Renier melesat dengan cepat, memenuhi keinginan Magani. Pria itu mengambil dua foto dari masing-masing tingkat, lalu menjejerkannya di hadapan Magani, di atas piano yang tertutup. Magani hampir loncat kegirangan karena bangga, rasa puas terhadap kehidupan yang tergambar baik. Dia memilik prestasi. Sekolah musik yang besar. Banyak teman. Suami yang kebetulan adalah cinta pertamanya. Kehidupan yang sempurna. Magani mengambil foto pernikahannya. "Ini keluarga intimu kan?" Dia menoleh pada Renier yang bersandar di piano, lengan disilangkan ke d**a. "Tapi aku nggak melihat keluarga intiku, aku anak tunggal—maksudku Mama Papa. Hampir di setiap moment ada foto keluargamu. Ini..." Magani menunjuk foto dia sedang memegang piala, memeluk bunga. Renier merangkul bahu dan di sampingnya orang tua Renier. Tidak ada orang tuanya. "Dan ini..." Di foto yang lain, saat Magani berpose menggunting pita di depan sebuah gedung M.G School Of Music, lagi-lagi hanya ada orang tua Renier dan pria itu. Apa orang tua benar-benar tidak peduli dengannya? "Segitu nggak pedulinya mereka." Magani tertawa getir, dan Renier duduk cepat di sampingnya lalu menggenggam kepalan tangan Magani. "Hei... mereka bukannya nggak peduli sama kamu. Aku yakin, mereka bangga dengan semua hal yang kamu raih. Mereka pasti mau menemani setiap langkah besar yang ambil, hanya saja mereka menemani dari kejauhan." Magani menoleh dan menaikkan satu alisnya. Kebingungan yang sempat reda, datang lagi. Dia bisa melihat Renier menelan ludah karena terlalu gugup. Pria itu membuka bibir, bersiap mengeluarkan kalimat, lalu diurungkan. Begitu terus selama beberapa kali. "Ren..." Renier mengulurkan tangan dan membelai kepala Magani dengan lembut. "Mereka meninggal saat kamu lulus SMA." Tidak ada tanggapan dari Magani. "Aku nggak tahu pasti penyebab mereka meninggal, kita berpisah setelah lulus SMA. Kamu nggak pernah mau menceritakan sebab kepergian mereka, tapi beberapa kali kita mengunjungi tempat peristirahatan mereka. Kalau kamu mau, aku bisa menambah cutiku satu hari lagi dan kita ke sana." Magani kehilangan kemampuan bebicara. Hatinya yang tadi berbunga-bunga, mendadak gersang kembali. Ada lubang besar di dirinya, menyerap semua kebahagian yang sempat dikecap beberapa saat lalu. Berganti dengan perasaan bersalah yang entah karena apa. 'Lihat apa yang kamu lakukan pada anak ini! Seharusnya seorang ibu duduk manis di rumah, bukan berkeliaran sebagai produser! Tidak mendidik anak, jadinya begini!' 'Hei! Kamu juga orang tuanya! Kamu juga tidak mendidik dia!' Suara mama dan papa-nya berdengung hebat di benak Magani. Bukan hanya suara. Begitu Magani memejamkan mata untuk menahan sakit kepala yang mendadak menyerang. Kilasan silau lampu mobil dan teriakan mengerikan muncul. Dan Magani kewalahan menanggung sakit di kepalanya. Sangat sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD