TCM-3

1241 Words
Jiwaku menghilang, saat kamu mendorongku pergi dari duniamu. Renier sudah berbaring di sofa yang berubah menjadi ranjang pribadi untuknya selama beberapa hari terakhir. Setengah jam Renier menutup matanya dengan lengan berharap akan masuk ke dunia mimpi, tapi nihil. Renier menyingkirkan lengan, lalu berbaring miring menghadap ranjang Magani. Sepertinya wanita itu mengalami hal yang serupa dengan Renier, ia masih membuka mata dan berbaring miring menghadap Renier. Dengan mata telanjang Renier bisa melihat kalau Magani kesakitan, kelelahan dan... kebingungan. "Kenapa belum tidur?" Renier bertanya walaupun sudah tahu alasan Magani tidak kunjung memejamkan mata. "Kok bisa?" "Apa?" Satu alis Renier naik. Dia tidak mendapatkan jawaban, tapi dapat pertanyaan. "Kita..." Renier membiarkan matanya terpenjam untuk persekian detik, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk duduk bersandar di sofa dan kembali mengadu pandangan dengan Magani. "Kenapa kita bisa bersama? Berapa lama kita bersama? Apa kita dekat karena kecelakaan di gerbang sekolah? Lo—kamu menolong, terus..." Renier menyugar rambutnya ke belakang, lalu menggeleng. "Cakra yang nolong kamu. Dia lari kayak orang dikejar setan, gendong kamu, dan bawa kamu pergi naik taksi. Aku nggak tahu waktu itu dia bawa kamu ke mana." Renier melihat ada kekecewaan di mata Magani, seolah mempertegas wanita itu sedang mengharapkan sebuah kisah pertolongan romantis yang menjadi titik balik hubungan mereka. Tapi sayangnya kisah mereka bukan dimulai dari situ. Renier masih ingat jelas setelah Magani jatuh yang dia lakukan adalah melengos dan membuang muka. "Lalu?" Renier tidak langsung menjawab, dia terus mengawasi Magani dan perubahan raut wajah wanita itu. Renier mungkin mengira pertanyaan itu adalah bagian dari mimpinya, jika saja mata Magani masih tertutup. "Renier..." Dan Renier menyesali keputusannya membuka mata, seharusnya dia tetap berpura-pura sudah tidur, mungkin pertanyaan semacam ini akan datang besok, besoknya lagi, atau entah kapan. Tapi setidaknya saat Magani bertanya, dia sudah bisa merangkai jawaban yang indah dan romantis. "Aku tahu waktu kita masih banyak, kamu bisa bercerita lain waktu tentang... kita. Tapi aku nggak bisa menekan rasa penasaranku. Dulu... dulu kamu sangat membenciku dan se—" "Aku nggak benci sama kamu," potong Renier. "Aku... dengar..." Renier bangun dari sofa dan menghampiri Magani, mengambil posisi di sisi kiri tanpa ada kursi. "Kita jadi dekat di ulang tahun kamu yang ke delapan belas, ruang musik." Renier mengangkat kedua bahunya. "Siapa sangka kita punya hobi yang sama, musik klasik. Dan permainan piano kamu, luar biasa." Renier berjongkok agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Magani. "Hari itu aku nggak sengaja melihat kamu main piano, fur elise... permainan kamu... wah, aku tuh berdiri di depan pintu tapi ngerasa kayak di depan kamu. Menjelang bait terakhir, tempo piano kamu jadi cepat dan diakhiri dengan teriakan kamu." Renier meletakkan dagunya di tepi ranjang, jemarinya mulai menyusuri wajah Magani yang lebam. "Hari itu aku sadar, kamu bukan gadis nakal dan berotak udang..." Keduanya meringis bersamaan. "Kamu hanya gadis yang sedang berontak dan kesepian..." Renier tidak menyukai Magani yang terlihat rapuh hari ini, menyeretnya pada kenangan buruk yang menghancurkan banyak hal dalam kehidupannya, kehidupan Magani. "Setelah main piano... kamu ngambil kue kecil, ada lilinnya, terus kamu nyanyi happy birthday to me, kamu—" Renier membiarkan telunjuk Magani menghentikan gerak bibirnya. "Stop... aku tahu kelanjutannya. Aku buat permohonan, lilinnya aku tiup, kuenya aku lempar, terus aku teriak; gue benci dilahirkan ke dunia ini." Renier ikut mengucapkan kalimat terakhir bersama dengan Magani. "Jadi di ulang tahun aku yang ke delapan belas, mereka juga lupa..." Renier memajukan wajahnya ke Magani, menyisakan jarak yang sangat dekat dengan wanita itu. Garis-garis kesedihan mengukir wajah cantik Magani, dan Renier berpikir untuk menyudahi waktu berdongengnya. "Tapi setelah hari itu... ada yang ingat ulang tahun kamu terus." "Cakra?" Renier menggeleng. "Aku..." Renier menatap Magani beberapa saat, matanya tidak bisa lepas mengamati bibir Magani dan Renier berpikir apakah sebaiknya ia mencium Magani atau tidak. Jika dia mencium Magani, mungkin wanita itu akan berhenti bertanya dan tidur. Namun tatapan Magani yang semakin terlihat sendu dan rapuh membuat Renier tidak punya nyali untuk melakukannya. Keberanian Renier menghadapi Magani dan risiko yang dimaksud Agatha sore tadi menciut, nyaris menghilang secepat perasaan aneh yang datang ke dadanya. "Aku rasa kamu udah dapat jawaban, jadi... tidurlah. Besok kamu harus melewati beberapa test kesehatan." "Apa yang terjadi setelah aku melempar kue?" Renier tertawa kecil, bahkan di saat Magani amnesia sikap keras kepala wanita itu tidak hilang. "Aku masuk... makan kue yang kamu lempar." "Serius? Ih, kan jorok! Kamu nggak sakit perut? Please deh, kamu tuh orangnya kan bersih banget. Nih ya, aku tuh pernah lihat kamu nggak sengaja jatuhin kentang di meja kantin. Belum ada sepuluh detik, tapi kamu buang. Bukan itu doang, ka—" Renier berusaha keras menahan tawanya, tidak ada yang dia lakukan untuk menghentikan Magani yang bicara tentangnya dan kebersihaan makanan. Wanita itu berhenti sendiri, menggigit bibir bawahnya keras, dan wajahnya yang sedikit bengkak dan lebam mulai memerah. "Aku... hm—aku nggak sengaja kok ngelihat kamu kayak gitu, bukan... hm..." Renier mencubit ujung hidung Magani pelan. "Ini yang kita lakukan saat aku masuk ke ruang musik. Kamu tiba-tiba jongkok di depan aku, mukul tangan aku supaya kuenya jatuh, terus kamu nyerocos. Sekitar sepuluh menita kayaknya, terus kamu ngelakuin hal yang sama persis kayak sekarang... diam, gigit bibir, dan pipi kamu merah." Renier sedikit terkejut saat Magani dengan perlahan mengulurkan tangan dan menangkup pipinya. Mata cokelat wanita itu menjelajahi wajah dan menyelami mata Renier, seolah sedang memastikan banyak hal. "Apa besok ini akan berakhir? Apa ini mimpi? Ini semakin nggak masuk akal, Ren... semua yang kamu certain, itu kayak semacam dongeng penghantar tidur. Dan—" Sekali lagi, Renier mengambil risiko dengan mencium Magani. Pikiran rasionalnya lenyap ketika bibir yang sangat dia kenal sekaligus begitu asing membalas ciuman yang dia berikan. Telah lama ia melupakan rasa bibir ini, ternyata masih manis. Untuk sejenak Renier tidak mau memikirkan apa pun. Seperti biasa bibir Magani terlalu indah untuk dilewatkan, terlalu menggoda untuk diabaikan. Berhasil mengendalikan seluruh gejolak dalam dirinya, Renier melepaskan bibir Magani secara perlahan. "Apa masih terasa seperti mimpi?" tanya Renier. "Berhenti berpikir yang buruk. Kamu tahu, salah satu pemicu kita bertengkar adalah ini. Kamu dan pikiranmu yang dipenuhi ketakutan." Tidak ada jawaban dari Magani. Keduanya hanya beradu pandang. Renier membiarkan dirinya tenggelam pada mata cokelat Magani dan membiarkan kenyataan menang. "Kita sering bertengkar?" Tanpa ada kesan menuduh, hanya untuk memenuhi rasa penasaran. "Sedikit... hal remeh." Ada desiran hangat mengaliri d**a Renier saat melihat bibir Magani menunjukkan sekilas senyum, Renier tidak pernah bisa membohongi dirinya, senyum Magani satu dari sekian banyak hal yang sangat dirindukan Renier. Renier berdiri tanpa melepaskan genggaman tangan Magani dan... kamu adalah hal terburuk dalam hidup aku, Gan! Pemikiran itu bergaung dalam benak Renier tanpa diminta. Mendadak Renier menjadi tidak nyaman, dan Magani menyadarinya dengan cepat. "Are you okay?" "Ya, I'am okay!" Renier mengangguk dan melepaskan tangan Magani. "Jangan kuatirkan aku." Renier memaksakan senyum, lalu berbalik menghadap sofa bersiap untuk kembali ke tempatnya beristirahat tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Magani. Ia memejamkan mata, berusaha menghapus banyak gaungan yang dengan cepat memenuhi pikirannya. Kenapa aku harus terjebak bersama wanita yang rendah seperti kamu berulang kali? Pergi, Gani! Pergi dari kehidupan aku dan jangan pernah kembali! Aku lebih baik ke neraka daripada hidup bersama kamu! Renier memasukkan kedua tangannya ke saku, dan membentuk genggaman yang sangat kencang di dalam sana. Dia benci harus mendengar suaranya sendiri, mengulang kalimat yang sempat dia lemparkan untuk Magani lalu dia sesali. Tapi kemudian Renier membuka mata dan berbalik kembali ke arah Magani. Dunia seolah-olah berhenti. Demi Tuhan, Renier mengenal itu. Wajah yang mencoba menyembunyikan kesedihan padahal sangat jelas terlihat, lalu Magani berpaling dengan canggung menghindari tatapan Renier.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD