bc

Namaku Juwita

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
family
system
kickass heroine
sporty
gangster
heir/heiress
drama
tragedy
serious
mystery
game player
office/work place
childhood crush
affair
like
intro-logo
Blurb

Juwita harus pindah sekolah untuk yang ketiga kalinya. Pertama dan kedua karena Juwita malas bersosialisasi dengan manusia, dan yang ketiga karena pekerjaan Papa, Dia mulai bosan harus memperkenalkan diri kepada seluruh warga sekolah di lingkungan baru “Perkenalkan namaku Juwita”menjadi kalimat yang paling muak untuk diucapkan . Padahal Juwita sudah minta kepada Maminya untuk homeschooling saja, meskipun mereka pindah rumah ini karena pekerjaan Papa sebagai manajer di salah satu perusahaan keramik, dan Mami yang harus meninggalkan pekerjaannya sebagai MUA sudah terkenal sekota Medan. Rasanya Juwita tak yakin bisa bersosialisasi dengan orang-orang di sekolahnya yang baru. Walaupun begitu, Juwita akhirnya mencoba membuka diri untuk bersosialisasi dengan mencari teman virtual, sampai akhirnya bertemu dengan Daniel; teman virtual yang tanpa sengaja menumbuhhkan benih cinta pertamanya. Cinta itu datang dengan cepat mengobati rasa peduli, sayang, dan mengapresiasi yang tidak dia dapat dari Papa dan Mami Juwita. Sebagai siswa kelas 11 di semester dua, Juwita mulai mengubah pola pikirnya dan memberanikan diri berbicara dengan salah seorang murid laki-laki bernama Miko, yang saat itu diam-diam sering memperhatikan Juwita menyendiri di taman sekolah sampai senja. Miko si murid tampan; atlet tenis meja dan basket di sekolah. Bersekolah di sekolah yang terkenal hanya untuk orang kaya membuat Miko mendapatkan tekanan untuk terus bisa mengharumkan nama sekolah melalui pencapaiannya dalam dunia olahraga. Kalau tidak begitu dia tidak akan bisa bersekolah, karena selama ini beasiswalah yang membuatnya bertahan di sekolah itu. Juwita yang cukup namun orang tuanya yang tidak perduli dengannya membuat dirinya iri saat melihat keluarga Miko yang penuh rasa cinta, meskipun Ibunya tunarungu dan adiknya downsyndrom. Miko tetap mendapatkan kasih sayang penuh dari keluarganya. Pertemanan mereka tidak berhenti sampai disitu.

Semesta memiliki tujuan lain terhadap kepindahan Juwita di sekolah yang ketiga. Banyak rahasia busuk yang ternyata disimpan oleh Yayasan di sekolahnya. Satu persatu perlakuan guru mulai membuat Juwita menyimpan curiga, sampai akhirnya dia memustukan untuk berteman dengan Miko demi menyingkap kebusukan yang disimpan Yayasan sejak lama. Kebusukan itu ternyata berhubungan dengan keluarga Daniel.

chap-preview
Free preview
1. Kepindahan
Juwita duduk di kursi belakang, memandang keluar jendela mobil yang dingin terkena embun gerimis. Perjalanan baru berjalan dua puluh menit, namun suasana dalam kendaraan seakan membeku. Ayah dan Ibu belum mengucapkan sepatah kata pun sejak pagi. Lebih baik begini, pikirnya. Diam lebih baik daripada pertengkaran dengan suara meninggi, piring terbang, atau sumpah serapah yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Mungkin, di tempat baru, semuanya akan berubah. Mungkin. Ia tidak merasa senang, juga tidak merasa sedih. Hampa. Sama seperti kebanyakan hari dalam hidupnya. Suara radio yang tiba-tiba menyala membuatnya sedikit mengerutkan kening. Itu lebih baik daripada keheningan yang menyesakkan. Dengan malas, ia menyandarkan kepala ke kaca jendela, merasakan dinginnya menempel di pelipis. Mobil melaju di jalanan yang masih basah, sesekali suara ban menggesek aspal terdengar ketika kendaraan lain menyalip. Di jok depan, Ibu asyik dengan ponselnya, wajahnya diterangi sinar biru dari layar. Ayah, seperti biasa, fokus pada jalanan. Keduanya lebih mirip rekan kerja yang hidup dalam satu rumah daripada pasangan suami istri. Juwita mendesah pelan. Kata Ibu, dia terlalu apatis. Kurang peka. Antisosial. Tapi apa salahnya? Sosialisasi tidak pernah terasa menarik baginya, terlebih ketika orang tuanya sendiri tidak pernah mencontohkan interaksi yang sehat. Ia lebih suka berada di dunianya sendiri, dunia yang tidak menuntutnya untuk berpura-pura. Namun, kalau soal nilai, jangan ditanya. Itu satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan dalam hidupnya. Masuk sekolah baru di semester dua kelas tiga SMA memang konyol, tapi pilihan bukan berada di tangannya. Semua ini karena pekerjaan Ayah yang mengharuskannya pindah ke Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Ibu pun harus menyesuaikan, meskipun bisnis Wedding Organizer-nya sudah cukup terkenal di Medan. Sambil menghela napas, Juwita mengeluarkan headphone dari ransel hitamnya. Tiga jam perjalanan dengan hanya mendengar radio? Tidak mungkin. Ia butuh distraksi, butuh sesuatu yang bisa membantunya bertahan dalam perjalanan ini. Lagu pertama yang ia putar adalah "Swim" dari Chase Atlantic. Beat-nya harus keras, harus memenuhi telinganya sepenuhnya. “Taa.” Suara Ibu menyelinap di sela-sela alunan musik. Dengan malas, ia menurunkan sedikit headphone-nya. “Besok Ibu nggak bisa nemenin daftar sekolah, ada klien di Aceh.” “Aman,” jawabnya singkat. “Ayah juga, Ta. Besok pagi harus langsung ke Pangkalan s**u, ada pertemuan penting.” “Iyaa, aman. Lagian biasanya juga aku ngurus sendiri.” Ayah mengangguk, menutup pembicaraan tanpa basa-basi. Hening kembali menyelimuti. Juwita kembali menekan headphone ke telinganya, menaikkan volume sampai dunia di sekitarnya menghilang. *** Juwita terbangun ketika mobil berhenti di sebuah tempat ramai. Ia mengerjapkan mata, merasakan sesuatu yang lengket di sudut bibirnya. Dengan cepat, ia mengulurkan tangan ke arah Ibu. “Bu, tisu basah.” Tanpa menoleh, Ibu menyerahkan sebungkus tisu baru. “Nih.” “Thanks.” Juwita mengambil satu lembar, mengelap bibirnya lalu membuangnya ke tempat sampah kecil di dalam mobil. Dari dalam kendaraan, ia melihat kesibukan orang-orang di luar. Spanduk besar bertuliskan "Keripik Rindu Gebang" menarik perhatiannya. Ia menoleh ke Ibu. “Bu, ini di mana?” “Gebang.” “Masih jauh ke Pangkalan Brandan?” “Enggak.” Ia mencari-cari sosok Ayah di antara kerumunan, matanya menangkap pria dengan kemeja biru tua yang tengah memilih keripik. Setelah beberapa saat, Ayah kembali, menyerahkan plastik penuh jajanan ke pangkuan Juwita sebelum kembali ke kursinya tanpa sepatah kata. Mobil kembali melaju, meninggalkan keramaian. Jalanan semakin sepi, tanda bahwa mereka semakin mendekati tujuan. *** Gerbang putih dengan tulisan "Komplek Puraka II Pangkalan Brandan" menyambut mereka. Mobil berbelok masuk, melewati jalanan yang lebih sempit. Dari tempat duduknya, Juwita mengunyah dodol sambil mengamati lingkungan baru. Matanya menangkap momen langka—Ayah dan Ibu mengambil dodol dari wadah yang sama, tangan mereka sempat bersentuhan. Tapi, seperti refleks, Ibu buru-buru menarik tangannya. Juwita pura-pura tidak melihat. Lalu, semuanya kembali seperti semula. Ayah diam. Ibu sibuk dengan ponselnya. Dan Juwita? Ia masih dengan pikirannya sendiri, mencoba menebak seperti apa kehidupannya di tempat baru ini. Tanpa ekspektasi, tanpa rencana. Yang jelas, ia tahu satu hal—hidupnya akan tetap datar. Seperti biasa.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook