5. Dijodohkan atau Berjodoh?

1290 Words
Sekitar jam sepuluh, Abella baru bangun. Dia disambut pusing yang cukup menyiksa, lantas meringis memegangi kepalanya. Rambut cokelat bergelombang milik Abella berantakan, sedikit bersinar terkena cahaya matahari. Abella berusaha mengatur napas untuk meraih perasaan yang lebih tenang. Teringat kejadian semalam, Abella menggigit ujung kuku. “Mau coba sekarang, Sayang?” Rayuan Kieran menyusup pelan ke telinga Abella, membuat pertahanannya runtuh. Meski kegugupan menjalari tubuhnya, dia tetap mengangguk pelan dan mulai menyesuaikan posisi—dengan hati yang berdebar dan napas yang belum sepenuhnya tenang. "Rileks, Sayang. Nggak usah tegang. Ini udah ketiga kalinya kita coba, aku harap kamu bisa tahan sedikit." "Iya. Aku coba." Abella menggenggam lengan Kieran erat, napasnya tertahan tanpa dia sadari. Sesekali tubuh Abella mundur perlahan, refleks dari rasa takut yang masih membayangi. Kieran membimbing Abella dengan penuh kehati-hatian, tangannya menenangkan di perut Abella, seolah berkata, “Aku di sini.” Saat dia mulai masuk perlahan, Abella meringis—matanya berkaca, antara ragu dan belum sepenuhnya siap. Entah karena takut, atau karena hatinya masih berjuang menerima seluruh rasa yang datang bersamaan. "Mau diterusin atau udahan?" Dari nadanya, Kieran kesal. "Kamu baik-baik aja?" "Enggak." "Coba sekali lagi. Kalau masih sakit, udahan aja. Lagian aku pusing, nggak bisa fokus." “Tutup aja mata kamu, nggak usah lihat,” ucap Kieran pelan. Abella mengangguk dan menurut, membiarkan Kieran melanjutkan. Tapi rasa itu masih sama, menusuk dan menakutkan. Refleks, dia menarik tubuhnya menjauh, kali ini sedikit tergesa. Kieran pun terdiam, mulai kehilangan kesabaran. “Maaf, Sayang … aku nggak bisa. Sakit banget, rasanya kayak badan aku mau belah. Kita lakuin dengan cara yang biasanya aja, ya? Maafin aku.” Suaranya nyaris bergetar, penuh rasa bersalah. “Padahal tinggal sedikit lagi. Kamu nggak bisa tahan sebentar aja? Nanggung banget,” balas Kieran, kecewa. Dengan hati-hati, Abella memegangi milik Kieran, melakukannya dengan mulut sebagai pengalihan dan penolakan halus. Dia tahu Kieran sedang menahan emosi ketidakpuasannya. Tapi di dalam diri Abella, rasa takut masih terlalu kuat untuk dilawan. "Pagi, Sayang." Kieran menyapa riang dengan senyuman lebar—membuyarkan lamunan Abella. Lelaki itu datang membawa nampan berisi beberapa makanan untuk mengisi perut mereka. "Kamu pusing?" Menyecup pipi dan puncak kepala Abella, sekaligus merapikan rambut gadis itu—digulung ke atas. Kieran melakukan semuanya tanpa beban, dia kadang memang terbiasa memanjakan Abella. "Heum, makasih." Balas menciumi Kieran, tapi kali ini dengan bumbu beberapa kecupan manis di bibir. "Kamu marah? Maafin aku, ya. Udah ngecewain kamu terus." "Aku baik. Nggak usah dipikirin." Abella mengangguk senang, merasa lega. "Makan apa kita, Sayang?" Seperti kejadian yang sudah-sudah, Kieran tidak berniat membahas masalah mereka sama sekali. Jika dibahas pun, pasti ujung-ujungnya bertengkar. Abella maupun Kieran menghindari keributan. "Bubur ayam buat kamu, aku makan sereal sama jus dadaa ayam. Buburnya aku beli di tempat biasa, soalnya tadi habis gym di daerah sana." "Aku kesiangan bangun. Maaf, ya, jadinya nggak bisa masakin kamu sarapan." "Santai aja, Sayang. Aku siapin obat kamu dulu, kamu bisa cuci muka gosok gigi." Sembari menyiapkan keperluan Abella, Kieran menoleh ke arah ponsel Abella di meja. "Sayang, Papa nelpon." "Ngangan dianggat." Abella menyahut tidak jelas, mulutnya sedang ada sikap gigi. Cepat-cepat dia menyelesaikan, kemudian menelepon balik sebelum Damian ngamuk. "Kamu diam dulu, Sayang, biar nggak ketahuan nginep." "Jangan video call, leher sampai dadaa kamu banyak aku tandain." Menunjuk ke arah kissmark, hasil perbuatannya semalam. Ketika sambungan telepon terhubung, Abelle menuju balkon, bicara berdua saja karena tidak enak pada Kieran. Damian selalu sinis bahasanya jika pada Kieran, menunjukkan secara jelas ketidaksukaannya pada lelaki itu. "Sibuk, Sayang?" "Enggak, Pa. Aku baru bangun, tadi di kamar mandi." "Bisa pulang sebentar, Nak? Papa mau ngobrol sama kamu. Udah lama Papa tidak mencicipi kue buatan kamu." Abella mengigit kuku, diam beberapa saat. "Hari ini, Pa?" Damian bergumam mengiyakan, kelihatan santai, tetapi Abella cemas sekali mendengarnya. "O—oke. Nanti agak siang aku pulang." "Dijemput supir, ya? Biar kamu menginap saja di sini, besok weekend, Papa tahu kamu tidak punya jadwal penting, 'kan?" Kalau Damian sudah bicara seperti ini, Abella tidak mungkin menolak. Dia terlalu takut, takut semua fasilitasnya ditarik Damian jika ketahuan bandel dan tidak patuh. "Papa marah, Sayang?" Abella mengisi daya ponselnya, lalu duduk di samping Kieran. "Enggak kok. Aku disuruh pulang, Papa mau makan malem bareng, aku juga bakalan menginap. Kamu nggak pa-pa aku tinggal sampai lusa?" "Sebenarnya minggu aku ada pertandingan basket, Sayang. Tapi kalau kamu menginap, nggak pa-pa, aku sendiri aja." Tatapan Abella menyendu, menggeleng cepat. "Aku usahain bisa." Menggenggam Kieran, mengangguk pasti. Kieran tidak punya siapa pun selain Abella yang bisa diandalkan, tidak mungkin dia membiarkan Kieran sendirian. "Nanti aku bawain bekal sehat buat kamu." "Makasih, Sayang. Mau aku jemput?" "Nggak usah. Aku nanti diantar supir, pulangnya kita bareng." Kieran tersenyum lega. Berhasil lagi bikin Abella nurut. Bilang saja Kieran egois, karena sengaja mengambil waktu dan perhatian Abella sepenuhnya hanya untuk dirinya. "Aku cuman punya kamu, jangan tinggalin aku." Abella terdiam sejenak, menatap Kieran yang kini terlihat rapuh, jauh dari sosok keras kepala yang sering dia lawan. Perlahan, Abella mengusap rambut Kieran, penuh kelembutan. Sebuah kecupan singgah di pelipis, lalu pipi Kieran, seolah dia ingin menenangkan badai dalam dadaa lelaki itu. “Kamu segalanya buat aku, Kie,” bisiknya, nyaris seperti pengakuan paling jujur yang bisa dia berikan. Dalam diam yang menggantung, dua hati saling berpegangan—tak sempurna, tapi nyata. Mereka tahu, rasa cinta tak selalu datang dengan cara yang tenang. Tapi saat ini, mereka memilih tetap saling memeluk, meski dunia kadang terasa menolak. Sementara di tempat lain, Damian menekan pelipisnya, menahan pening saat menonton rekaman semalam. Abella di klub, lalu pulang menuju kediaman Kieran. Hati Damian mencelos, pikirannya tak berhenti bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya? Mengapa cinta Abella kepada lelaki itu begitu membutakannya, seolah logika tak lagi punya ruang? “Bagaimana ini bisa terjadi pada putri kesayanganku, Felix?” ucap Damian lirih, nyaris tak percaya. Tak bisa dipungkiri, hatinya hancur melihat sang anak dalam keadaan seperti itu. “Mau saya cari tahu lebih banyak mengenai hubungan mereka? Sepertinya belum sebegitu jauh, Tuan.” “Kamu yakin?” Damian menutup laptopnya, menyudahi rekaman itu. “Perempuan dan lelaki tidur seranjang, kamu yakin mereka hanya tidur, Felix? Mereka bukan anak kecil.” “Saya bisa merasakan apa yang Tuan rasakan. Saya pun punya Flora, yang begitu kami kasihi dan rawat dengan penuh cinta. Apa yang bisa saya bantu, Tuan? Katakan saja.” Meski tidak lagi bekerja untuk Damian, Felix adalah seseorang yang sangat Damian percayai dan bisa diandalkan dalam hal apapun. Mereka seperti keluarga. “Saya sudah menyuruh Abella pulang dan menginap beberapa hari. Kami akan bicara pelan—dari hati ke hati, Felix. Saya harap dia mengerti kecemasan saya sebagai Papanya.” “Pasti, Tuan.” Felix tersenyum, kemudian berusaha menghibur Damian dengan meminum kopi mereka. “Omong-omong, pria tadi yang akan Tuan jodohkan dengan Chiara?” “Ya. Menurut kamu bagaimana?” “Wajahnya seperti Anda di masa muda. Kalian lumayan mirip, dia sangat tampan.” Damian terkekeh. “Saya berharap Chiara menyukainya. Daripada bersama lelaki kurang ajar di luar sana, lebih baik bersanding dengan pria mapan dan jelas asal-usulnya.” “Apa perlu saya cari tahu mengenai dia, Tuan?” “Ya, minta tolong, Felix. Jangan sampai membeli kucing dalam karung. Saya berharap dia tidak punya pemberitaan buruk, atau coba kamu cari tahu selama dia mengenyam pendidikan di Amerika. Bagaimana pergaulan dan cara dia menjalin hubungan dengan wanita sebelumnya. Tadi saya tanyakan pada ayahnya, dia masih sendiri.” Felix mengangguk, lantas menelusuri salah satu situs yang memuat artikel mengenai pemuda mapan itu. “Dia pernah dihebohkan penyuka sesama jenis.” Damian membaca artikelnya sekilas, kemudian tersenyum singkat. “Omong kosong. Saya tidak percaya artikel murahan seperti ini. Cari informasi lebih banyak selain itu, Felix. Saya lihat, dia punya pembawaan diri yang tenang.” “Baik, Tuan. Nanti saya kirimkan ke surel pribadi Anda.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD