Lucan melipat kedua tangannya di pinggang, menatap Chiara tajam penuh intimidasi. Chiara pikir akan dimarahi—dia sudah menutup mata was-was dengan apa yang terjadi habis ini, ternyata Lucan hanya menghela kasar. "Bersiaplah, Tylor akan mengantarkan kamu pulang."
Chiara mengusap d**a, menghela panjang penuh kelegaan. Melihat hal itu, Lucan memijat pelipis.
"Jangan mengatakan apa pun lagi di hadapan Daddy, saya yang akan mengurusnya."
Karena keributan tadi membuatnya kehabisan kata, Chiara balas dengan anggukan kecil. Dia sekarang makin takut salah bersikap, sepertinya meski diam, Lucan menyimpan dendam padanya. Huh, apa dia sesalah itu? Padahal Chiara berniat jujur.
Keluar dari ruang pakaian, Lucan sudah tampan menggunakan setelan kerjanya. Dia semakin gagah dengan balutan serba hitam, Chiara sampai terdiam cukup lama akibat menghirup aroma musk yang begitu menenangkan dan ini wangi sekali.
Hei, Lucan mengingatkan Chiara pada masa muda seseorang yang tidak asing di hidupnya. Mereka lumayan mirip.
"Taylor belum datang?"
"Belum. Aku takut keluar sendirian, jadi aku putusin nunggu kamu aja."
Lucan mengambil jam tangannya di nakas, kemudian memeriksa ponsel. Tylor rupanya sedang dicegat oleh Thorne, mungkin dicecar habis-habisan apa saja yang Tylor ketahui mengenai kehidupan Lucan beberapa waktu belakangan hingga berani muncul bersama wanita muda.
"Kamu seperti mencurigai saya?" Lucan menatap Chiara sekali lagi, penuh pertanyaan. Dia senang membaca seseorang dari ekspresinya, dan Chiara kentara sekali tidak senang dengan dirinya. "Simpan kartu nama saya. Jika nanti terjadi sesuatu setelah dari sini, kamu bisa menghubungi nomor yang tertera. Saya akan tanggung jawab."
Sebenarnya Chiara tidak bermaksud, dia hanya takut berhadapan dengan Thorne untuk kedua kalinya. "Aku bisa langsung pulang aja? M—maksudnya, kita nggak ada urusan lagi, 'kan?"
Lucan diam, sekarang paham kecemasan gadis itu mengarah ke mana.
"Gini deh, aku bakal traktir kamu kopi lain waktu, sebagai ucapan terima kasih. A—aku nggak bermaksud mencurigai kamu, hati aku aja lagi busuk sekarang." Teringat tentang hamil menghamilii, bulu kuduk Chiara meremang. Dia terbayang yang tidak-tidak.
"Tidak perlu, saya tidak menuntut kamu balas budi. Lupakan saja kejadian ini."
Chiara mencibir pelan, kemudian mengiyakan saja. Lagian siapa yang mau berurusan dengan Lucan lagi? Bahkan pertama kali ketemu, sudah berbagai macam kejadian tidak menyenangkan yang membuat Chiara hampir kena serangan jantung.
"Tylor, antarkan dia pulang. Saya akan mengemudi sendiri ke kantor."
Tylor merasa terselamatkan, segera berpamitan dan membawa Chiara meninggalkan penthouse Lucan. Tylor paham, Lucan tidak memberikan ruang pada Thorne berkenalan maupun mengobrol dengan Chiara.
"Aku bisa pulang sendiri." Ketika lift tertutup, Chiara berusaha santai, karena kelihatannya Tylor tidak sekejam Lucan.
"Izinkan saya mengantarkan Anda, Nona."
Mau tak mau, Chiara menurut. Bukan waktunya berdebat, apalagi sikap yang Taylor berikan padanya sopan sekali.
"Gedung apa ini?" Chiara tentu tahu Lucan bukan orang sembarangan, dilihat dari kediaman maupun cara pembawaan dirinya yang maskulin sekali.
"Gedung Maelric."
"Maelric? Lucan Maelric?"
Taylor mengangguk. "Lucan adalah penerus keenam Maelric."
Chiara hanya beroh-ria. Dia tidak terlalu mengetahui deretan orang sukses ibu kota ini, mungkin nanti akan Chiara tanya pada Damian atau menyusuri jaringan internet untuk mengulik beberapa informasi. Chiara yakin, Lucan bukan asli orang tanah air.
"Mobil Nona mau saya antarkan ke mana nantinya? Ke alamat yang sama?"
"Jangan. Ini kediaman orang tuaku, jangan sampai Papa tau. Nanti kamu bisa antarkan ke apartemen Almeer, gedung A. Orang sana tahu siapa aku, titipkan saja kuncinya pada mereka." Chiara duduk di kursi belakang—memberikan kartu namanya, Taylor mengangguk paham. "Jangan mengatakan apa pun, bilang saja kamu orang bengkel."
"Baik, Nona."
"Terima kasih, Taylor."
***
"Baru datang, kemudian pergi lagi?"
Damian masih berada di ruang keluarga, melihat Chiara sudah rapi kembali dengan pakaiannya. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan rupawan ini menikmati secangkir kopi dan beberapa potong kue buatan istri tercinta—Ratih.
Di usianya yang tak muda lagi, membuat beberapa perubahan terlihat. Damian menua, itulah faktanya.
Chiara menyapa hangat, memeluk Damian. Mungkin sudah terhitung dua minggu mereka tidak bertemu. Damian baru balik dari Singapura bersama Kenan, kemudian Chiara beberapa hari ini sibuk hingga baru sekarang bisa mampir ke kediaman Faresta.
"Aku pikir Papa ke kantor."
"Nanti siang, barusan Papa ada meeting dengan klien secara virtual." Damian tersenyum hangat, menatap Chiara cukup lama, hingga membuat anak itu tidak enak. Apa Damian mengetahui kejadian Abella dan dirinya semalam?
Jangan heran, Damian adalah manusia spek intel. Dia bahkan lebih jenius dari yang orang-orang kira. Chiara sulit bohong, karena selalu ketahuan.
Satu lagi fakta menarik, meski menua, kegiatan favorite Damian tidak berubah. Dia masih senang berkuda, menembak, bahkan sekarang berburu ke hutan. Ratih setia menemani, bahkan kadang rela kemping untuk memuaskan keinginan Damian.
"Kata Felix, kamu menghubunginya semalam. Kenapa tidak langsung ke Papa saja?" Damian tahu jika Felix pun tak berniat membocorkan, hanya saja khawatir pada keadaan Chiara. Dini hari bukan waktu yang baik untuk anak gadis melakukan panggilan berkali-kali jika keadaannya tidak mendesak.
Chiara sudah menduga hal ini. Dia lupa mengingatkan Felix melalui pesan agar tidak memberi tahu pada Damian. "Mobil aku mogok, Pa, lagi nyari makan di luar." Dia menggenggam Damian, mengecup punggung tangan papanya. "Aku sedih lagi untuk kesekian kalinya, keinget dia. Lagi-lagi terjebak di masalah yang sama. Maaf, Pa, aku belum jago mengatur emosi aku tentang hal ini."
"Sedih berkepanjangan lagi, Nak?"
"Heum. Aku tau Papa bakalan panik kalau tahu aku di luar jam segitu. Aku aman sekarang, Pa. Semuanya baik-baik aja. Aku bakalan segera lupa sama kejadian itu."
Damian mengusap rambut Chiara, mengiyakan saja. Entah ini alibi atau bagaimana, Damian berusaha mempercayai putrinya tanpa menghakimi. Dia selalu berusaha agar menjadi seorang ayah yang baik.
"Pria baik di luar sana masih banyak. Putri Papa ini sangat cantik, tidak ada yang bisa menolak. Dia hanya seekor pria tidak bertanggung jawab, tidak pantas kamu cemaskan berlebihan."
Chiara tertawa mendengar kalimat Damian. "Seekor? Memangnya dia kucing, Pa? Iseng banget deh."
Damian ikut tertawa, mencubit gemas dagu Chiara. Dia akan menjadi rumah yang nyaman untuk istri maupun anak-anaknya.
"Apa kesibukan kamu hari ini, Nak? Abella tidak diajak ke sini?"
"Lagi sibuk banget kayaknya, Pa, nggak tau tuh dari kemarin aku belum ada main sama dia." Chiara mencicipi kue sisa Damian. "Aku mau ke studio hari ini, Pa. Ada beberapa jadwal anak yang latihan piano dan biola."
Kebetulan setahun yang lalu, Chiara membangun studio khusus les private musik. Lumayan banyak anak yang antusias ikut dan betah hingga saat ini, kira-kira sudah ada sekitar dua puluhan anak.
Sementara ini, baru ada les piano, biola, dan gitar. Chiara dibantu beberapa guru handal juga untuk menghandle anak-anak setiap harinya. Mungkin tahun ini, Chiara akan memperluas studio musiknya, agar ada tempat khusus bagian les menari dan menyanyi. Weekday maupun weekend Chiara selalu dipenuhi jadwal yang padat. Dia sangat mencintai kegiatannya yang menyenangkan ini, berbeda sekali dengan Abella yang masih bingung dengan pilihan hidupnya.
"Papa mau bicara sama Abella, tapi dia susah disuruh pulang. Tolong bicara sama dia, ya, jangan senang menghamburkan uang dan keluyuran terus. Di usia beginilah kalian harusnya memulai karier."
Damian diam, bukan berarti tidak mengawasi. Dia tahu pergaulan Abella, namun memilih tidak mencampuri terlalu jauh—ini juga saran dari Ratih. Andai Damian memakai cara kerasnya, Abella sudah sejak dulu berpisah dengan Kieran.
"Iya, Pa. Mama mana, kok sepi banget dari tadi? Aku mau samperin ke kamar, kebetulan ada Papa di sini."
"Ke kafe, Sayang. Kamu kayak nggak tahu Mama kamu aja, dari dulu suka banget nyari kesibukan, tidak bisa diam. Kamu makan dulu sebelum pergi. Menginap di sini aja, Sayang, besok weekend juga."
"Nggak bisa, Pa. Jadwal weekend aku padat minggu ini, banyak anak yang latihan. Ada perlombaan juga soalnya."
Damian menghela berat, Chiara terkekeh dan segera memberi pelukan. "Kalian sudah besar-besar. Tinggal Papa sama Mama saja di rumah ini, rasanya sepi sekali."
Zionathan sudah berumah tangga, si kembar di apartemen, kemudian Gabriel sedang melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Baru bulan lalu berangkatnya. Selain Zionathan, Gabriel juga akan menjadi penerus nantinya.
"Maaf ya, Pa. Nanti deh aku nginap di sini lebih sering. Habisnya, rumah kita di pinggiran kota, ih. Jauh mau ke mana-mana."
"Kamu bisa menggunakan helikopter. Semuanya mudah, kamu saja yang kadang kebanyakan mikir."
Chiara mengerucutkan bibir.
"Minggu depan, tepatnya malam rabu, kamu bisa kosongkan jadwal? Papa mau ajak kamu ke pameran lukisan bersama beberapa rekan bisnis Papa."
"Mau!"
Damian tersenyum. "Nanti sekalian Papa kenalkan pada seseorang. Sudah saatnya melangkah lagi, hidup kamu masih panjang dan layak bahagia, Nak."