3. Gayy?

1033 Words
Memandangi Chiara yang tenang sekali dalam tidurnya, membuat sebelah alis Lucan terangkat. Dia iri sekali. Kok bisa ada manusia setenang ini dalam tidurnya? Gadis itu bahkan tidak banyak gerak, sejak semalam telentang saja. Damai, nyenyak, seolah tidak punya beban pikiran apa pun. Saat Lucan sentuh keningnya untuk mengecek suhu tubuh, Chiara terkesiap, perlahan mulai membuka mata sembari menyesuaikan retina dengan cahaya pagi yang menyambutnya. Tempat tidur berukuran jumbo itu langsung menghadap dinding kaca—dibalut tirai putih tipis seperti yang ada di pintu menuju balkonnya. Langit terlihat sangat cerah. Lucan tenang, berbeda dengan Chiara yang langsung berjengkit, berusaha menjauhkan diri dari sosok yang sangat asing baginya. "Gimana keadaan kamu? Masih pusing atau sudah mendingan?" Karena tahu ini akan sangat canggung, Lucan lebih dulu membuka suara, sebelum dirinya dimaki atau difitnah yang tidak-tidak. Dengan tenang, Lucan juga menyiapkan obat, air hangat, dan sandwich untuk sarapan Chiara. Dia menjamu tamunya dengan baik, ini momen langka jika ada yang mengetahui. "Kamu siapa?" Chiara menatap sekelilingnya, ruangan mewah yang memanjakan, kemudian mulai was-was ketika menyadari pakaiannya hanya tersisa dress pres body tanpa lengan yang dia pakai semalam. Ke mana mantelnya? "Lucan Maelric." Mengulurkan tangan, masih dengan wajah sulit dibaca oleh Chiara. Bukannya menerima uluran itu, Chiara malah semakin merapatkan selimut menutupi tubuhnya. Dia mencari barang-barangnya di dekat sana. Tidak minat berkenalan, karena takut meski wajah Lucan tampan sekali. "Ponsel kamu mati, baru saja saya isi daya." Memberikan obat dan air hangat. "Minum obatnya, lalu sarapan. Jika ingin makanan berat, bilang saja, nanti saya pesankan." Melihat Chiara tak menanggapi apa-apa, Lucan meletakkan kembali obatnya di nakas. Tidak lama setelahnya, Chiara meminum dan memakan sandwichnya. Lucan terkekeh pelan, dia tahu gadis itu lapar. Sejak tadi pagi sebelum dia pergi joging, memang terdengar bunyi kecil dari perut Chiara. "Saya menemukan kamu nangis sendirian di pinggir jalan—kawasan menuju club, jika kamu lupa. Kamu pingsan dalam keadaan demam, dan mobil mogok. Nanti supir saya yang akan mengantarkan mobil kamu jika selesai." Dengan pipi menggembung berisikan gigitan sandwich, Chiara mendongak menatap Lucan. Ujung bibirnya belepotan saos, Lucan refleks mengusapnya tanpa aba-aba. Hal ini tentu membuat Chiara kaget untuk kesekian kali, cepat-cepat dia menyadarkan diri dan mengusap sendiri ujung bibirnya yang bekas disentuh Lucan tadi. "M—makasih." Lucan mengangguk, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Baru semenit hilang, dia kembali muncul dengan keadaan tanpa kaos, Chiara hampir saja menyemburkan airnya. Pemandangan apa yang Chiara terima sepagi ini? Dia dipertontonkan secara gratis perut pria berbentuk roti sobek? "Saya mandi sebentar, ada meeting yang harus saya pimpin satu jam lagi. Supir saya akan mengantarkan kamu, bersiaplah." Sepeninggal Lucan, Chiara melompat dari kasur, memegangi dadanya yang berdebar sangat kencang. Kenapa canggung sekali dan dia seperti gadis bodoh di hadapan pria asing? Perasaannya tiba-tiba bergejolak aneh. Di sela-sela merapikan tempat tidur, ada seseorang datang mengetuk pintu. Dia adalah Taylor. "Lucan, Tuan Thorne datang. Menghadaplah sebelum dia yang datang ke sini," ucap Taylor setelah mengetuk pintunya. "Kelihatannya Tuan Thorne marah pada Anda." Lucan ingkar janji terus belakangan ini, bukan salah Thorne yang memilih duluan menyambangi kediaman putranya. Chiara menyampaikan pada Lucan. Dia tidak masuk kamar mandi, tetapi suaranya cukup terdengar hingga ke sana. "Katanya, Tuan Thorne datang." Cepat-cepat Lucan menyelesaikan mandinya, keluar hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang. "Ngapain kamu nggak pakai baju?" jerit Chiara memundurkan diri dua langkah ke belakang. Yang tadinya gugup, kini bertambah ingin meledak dadanya. Banyak sekali Chiara menerima kejutan. "Lucan. Buka pintunya." Ketukan tidak sabaran terdengar, Lucan langsung menarik Chiara untuk menyuruhnya bersembunyi. "Kamu penjahat?" "Dia daddy saya. Bersembunyilah dulu sebentar, jangan keluar sebelum saya suruh. Mengerti?" Lucan memasukkan Chiara ke kamar mandi, kemudian memberikan mantel dan tasnya buru-buru. "Lucan. Kamu menyembunyikan wanita?" Thorne memicing curiga, kemudian memasuki kamar Lucan tanpa izin. "Kenapa lama sekali membuka pintu?" "Dad, aku lagi mandi." Lucan menatap penuh peringatan pada Taylor yang menunduk, begini saja tidak bisa diandalkan. Harusnya bisa mencegah Thorne ke kamar. Padahal Taylor pun tahu jika Chiara sedang bersamanya. Bodohnya lagi, tadi malam Lucan memang membawa Chiara di kamar pribadinya. Dia malas naik ke lantai atas. "Ada siapa di kamar mandi?" Thorne curiga, apalagi melihat Lucan tampak sedikit berbeda dari biasanya. Setenang apa saja air muka Lucan, bahkan sehari-hari jarang menunjukkan ekspresi, Thorne hapal bagaimana putranya. Kali ini, instingnya kuat. "Tidak ada, Dad." Lucan mencegah Thorne ke arah sana, mengalihkan ke hal yang lain. "Aku lagi buru-buru, Dad, bukannya kita ada meeting setelah ini?" "Jangan main-main, Lucan. Kalau tidak ada siapa pun di sana, biarkan Taylor yang mengeceknya untuk meyakinkan Daddy." "Dad, untuk sementara ini aku tidak berminat mengenal perempuan mana pun." "Kamu gayy?" Thorne memicing. Dia jadi teringat pemberitaan yang pernah mencuat, mengatakan jika Lucan penyuka sesama jenis. Lucan memijat pelipisnya murka, menahan agar tidak mengumpat. "Daddy serius menanyakan hal ini?" "Coba Daddy tanya, sudah berapa wanita yang kamu tidurii?" Taylor sampai tersedak dan lekas membuang muka, begitupun dengan Chiara yang membekap mulutnya syok. "Dad, cukup!" "Daddy perlu cucu. Hamili wanita mana pun, jika tidak, Daddy akan terus meragukan kenormalanmu." "Jangan gila. Bagaimana mungkin itu terjadi." "Meniduri wanita saja kamu tidak becus. Jangan mempermalukan keturunanku, Lucan!" Thorne berdecih, melipat tangan di dadaa. "Begini saja, kamu atau Daddy yang menikah?" Lucan menyerah berdebat, Thorne sepertinya memang ngebet sekali melihat dirinya menikah, padahal itu pilihan terakhir dalam hidup Lucan. Dia tidak suka terikat. "Taylor, bawa Daddy ke ruang depan." "Kamu pikir Daddy lupa sama kamar mandimu itu? Buka dulu, Tylor, aku yakin sekali di dalam sana ada wanita yang sudah dia tiduri. Hanya ingin tahu, seleramu bagus atau payah." Chiara mengacak rambut, semakin tidak tahan dengan drama ini. Dia ketakutan memikirkan apa yang akan terjadi padanya jika ketahuan. Apa dia harus keluar dan berkata jujur untuk menghindari masalah lebih besar? "Keluar enggak, keluar enggak, keluar." Chiara membuat keputusan dengan perhitungan kancing mantelnya. Di luar sedang berusaha keras mencari cara agar Thorne teralihkan, di dalam kamar mandi Chiara malah memutuskan untuk keluar. Persetann dengan respon mereka, Chiara memunculkan diri di hadapan semua orang, dengan senyuman singkat. "Halo, aku Chiara." Sapaan maut yang berhasil membuat Lucan mengusap kasar wajahnya. Dia menyuruh Taylor membawa Thorne yang kaget bukan kepalang—ini kali pertama Lucan secara terang-terangan memasukkan perempuan ke kediamannya, bahkan kamar pribadi. "Aku bisa jelaskan, Dad," ucap Lucan pasrah ketika menerima tatapan tajam dari Thorne.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD