Di hari libur seperti ini, Lucan justru sibuk menghabiskan waktu di kantor, menyiapkan dan mempelajari beberapa berkas penting yang akan dibawanya dalam perjalanan bisnis besok ke luar kota. Perjalanan itu hanya berlangsung sehari—paling lambat, Selasa sore Lucan harus sudah kembali, karena malam harinya dia dijadwalkan menghadiri acara bersama Thorne.
Sebenarnya, Lucan tidak tahu seberapa penting acara itu. Namun, karena Thorne bersikeras ingin ditemani, dia pun menurut. Meski tak tertarik dan jadwalnya sudah sangat padat, Lucan memilih mengalah demi ayahnya, duda genit yang gemar menggertak akan menikah lagi. Lucan sudah muak mendengar ancaman lama itu, tapi sialnya, gertakan Thorne selalu berhasil membungkamnya.
"Sudah jam sebelas, Lucan. Anda tidak berniat pulang?" Taylor mengingatkan sekali lagi, padahal Lucan bilang maksimal jam sepuluh agar punya waktu istirahat. Namun nyatanya, Taylor tunggu sambil membaca surat kabar dan menikmati americano, Lucan tak berniat menyudahi kesibukannya.
"Iya, ini sudah selesai."
Setelah sekitar sepuluh menit membereskan mejanya, Lucan akhirnya memutuskan pulang. Malam ini, Taylor akan menginap di penthouse milik Lucan, karena esok harinya dia turut menemani perjalanan luar kota. Mereka akan bepergian berdua, dan Taylor bertugas memastikan segala kebutuhan Lucan terpenuhi selama di sana. Selain menjadi supir pribadi, Taylor juga menjadi orang paling dipercayai oleh Lucan.
"Taylor, di depan sana kita putar balik. Saya mengenali seseorang di halte barusan."
"Siapa?"
"Putar balik dulu, siapa tahu saya salah lihat."
Taylor mengiyakan, lalu menuju halte yang dimaksud Lucan.
"Nona Chiara?"
Lucan menjentikkan jari, tiba-tiba tersenyum. Entah karena penglihatannya tidak keliru, atau karena seseorang yang berada di halte itu.
"Kamu tunggu di sini saja, Taylor, aku akan menghampirinya dulu."
Tidak tahu apa yang sedang Lucan pikirkan, dia melangkah mantap menuju Chiara—padahal pertemuan terakhir mereka di studio saat menjemput Thales, hubungan keduanya jelas jauh dari kata akrab.
Dari jarak satu meter, bahkan tanpa perlu menoleh, Chiara sudah tahu siapa pemilik aroma khas yang begitu melekat. Wangi itu terlalu familiar untuk dilupakan.
"Lucan, ngapain di sini?"
Lucan menatap jam di tangannya. "Hampir setengah sebelas. Harusnya saya yang tanya, ngapain kamu duduk di sini sendirian? Mobil kamu mogok lagi?"
Ngomong-ngomong, tadi pagi Taylor sudah mengantarkan mobil Chiara ke kediamannya. Tidak lucu jika langsung mogok lagi, kan?
"Enggak. Aku habis dari studio, terus beli air di sana. Aku niatnya duduk sebentar aja di sini, tau-tau udah mau sejam."
"Mobil kamu?" tanya Lucan, menoleh ke sekeliling. Tak terlihat mobil merah milik Chiara terparkir di mana pun.
"Aku tadi naik taksi. Apartemenku di sana, dekat kok dari sini. Bisa jalan kaki. Kamu pulang aja, aku lagi banyak pikiran."
Lucan melipat tangannya di dadaa, lalu menatap Chiara beberapa saat. "Melamunnya di unit aja, lebih aman. Kamu perempuan."
Ucapan singkat itu, entah kenapa, membuat hati Chiara terasa hangat. Dia sedang butuh perhatian, dan kalimat Lucan seolah menjadi penyemangat kecil yang tak terduga.
"Mau ngopi sebentar nggak? Anggap aja aku traktir, balas budi dari kejadian kemarin."
"Sebenarnya, besok pagi saya harus ke luar kota," jawab Lucan pelan.
Chiara cemberut, wajahnya memelas dengan ekspresi yang tak biasa. Lucan menangkap itu, menatapnya sejenak tanpa berkata apa-apa.
Menggemaskan.
"Di mana?" tanyanya mengalah, suara Lucan terdengar melunak. Dan ya, ini juga tak biasa Lucan lakukan pada orang lain, selain Thorne.
Senyum Chiara merekah, dia menarik tangan Lucan, membawa pria itu menyeberang jalan untuk menyambangi sebuah kafe yang buka hingga dini hari.
"Saya air mineral saja."
"Kamu nggak terlalu suka kopi?"
"Suka, tapi saya biasanya susah tidur. Jadi kalau minum kopi lagi, istirahat saya bisa makin kurang. Semalam saja saya cuma tidur dua jam."
Chiara mengerti, lalu memesan hazelnut tanpa gula dan air mineral untuk Lucan. Mereka duduk di luar, sembari menikmati angin malam. Chiara lagi perlu teman cerita, kebetulan Lucan datang.
"Kembaran aku juga sering insomnia. Nanti aku beliin teh yang sama, biar kamu lebih tenang dan bikin ngantuk."
Lucan mengiyakan saja, rasanya tidak bisa jika harus menolak.
"Kenapa kita nggak ajak Taylor aja, kesian dia nunggu di mobil sendirian."
"Tidak masalah. Dia sudah terbiasa." Lucan meminum air mineralnya, lantas memusatkan tatap pada Chiara lagi. "Ada hal yang ingin kamu ceritakan?"
"Heum. Harusnya aku pulang ke rumah malam ini, tapi setelah kupikir-pikir lagi, kayaknya di unit aja. Aku lagi berselisih sama kembaran aku, kita berantem karena salah paham sepele. Dia lakuin kesalahan, dan orang tua aku marah dengan sikapnya yang nggak bijak."
Lucan mendengarkan tanpa menyela. Hal ini jarang dia lakukan. Lucan bukan tipe yang mudah terbuka, apalagi untuk percakapan pribadi. Selain Taylor, Lucan hampir tak mempercayai siapa pun. Hidupnya adalah miliknya sendiri—terlalu banyak luka dan alasan untuk menjaga jarak. Bagi Lucan, cukup dia yang tahu, tak perlu ada orang lain ikut campur. Dia juga merasa lebih tenang dengan pilihan seperti ini.
"Papa aku orangnya lumayan keras dan nggak bisa mentoleri kesalahan kembaran aku. Aku akui, dia memang salah. Tapi aku juga ngerti posisinya, dia lagi jatuh cinta sama seseorang yang dia anggap penting banget dalam hidupnya. Aku pernah ada di posisi itu. Emang kelihatan bodoh, tapi ya gimana lagi ... namanya juga cinta."
"Menurut kamu, aku harus minta maaf? Aku salah karena terkesan ikut menyudutkan dia, padahal dia perlu dukungan. Dari kecil kami sama-sama, dia juga sering bela aku di hadapan papa dan mama."
Lucan tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. "Kalau menurut kamu minta maaf bisa meredakan hubungan kalian, lakukan saja."
"Wajar kok kalau sebagai saudara kita kadang salah arah, entah itu membela atau menasihati. Tapi coba lihat dulu situasinya ... kalau dia memang sedang tidak butuh nasihat, mungkin cukup temani dan beri semangat. Soalnya, orang yang lagi mabuk cinta biasanya nggak akan dengar siapa pun, bahkan kalau dia jelas-jelas sedang salah langkah."
Chiara membenarkan. "Besok aku bakal temuin dia dan minta maaf. Kasihan Abella dikurung di kamar. Papa nggak bolehin dia keluar sampai bener-bener putusin pacarnya. Papa sama mama mungkin trauma, karena dulu pernah ada kejadian nggak menyenangkan dari Abang aku."
"Kalian umur berapa?"
"Dua puluh tiga."
"Kalau dari segi umur, di usia segitu memang lagi semangat sekali ingin mencoba berbagai hal baru. Saya mengerti, karena saya juga pernah ada di masa-masa seperti ini."
Jujur saja, Lucan terdengar begitu bijak saat bicara tadi—padahal kenyataannya, dia jauh lebih liar dan tak terkontrol dibanding kebanyakan orang. Sejak remaja, ia hidup di luar negeri dan terbiasa dengan pergaulan bebas. Thorne pun seolah tak pernah benar-benar mempermasalahkan itu. Mungkin karena Lucan laki-laki, atau mungkin juga karena Thorne sendiri, di masa mudanya, pernah memiliki kehidupan yang jauh lebih berantakan.
Kalau saja Chiara mengenal dunia Lucan lebih dalam, bisa jadi dia akan syok. Lucan melihat Chiara sebagai sosok yang sangat polos, jenis perempuan langka di zaman sekarang.
"Nanti, kalau kamu jatuh cinta, kamu akan paham perasaan kembaranmu. Hal-hal yang kelihatannya tidak masuk akal—bahkan salah, bisa terlihat benar di matanya. Bukan karena dia bodoh atau tidak tahu, tapi karena logikanya sedang kalah oleh perasaan. Kamu sendiri ... belum pernah jatuh cinta, ya?"
Chiara tersedak, kemudian menatap Lucan cukup dalam. Meski Chiara tidak menjawab pun, Lucan sudah tahu jawabannya.
"Pernah."
"Kamu pernah disakiti seseorang di masa lalu?" Keterdiaman Chiara, menjadi jawaban paling jujur. "Sepertinya kamu menyimpan trauma, dan takut jika kembaranmu juga menyalami hal yang sama. Saya benar, 'kan?"
"Kayaknya udah malam banget, Lucan. Kita pulang, yuk?"
Lucan paham Chiara sedang menghindari obrolan ini, dia bisa mengerti dan tak akan memaksa. Bukan urusan Lucan, apalagi mereka baru kenal dan akrab malam ini.
"Saya antarkan, tidak usah jalan kaki. Ayo, masuk, kita juga searah."
Karena malam ini Lucan sangat bersahabat dan berhasil menenangkan Chiara, dia menerima tawaran baiknya.
"Makasih, Lucan. Nanti aku kirim tehnya ke kantor atau penthouse kamu?"
"Saya lebih senang jika kamu saja yang mengantarkan."