Untuk menghadiri acara pameran lukisan bersama Damian, Chiara tampil anggun mengenakan dress putih selutut, dipadukan heels 5 cm berwarna senada dan tas kecil berwarna hitam. Rambut keritingnya ditata rapi dengan gulungan elegan, menyisakan beberapa helai di bagian depan sebagai pemanis. Meski penampilannya terkesan sederhana, Chiara tetap berhasil memikat siapa pun yang memandangnya.
Pakaian yang Chiara kenakan serasi dengan Damian, tadi siang mereka sudah janjian memilih hitam dan putih.
“Kamu udah ngobrol sama Abella?”
Chiara mengangguk pelan. Meski percakapan mereka sempat memanas di awal, akhirnya Abella mulai melunak setelah Chiara memberinya masukan. Kali ini, Chiara memilih untuk lebih memahami dan memberi ruang bagi kembarannya. Menjalin hubungan kasih memang tidak dilarang, asalkan tetap tahu batasan.
Jika pun sudah terlanjur melangkah terlalu jauh, setidaknya tetap bersikap hormat pada orang tua. Nantinya, jika Kieran memang memiliki niat baik untuk menikahi Abella—tunjukkan sikap yang semestinya agar Damian bisa luluh. Tapi untuk saat ini selagi Damian masih marah, jangan dulu melawan. Karena semakin Abella bersikeras, semakin sulit pula Damian memaafkan.
Benar kata Lucan semalam, “Orang yang lagi jatuh cinta itu buta. Dia tidak akan mudah menerima apa pun yang bertentangan dengan perasaannya. Nanti jika sudah lelah, dia akan berhenti sendiri tanpa diminta.”
“Apa Abella bisa memahami kekhawatiran Papa?”
“Iya, Pa.” Chiara menatap Damian, berusaha menengahi. “Untuk sementara, apa Papa juga bisa memberi Abella sedikit ruang? Mungkin dia perlu waktu sampai bener-bener bisa putus dengan Kieran. Bicara soal perasaan memang sedikit sensitif dan susah, Pa. Aku ngeti yang dirasain Abella, paham banget juga yang Papa khawatirin.”
“Papa tidak pernah melarang kalian menjalin hubungan, nikah muda pun boleh. Tapi kalau tinggal seatap, kumpul kebo, Papa tidak bisa menerima. Papa hanya tidak ingin kalian menyesal. Dari sisi perempuan pun, hal seperti ini sangat dirugikan. Cukup Papa dan Bang Zio saja yang salah arah, kalian jangan. Kalau ingin hidup bersama, silakan. Papa akan restui kalian menikah di usia berapa pun.”
“Kalau Kieran mau menikahi Abella, Papa juga akan merestui mereka?”
“Tergantung niat lelaki itu. Kalau cuma untuk main-main, lebih baik tidak usah. Abella menikah bukan untuk jadi janda.” Damian berbicara realistis—apalagi ini menyangkut putrinya yang sangat dia jaga. “Andai anak itu hidupnya lurus, Papa tidak akan mempermasalahkan, Nak. Jika kamu tahu segalanya, kamu pasti kaget. Kieran itu hidupnya bebas, bahkan orang tuanya sendiri tidak mampu mengendalikannya.”
“Dari yang aku tahu, Kieran nggak deket sama orang tuanya, Pa. Dia hidup bersama neneknya. Papa juga tahu?”
“Iya. Ada hal-hal yang tidak bisa Papa beri tahu sekarang, karena ini akan sangat menyakiti Abella. Ada alasan kenapa Kieran memilih mengasingkan diri dari keluarganya, Sayang, bahkan sejak dia masih remaja. Papa juga tidak berani menyalahkan dan menghakimi, karena manusia punya alasan dan dosa masing-masing. Papa hanya ingin lihat, sejauh apa Kieran memperjuangkan Abella jika mereka dipaksa berpisah.”
“Aku ngerti, Pa.”
Obrolan mereka berakhir saat tiba di lokasi acara. Damian langsung disambut oleh seseorang yang kemudian mengarahkan mereka ke ruang utama. Acara dibuka dengan beberapa sambutan, sebelum akhirnya mereka berkeliling menikmati deretan lukisan indah karya para seniman hebat.
Saat seorang pemandu menjelaskan satu persatu lukisan yang dipamerkan, perhatian Chiara tiba-tiba teralihkan oleh aroma parfum yang begitu familiar. Dia menoleh ke beberapa arah, mencari sumbernya, hingga akhirnya matanya menangkap sosok Lucan yang berdiri di ujung ruangan. Pria itu tampak sendirian, sibuk menatap layar ponselnya.
Andai saja Chiara tahu mereka akan bertemu malam ini, tentu dia akan membawa teh yang sempat dijanjikannya kemarin. Padahal, teh itu sudah sempat dia beli.
“Ada lukisan yang menarik perhatian kamu? Papa mau membawa pulang salah satu atau dua di antaranya. Kamu punya usul? Semuanya tampak menarik bagi Papa.”
Sungguh, Chiara kesulitan untuk fokus mendengarkan penjelasan sang pemandu tentang lukisan-lukisan itu. Matanya terus saja mencuri pandang ke arah Lucan, meski berkali-kali mencoba menyadarkan diri agar bersikap normal. Chiara gemas ingin menghampiri, namun tak bisa—posisinya sedang bersama Damian, dan tentu saja itu bukan waktu yang tepat.
Aneh, mereka selalu punya cara bertemu yang tidak terduga.
“Damian …?”
Seorang pria yang tampaknya sebaya dengan Damian menghampiri, tapi Chiara tidak terlalu memperhatikan. Fokusnya masih tertuju pada deretan lukisan, mencari satu yang paling memikat menurut pandangannya. Namun, ketika aroma parfum khas Lucan tercium semakin dekat, dia refleks menoleh—seolah tubuhnya lebih jujur dari pikirannya.
“Nak, kenalkan … ini teman Papa, Thorne. Dan yang di sebelahnya itu, si ganteng, Lucan. Putra semata wayang Thorne.”
Chiara spontan menganga, lalu menatap Thorne dan Lucan bergantian. Jantungnya berdebar kencang, panik membayangkan kemungkinan Thorne menceritakan hal-hal yang tidak perlu, terutama soal dirinya yang pernah kedapatan tidur di kamar Lucan.
Bisa mati Chiara.
“Chiara.” Dia menyalami Thorne dengan sopan, lalu saat akan mengulurkan tangan pada Lucan, pria itu malah tertawa kecil.
“Lucan Maelric, ketiga kalinya.”
Chiara mencibir pelan, sebal.
“Kalian saling mengenal?” Damian cukup memahami bagaimana situasinya, lalu Thorne menepuk punggung Damian sambil tertawa dengan tatapan penuh arti.
Tahu ‘kan bagaimana tawa orang banyak duit. Ya, seperti itulah kiranya.
“Ini kejutan yang saya maksud.” Thorne mengangkat bahu santai, lalu menyeruput minumannya. “Dia pernah berada di—”
“Pa, aku ke toilet sebentar, ya? Kebelet banget,” potong Chiara cepat-cepat, menyela sebelum Thorne sempat melanjutkan. Rasa panik menyerangnya tiba-tiba. Jangan sampai Thorne membuka rahasia itu, Chiara bisa-bisa bernasib seperti Abella.
Chiara bergegas pergi, berharap bisa menenangkan diri sejenak. Namun tak lama, Lucan justru menyusulnya—hal yang paling tidak Chiara harapkan saat ini.
Ah, kini Damian dan Thorne pasti makin yakin bahwa ada sesuatu di antara mereka. Ini benar-benar tidak lucu. Chiara bahkan tak tahu harus menjelaskan dari mana jika Damian mulai bertanya.
“Ngapain disusul?”
“Kita sedang dijodohkan.”
“Apa?” Chiara makin syok, memegangi dadanya tidak percaya. “Jangan bercanda kamu.”
“Daddy bilang, dia ingin menjodohkan saya dengan putri temannya. Saya juga tidak menyangka jika ternyata kamu orangnya. Kenapa tidak bilang dari awal kalau kamu anak Paman Damian? Saya cukup kenal dekat dengan ayah kamu, selama bekerja di sini.”
“Terus gimana dong?”
Damian mengeluarkan kartu nama Chiara yang dia dapatkan dari Thales, di sana ada nomor gadis itu.
Bukan hanya Thorne, bahkan Thales pun ikut ambil andil dalam menjodohkan mereka. Aneh, ya, kok bisa kebetulan seperti ini?
Chiara Chesna F. F untuk Faresta. Lucan tidak kepikiran sama sekali. Kemarin malam, Lucan juga sempat mencari tahu mengenai Chiara dan studio musiknya, tetapi tidak ada yang berkaitan langsung dengan Damian.
“Saya tidak gimana-gimana.” Lucan tersenyum, menaikkan bahu.
“Kamu setuju dijodohin sama aku?”
“Memangnya kamu tidak mau?”