"Cukup sampai depan pintu aja lo anterin gue."
" Gak bisa gitu sayang, aku harus selalu memastikan my princess sampai dengan selamat, nyaman dan tidak kurang satu apapun, jadi biarkan aku masuk untuk mengecek untuk memastikan keamanan di dalam sana," bujuk Gala.
"Modus aja lo!!" jawab Audy dengan memutas bola mara malas.
"Modus sama pacar sendiri nggak papa dong, siapa tau nanti malah dapat bonus," jawab Gala sambil mengangkat kedua alisnya.
"Gak usah, lo pulang aja, toh gue sudah sampai dengan selamat gak kurang satu apapun, kalau lo ikutan masuk bisa jadi berkurang gue," jawab Audy dengan nada ketus.
"Emang apaan sih yang berkurang sayang? jangan bilang kalau kamu belum pernah ngapa-ngapain? Demi apa Audy? Kamu bikin aku spechless," heran Gala, karena dia terbiasa hidup dengan hingar bingan dunia malam, menjadikan s*x adalah hal yang wajar untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan dia sudah merasakan itu saat masih duduk di bangku SMA, makanya tidak heran kalau dia disebut playboy.
"Emang gue elo, yang suka celup sana sini, makanya gue nekanin sama lo dari awal, no s*x," jawab Audy.
Mendengar jawaban Audy, sebenarnya dia cukup terkejut dan tidak percaya bahwa Audy belum pernah melakukan hubungan s*x, mengingat lingkungan sosial Audy yang bisa dikatakan bebas, walaupun tak sebebas dirinya, tapi untuk night club bukan lah hal baru lagi.Terlebih banyak lelaki yang mencoba mendekatinya.
Namun saat mendengar langsung kebenaran itu, membangkitkan sesuatu dalam diri Gala, dia seperti mendapat jacpot, dia sadar sebenarnya dia bukan hanya suka atau sayang dengan Audy tapi ada sedikit obsesi untuk bisa memilikinya, apalagi sering kali dirinya di tolak oleh Audy untuk menjadi pacarnya, jadi saat kesempatan ini datang, akan dia manfaatkan.
Entah setan dari mana yang merasukinya, apalagi melihat Audy mengomel semakin membuat rasa penasaran pada bibir tipis pink Audy. Tanpa pikir panjang langsung saja dia sambar bibir itu untuk di kecupnya sambil mendorong pintu yang sudah di buka kuncinya oleh Audy.
Perlawanan dari Audy tidak ada artinya bagi seorang Gala, semakin Audy memberontak, semakin Gala melumat bibir Audy, bahkan dia mengigit kecil bibirnya agar bisa melumat lebih dalam lagi dan menjelajahi mulut Audy.
Karena belum pernah merasakan hal tersebut dan terlalu kaget dengan tindakan Gala yang tiba- tiba mencium bibirnya, Audy seakan menjadi linglung dia hanya memukul d**a Gala, tapi tubuhnya merasa lemas dan kekuatannya seakan menghilang, sehingga tidak dapat mencegah tindakan Gala dan dia tidak bisa berbuat apapun.
"Haisss, Ahh..." lengkuhan dari Audy semakin membuat semangat dan adrenalin Gala semakin meningkat.
"Terus sayang, buka mulutnya, balas ciumanku sayang," ucap Gala setelah melepas ciuman mereka karena melihat Audy yang hampir kehabisan nafas dan setelahnya kembali melumat bibir tipis itu, tapi kali ini mendapat respon dari Audy dan tidak ada perlawanan, yang di pikirkan Audy saat ini adalah menikmatinya toh dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, mau melawan pun akan kalah tenaga mengingat postur tubuh Gala yang tinggi dan besar belum lagi ekspresi wajah kemerahan Gala yang membuatnya terlihat lebih menantang.
Tak cukup sekali, dua kali Gala mencium bibir Audy, dia merasa ketagihan dengan hal itu, padahal itu bukanlah ciuman pertamanya, tapi saat melakukannya dengan Audy ada rasa yang berbeda. Entahlah mungkin karena memang dia cinta. Akan tetapi Gala tidak mau sampai merusak atau meniduri Audy, karena baginya Audy terlalu berharga jika di bandingkan mantan-mantannya.
"Rasanya manis sayang, terima kasih banyak untuk ini," ucap Gala sambil mengusap sudut bibir Audy yang membengkak karena ulahnya.
"Enak aja terima kasih doang, lo udah nyuri ciuman pertama gue, nggak mau tau lo harus tanggung jawab!" sinis Audy padahal dalam hatinya deg-degan sambil menyembunyikan mukanya yang memerah malu.
" Hahaha, kamu semakin menggemaskan kalau malu malu begini sayang, untung aja aku sayang sama kamu, jadi aku masih bisa mengontrol diriku, walaupun yang di bawah sama sudah ada yang tegak tapi bukan tiang," goda Gala.
"Aku bakalan candu banget sama bibir kamu, sumpah sayang bikin ketagihan, boleh gak kalau lebih dari ini?" pinta Gala dengan memelas.
"Gak! jangan harap ya gue bisa luluh sama rengekan lo, enak banget lo, emang situ siapa? awas aja berani macem-macem lagi, gue nggak mau deketan sama lo lagi," ancam Audy.
"Aku kan pacar kamu, masak kamu lupa, kita baru aja jadian beberapa jam yang lalu, masak lupa, apa perlu aku ingetin lagi?? mau aku ingetin pakai apa nih? mau di cium lagi biar inget terus?" goda Gala semakin membuat Audy salah tingkah.
" Enak aja, gue bukan pacar lo, asal lo tau. Dan lo sudah melanggar kesepakatan kita dengan seenaknya nyium gue tanpa persetujuan gue, sekarang gue nggak mau dekat an sama lo lagi, pulang sana!" ketus Audy sebenarnya untuk menutupi kegugupannya.
"Kalau kamu nggak mau ngakuin hubungan kita dan menjauh dari aku, aku nggak akan mikir dua kali untuk nidurin kamu saat ini juga, kita bisa menghabiskan malam ini dengan bercinta Audy sayang, aku suka dengar suara desahan kamu "Ahhh" sexy sekali", jawab Gala semakin berani menggoda Audy.
Sebenarnya dia tidak sungguh- sungguh ingin meniduri Audy, dia sebenarnya hanya mengertak saja karena dia tau Audy sebenarnya gadis yang polos walaupun terlihat sok berani dan sok mengerti dunia malam.
"Jangan macam- macam lo Gal, atau gue..." belum selesai ucapan Audy sudah dilumat kembali bibirnya oleh Gala dan sekarang tanpa perlawanan bahkan Audy mengalungkan tangannya ke leher Gala sembari menikmati ciuman yang gak lagi pertama.
" Aku sayang banget sama kamu Audy, aku janji akan buktikan sama kamu dan nggak akan macem-macem sama kamu, cuma satu macem aja kok," goda Gala sambil matanya menatap Audy yang mengatur nafas dan tangan satunya dengan nakal meremas b****g Audy.
" Aiss, Gala tangannya!" sentak Audy dengan kaget yang menghadirkan tawa Gala dan selanjutnya dia peluk gadisnya dengan erat.
" Aku pulang ya, terima kasih untuk makanannya lezat, sepertinya setiap hari aku akan mampir kesini minta sarapan, makan siang ataupun makan malam," ucap Gala dengan mengerlingkan mata dan hal itu sukses membuat Audy semakin salah tingkah.