Naka masih mencoba menenangkan hatinya, sampai-sampai kaki kanannya tidak bisa berhenti bergerak. Firasat Naka tepat, sang MC langsung menyanyakan kisah cintanya ketika SMA.
"Okay mba Naka, soal kisah cinta masa SMA nih, apa yang paling terkesan sampai saat ini buat mba Naka?" pertanyaan tersebut lancar keluar dari mulut si MC. Naka pun gelisah melemparkan pandangannya ke Tian dan balik lagi ke MC.
"Hehe, ko bingung gitu mba Naka jawabnya?" goda sang MC "Ko liatin mas Tian, hayo ada apa nih antara mba Naka dan mas Tian?" lanjut sang MC yg curiga. Semua wanita yang masih berdiri di depan panggung langsung berbisik, Naka masih ga tau mau jawab apa, sedangkan Tian hanya tersenyum menanggapi godaan sang MC.
"Duh saya bikin gosip ajah yah! hehe, okay mba Naka apa nih yg paling berkesan dari kisah cinta semasa SMA, terutama di sekolah ini?"
"PUTUS!" jawab Naka dengan muka datar. sang MC melongo mendengar jawaban dari Naka dan segera memecahkan suasana. Di sebrang panggung, Bari pun ikut meringis mendengar jawaban Naka, seperti ada bongkahan batu kali yang menimpa jantungnya. Andrei dan teman-temannya yg lain langsung melemparkan pandangannya ke Bari langsung merasa cemas, apakah Bari baik-baik saja? batin Andrei, tapi ternyata Bari kembali tersenyum, Andrei pun bingung dan bertanya-tanya apa yg akan dilakukan temannya yg sudah gila ini.
"Wah, bener yah mba Naka, yg udah berlalu mah ya udah yah, apa lagi soal mantan, haha!" seru sang MC yg dibalas senyum tipis oleh Naka. Kemudian salah satu panitia menghampiri MC dan membisikan sesuatu.
"Okay, ternyata kita sudah ada satu peserta yah, ya masnya boleh maju!" pinta sang MC. Ternyata Bari yg dimaksud sang MC. Bari berjalan dengan mantap menuju ke mic yg disiapkan oleh panitia di bawah panggung. Di belakang Bari terdengar sayup-sayup bisikan alumnus lain. Ya mereka begunjing dan tentu saja tau yg dimaksud Naka PUTUS, ya putus antara Naka dan Bari. Semua teman angkatannya dan seniornya tau, bahwa Bari adalah mantan Naka.
"Okay masnya namanya siapa?" tanya sang MC.
"Nama saya Bari!" jawab Bari sambil tersenyum dan enggan melepaskan pandangannya ke Naka.
"Okay mas Bari, saya mewakili panitia mau mengucapkan terima kasih atas bantuannya, mas Bari mau request lagu apa?" tanya sang MC.
"Saya request lagu only one by Yellowcard." sahut Bari yg masih memandang ke arah Naka.
"s**t!" lirih Naka yg tanpa sengaja terdengar oleh Tian dan langsung menghampiri Naka.
"Knp sayang?" tanya tian dengan muka keheranan, namun Naka hanya menjawab dengan gelengan kepala. Tentu saja tian sudah mulai curiga, tian ingat pria ini. ya ingat muka Bari, pria yg waktu itu datang ke kantor dan menunggui Naka hingga Naka pulang.
"Wow, saya inget lagu ini!" seru Tony. "Wah kenapa tuh ka? Dalem bgt yah ka lagunya?" tanya si MC penasaran.
"Wah sangat ini, terutama makna dari lagunya! masnya mau versi akustik atau yg biasa?" tanya tony ke Bari.
"Akustiknya ajah mas, biar kita yg disini bisa ikut nyanyi bareng!" seru Bari dengan semangat 45.
"Okay kalau gitu! saya serahkan panggung ini ke mas Tony dan teman-teman yah!" seru sang MC sambil menyingkir dari atas panggung.
Ketika Naka mendengar Bari minta versi akusti, Naka buru-buru bangun dari duduknya dan berlalu akan turun dari panggung dan kemudian disusul oleh Tian. Tian langsung meraih tangan Naka sebelum sampai ke bawah panggung.
"Kamu mau kemana? kamu kenapa?" tanya tian dengan muka keheranan, sebenarnya lebih ke menyeramkan karena Tian terlihat marah.
"Mau istirahat sebentar kan lumayan, lagi juga kalau versi akustik aku g bis ikut main sayang!" sanggah Naka, padahal kenyataannya Naka bisa saja tetap berada di panggung, namun Naka merasa tidak nyaman karena pasti Bari tidak akan melepaskan tatapannya ke Naka sambil menyanyi lagu itu.
"Bener ko ian kata Naka, loe berdua istirahat ajah dulu!" sahut Tony yg menghampiri mereka berdua. Kemudian Tony menghampiri Naka dan mendekatkan mukanya sampai ke kuping Naka "Be professional Naka! remember that!" bisik Tony.
Naka langsung membalikkan badannya dan segera turun panggung. Bari dari sebrang panggung masih tidak melepaskan pandangannya dari Naka dan dia pun baru sadar bahwa Tian, pacar Naka, ternyata berada di satu panggung bersamanya. Hati bari memanas melihat Tian menggandeng tangan Naka menuruni panggung, bari tentu sudah tidak menikmati lagu yg sedang dibawakan. Dia benar-benar kesal tanpa dia sadari, dia mengepal tangannya dan berjalan beberapa langkah menuju ke arah Naka. Untungnya ditahan oleh Andrei yg dari tadi memperhatikan gerak-gerik Bari dan takut hal ini akan terjadi.
"Sabar bro, tenangin hati loe! loe liat, Naka masih sama pacarnya, kalau loe mau ngerebut Naka lagi harus dengan cara elegan tanpa cap orang ketiga! okay!" ucap Andrei sambil merangkul pundak Bari dan mengelus d**a Bari biar tenang. "Gue temen loe, gue juga mau lo bahagia, tapi ga gini yah caranya!" sambung Andrei dan Bari pun langsung menganggukkan kepalanya.