Lagu only one by yellowcard terdengar merdu di telinga para penikmat musik. Naka dan Tian memutuskan untuk duduk di belakang panggung sambil menunggu giliran lagu berikutnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya tian untuk memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Aku ga apa-apa ko, beneran deh!" jawab Naka sambil menggigit bibir bawahnya. Tian tak kuasa menahan nafsunya langsung memadukan bibir mereka secara kilat.
"Aku tau kamu g jujur, cerita sama aku sekarang siapa Bari? aku udah pernah lihat dia pas di kantor kamu. Kamu tau, waktu itu dia nungguin kamu pulang kerja?" lanjut Tian sambil menyentuh lembut pipi Naka.
"Iya aku tau!" jawab Naka sambil menganggukkan kepalanya.
"Trus?"
"Dia mantan aku."
"Kenapa kamu ga cerita?" tanya Tian lagi yg masih butuh penjelasan.
"Pertama, kamu ga pernah tanya, kedua, aku ga mau cerita, ketiga, aku juga ga mau inget dia lagi." jelas Naka.
"Trus, dia ke kantor kamu ngapain waktu itu?"
"Itu kebetulan, dia memang ada keperluan karena ada perjalanan dinas dari kantornya. Pas banget aku baru sampai kantor trus dia lihat aku. Dia nanya ke staff aku, yah staff ak jawab apa adanya." jelas Naka berusaha untuk hati-hati agar terdengar seperti tidak ada apa-apa.
"Trus kamu ketemu dia?" tanya Tian untuk memastikan kejanggalannya yang kemudian dijawab anggukan kepala oleh Naka. "Ngomong apa dia?"
"Dia bilang mau ngomong soal aku dan dia, yg sebenernya aku ga paham." jelas naka. Muka tian berubah seperti dipenuhi banyak pertanyaan dan pada akhirnya Naka menceritakan masa lalunya dengan Bari.
"Kenapa kamu baru cerita ini semua ke aku?" sergah tian dengan nada kecewa.
"Kan aku udah bilang, aku memang ga mau cerita karena udah ga penting buat aku!"
"Penting buat aku Naka, sekarang dia mau nuntut apa lagi ke kamu, jelasin ke aku!" pinta Tian dengan nada bicara sedikit tinggi.
"Aku sih udah ga perduli dan ga mau tau dia mau apa lagi tapi Diaz bilang, dia mau balik lagi ke aku." lanjut naka dengan nada khawatir kalau tiba-tiba Tian berubah jadi marah.
"Loh, gimana? Istrinya?" tanya Tian yg terlihat sedikit geram mendengarnya.
"Diaz bilang, istrinya sudah tiada, makanya ketika dia liat aku, dia bersih keras untuk kembali ke aku." tian terdiam tidak ada sanggahan atau pertanyaan. "Tapi aku ga gubris dia sedikit pun, percaya sama aku." lanjut Naka untuk meyakinkan Tian.
"Okay, aku percaya, kalau gitu sekarang ajah aku ngomongnya" lanjut tian dan dibalas naka dengan muka kebingungan.
"Ha? maksudnya?"
"Tadinya aku mau nanya sesuatu hal setelah acara ini selesai, tapi kalau keadaannya kaya gini, lebih cepat lebih baik." lanjut Tian yang kemudian mengeluarkan sebuah box kecil berbahan beludru hitam.
"Kita udah lama pacaran, lama bgt bahkan, aku udah memikirkan ini sekitar 2 tahun belakangan ini." tiba-tiba tian membuka box yg di dalamnya ada 2 buah cincin berwarna hitam, yg satu berbentuk sederhana dengan lingkar agak tipis dan terdapat mata berlian hitam di atassnya dan yg satu berbentuk polos dengan lingkaran aga tebal tanpa mata berlian.
"Aku ga bisa bersikap romantis kaya di telenovela atau di novel-novel kesukaan kamu, jadi kamu mau kan menghabiskan sisa masa hidup kamu sama aku?" lamar tian dengan senyum tulus yang tiba-tiba menarik naka agar duduk dipangkuannya.
"Hahaha, kamu serius?" tian tak menjawab hanya menunjukan muka datarnya. "hiii, ya aku mau, ak mau menghabiskan sisa masa hidup ku sama kamu." jawab naka sambil memeluk tian dengan erat. Tian langsung menyematkan cicin tersebut ke jari manis kiri Naka. Tiba-tiba...
"Kok,aku yg ini bukan yg itu?" protes Naka.
"Dih, ni kan emang yg buat cewe syg, gimana sih kamu, masa aku pake yg ada matanya! Ah kamu mah keterlaluan." jawab tian sambil memanyunkan bibir seksinya.
"He, ya bercanda sayang." jawab Naka sambil menyematkan cincin yg satunya ke jari tian. Tiba-tiba di samping mereka terdengar deheman seseorang.
"Ehhheemm, sudah pangku-pangkuannya?" tanpa mereka sadari ternyata Tony menyaksikan tingkah mereka dari tadi.
"Woh, sejak kapan kakak da disini?" tanya Naka yg langsung bangun dari pangkuan Tian.
"Dari mulai drama lo disamperin mantan lo yg aneh itu!" sahut tony dan langsung memeluk naka dan tian secara tiba-tiba. "Selamat yah, akhirnya kalian memutuskan untuk mengakhiri masa lajang kalian." terang Tony. "Jadi gw dilangkahin nih?" lanjut Tony sambil mengacak-ngacak rambut Naka.
"Sorry ka, kalau keadaannya kaya gini, gw ga bisa tunda lagi." jawab Tian sambil merangkul pinggang Naka.
"It's okay, gw setuju ko. Selamat yah sekali lagi. ya sudah ke panggung lagi yah kita harus bawain 2 lagu lagi!" perintah Tony yg langsung diiyakan oleh Naka dan Tian. Disisi lain panggung, tanpa mereka sadari, Bari menguping semua pembicaran Naka dan Tian dengan tangan mengepal dan hati yg mulai memanas, Bari langsung pergi setelah cincin tersebut disematkan di jari Naka. Ini bukan akhir dari cerita kita Naka batin Bari sambil menunjukan seringai menyeramkan.