Setelah mengisi acara yang menguras batin dan tenaga, Tian yg hatinya sedang berbunga memutuskan tidak ikut serta ajakan kakak dan para sepupunya untuk menyambangi salah satu cafe yg biasa mereka datangi. Tian memutuskan membawa Naka ke apartmentnya untuk melepas lelah, saling mendekap hangat dan bercanda gurau di depan TV yg sepanjang jalan sudah terbayang di benak Tian. Senyum tian tidak pernah lepas dari mimik mukanya, sampai membuat Naka terheran.
Naka yg merasa aga lelah dan tidak terlalu menggubris senyuman tian, ia pun langsung mendekap ke tubuh tian dan mencoba untuk tidak mengganggu tian yg fokus mengendarai mobilnya sambil sesekali mengelus lengan tian.
"Capek syg?" tanya tian tiba-tiba.
"Lumayan, tapi aku seneng!" seru naka.
"Seneng sih tapi tetep ga ada ekspresinya gtu muka kamu." protes tian yg dibalas senyuman paksa oleh naka.
"Kamu mau beli makan dulu ga?" sambung tian yg sedari tadi mengelus perutnya.
"Kalau kamu laper, ya mampir ajah makan dulu."
"He, iyah kita beli makan dulu yah, perut ku tiba-tiba kya ngerasa ga enak gtu!" seru tian sambil memampangkan muka melas.
"Hem, itu namanya laper, pake alasan perut ga enak." seru naka sambil menggelengkan kepalanya keheranan.
Sepanjang jalan menuju apartment, naka menawarkan segala macam makanan yg berada dipinggir jalan, tapi tak ada satu pun yg disetujui oleh tian. Sekalinya ada yg menurut tian enak, tapi tian tidak sekali pun meminggirkan mobilnya.
"Makan pecel ayam itu ajah, kamu suka ayam kan?" tawar naka yg sudah merassa frustasi karena tian masih belum memutuskan makanan apa yg hendak ia santap.
"Wah kyanya enak yah syg!" seru tian tapi masih melajukan mobilnya.
"Yeh, kayanya enak tapi kamu masih ga mau minggir juga, kamu mau makan apa sih sebenernya!" tanya naka dengan nada aga sedikit tinggi dan tanpa naka sadari, mereka sudah sampai di parkiran apartment tian.
"Kita masak bareng ajah yah syg, biar mesra gitu." tawar tian sambil memamerkan deretan giginya.
"Bebas!" sahut naka yg sudah terlihat sangat kesal dengan tingkah tian.
Merka segera naik ke apartment tian, sesampainya di dalam, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita cantik, wajahnya berpahat indo - belanda, berbadan tinggi sekitar 178 cm, rambut panjang burgundy aga ikal diujung rambut, dan berkulit putih mulus sambil berdendang di dapur tian.
"Mama, kapan datang?" seru tian sambil mengerutkan dahinya dan menyambut mamanya dengan pelukkan. Sial, ga jadi deh mau bermanja ria dengan Naka batin tian disela pelukkannya.
Oh, mamanya tian toh batin Naka yg masih tidak disadari kedatangannya oleh mamanya tian. Iya, Nyonya Andriany Soedira, mamanya tian yg selama ini tinggal di Belanda bersama kakanya.
"Mama baru sampai tadi pagi dek." jawab mama tian sambil mengelus muka tian.
"Eh, naka, apa kabar?" tanya mama tian dengan ramah namun terdengar sedikit agak memaksa.
"Alhamdulillah, baik tante, tante gimana?" jawab naka sambil mencium punggung tangan kanan mamanya tian.
"Baik, ayo kita makan dulu, mama sudah masak buat kalian!" seru mama tian sambil menggandeng lengan tian dan melangkah ke meja makan. Seperti biasa, naka tidak banyak berbicara, sepanjang prosesi makan malam pun, naka hanya berdiam diri. Naka berbicara hanya ketika mamanya tian bertanya kepadanya, selebihnya naka hanya mendengarkan mamaya tian dan tian berbincang saling melepas rindu. Bercerita kehidupan masing-masing dan terkadang naka hanya bertanya-tanya dalam hatinya karena di sela-sela pembicaraan mereka, mereka berbincang dengan bahasa Belanda yg sudah pasti naka tidak memahaminya.
Tiba-tiba mamanya tian berhenti bicara ketika melihat cincin yg tersemat di jari Tian dan Naka lalu melemparkan pandangannya ke Tian.
"Is zij jou vriendin?" (Dia pacar mu?)
"Nee, ze is mijn toekomstige vroue!" (No, dia calon istriku!)
"Ben je er zeker van?" (kamu yakin?)
"Ya, 100% zeker!" (ya, 100% yakin!)
"Wanner ga je met haar trouwen?" (Kapan kamu akan menikahinya?)
"Is het plan volgende maand bezwaarlijk?" (Rencana bulan depan, mama masih keberatan?)
"Ik prostesteer!" (Mama keberatan)
"Maaa!" seru tian dan kemudian mamanya tian meninggalkan meja makan. Naka yg masih duduk dan menikmati makanannya sedikit kebingungan, apa yg mereka bicarakan dan kenapa mamanya tian langsung pergi dengan mimik muka kesal.
"Hem, mama kenapa?" tanya naka untuk memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Hmm, ga knp-knp sayang, mama cuma cape ajah kayanya." jawab tian sambil tersenyum, mengelus kepala naka dan memberikan kecupan kilat di bibir naka.
"Hmm, aku cuci piring dulu deh." sambung naka, Tian hanya tersenyum dan melenggang ke sofa depan tv. Selama acara cuci mencuci piring berlangsung, naka bergerumul dengan pikirannya, pertanyaan demi pertanyaan timbul di pikirannya, tapi naka sesorang yg cerdik sesaat mereka memulai pembicaraan menggunakan bahasa lain, naka sudah merekam semua pembicaraan mereka melalu ponselnya.
Aku akan cari tau apa yg kalian bicarakan batin naka sambi meremas spons cuci piring yg berbusa dan segera mengirimkan rekaman tersebut melalu pesan singkat ke staff kantornya yg memang ahli dalam bahasa Belanda.
You : Kina, minta tolong terjemahin ke bahasa indonesia yah, terima kasih banyak.
Kina : Okay mba, eh mba ini percakapan pribadi loh mba, mba yakin?
You : Yess syg, minta tolong yah, i owe you a bar of chocolate, okay!
Kina : heee, maacih mba naka, kiss!