Matahari sudah terbit di minggu pagi, Naka sudah bersiap dan menyiapkan kebutuhannya untuk kegiatan hari ini, seperti baju ganti, stick drum cadangan, air mineral dll. Setiap tampil, Naka selalu berpenampilan simple, celana Jeans hitam, kaos hitam, sepatu boots dan rambut terkadang dikuncir kuda atau digerai, tergantung dengan cuaca.
Kali ini entah kenapa Naka tertarik menggunakan dress hitamnya yg sudah lama teronggok di dalam lemari. Dress hitam polos, panjang tangan mencapai siku, panjang dressnya pun tidak terlalu panjang hanya sebetis, kemudian Naka memadupadankannya dengan parka berwarna biru dongker dan sepatu boots marry jean keluaran DMs kesayangannya.
Tiba-tiba klakson di depan gerbang berbunyi, Naka yakin itu Tian yang sudah sampai untuk menjemputnya. "Nakaaaaa, Tian sudah datang!" teriak sang mama.
"Iyah, mah ni Naka turun!" naka pun turun sambil menggendong ranselnya yg tidak begitu besar.
Naka terkejut ketika Tian dan Tony sudah duduk bertengger di meja makannya. Yah biasanya Tony selalu menolak untuk menjemput Naka tapi kali ini bukan kebiasaannya, bukan hanya menjemput tapi juga masuk dan sarapan bersama keluarga Naka.
Sangking heran, Naka tidak sadar kalau Tian terpesona melihat Naka menggunakan dress. Sesampainya Naka di bangku sebelah Tian, "Wow, ada apa syg kamu hari ni pake dress gini? yah walaupun sepatunya tetep ciri khas kamu! tapi gpp kamu cantik." bisik Tian di kuping Naka.
"Ga tau, aku pengen ajah, tapi makasih, kamu suka?"
"Of course, hon! really love it!" jawab Tian sambil merapihkan beberapa rambut Naka yang berada di bukan tempatnya. "Kalau kamu pake baju gini kan juga jadi lebih gampang gitu yank!" sambung Tian sambil tersenyum m***m.
"Ihhh mesuuummm!" seru naka dan mencubit hidung mancung Tian.
"Hey, sarapan dulu hayo, kegiatan kalian panjang hari ini kan, kalian butuh tenaga!" Protes mama Nida yang duduk di sebrang mereka.
Naka mengambil sepiring nasi goreng buatan mamanya, ditaruhnya 3 potongan timun di sisi kiri piring dan sesendok acar sebelah kanan timun. Naka mengalami OCD, jadi segala sesuatunya harus tersusun rapih, dia akan tau kalau ada beberapa bendanya hilang, contohnya pulpen di atas meja kerja dia.
Setelah cuti, Naka pasti akan selalu ngecek letak pulpennya, penghapusnya dan barang-barangnya yang lain, kalau sampai ada yang tidak pada tempatnya, moodnya pasti akan berubah dan fokusnya beberapa saat hanya untuk membereskan mejanya agar bisa kembali keposisi semula.
"Kapan kamu makannya kalau kelamaan nyusun!" seru Tony dengan muka kesal. Naka tidak menggubrisnya, dia hanya melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan Tony. Setelah acara sarapan selesai, mereka pamit ke mama Nida untuk segera brangkat ke tempat acara.
Tony memutuskan untuk mengendarai mobil Tian sendirian dengan alasan bawaan yang dia bawa banyak, sedangkan Naka pergi bersama Tian menggunakan mobil Naka. Sepanjang jalan Naka dan Tian hanya terdiam, Naka sibuk dengan ponselnya dan Tian fokus ke jalanan.
Tiba-tiba, "Wait, kita mau kemana sebenernya? ko ak kaya tau arahnya yah? kaya g asing gitu!" seru Naka dengan nada curiga.
"Yah kita mau ke tempat acara sayang!" jawab Tian sambil merasa cemas takut Naka minta kembali pulang.
"Iya tau syg, tapi sekolah mana, ko jalanannya kaya aku kenal!" seru naka sambil menunggu jawaban Tian.
"Okay, ak jujur, kita mau manggung di SMA kamu dulu!" jawab tian sambil menyiapkan batinnya kalau-kalau Naka akan bereaksi marah karena dia ga ngasih tau dari awal.
"Whaaattt, how dare you! kenapa g bilang dari awal!"
"Kalau aku bilang dari awal, kamu akan menolak sayang!" sambung Tian.
"Cuma aku yg ga tau?"
"yesss sayang, maaf, ak yakin kamu akan menolaknya!"
"Memang aku pasti menolaknya!" jawab Naka sambil memanyunkan bibirnya.
"Ini udah keputusan bersama sayang!"
"I am apart of this team, right?" tanya Naka sambil menunjukan jari telunjuknya.
"Yes hon, i am so sorry!"
"Ya sudah lah, ak hanya bisa pasrah, be professional ajah!" sanggah Naka sambil mengangkat pundaknya.
"Terima kasih sayang." sambung Tian sambil mengecup puncak kepala Naka.
"Buat????"
"Terima kasih karena kamu tidak bereaksi berlebihan." jawab Tian sambil mengelus kepala Naka. Naka hanya memalingkan mukanya ke arah jalanan danTian hanya tersenyum melihat tingkah naka yang menggemaskan. Tian pun sebenarnya masih belum tau alasan Naka tidak mau berkunjung ke sekolahnya dulu, tapi dia tidak mau menanyakan hal ini ke Naka karena pasti ujung-ujungnya Naka tidak akan menjawab dan malah meninggalkan Tian.
Sesampainya di sekolah, acara sudah dimulai, Naka dan yang lain langsung disambut sama pihak panitia. Kebetulan salah satu panitia tersebut adalah guru Kimianya dulu, Kimia? ya dulu Naka masuk kejurusan IPA, namun berjiwa IPS, hal itu terbukti setiap pulang sekolah pasti Naka ikut nongkrong bareng anak-anak IPS.
"Alna? Alnaka kan?" tanya guru tersebut untuk meyakinkan kalau dia benar Naka. Naka mengangguk dan segera mencium punggung tangan sang guru dan masuk ke salah satu ruangan yang telah disediakan untuk Naka dan anggota yang lain.