14

1258 Words
Pagi itu suasana di ruang makan tampak senyap, semuanya sarapan dalam diam, bahkan dentingan sendok dan garpu pun tidak begitu terdengar. Gayatri tampak sesekali menatap wajah datar Meli yang juga sarapan. Sesekali Gayatri seolah memberi kode pada Berta dan Berta mengangguk. "Ibu, hari ini aku janjian sama Laksmi mau belanja untuk keperluan pernak pernik kecil lainnya, kayak baju tidur, biar aku pilihin yang seksi aja ya Bram?" tanya Berta dan Bram yang sedang asik makan menatap wajah kakaknya tanpa senyum, sedang Berta seolah sengaja tersenyum mengejek ke arah Meli. Bram jadi ingat pembicaraan dengan istrinya saat akan tidur, hal seperti ini yang dikhawatirkan oleh Meli, sindiran, cemoohan dan hal menyakitkan lainnya. Belum juga Laksmi hadir di tengah-tengah mereka ocehan negatif sudah memulai memanas. "Mengapa Kakak tanya padaku? Yang mau pakai kan Laksmi ya tanya ke dia?" sahut Bram ketus. Berta dan Gayatri tertawa sumbang. "Bukankah nanti kau juga akan memakai Laksmi, Bram?" tanya Berta sambil tertawa. "Tidak akan pernah, ibu dan kakak bisa pegang ucapanku, aku takkan pernah menyentuhnya." Suara Bram meninggi, dan wajah Gayatri mulai memerah. "Apa? Kau tetap tak mau menyentuh Laksmi sekalipun kau tak punya anak dengan istrimu? Sampai saat ini mana hasilnya?" "Kami kan baru menikah, ibu dan kakak saja yang membesar-besarkan, aku sudah menuruti semua keinginan ibu, tapi untuk menyentuh Laksmi tidak akan pernah, sejak aku tahu ponsel laki-laki itu tertinggal di kasur Laksmi, juga bercak kemerahan di d**a dan leher Laksmi, lalu pernah melihat Laksmi bersama orang yang sama masuk ke sebuah apartemen yang aku tahu itu bukan apartemen Laksmi maka sejak saat itu juga harga diriku sebagai laki-laki memutuskan takkan pernah menyentuhnya sekalipun dengan Meli aku tak punya anak," sahut Bram dengan suara bergetar. "Kau pandai sekali mengarang drama di pagi hari Bram, apa kau kira setelah kau ngatakan semuanya akan aku gagalkan pernikahan megah itu? TIDAK, tidak akan pernah." Gebrakan Gayatri di meja makan mengagetkan semuanya, namun Meli yang sejak tadi diam mulai mengangkat wajahnya menatap wajah ibu mertuanya dan kakak iparnya. "Saya akan pergi Ibu, pergi dari rumah ini, dari kehidupan Mas Bram dan tak akan pernah kembali lagi, semua sudah kami bicarakan semalam, ini masih belum ada Laksmi seolah saya orang tak berharga, jadi sebelum saya semakin terlihat mengenaskan maka saya akan pergi, semua akan diurus pengacara Mas Bram, saya takkan meminta apapun, agar proses cerai ini mudah dan cepat." Bram menggenggam tangan Meli, ia menggeleng keras dengan mata berkaca-kaca. Gayatri dan Berta tersenyum puas. "Syukurlah jika kau sadar, akan lebih baik jika kau tak di sini, tempatmu memang bukan di sini." Gayatri menatap Meli dengan angkuh. "Yah tempat saya memang bukan di sini, hari ini saya pamit, pada Ibu, Kak Berta, juga minta ijin Mas Bram, lima hari lagi Laksmi akan di sini, semoga semua semakin baik tanpa saya." "Pasti, pasti keadaannya akan semakin baik, kau ingin apa saja untuk kompensasi perceraianmu katakan saja, aku akan memberi semua yang kau inginkan, ini bentuk kelegaanku, aku sudah tua aku ingin tenang tanpa hal menyesakkan d**a, terima kasih kau mau mengerti, mungkin lebih baik secepatnya urus semuanya Bram." Senyum kelegaan tampak di wajah Gayatri dan Berta. "Tidak Mel, jangan, kau tahukan bagaimana besarnya cintaku padamu?" suara Bram terdengar mengiba dan bergetar, Meli berusaha tersenyum menatap suaminya, kata-kata ibu mertuanya yang jelas-jelas mengusirnya secara halus semakin memantapkan langkahnya. "Apa cinta Mas Bram bisa membuat aku bahagia? Nggak kan? Mas tetap nggak bisa milih, iya kan? Ibu tetap nomor satu dan harus jadi nomor satu, jadi aku memilih pergi, nanti akan ada orang ke sini mengambil barang-barangku yang memang sedikit, mari kita berangkat Mas, khawatir terlambat." Bram menahan lengan Meli, Meli menoleh dan berusaha tersenyum meski hatinya ingin berteriak sekencangnya dan air matanya ingin ia tumpahkan sebisanya, laki-laki tampan nan sabar di depannya ternyata tak mampu berbuat lebih untuk kebahagiannya. Jadi Meli mulai berpikir realistis, hidup hanya sekali, tidak untuk disakiti. . . . Sesampainya di kantor Meli segera masuk ruangannya dan menangis sepuasnya, ia menelungkupkan wajahnya di meja kerjanya. Bertahun-tahun menunggu Bram dengan setia, hingga saatnya tiba mereka menikah, ternyata hanya kepahitan yang ia terima. Kini ia harus bangkit, menyembuhkan hatinya dan harga dirinya yang selama berada di rumah megah itu hampir tak ada harganya. Saat Meli sedang menangisi kesedihannya ia dikejutkan oleh sentuhan di bahunya, ia langsung bangkit dan menghapus air matanya. Menatap kaget laki-laki gagah berambut sedagu yang diikat rapi ke belakang, laki-laki itupun menatapnya dengan kaget. "Eh, Pak saga?" "Baik-baik saja kan Mel?" "Yah, baik, Bapak sudah tidak jadi warga binaan ya terhitung hari ini?" Saga mengangguk dan bersalaman dengan Meli yang masih sibuk menghapus air matanya dan menghapus ingusnya dengan tisu. "Aku pamit, semoga baik-baik saja, dan semoga ada jalan keluar, masa hanya karena anak kalian pisah?" "Saya sudah pamit kok Pak, tidak akan ke sana lagi, kami akan segera mengurus perceraian," ujar Meli dan Saga hanya menggeleng pelan sambil mengembuskan napas. "Semoga ada jalan bahagia yang lain Mel." "Aamiiiin, Bapak pulang dijemput atau gimana?" tanya Meli dengan suara sengau. "Dijemput Keysa," sahut Saga dan Meli berusaha tersenyum. "Keponakan yang suka sama omnya." "Ah kamu, udah ya, aku pulang, aku sudah pamit pada semuanya." Meli menatap langkah tegap laki-laki yang tak banyak bicara, lebih suka menyendiri atau membaca buku, ia benar-benar tak percaya jika Saga mempunyai masa lalu yang kelam hingga mengantarnya masuk penjara. . . . Tak terasa dua hari lagi pernikahan Laksmi dan Bram akan dilaksanakan. Ada hal yang membuat Bram bingung. Meli tak bisa dihubungi, saat didatangi ke kantornya, pihak kantor mengatakan jika Meli sedang cuti, ke rumah Meli pun tertutup rapat, seperti tak ada orang sama sekali, padahal yang ia tahu ibunda Meli baru saja sembuh dan masih dalam masa recovery. Kemana perginya Meli, ibu dan adiknya? Apa Meli sengaja menjauh karena tak ingin mendengar kabar apapun tentang pernikahan suaminya? Bram melangkah gontai meninggalkan rumah Meli, sekali lagi ia hubungi Meli lewat telepon yang ia dapatkan hanya nada tunggu. Saat akan melangkah meninggalkan rumah Meli untuk kembali ke kantornya, ponsel Bram berbunyi nyaring, saat ia lihat ternyata dari ibunya. Ya Ibu Aku mau ke apartemen Laksmi Bram Untuk apa Ibu? Kamu ini gimana sih, dia ulang tahun hari ini dan mulai kemarin dia sudah tak masuk kerja Oh, begitu, tapi tadi meneleponku hendak ke rumah sakit karena ada yang harus dia selesaikan hari ini Ya sudah, ibu akan ke rumah sakit saja, ibu akan memberinya kejutan, ibu bawa kue tart dan parfum yang ia suka, kemarin aku sudah ke butik dengan Berta, sudah Bram ibu mau ke rumah sakit Ibu dengan siapa? Dengan sopirlah Bram Ya, hati-hati  ibu . . . Ibunda Bram melangkah dengan ringan menuju ruangan laksmi, tempat sangat ia hafal. Sepanjang langkah ia tersenyum, kebahagiaan akan ada di depan mata, wanita cantik nan menawan yang telah lama ia inginkan sebagai menantunya akan tercapai juga. Sesampainya di depan ruangan Laksmi, Gayatri sempat tertegun karena mendengar suara-suara aneh, Gayatri agak kerepotan karena tangan kanan membawa tas dan tangan kirinya memegang box cantik berisi kue tart. Tapi ternyata pintu ruangan Laksmi tak tertutup sempurna, ia dorong dengan ujung loafernya dan terbuka sedikit demi sedikit, pemandangan di depannya sungguh tak ia duga, dua manusia yang saling memuaskan, Laksmi yang menghadap ke tembok mulutnya terbuka dan mendesah hebat dengan blouse yang menumpuk di pinggangnya, dan bagian atasnya pun telah terbuka, ditumbuk kasar berulang oleh laki-laki kekar yang tangannya meremas d**a Laksmi dengan keras, laki-laki itupun tak menggunakan apa-apa di badan bagian bawahnya, keduanya mengerang dan mendesah hebat serta mengucapkan kata-kata tak pantas. Gayatri memegang dadanya, ia tak sempat mengucap sepatah katapun, box cantik berisi kue tart jatuh dan diikuti oleh rebahnya tubuh renta itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD