Modar (homophobiaradar)

2840 Words
Aku baru saja berjalan memasuki kamarku ketika kulihat Mama sudah duduk di tepi ranjang sambil sibuk membuka-buka album foto. Mama mendongak begitu menyadari kehadiranku kemudian menyambutku dengan senyum lebar. Hijabnya yang berwarna merah muda sungguh serasi dengan pakaian yang dikenakannya. Setelah menutup album foto, tangan Mama bergerak memanggilku, mengajakku untuk duduk disampingnya. "Mama lagi ngeliatin apa?" Aku bertanya ketika sudah berada disampingnya. Mama mengusap puncak kepalaku sejenak kemudian tersenyum. "Mama habis lihat-lihat album foto Papa kamu dulu.." "Mama kangen sama Papa?" Aku mendadak teringat kembali sosok Papa yang sudah lama pergi meninggalkan kami. "Apa mau Jess temenin ke makamnya besok? Kebetulan besok Jess gak ada kuliah pagi." Mama dengan cepat menggeleng. "Tadi Mama sudah ziarah kesana." "Tumben Mama gak ngajakin Jess ikut. Biasanya setiap kesana Mama selalu ajak Jess." "Mama tadi kesana sama Om Andre." Jawaban Mama sedikit membuatku tertegun. Andrean Ivandra memang sudah kukenal cukup lama. Sudah hampir setahun ini pria berkacamata dan memiliki lesung pipi itu berusaha mendekati Mama. Meskipun sudah berumur, penampilan pria berusia 40-an itu cukup necis. Berbeda dengan pria lainnya yang memiliki perut buncit dan kepala botak, Om Andre justru masih terlihat ramping dan gagah. "Mama ngajak Om Andre ke makam Papa?" Aku mulai merasakan ada yang tidak beres dengan sikap Mama yang kali ini agak berbeda. Mama hanya mengangguk sambil memandangi cover album foto yang masih berada ditangannya. Matanya seolah menerawang mengenang masa lalu. "Ma?" Kusentuh lengannya perlahan. Mama terlonjak menyadari aku masih berada disampingnya. Bibirnya kembali mengulas senyum. "Jessica.. Sepertinya Mama akan menikah lagi." Bagai disambar petir di siang bolong aku mendengar pengakuannya. Mama akan menikah lagi? Tentu saja. Mama masih muda. Tentu dia butuh seseorang yang bisa menjadi pendampingnya kelak hingga usia senja. Tapi mendengar keputusan Mama yang menurutku sangat mendadak ini cukup membuat aku ikut kaget. Sudah belasan tahun Mama hidup sendiri dan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas ia ingin menikah lagi. Dengan siapa? "Apakah.. Dengan Om Andre?" Aku hampir tidak bisa menahan nada bicaraku agar tidak tercekat. Mama hanya tertunduk. "Apa.. Apa Mama sudah yakin?" "Jess.." Mama menggenggam jari-jariku dengan kedua tangannya. "Mama tidak akan menikah kalau kamu tidak setuju. Saat ini hanya kamu yang paling penting untuk hidup Mama. Mama yakin kita berdua akan baik-baik saja meskipun Mama tidak menikah. Mama masih kuat bekerja dan membiayai semua keperluan kamu." "Bukan itu Ma." Aku dengan cepat menggeleng. "Aku gak keberatan kalau Mama menikah lagi. Tapi apa Mama sudah yakin dengan pilihan Mama?" "Keluarga Om Andre sudah datang untuk melamar Mama.." Secepat itukah? Sejujurnya aku cukup menyukai laki-laki itu. Dia sangat sopan dan tidak pernah menyakiti hati Mama. Setiap dia berkunjung kerumah, ia selalu membawakan kami buah tangan. Jika pulang dari tugas di luar negeri, tidak jarang dia juga memberiku oleh-oleh khas negara yang dikunjunginya. Dia juga sosok humoris. Tidak butuh waktu lama baginya untuk bisa mengakrabkan diri denganku. Hanya saja.. "Ja.. Jadi Mama sudah yakin dengan keputusan Mama? Aku takut Om Andre akan menyakiti hati Mama." "Mama sangat yakin kalau dia bisa menjadi suami sekaligus Papa yang baik buat kamu Jess." Kutatap sorot mata Mama yang penuh dengan keyakinan itu cukup lama. Setelah memberi anggukan tanda setuju, Mama akhirnya memelukku sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih dan rasa syukurnya. *** "Jessica!" Suara yang sangat kukenal itu membuatku dengan terpaksa menoleh. Cowok itu melambaikan tangannya dari kejauhan kemudian berlari menghampiriku. Ugh, tidak bisakah ia melihat kalau aku sedang tidak ingin diganggu? Dengan terpaksa, aku tersenyum menyambut kedatangannya. "Aku nyariin kamu dari tadi. Aku pikir kamu ada kerjaan jadi aku buru-buru kesini." Dengan wajah penuh keringat, cowok itu langsung berbicara tanpa menunggu reaksiku. "Ada apa Kei?" "Ini, aku mau nyerahin formulir pendaftaran untuk jadi anggota BEM." Kei menyerahkan selebaran yang tadi dibawanya padaku. "Kamu harus ikutan Jess. Jadwal kamu udah mulai longgar kan?" "Thanks. Aku pikir-pikir dulu." Kuambil selebaran itu kemudian bergegas meninggalkannya. Aku tahu sikapku ini sungguh tidak sopan. Tapi siapa yang peduli? Aku sedang tidak ingin diganggu hari ini. Kepalaku sudah cukup dibuat pusing akan kedatangan keluarga Om Andre sore nanti. Aku tidak ingin mengacaukan acara sepenting itu dengan memikirkan pendaftaran mengenai BEM yang menurutku sedikit konyol ini. Ya, kupikir aku harus bersiap-siap untuk bertemu dengan calon keluarga baruku dan belajar beramah tamah sejenak. Haruskah aku senam wajah terlebih dulu? Setidaknya aku harus pemanasan sebelum acara dimulai bukan? "Jessica!" Oh astaga. Apalagi ini? Aku kembali menoleh dan mendapati sepasang cowok lagi-lagi memanggil namaku dengan riang gembira seperti menyanyikan lagu potong bebek angsa tapi yang di potong adalah kambing sapi. Kedua cowok itu menghampiriku. Salah satu yang lebih pendek dari yang lain menggandeng lengan cowok disampingnya dengan mesra. Menjijikkan. Aku hampir saja mual melihatnya. "Iya, kenapa?" "Kita mau nawarin yey untuk ikut klub debat di kampus. Anak-anak lain pada bilang kalau yey jago banget soal debat mendebat." Cowok yang lebih pendek dan gemulai itu berbicara sambil menggerak-gerakkan tangannya. "Sorry tapi gue ada urusan mendadak." "Kita gak buru-buru. Iya kan cyin?" Cowok itu menoleh pada cowok disebelahnya yang terlihat lebih kekar. "Yey bisa lihat-lihat dulu brosurnya. Kalau yey minat, yey bisa koling-koling eke." "Kolang-kaling?" Aku bertanya bingung. Cowok itu tertawa. "Ihh, lucu deh yey. Maksud eke calling-calling." "Ohh.." Aku mengangguk paham. Segera kusambar brosur yang berada ditangannya kemudian bergegas pergi. Sungguh, aku tidak ingin punya urusan dengan orang-orang semacam itu. Berada di dekat mereka berlama-lama saja hampir membuat perutku ingin muntah. Bagaimana jika mereka jadi temanku? Aku pasti akan sering keluar masuk UGD! Aku memang sudah lama mengalami gangguan psikologis yang sekarang terkenal dengan nama homophobia. Aku tidak betah jika harus berlama-lama dekat dengan para gay tersebut. Oh ya, bukan berarti aku selalu mengejek mereka. Aku bukanlah penganut homophobia seperti itu. Itu kekanakan sekali, sungguh. Hanya saja aku memang sangat amat antipati dengan hal yang berbau semacam itu. Aku tidak bisa berlama-lama berada di dekat kaum homoseksualitas. Rasanya ambang batas mualku seakan ingin meledak. Jika para kaun gay memiliki gaydar untuk mengetahui keberadaan teman sesama gay nya, aku memiliki modar (homophobiaradar) untuk mengetahui siapa-siapa saja gay yang berada dalam radius 10 meter dariku. Modar adalah istilah yang kubuat sendiri untuk insting homophobiaku yang sangat peka. "Jessica!" Oh gosh! Siapa lagi kali ini yang memanggilku. Aku kembali menoleh dan mendapati kedua sahabatku berjalan menghampiri. Vera dan Rana. "Buru-buru banget sih non. Mau kemana?" Rana mencubit pipiku yang sedikit tembam sebelum akhirnya melepaskannya sambil tertawa kecil. "Ah reseh deh lo.." Aku mengusap pipiku yang kurasa pasti memerah akibat ulahnya tadi. Bukannya menyesal, cewek itu kembali mengangkat tangannya untuk kembali melancarkan aksinya. Dengan cepat, aku mundur selangkah. Membuat tangannya hanya mampu menggapai udara kosong. "Jess! Gue kan gemes pengen cubitin." "Gak sudi. Tar pipi gue makin membengkak karena ulah lo!" "Aseeem. Pipi lo sejak lahir memang udah mirip landasan pesawat terbang tau!" "Ah sumpah, reseh banget deh looo." Aku melotot marah padanya. "Oh iya, kalian ada apa tadi manggilin gue?" Aku langsung teringat tujuan utamaku tadi. Segera-pulang-kerumah. "Lo dicariin dekan tuh. Katanya ada yang mau di bi ca ra kan," beritahu Vera sengaja memenggal kata terakhir pada kalimatnya. "Dekan? Ada apaan dia manggil gue?" "Dunno. Elo mau dilamar untuk anaknya kaliiii." Lagi-lagi Rana beraksi untuk menggodaku. "Giih buru giiih.. Gue denger anaknya dekan itu ganteng begete loh!" "Kalau anaknya dekan ganteng begete, kenapa gak lo aja giih sana yang keruangannya." Kudorong tubuh Rana agar segera menjauh. "Dekan kan maunya elo yang jadi mantunya. Gue sih mau aja kalau dia minta gue.." "Memangnya lo mau kemana Jess? Kok kelihatannya buru-buru banget?" Vera menatapku dari balik kacamata minusnya. "Gue mau pulang. Sore nanti keluarga bokap tiri gue bakal dateng. Silaturahmi gitu deh." "Nyokap lo jadi nikah lagi? Sama Om Andre itu?" Rana mengguncang bahuku tak yakin. "Iya Ranaaaa. Kan tadi pagi gue udah cerita di telpon. Mesti dua kali ngomong sama lo ini." Rana hanya cengengesan. "Tadi pagi gue gak konsen Jess. Masih ngantuk. Nyawa masih nempel di kasur." "Alasan. Vera aja udah bangun." Ku lirik Vera yang hanya tersenyum menanggapi ucapanku. "Bilang sama dekan kalau gue udah pulang. Besok pagi-pagi banget gue keruangannya. Oke??" "Tapi Jess.." Rana hendak mencegah. "Please? Ini masalah keluarga. Mendesak. Gue gak bisa telat." Kutempelkan kedua telapak tanganku di depan d**a. "Ve, tolong yaaa. Gue buru-buru." Setelah berkata demikian aku langsung bergegas menuju mobilku yang memang sengaja kuparkir tak jauh dari gedung fakultas. Aku tidak ingin seseorang atau beberapa orang kembali menahan langkahku kali ini. 10 menit sebelum keluarga Om Andre datang, aku sudah duduk dengan manis di depan cermin di kamarku. Aku merasa tidak perlu berdandan berlebihan. Ini hanya pertemuan antar keluarga. Semacam perkenalan. Aku juga kurang suka jika harus berdandan dengan make up tebal sehingga membuat wajahku terlihat aneh. Menurut beberapa pria yang pernah menjadi mantan pacarku, aku sudah cukup cantik tanpa riasan. Oke, setidaknya aku harus memoles bedak dan sedikit lip gloss agar bibirku tidak kering. Baru saja aku hendak bangkit, Tante Anna, adik dari Mama, masuk ke dalam kamarku dengan tergesa. "Jess, rombongannya sudah datang. Aduh ramai sekali. Tante sampe bingung." Tante Anna mengamati wajahku sejenak. "Aduh, kamu dandan sedikit dong. Ini, pake eyeliner. Alisnya dibenerin juga dong. Ya ampun." Uh, oke. Sepertinya bukan hanya Tante Anna saja yang cukup heboh disini. Aku bisa mendengar suara-suara di bawah yang berseru nyaring. Mungkin karena tidak mengira bahwa Om Andre akan membawa seluruh keluarga besarnya untuk berkunjung. Ketika aku mengintip dari balik kaca jendela kamarku yang terletak di lantai dua, terdapat 6 mobil yang terparkir dengan manis di depan pagar rumahku. ENAM MOBIL! Ya Tuhan. Sebanyak apa keluarga Om Andre ini? Aku memang pernah mendengar bahwa Om Andre adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara. Tapi aku tidak mengira saudaranya akan sebanyak ini. Setelah memakai pensil alis dan menghias mataku seadanya dengan eyeliner, aku bergegas turun menyusul Tante Anna yang sudah berteriak sejak tadi memanggil namaku. Dan yak! Tebakanku tidak meleset. Ruang tamu dan ruang santai dirumahku sudah penuh sesak dengan keluarga Om Andre. Om Andre bahkan membawa anak-anak dari keponakannya yang sudah menikah! Anak-anak itu kini tengah bermain dan berlarian disepanjang rumahku. Bahkan ada yang mulai menangis merengek meminta s**u pada ibunya. Astaga.. Astaga.. Satu persatu aku diperkenalkan dengan kakak-kakak Om Andre yang semuanya adalah perempuan. Mulai dari yang tertua hingga yang paling muda. Mulai dari suami-suami mereka hingga anak-anak mereka. Aku bahkan harus berusaha mengingat nama-nama mereka berulang kali. Aku bukanlah gadis yang memiliki otak pas-pasan. Aku cukup pintar. Namun tetap saja sulit mengingat nama-nama enam keluarga yang sudah beranak pinak beserta cucu-cucu mereka hanya dalam sekali bertatap muka bukan? "Dre, mana anak-anak kamu? Suruh kesini cepetan. Biar kenalan sama adik barunya." salah seorang wanita yang memakai selendang berwarna hijau dan memiliki tubuh sedikit berisi bertanya pada Om Andre. Kalau tidak salah namanya Tante Mis. "Mereka lagi markirin mobil-mobil yang di depan biar gak ganggu orang yang mau lewat," jawab Om Andre kalem. Oh ya, aku hampir saja lupa kalau Om Andre punya sepasang anak kembar. Menurut cerita Mama, anak-anak Om Andre kembar identik. Mereka lebih tua 5 tahun dariku. Aku sungguh penasaran seperti apa rupa kakak-kakakku itu. Aku sudah lama ingin punya saudara. Selama ini aku hidup sebagai anak tunggal. Hanya aku dan Mama. Jadi aku cukup excited begitu Tante Mis menyebut kedua kakak kembarku itu. "Nah itu mereka!" Om Andre menoleh ke arah ruang tamu lalu memanggil seseorang yang kupikir baru saja memasuki pintu. "Rek! Rev! Sini!" Sosok pertama yang muncul cukup membuatku senang. Seorang cowok dengan tubuh tinggi dan tegap. Rambutnya sedikit cepak seperti seorang tentara. Matanya hitam dan tajam seperti elang. Alis-alis matanya cukup tebal. Berhidung mancung dengan bibir yang sedikit bergaris-garis dan sepertinya memiliki darah bule. Secara keseluruhan, oke! Aku bergerak mendekati cowok ini dan mengulurkan tanganku padanya sambil memamerkan senyumku yang menurutku paling manis. "Hai, aku Jessica." "Aku tahu kalau kamu Jessica. Aku sering lihat kamu di tv," jawabnya sambil membalas uluran tanganku. "Aku Rekas Ivandra." Suaranya cukup seksi. Tidak berbeda jauh dengan wajahnya. Dan ia membalas senyumku dengan tidak kalah manis. Sosok kedua muncul. Tubuhnya lebih pendek dari Rekas dan sedikit lebih tinggi dariku. Tubuhnya juga tidak kalah tegap. Rambutnya dipotong cukup stylish dengan kedua sisi dibuat cepak dan bagian tengah dibiarkan sedikit panjang. Ia bahkan sengaja mengikat bagian tengah rambutnya agak kebelakang. Wajahnya tidak berbeda dengan Rekas. Sangat mirip. Benar kata Mama, mereka kembar identik. Aku bahkan tidak bisa membedakan keduanya jika saja yang kedua ini tidak lebih pendek dan tidak memiliki potongan rambut yang berbeda. Aku kembali mengulurkan tanganku. "Hai." Aku sengaja tidak menyebutkan kembali namaku. Aku tidak ingin jawaban yang sama kembali dilayangkan padaku. Mereka kembar. Sudah tentu mereka akan bersikap sama bukan? "Uhm.. Ya." Cowok itu membalas uluran tanganku dengan sedikit ragu. Salah satu tangannya yang lain bergerak mengusap tengkuknya. "Jadi, aku manggilnya apa nih? Kakak?" "Hemm, ya. Kakak juga boleh," jawabnya kemudian buru-buru melepaskan tangannya dariku. Kupikir cowok yang kedua ini cukup pemalu. Berbeda dengan Rekas, sikapnya sedikit kikuk dan gugup. Baik, tidak semua orang kembar itu memiliki sifat yang sama. Aku harus mulai mengenal dengan baik kedua kakak laki-lakiku ini. Bukankah aku akan segera tinggal satu atap dengan keduanya? Menjalin hubungan yang harmonis itu cukup penting jika aku tidak ingin dikucilkan oleh keluarga baruku nanti. Saat tengah berkenalan dengan cucu-cucu dari kakak-kakaknya Om Andre, aku bisa merasakan Rev mencuri pandang kearahku. Saat aku berbalik menatapnya, ia dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain. Lucu sekali. Sepertinya ada yang hendak disampaikannya padaku hanya saja ia terlihat ragu untuk menyapaku lebih dulu. Om Andre dan keluarganya masih berbincang hangat dengan Mama dan keluargaku. Sepertinya mereka sedang membicarakan acara pernikahan yang akan mereka langsungkan secara sederhana saja. Hanya akad dan tanpa resepsi. Aku sempat mencuri dengar beberapa dari pembicaran mereka. Sepertinya semuanya kelihatan lancar. Aku sempat melihat Rekas duduk di teras bersama sepupu laki-laki dan beberapa suami dari sepupunya yang perempuan. Aku sedikit bingung yang mana suami atau istri dan yang mana sepupunya. Namun sepupu Rekas dan Rev lebih banyak berjenis kelamin perempuan. Aku ingat bahwa hanya ada 3 orang sepupunya yang laki-laki di keluarga mereka. Sisanya? Suami dari sepupu perempuannya. Kupikir gen keluarga Om Andre memang lebih dominan melahirkan anak perempuan daripada laki-laki. Oh, ini hanya hipotesaku saja. Aku kembali bisa merasakan ada sepasang mata yang tengah menatapku. Aku menoleh sekilas dan melihat Rev kembali memalingkan wajahnya ke layar smartphone nya. Cowok itu hanya duduk sendiri dilantai sambil bersandar ke dinding, sibuk dengan gadgetnya. Sesekali ia bermain dengan para keponakannya yang masih kecil-kecil. Sesekali ia berbicara serius dengan sepupunya. Biarlah. Jika memang ada yang ingin dikatakannya, ia bisa mengatakannya langsung kepadaku. Toh kami masih memiliki banyak waktu nantinya. Kehadiran keluarga Om Andre cukup lama. Setelah hampir tiga jam berbincang sambil diselingi makan malam bersama, mereka berpamitan pulang karena takut kemalaman di jalan. Oh ya, aku lupa. Keluarga Om Andre kebanyakan tidak berdomisili di Jakarta. Sebagian ada yang tinggal di Tangerang, Bandung dan bahkan Lampung. Aku tidak cukup terkejut mengetahui hal ini. Keluarga Mama juga tidak jauh berbeda. Beberapa bahkan ada yang tinggal di Semarang dan Jogjakarta. Setelah kepergian keluarga Om Andre, rumahku kembali sepi. Mama dan Tante Anna cukup repot membereskan ruangan dan perkakas yang belum di cuci. Dengan sedikit malas, aku akhirnya ikut membantu keduanya. Jika setelah menikah nanti keluarga Om Andre bertamu kerumahku, aku akan meminta Mama untuk menyewa katering saja agar tidak repot seperti ini. Aku baru saja membaringkan tubuhku di atas kasur ketika smartphone kesayanganku berdering. Kulihat layar smartphone yang menampilkan nomor tidak dikenal itu dengan bingung. Aku biasanya tidak pernah memberikan nomorku pada siapapun kecuali keluargaku sendiri. Aku jadi terkejut ketika mendapati ada nomor tak dikenal yang menghubungiku. Dengan malas, kujawab juga panggilan tersebut. "Hallo?" "Jessica?" Sebuah suara yang tidak kukenal langsung menyapa dari seberang sana. "Iya. Ini siapa?" "Masa lupa. Baru tadi kita ketemu. Ini Mbak Tantri. Sepupunya si kembar yang paling tua. Yang tadi minta nomor kamu tadi." Aku langsung bangkit dari kasurku dengan kaget. "Mbak Tantri?" ulangku lagi. Aku mencoba mengingat kepada siapa tadi aku memberitahu nomor telponku. Memang ada seorang ibu muda berjilbab yang tadi sempat menanyakan nomorku. Apakah itu dia? "Hallo? Jess?" "Eh iya, kenapa Mbak?" jawabku gugup. Aku tidak mengira kalau Mbak Tantri akan menghubungiku secepat ini. "Gak apa-apa Jess. Pengen ngobrol aja sama kamu. Kedatangan kami tadi gak buat keluarga kamu repot kan?" "Oh iya gak apa-apa kok Mbak. Aku malah senang." "Begini Jess, tadi kan Mbak sempat cari hotel yang murah yang dekat dengan rumah kamu. Tapi kami kekurangan satu kamar lagi. Semua hotel pada penuh nih dek. Mungkin karena weekend. Revi jadi gak kebagian kamar kosong. Dia bisa kan untuk sementara tinggal dirumah kamu?" "Revi?" ulangku bingung. Seingatku anak Mbak Tantri tidak ada yang bernama Revi. Hanya Sabila dan Zaky. "Iya Mbak, bisa kok.. Kebetulan dirumah juga ada kamar kosong." "Nah kebetulan kalau gitu. Nanti Mbak suruh suami Mbak untuk putar balik kerumah kamu lagi ya Dek. Mau anterin Revi. Anaknya pemalu." "Memangnya Mbak gak jadi pulang ke Tangerang?" Mbak Tantri tertawa dari seberang sana. "Jadi Dek. Tapi Uncle Andre sama si kembar kan tetap nginap disini." "Oh begitu..," gumamku singkat. Meskipun aku tidak tahu apa hubungannya Om Andre menginap dengan anaknya yang bernama Revi ini. "Kalau begitu Mbak tutup telponnya ya." "Iya Mbak, aku tunggu." "Ya sudah, makasih ya Dek." Telepon diputus. Aku langsung berlari tergesa-gesa ke lantai bawah mencari sosok Mama. "Ma.. Mamaaaa!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD