Tunangan?!

6441 Words
Karena takut kemalaman di jalan, akhirnya Kak Juli memintaku untuk naik taksi ke rumah Jessica. Aku sempat ingin membantah namun mengingat ia jauh lebih tua dariku, aku akhirnya mengalah dan mengikuti saja keputusannya. Untungnya taksi yang kutumpangi tidak dengan sengaja membawaku berkeliling demi meningkatkan argonya. Tidak lucu jika nanti aku turun dari taksi dan meminjam uang pada calon Mama tiriku hanya karena aku tidak membawa uang cash yang cukup untuk membayar ongkos taksi. Begitu taksi berhenti tepat di depan rumah Mama tiriku, aku bisa melihat dari balik tembok pagar jika Jessica sudah menungguku di teras dengan wajah bosan. Aku jadi tidak enak hati membuatnya menungguku cukup lama. Setelah membayar ongkos taksi, aku turun sambil menjinjing tas berisi pakaianku. Jessica sudah berdiri menyambutku dengan wajah bingung. "Uhm, Mbak Tantri tadi bilang kalau dia sudah kabarin kamu kalau aku bakal menginap disini." Aku berbicara dengan pelan. "Revi?" Ia semakin tercekat menatapku. Mungkin kehadiranku dirumahnya bukanlah sesuatu yang diharapkannya. Mungkin dia terpaksa menerima permintaan Mbak Tantri tadi. Memikirkan hal ini saja sudah membuatku semakin tidak nyaman. "Iya? A.. Ada apa?" Bodoh sekali. Kenapa aku mendadak gugup jika berhadapan dengan gadis ini. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang mampu membuat pikiran dan logikaku mendadak kacau. Jessica masih berdiri membeku melihatku, memperhatikanku. Mungkin kehadiranku di depan rumahnya adalah hal buruk baginya. Cukup lama ia terpaku sehingga mau tidak mau aku terpaksa kembali bersuara. "Uhh.. Bo.. Boleh aku masuk?" Mata Jessica langsung terbelalak lebar. Apa yang sedang dipikirkannya saat ini? Apakah gadis ini ingin mengusirku? Apakah dia memang merasa tidak nyaman atas kehadiranku? Biar bagaimanapun, kami baru bertemu hari ini dan aku dengan tidak sopan ingin menginap dirumahnya. Tentu saja dia akan merasa keberatan. Status kami masih sebagai orang asing yang baru saja bertemu. "Apakah aku mengganggu? Aku bisa menginap di.." "Oh enggak.. Enggak!" Jessica dengan cepat membantah ucapanku. "Aku pikir tadi yang mau menginap disini anaknya Mbak Tantri." Pantas saja tadi dia sempat terkejut melihatku. Rupanya Mbak Tantri tidak menjelaskan dengan detail padanya bahwa akulah yang akan menginap. "Ayo masuk," ajaknya lalu membuka pintu pagar lebar-lebar untukku. Dengan langkah ringan, Jessica membawaku masuk kedalam rumahnya. Rumah yang tadi ramai kini terlihat sunyi senyap. Mungkinkah seperti ini keadaan rumah ini sebelum keluargaku datang berkunjung? Aku melirik Jessica sekilas kemudian kembali berjalan sambil menatap lantai. Gadis yang berhasil mencuri perhatianku sejak pandangan pertama itu semakin terlihat manis dengan pakaian santainya. Aku lebih menyukai wajahnya yang tanpa riasan. Terlihat lebih natural, alami. Aku memang kurang suka pada gadis yang memakai riasan wajah terlalu berlebihan. Wajah mereka seakan terlihat semakin tua. Apalagi ketika mereka memamerkan senyum yang terkesan dipaksakan agar terlihat cantik. Menurutku itu sama sekali tidak cantik. Aku lebih suka melihat senyum hangat dan lepas seperti yang sering ditunjukkan Jessica sore tadi. "Maa.. Mamaaaa.." Jessica berseru memanggil calon Mama tiriku. Kepalanya mendongak menatap lantai atas lewat celah-celah jeruji besi yang memberi sekat pada ruangan disana. "Tamunya sudah datang Jess?" Mama tiriku itu menjulurkan wajahnya menatap Jessica. Matanya kemudian bertemu dengan mataku. "Lho, Revian? Mama kira tadi anaknya Tantri yang mau menginap." Calon Mamaku itu kini berbicara padaku. Aku sedikit tidak nyaman saat mendengar dirinya menyebut kata 'Mama' untukku. Itu sama saja ia memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'Mama' secara tidak langsung. Haruskah aku memanggilnya dengan Mama? "Iya Ma, aku salah info." Jessica menggantikan peranku menjawab keheranan di wajah ibundanya tercinta. "Kalau begitu jangan bawa ke kamar tamu dong Jess. Kamu tunjukin aja kamar yang bakal kakakmu tempatin nanti." Calon Mamaku itu kembali menjawab ucapan Jessica dengan nada yang masih sama. Aku sempat melihat ia memberikan senyumnya untukku. Aku dan Reka sungguh beruntung karena mendapatkan Mama dan Adik yang sehangat ini menerima kami. Mereka bahkan sudah menyiapkan kamar untukku dan kembaranku itu dari jauh-jauh hari. "Tapi kan kamar itu belum selesai diberesin Ma.." "Gak apa-apa. Kan cuma belum di isi perabotan aja. Masa kamu tega nyuruh kakak kamu tidur di kamar tamu yang ga ada AC nya." Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku tidak keberatan tidur dimanapun. Aku juga bukanlah seseorang yang tidak bisa tidur tanpa AC. Aku memiliki alergi dingin. Biasanya setiap pagi, jika aku tidak menyelimuti tubuhku dengan baik ketika tidur, hidungku akan bersin-bersin dan mulai flu. "Oh iya!" Jessica menepuk dahinya perlahan. Ia kemudian berbalik menatapku. "Yuk, ikut aku Kak. Kamar Kakak di lantai atas." Setelah berkata demikian, Jessica menaiki tangga menuju lantai atas. Aku bisa menikmati memandang punggungnya dengan leluasa. Tidak hanya itu, kakinya yang jenjang dan indah setiap kali menaiki anak tangga membuat hatiku ikut berdesir. Pasti akan sangat menyenangkan jika aku bisa menyentuh kedua kaki itu. Oh, apa yang baru saja kupikirkan? Cepat-cepat kubuang jauh-jauh pikiran kotor yang hinggap di otakku tadi. Begitu selesai menaiki anak tangga yang terakhir, Mama tiriku langsung menghampiri kami dan memberiku pelukan serta kecupan ringan di pipi. Sesungguhnya, aku merasa risih jika ada orang asing yang menyentuhku. Aku hanya bisa tersenyum menatapnya begitu wanita itu melepaskan pelukannya dariku. "Mama senang Revian mau menginap disini. " Aku ingin sekali menjawab bahwa bukan keinginan pribadiku untuk bermalam dirumahnya. Tapi niat itu tentu saja tidak kulakukan. "Toh nanti kan kamu akan menempati rumah ini juga. Hitung-hitung gladi bersih," lanjutnya. Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapannya. Papa memang belum memberitahuku dan Reka secara pribadi mengenai rencananya untuk mengajakku dan kembaranku itu tinggal bersama dengan keluarga ini. Namun dari apa yang kudengar dari Mbak Tantri dan sang calon Mama, sepertinya niat itu memanglah benar adanya. Aku mendadak teringat pekerjaanku yang di Bandung. Aku memang jarang ke kantor karena terlalu sering bertugas di lapangan. Tapi aku juga tidak mungkin harus bolak-balik Jakarta-Bandung demi urusan pekerjaan bila aku benar-benar akan menetap di rumah ini. Aku juga tidak berniat untuk resign dari pekerjaanku sekarang. "Ih Mama, udah kaya pementasan aja pake gladi bersih." Aku sempat mendengar Jessica mengomeli Mamanya. "Sudah, kamu antarkan ke kamarnya sana." Meskipun terlihat masih ingin berdebat, Jessica menuruti juga permintaan Mamanya. Ia kemudian berpaling menatapku. Salah satu jarinya dengan kuku yang panjang dan melengkung indah menunjuk ke salah satu pintu kayu yang terletak persis di sebelah kiri kami. Selain ruang santai, ternyata terdapat beberapa kamar di lantai ini. Selain kamar utama yang berada di lantai bawah dan kamar pembantu serta kamar tamu, di lantai atas sepertinya masih terdapat 3 kamar lainnya. Cukup banyak menurutku, mengingat penghuni rumah ini hanyalah 3 orang saja termasuk Bude. Kamar yang ditunjuk Jessica terletak agak disudut, berhadapan dan bersebelahan dengan kamar lainnya. Aku jadi menduga-duga, kira-kira yang mana kamar milik Reka. Tepat di depan kamarku atau justru bersebelahan. "Kak, itu kamarnya. Ayo." Jessica berjalan mendekati kamar yang ditunjuknya tadi kemudian membukakan pintunya untukku. Kuakui, aku cukup dibuat terpukau begitu melihat isinya. Dindingnya ditempeli wallpaper yang didominasi oleh warna hitam dan merah marun. Hitam adalah favoritku. Mungkin karena warna hitam akan membuat kamarku menjadi terkesan gelap, warna itu dipadukan dengan warna lainnya. Dan menurutku, ini paduan yang sempurna. Ada sebuah ranjang yang tingginya tidak lebih dari lututku dengan ukuran double size yang simple di sudut ruangan. Ukiran-ukiran besi di kepala ranjangnya tetap memberikan kesan mewah. Disamping tempat tidur, terdapat nakas dengan laci-laci bertingkat yang terbuat dari kayu. Selain tempat tidur, ada sebuah lemari pakaian tiga pintu yang kupikir juga pasti terbuat dari kayu jati asli. Warnanya juga hitam dengan sedikit sentuhan merah marun. Selain itu, aku tidak melihat perabotan lainnya. Setidaknya aku masih membutuhkan meja kecil untuk meletakkan beberapa buku dan laptop. Kupikir aku juga akan membutuhkan lemari es mini atau dispenser untuk meletakkan minuman dingin dan beberapa makanan ringan. Dan ya, sebuah lemari untuk menyimpan beberapa koleksi sepatu dan kacamataku. "Nice room," komentarku begitu selesai mengamati calon kamarku ini. Komentar ini memang tulus dari hatiku. Aku bukanlah tipe orang yang suka sembarangan memuji jika memang benar-benar tidak diperlukan. "Mama yang ngatur semua perabotan disini, wallpaper dindingnya juga Mama yang pilih," beritahu Jessica dengan nada puas dan bangga. Aku baru tahu jika calon Mamaku itu memiliki selera yang cukup bagus. Tidak ada satupun yang tidak aku suka. Kukira dia pasti sudah dengan sengaja meluangkan waktunya demi memberi kamar yang terbaik untukku dan Reka. Mungkin agar kami berdua merasa betah dan nyaman tinggal di rumah ini. Mungkin juga ia ingin menunjukkan pada kami bahwa ia sangat senang menerima kehadiran kami sehingga sengaja memberikan kami kejutan dengan kamar yang ditatanya sendiri. Aku sungguh menghargai usaha kerasnya. "Seharusnya Tante..," aku tersadar bahwa aku sudah salah berbicara. "Uhm.. Maksudku, Mama gak perlu serepot itu. Aku bisa desain kamarku sendiri." "Mama memang begitu Kak. Dia mau semuanya dikerjain oleh tangannya sendiri." Sambil berkata demikian, Jessica berjalan menuju lemari pakaian dan membuka salah satu pintunya. Ia kemudian melirik tas yang sedari tadi kusampirkan di bahu. "Barang-barangnya taruh disini aja Kak." Barang-barang katanya? Aku hanya membawa beberapa potong pakaian serta perlengkapan mandi. Tidak banyak. Aku hanya akan menginap 2 hingga 3 malam saja. Kupikir aku tidak akan memerlukan banyak pakaian sehingga aku hanya membawa seperlunya saja ke dalam tas olahragaku. Jika aku membawa semua barang-barangku ke kamar ini, mungkin suasana kamar ini akan berubah menjadi berantakan karena barang-barang jelekku itu. Sepertinya aku harus membawa pakaian dan perlengkapan lainnya saja ketika akan pindah kesini. Untuk masalah perabotan, aku bisa membelinya dan menyesuaikan warna dan bentuknya dengan perabotan yang sudah ada di kamarku ini. Calon Mamaku sudah bersusah payah menata semua yang ada disini agar terlihat mewah. Aku tidak mungkin merusak pemandangan dan hasil kerja kerasnya dengan barang-barang lamaku. "Aku jadi semakin ngerasa gak enak." Kulihat Jessica tersenyum tipis mendengar perkataanku barusan. "Kan kita akan jadi kel..", ucapannya terputus begitu didengarnya Mama memanggilnya. "Jess, ada tamu yang nyariin kamu tuh." Mama sudah berdiri di ambang pintu kamarku yang terbuka. "Siapa Ma?" Jessica menatap Mama dengan ekspresi kaget. Siapa yang tidak kaget jika ada tamu tidak diundang yang berkunjung kerumahmu di jam seperti ini. "Mama gak tahu. Sepertinya teman kuliah kamu," jawab Mama. "Laki-laki," tambahnya kemudian. Laki-laki? Bertamu malam-malam kerumah seorang gadis. Pasti itu pacarnya. Jessica seorang artis yang cukup terkenal. Dia cantik dan sepertinya juga pintar. Jenis gadis seperti ini sudah pasti memiliki tambatan hati. Pria mana yang tidak tertarik pada gadis seperti Jessica? Menyadari hal ini membuatku sedikit cemburu. Pria beruntung mana yang berhasil mendapatkan hati gadis ini? Aku mendadak jadi penasaran dan ingin tahu seperti apa kekasih Jessica. Aku bisa melihat wajah Jessica semakin terkejut. Gadis itu kemudian berpaling menatapku dan memasang wajah menyesal yang kupikir sangat lucu. "Maaf Kak, sepertinya aku ada tamu.. Aku tinggal sebentar ya," ringisnya kemudian langsung keluar dari dalam kamarku. Mama yang masih berdiri di ambang pintu hanya bisa menggeleng melihat tingkah putri tunggalnya itu. Ya, siapa yang mengira jika Jessica Arshella yang dikenal cukup pendiam dan kalem di layar tv itu ternyata bisa juga memiliki ekspresi-ekpresi unik diwajahnya. Setelah memandang kepergian Jessica, Mama kini ganti menatapku. Tanpa diminta, ia masuk ke dalam kamarku kemudian duduk di tepi tempat tidur. Setelah meletakkan tas ke dalam lemari pakaian, aku akhirnya ikut duduk disampingnya. Dari gelagatnya, aku bisa merasakan ada yang ingin dikatakannya padaku. Aku duduk dengan kikuk sambil menunggu apa yang akan dikatakannya. "Apa kamu suka dengan kamarnya?" "Ya, aku suka. Terima kasih." Mama menggeleng cepat. "Gak perlu berterima kasih. Mama justru senang kalau kamu menyukainya. Mama sempat khawatir kalau kamu tidak suka." Tidak ada seorang pun yang tidak suka mendapatkan kamar sekeren ini. Aku ingin mengatakan hal tersebut padanya namun entah mengapa bibirku seakan terkunci sangat rapat. "Papa kalian sempat menceritakan sedikit mengenai kalian pada Mama. Sebenarnya, sebelum menerima lamarannya, Mama sempat khawatir jika kalian nantinya akan menolak kehadiran Mama sebagai mama tiri kalian." "Aku dan Rek bukanlah anak yang seperti itu. Pilihan Papa pasti juga yang terbaik untuk kami." "Mama harap kamu dan Rekas bisa menerima kehadiran Mama dan Jess dalam kehidupan kalian. Meskipun mungkin Mama tidak bisa menggantikan posisi ibu kandung di hati kalian, Mama akan berusaha dengan adil menyayangi kalian berdua seperti Mama menyayangi Jess." "Uhmm.. Aku dan Reka gak pernah mengenal Mama kandungku. Jadi kami.." Mama mengangguk. "Iya, Papa kalian sudah cerita. Dia juga cerita mengenai masalah.." Mama berhenti bicara kemudian menilai penampilanku sejenak. "Mengenai masalah gaya pakaian dan sikap kamu yang seperti laki-laki." Aku tidak akan kaget jika Papa menceritakan hal-hal mengenai aku dan Rek pada calon istrinya dan calon ibu untuk kami. Menurutku itu sangat wajar. Hanya saja, aku penasaran sampai sejauh apa Papa menceritakan mengenai kondisiku pada calon Mamaku ini. Seolah mengerti apa yang kupikirkan, Mama kembali melanjutkan bicaranya. "Mama tidak akan menghakimi kamu atas apa yang menjadi pilihan hidup kamu. Mama cukup mengerti. Tidak ada seorang manusia pun yang menginginkan untuk menjadi seperti itu." Keren. Mama baruku ini ternyata memiliki pikiran yang cukup terbuka dan tidak terlalu konservatif. Mungkin karena tuntutan pekerjaannya sebagai kepala rumah sakit, sehingga membuatnya sering bertemu dengan berbagai macam jenis manusia dari berbagai latar belakang yang berbeda. "Sebaiknya kamu istirahat. Ngobrolnya bisa kita lanjutin besok." Setelah melihat aku sudah menguap berkali-kali, Mama akhirnya berdiri lalu keluar dari kamarku. Aku baru saja hendak menggosok gigi dan membasuh wajahku di kamar mandi yang memang berada di dalam kamar ketika menyadari bahwa tidak ada bantal maupun guling yang bisa kugunakan untuk tidur. Dengan bingung, aku keluar dari kamarku dan mencari sosok Mama. Aku sempat berpapasan dengan Bude di dapur yang mengatakan bahwa Mama sudah masuk ke kamarnya untuk tidur lebih dulu. Ugh, aku tidak mungkin tidur tanpa bantal. Tapi aku juga tidak mungkin mengganggu Mama. Aku hendak bertanya pada Jessica ketika kuingat gadis itu tengah bertemu dengan pacarnya. Aku tidak mungkin mengganggu mereka. Tapi jika aku tidak lekas bertindak, entah sampai kapan 'teman laki-lakinya' itu akan selesai berkunjung. "Seseorang? Siapa?" Aku bisa mendengar suara laki-laki ketika berjalan mendekati ruang tamu. Aku hendak mengurungkan niatku menemui Jessica ketika kulihat ia sudah menyadari kehadiranku. Wajahnya terlihat semakin bingung melihat aku yang dengan tidak sopannya datang mengganggu dirinya. Aku terdiam cukup lama. Antara tetap melanjutkan tujuanku semula atau mundur perlahan dan mempersilahkan Jessica untuk kembali melanjutkan pembicaraannya dengan sang 'tamu'. Baru saja aku hendak membuka mulutku, Jessica sudah bertanya lebih dulu padaku. "Kenapa Kak?" Belum sempat aku menjawab, laki-laki yang duduk di hadapan Jessica telah berbicara sambil memperhatikanku dengan sangat seksama. "Ini, seseorang yang nungguin kamu?" Matanya memperhatikan setiap inci dari bagian tubuhku. Benar-benar sangat mengganggu. Matanya yang sipit itu seolah pernah kulihat sebelumnya. Tapi dimana? Aku mencoba untuk mengingat-ngingat. Aku yakin pernah melihat wajah laki-laki ini. "Aku minta maaf kalau ganggu kamu, tapi.., " ucapanku terputus. Aku mendadak teringat dengan sosok Fina, teman kampusku dulu saat menempuh pendidikan pascasarjana di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Fina yang saat itu sedang menyelesaikan gelar sarjananya di fakultas yang sama tak sengaja bertemu denganku. Karena tertarik dengan wajahnya yang cantik dan sedikit kearab-araban itu, aku memberanikan diri untuk menyapanya lebih dulu dengan alasan berbasa-basi mengenai jadwal dosen hingga bertukar pin blackberry messenger dengannya. Pada awalnya kami hanya berdiskusi dan saling bertanya mengenai masalah perkuliahan. Namun lama kelamaan Fina menjadi sedikit lebih terbuka denganku dan seringkali menceritakan mengenai hubungan asmaranya. Aku ingat sekarang. Pria di depanku ini adalah Satou Keito, kekasih dari Fina. Ada urusan apa dia bertandang ke rumah ini? Apa dia mencoba untuk mendekati Jessica? Jessica harus tahu bahwa tamu laki-lakinya ini sudah berstatus pacar orang. Atau, mungkinkah Jessica sendiri justru telah masuk ke dalam perangkapnya? "Pacar kamu?" Satou Keito bertanya pada Jessica tanpa melepaskan pandangannya dariku. "Atau keluarga kamu? Aku gak pernah dengar kalau kamu punya saudara." Kucermati wajah Satou Keito sekali lagi. Aku pasti tidak salah. Laki-laki di depanku ini pasti Satou Keito. Aku sering melihat foto-fotonya bersama Fina di akun i********: dan path temanku itu. Mata yang agak sipit dan rambut yang sengaja diwarnai sedikit kemerahan. Satou Keito tampaknya ikut memperhatikan dan meneliti setiap sudut penampilanku. Mungkinkah dia juga mengenaliku? "Satou Keito?" tanyaku akhirnya. Pertanyaanku membuat laki-laki itu cukup terkejut. Sepertinya tebakanku benar. Dia adalah Satou Keito. Aku juga bisa merasakan Jessica melihatku dengan bingung. Dia pasti heran bagaimana aku bisa mengenal tamunya ini. "Apa kita saling kenal?" tanyanya. Aku menggeleng menjawab pertanyaannya. "Ini pertama kalinya kita ketemu." Wajah Satou Keito semakin bingung. Matanya yang sipit terlihat semakin sipit ketika ia kembali mencoba mengenaliku dengan seksama. "Terus kok lo bisa.." Dengan cepat, kupotong ucapannya. "Gue kenal sama cewek lo, Fina." Aku sengaja memberitahunya di depan Jessica. Aku ingin agar Jessica turut mendengarnya dengan sangat baik. Aku ingin Jessica menyadari bahwa betapa brengseknya laki-laki di hadapannya ini. Aku ingat dengan jelas cerita-cerita Fina mengenai kekesalannya pada sang tambatan hati. Mulai dari suka flirting sana sini, main mata, hingga saling chatting dengan perempuan lain di social messenger. Kabar terakhir yang kudengar adalah kekasihnya ketahuan selingkuh dengan salah satu akademisi polisi wanita. Begitu mendengar jawabanku, wajah Satou Keito langsung berubah mengeras. Dia pasti takut ketahuan bahwa sudah memiliki kekasih di depan Jessica. Hanya dengan membaca ekspresi wajahnya dan ekspresi wajah Jessica yang semakin bingung, aku bisa menarik kesimpulan bahwa hubungan keduanya masihlah dalam taraf pendekatan. Mungkin juga hanya Satou Keito yang tertarik pada adik tiriku itu melihat bagaimana reaksi Jessica tampak tenang-tenang saja begitu mengetahui si Satou ini sudah memiliki kekasih. "Mungkin lo salah orang." Laki-laki itu berusaha mengelak. Dia mengubah raut wajahnya menjadi setenang mungkin. Dipikirnya aku mudah dibodohi oleh anak ingusan seperti ini? Dia pasti ingin berusaha sebisa mungkin menutupi belangnya yang jelas-jelas sudah terlihat itu. "Apakah gue harus telpon Fina sekarang untuk memastikan?" tanyaku padanya. Kutatap wajahnya dengan senyum samar. Mungkin karena ucapanku hanyalah ancaman belaka, Keito masih terdiam. Akhirnya kukeluarkan smartphone kesayanganku dari balik saku celana dan mencari kontak Fina di antara ratusan phonebook ku. Baru saja aku hendak menekan tombol hijau untuk memanggil, Kei sudah bangkit berdiri dan menahan tanganku. "Tunggu!" Satou Keito menatapku dengan geram. "Gue memang Satou Keito yang lo maksud." Wajahnya perlahan melunak. "I see.." kutatap matanya sejenak kemudian kembali memasukkan smartphone ku ke dalam saku celana. "Jadi.. Dari mana lo bisa kenal Fina? Gue gak pernah dengar Fina cerita mengenai lo." Tentu saja Fina tidak pernah menceritakan tentang diriku padanya. Fina tidak ingin kekasihnya tahu bahwa ia bergaul akrab dengan seorang lesbian sepertiku. "Lo bisa tanya Fina," jawabku akhirnya. Aku akan meminta maaf pada Fina nanti karena harus membuka hubungan pertemanan kami pada Keito. Aku jadi teringat tujuan utamaku untuk menghampiri Jessica. Kutatap Jessica yang sedari tadi melihatku kemudian berkata, "A.. Apa di kamarku gak ada bantal sama guling?" Wajah itu selalu membuat bicaraku gugup setiap kali menatapnya. Aku bisa merasakan Jessica tampak gelisah mendengar pertanyaanku. Aku hanya bertanya mengenai bantal dan guling, tapi reaksinya seolah aku memintanya untuk melakukan sesuatu yang buruk seperti merampok bantal dan guling dari toko perabotan. Sungguh lucu. Dahinya sedikit berkerut dan bibirnya bergerak-gerak mencoba untuk menjelaskan sesuatu padaku. "Lo tinggal disini?" Satou Keito mendadak bertanya. Memutuskan kontak mata yang aku lakukan bersama Jessica. Tidak bisakah dia melihat bahwa aku sedang menikmati pemandangan menarik di hadapanku ini? Kuacuhkan saja pertanyaannya. Aku berharap dia menyadari bahwa kehadirannya disini sangat menggangguku. "Iya, dia.." Melihat aku yang masih mengacuhkan temannya itu, Jessica sepertinya berinisiatif untuk menjawab pertanyaannya. "Dia tunanganku." Huh? Apa? Apa yang baru saja dikatakannya! Tunangan? Sejak kapan? Kupandangi Jessica dengan wajah terkejut. Jessica hanya menatapku sekilas seolah tidak mempedulikan keterkejutanku. Oke, mungkin dia sengaja mengatakan itu untuk membuat Satou Keito menjauhinya. Aku bisa mengerti. Tapi apakah tidak ada kebohongan lain yang lebih rasional? Keito tentu saja tidak akan mempercayai ucapannya. Aku ini seorang perempuan. Perempuan gila mana yang bertunangan dengan sesama perempuan? Dan orangtua gila mana yang mau menikahkan anaknya dengan seorang perempuan? "Aku gak pernah dengar berita kalau kamu sudah punya tunangan." Nah, benar kan perkiraanku. Satou Keito pasti tidak mempercayai kebohongannya. "Karena aku merahasiakannya dari media. Aku harap kamu tidak memberitahu siapapun. Apalagi wartawan," jawab Jessica dengan sedikit mengancam. Tentu saja. Media akan dibuat heboh jika berita pertunangan Jessica Arshella dengan seorang perempuan terkuak. Itu sama saja memberitahu semua orang bahwa dirinya adalah seorang pecinta sesama jenis. "Jadi.. Tunangan kamu tinggal dirumah ini? Kalian satu atap?" Nada bicara Satou Keito terdengar terkejut. Aku bisa melihat apa yang sedang dipikirkannya dari raut wajahnya. Jangan bilang kalau orang ini mengira bahwa aku adalah laki-laki. Oh, tidak lagi! Pantas saja ekpresi wajahnya seperti itu. Menatapku seolah aku ini penjahat kelamin. Hei, siapa yang sesungguhnya penjahat kelamin disini? "Dia mau menginap malam ini karena hotel yang sudah dia booking mendadak penuh," jelas Jessica pada laki-laki itu. "Sorry Kei, seperti yang kamu lihat. Aku sibuk karena tunanganku mau menginap disini. Aku harus menyiapkan kamar untuknya. Sebaiknya kamu pulang. Ini sudah malam." Kulihat Keito mengangguk mengiyakan. Siapa yang tidak akan kaget jika perempuan incarannya ternyata sudah memiliki tunangan? Dan ia hadir di saat tunangan sang wanita menginap dirumah. Bagus sekali. Namun aku tidak yakin setelah ini Keito akan berhenti mengganggu Jessica mengingat bagaimana sepak terjangnya selama ini dari yang kudengar dari Fina. "Baik. Maaf kalau aku ganggu waktu kalian. Permisi." Setelah berkata demikian, Satou Keito bangkit berdiri. Dengan canggung, dia berjalan keluar dari ruang tamu menuju motornya yang kulihat terparkir di halaman. Jessica ikut mengantarnya dari belakang. Sejujurnya aku masih merasa tidak enak mengganggu Jessica dan Keito. Namun aku tidak bisa menunggu mereka hingga selesai dan tidur tanpa bantal. Kepalaku akan merasa sakit dan pegal keesokan harinya. Aku tidak ingin tidur malamku terganggu hanya karena hal tersebut. Jessica kembali dari teras dan cukup terkejut melihatku masih menunggunya di ruang tamu. "Sorry, tadi aku bilang ke Kei kalau Kakak.." "Gak apa," potongku cepat. Aku cukup mengerti alasannya. Aku ingin segera mendapatkan bantal gulingku agar bisa segera tidur dengan nyenyak. Perjalanan Bandung-Jakarta sore tadi cukup membuat tubuhku sedikit lelah. Ditambah lagi, aku menggendong Diva seharian karena keponakanku itu tidak mau dibiarkan tidur di kasur kecil miliknya tanpa digendong terlebih dahulu. "Jadi, bantal gulingku?" Wajah Jessica kembali berubah seperti tadi, saat aku menanyakannya mengenai nasib bantal gulingku di awal. "Uh.." Jessica meringis lagi. Sungguh lucu. "Sebenarnya kemarin aku sempat meminjamnya karena teman-temanku menginap dirumah. Kupikir Kakak belum mau menggunakannya." Jadi begitu rupanya. Jessica merasa tidak enak karena sudah menggunakan bantal dan gulingku. Pantas saja dia terlihat tidak nyaman seperti itu. Sebenarnya aku bukanlah tipe orang yang suka mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Namun hal ini sepertinya tidak berlaku pada Jessica. "Aku lupa untuk bersihin dan ngembaliinnya lagi ke kamar Kakak. Jadi, apakah gak apa-apa?" Siapa yang tidak suka jika bantal dan gulingnya digunakan untuk tidur oleh seorang artis seperti Jessica? Tentu saja aku tidak akan merasa apa-apa. Aku justru senang mengetahuinya. Tapi jika aku terlihat senang, Jessica akan curiga padaku. Biarlah kesenangan ini kunikmati secara pribadi saja. "Gak masalah. Itu justru lebih baik." Aku berusaha untuk meredakan rasa tidak nyamannya. Namun alis Jessica justru tertarik ke atas dengan bingung. Baik, sepertinya aku sedikit salah bicara. "Lebih baik?" tanyanya. "Setidaknya bantal gulingku gak akan sekeras seperti saat beli baru." Aku buru-buru melanjutkan kalimatku. Takut jika dia salah mengira maksud dari ucapanku. Jessica terlihat semakin tidak enak mendengar penjelasanku. Aku tidak bermaksud menyindirnya secara halus. Sungguh. Aku justru senang jika barang-barang pribadiku dipergunakan olehnya. Jessica mengajakku menuju kamarnya. Dimana bantal dan gulingku masih berada disana. Begitu kami tiba di depan pintu kamarnya, Jessica yang sejak menaiki tangga tadi terlihat resah semakin menunjukkan wajah tidak nyamannya. Aku bisa melihat dia terlihat berat untuk membuka pintu kamarnya. Ya, mungkin dia tidak ingin aku melihat seperti apa bentuk kamarnya. Aku mengerti. Beberapa dari teman-teman modelku ada yang memiliki tabiat seperti itu. Aku akhirnya mundur dan menyandarkan tubuhku tepat di dekat pintu kamarnya. Berhadapan langsung dengan dinding kamarku. Lorong pemisah antara kamarku dan kamarnya hanya berjarak kurang dari 3 meter. Jarak yang cukup sempit mengingat setiap harinya aku akan berpapasan dengannya dilorong ini. Kamar Reka lebih leluasa. Setidaknya di depan kamarnya hanya berhadapan dengan ruang santai dan tidak terhubung dengan apapun. Jessica masuk ke dalam kamarnya. Tidak berapa lama, ia keluar sambil membawa bantal dan guling yang beralaskan sarung berwarna hitam dan merah marun. Sesuai dengan warna bed coverku. Belum sempat tanganku mengambilnya, tangannya sudah lebih dulu menghindar dari tanganku. "Aku akan ganti dulu alasnya. Kakak pasti.." "Gak perlu." Aku tidak ingin merepotkannya. Dia sudah cukup tidak nyaman dengan kehadiranku di rumahnya. Ditambah lagi rasa tidak enaknya karena sudah menggunakan bantal dan gulingku. Aku tidak ingin merepotkannya lebih jauh lagi. "Tapi ini bekas aku pake." "Gak apa-apa." Aku tersenyum kecil padanya lalu meraih bantal gulingku dari tangannya. Aku kemudian bergerak menuju kamarku. Tunggu. Aku setidaknya harus memberinya salam sebelum tidur. Aku kemudian berbalik melihatnya yang masih menatapku di depan kamarnya. "Good night, Jessica." Aku sengaja menyebut namanya kali ini agar dia mengerti bahwa aku sangat menghargai kehadirannya. Bahwa aku telah menerimanya sebagai bagian dari keluargaku. Setelah mengatakan hal itu, aku masuk ke dalam kamarku. Setelah selesai menggosok gigi dan dan mencuci wajahku, aku memeriksa kembali notifikasi yang masuk di akun social messengerku. Ada chat dari saudara kembarku sejak jam 8 tadi. Reka bertanya bagaimana rasanya menginap di rumah Mama baru kami. Pertanyaan bodoh, menurutku. Tentu saja rasanya janggal dan sangat tidak nyaman. Aku sengaja tidak membalasnya. Biar dia penasaran. Reka suka sekali cemberut dan ngambek setiap kali aku mengabaikan pesan-pesan singkatnya. Meskipun usia kami sama, aku lebih tua beberapa menit darinya. Mungkin karena hal inilah yang membuat Reka jadi sedikit lebih manja padaku yang nota bene adalah kakaknya. Setelah meletakkan kembali smartphoneku di atas nakas, aku merebahkan diriku ke tempat tidur. Nyaman sekali. Aku biasanya selalu mencium parfum dengan aroma buah-buahan yang sering dipakai oleh beberapa model di kantorku. Tapi aroma yang kucium dari bantal dan guling ini justru aroma lembut bunga. Aku tidak tahu bunga jenis apa ini. Mungkin berfungsi juga sebagai aromatheraphy. Wanginya tidak menusuk dan sesuai sekali dengan kepribadian Jessica yang lembut dan hangat. Baik, sepertinya aku mulai menyukai aromanya. *** Aku terbangun pagi-pagi sekali karena suara adzan subuh dari masjid terdekat. Ya, meskipun sehari-harinya aku berpakaian layaknya laki-laki, setiap kali aku menghadap Tuhan, aku kembali ke kodratku sebagai wanita. Mengenakan mukena. Setelah selesai menunaikan kewajibanku, aku mengganti boxer pendekku dengan celana pendek selutut dan kaos tanpa lengan. Sudah menjadi kegiatan rutinku setiap pagi untuk berolahraga. Selain karena menyehatkan, aku juga ingin menjaga bentuk tubuhku agar proporsional. Maklum saja, pekerjaanku berhubungan erat dengan para model. Para klien dan calon investor tidak akan tertarik bekerja sama jika penampilanku berantakan dan tidak baik. Mereka pasti berpikir bahwa model-model yang kutangani pasti akan sama berantakannya dengan bos nya. Kebanyakan orang-orang selalu melihat cover depannya lebih dulu sebelum memutuskan untuk membeli barangnya. Hal itu juga berlaku bagi agency model tempatku bekerja. Kami dituntut untuk selalu rapi dan enak dipandang. Ketika aku turun dari tangga, kulihat suasana rumah masih sepi. Aku berjalan agak perlahan agar tidak membangunkan seisi rumah. Aku tidak ingin mengganggu tidur nyenyak mereka. Meskipun cuek, aku sedikit peduli pada penilaian orang terhadapku. Aku tidak ingin membuat kesalahan kecil yang membuat orang lain menggerutu dibelakangku. Itu sangat tidak enak. Percayalah. Karena aku pernah memergoki salah satu karyawanku yang membicarakanku di belakangku. Jika tidak suka, cukup katakan langsung didepanku. Itu lebih baik daripada harus menggunjing bos mu sendiri. Aku juga tidak mungkin langsung menghardiknya hanya karena mengkritikku. Itu kekanakkan sekali. Aku bukanlah tipe bos yang seperti itu. Aku justru akan senang jika ada karyawanku yang memberi masukan dan kritik agar hasil kerjaku lebih baik. Open minded adalah salah satu dari sifatku. Aku masih melakukan pemanasan di depan teras ketika menyadari Jessica muncul dari balik pintu rumah. Aku sedikit terkejut atas kehadirannya. Kupikir gadis itu akan bangun pukul 6 atau 7 pagi. Aku tidak mengira dia sudah bangun dari tidurnya sepagi ini. Setelah memberinya sebuah senyuman, aku kembali melanjutkan pemanasan. Jika di Bandung, aku terbiasa melakukan olahraga berat menggunakan peralatan fitness di rumah. Namun, karena tidak ada perlengkapan fitness disini, aku terpaksa melakukan olahraga seadanya. Aku melihat Jessica berdiri disampingku ketika aku sedang melakukan sit up. Aku bisa menikmati dengan jelas kakinya yang putih jenjang. s**t! Aku seharusnya tidak melihat ke arah sana. Aku tidak ingin berpikiran kotor sepagi ini. Meskipun harus kuakui, keseharianku memanglah sedikit m***m. Tapi menurutku sifat mesumku itu masih dalam batas normal. "Kakak selalu rutin olahraga pagi?" Jessica mendadak bertanya sambil melakukan pemanasan. "Ya, selalu," jawabku masih berusaha menghilangkan rasa gugupku. Siapa yang tidak gugup jika seorang gadis secantik dan anggun seperti Jessica Arshella berdiri disampingmu dengan mengenakan kaos olahraga superketat dan celana pendek yang hampir tidak menutupi sebagian pahanya? Belum lagi dia melakukan gerakan pemanasan yang membuat mataku sulit untuk melepaskan pandangan dari tubuhnya. Aku akhirnya membalikkan tubuhku untuk melakukan push up. Aku tidak ingin memandangnya berlama-lama. Dia bisa mengacaukan otak dan jantungku. Aku tidak ingin mati muda hanya karena seorang gadis. "Kakak mau jogging bareng aku?" Jessica kembali bertanya ketika aku baru saja mulai melakukan back up. Aku sengaja tidak segera menjawabnya dan menyelesaikan back up ku hingga hitungan ke-50. "Kamu mau jogging?" Aku akhirnya bisa berbicara tanpa harus merasa gugup. Namun pertanyaanku kali ini kurasa amatlah bodoh. Tentu saja ia akan jogging dengan pakaian seperti itu. Dia juga baru saja menawariku untuk jogging bersama. "Memangnya kenapa lagi aku bangun sepagi ini dengan pakaian seperti ini." Mata Jessica melirik pakaian yang dikenakannya sekilas. Harus kuakui selera berpakaiannya sangat bagus. Meskipun hanya untuk jogging, dia berhasil memadupadankan kaos lengan pendeknya dengan celana yang dikenakannya. "Kupikir mau aerobik atau yoga." Aku berusaha mengelak dari pertanyaan bodohku barusan. Aku bukan termasuk seseorang yang pintar mengelak. Tapi bukan berarti otakku terlalu tumpul untuk berpikir dengan cepat. Aku termasuk siswa yang cerdas selama di sekolah. "Aku lagi pengen jogging Kak," jawabnya. "Sekalian aku ajakin muter-muterin komplek. Biar Kakak hapal daerah sini." Ucapannya cukup masuk akal. Biar bagaimanapun aku akan menjadi penghuni komplek ini juga. Tidak ada salahnya untuk mengenal daerah ini sambil jogging dan mendekatkan diri pada calon adik. Ibaratnya sekali merengkuh dayung, tiga pulau terlewati. Pulau yang pertama yaitu jogging agar menyehatkan tubuhku, pulau kedua yaitu mengenal kawasan komplek calon tempat tinggalku dan pulau ketiga yaitu semakin mengakrabkan diri dengan calon adik tiriku. "Ya udah." Setelah menyetujui ajakannya, aku berjalan membukakan pintu pagar untuknya. Biar kuberitahu. Pintu pagar rumah Jessica cukup tinggi dan tebal. Cara membukanya bukanlah di dorong ke depan atau belakang melainkan digeser ke samping. Untuk menggeser pagar seberat ini, setidaknya butuh tenaga cukup ekstra. Aku tidak mungkin membiarkan Jessica yang bertubuh mungil itu melakukannya. Selama jogging di jalan-jalan komplek yang masih lengang, Jessica sesekali menyapa tetangga yang juga sedang lari pagi dan berpapasan dengan kami secara tidak sengaja. Sebagai seorang artis, kuakui dia sangat ramah dan bersahabat dengan para tetangganya. Aku hanya diam saja ketika dia mulai menjelaskan padaku mengenai keadaan komplek rumahnya. Aku memanglah tipe pendengar yang baik daripada menjadi pembicara yang baik. Aku menemani Jessica jogging cukup lama. Berulang kali kami memutari taman di dekat kompleknya tanpa bicara. Oke, berbicara sambil berlari bukanlah hal yang baik. Jadi, kami tidak saling berbicara. Hanya deru nafas kami saja yang terdengar dan beberapa suara dari penjaja koran keliling serta beberapa manula yang sedang asyik berjalan santai. Aku bisa melihat Jessica melirik jam tangannya sekilas lalu memberi isyarat dengan matanya untuk mengajakku kembali ke rumah. Wajahnya penuh dibanjiri keringat. Aku bisa mendengar nafasnya terputus-putus. Karena tidak tega, akhirnya aku berlari kecil menuju warung dan membeli sebotol air mineral. Setidaknya ini akan mengurangi rasa lelahnya. Begitu aku kembali menghampirinya, raut wajah Jessica tampak bingung. Nafasnya masih tersengal-sengal. Kurasa ia tidak kuat untuk kembali berbicara. Kuserahkan botol minuman yang tadi kubeli padanya. "Ini, buat kamu." Jessica terlihat ragu. Diraihnya botol tersebut kemudian bergerak ingin membuka tutupnya. Aku hampir saja lupa. Dimana sopan santunku. Aku menawarinya minuman tapi tidak membukakan penutup botol untuknya. Dengan cepat, kuraih kembali botol tersebut lalu membukakan tutupnya untuk Jessica. Jessica tampak sedikit terkejut. Mungkin ia mengira aku akan mengambil kembali minumannya. Kuakui aku memang sedikit haus. Tapi ketika keluar rumah tadi aku tidak membawa uang sepeser pun. Aku hanya menemukan beberapa lembar ribuan di kantong celana pendekku. Mungkin sisa dari biaya parkir yang kumasukkan sembarang ke dalam saku. Aku menunggu Jessica selesai meneguk minumannya. Untungnya, dia tidak menghabiskan seluruh isinya. Tanganku segera meraih botol tersebut dan menghabiskan sisanya. Tenggorokanku rasanya segar sekali meskipun rasa hausku belumlah sirna. Setelah melemparkan botol kosong itu dengan asal ke dalam tong sampah terdekat, aku kembali berjalan menuju rumah. Maksudku, calon rumahku. Aku sempat merasakan Jessica memperhatikan apa yang kulakukan. Mungkin baginya cukup aneh karena aku menghabiskan waktu untuk bersusah payah mencari tong sampah. Perlu diketahui, aku kuliah di salah satu fakultas yang berhubungan dengan kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Aku dididik untuk selalu hidup sehat. Bahkan saat SMA aku sempat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler PMR. Menurutku, membuang sampah pada tempatnya adalah bentuk nyata dari rasa peduliku terhadap kesehatan. Meskipun terlihat sederhana, tapi satu sampah yang kubuang setidaknya akan menyelamatkan ratusan penduduk. Banjir di Jakarta adalah salah satu bentuk tindakan tidak senonoh masyarakatnya yang kurang peduli dengan sampah. Baik, bukan tidak senonoh, tapi tidak berperikesampahan. Begitu tiba di depan pagar rumahnya, aku kembali membukakan pagar untuknya. Jessica lagi-lagi terkejut. Entah apa yang dipikirkannya selama perjalanan pulang tadi. Yang pasti, otaknya sedang melayang entah kemana. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Ketika kami memasuki ruang tamu, aku bisa mendengar suara musik dangdut dari arah dapur. Aku menoleh menatap Jessica untuk bertanya siapa yang memutar dangdut sepagi ini. Seolah mengerti keherananku, Jessica hanya menunjuk kamar Bude. Begitu rupanya. Aku baru tahu jika Bude pecinta dangdut sejati. "Kak, aku ke atas duluan ya. Mau siap-siap ke kampus," pamit Jessica ketika dilihatnya aku masih ingin ke dapur. Aku mengangguk dan membiarkan gadis itu naik ke lantai atas. Kupandangi tubuhnya yang indah itu hingga hilang di balik tangga. Setelah itu, aku berjalan menghampiri Bude yang kini tengah menyiapkan sarapan untuk kami. "Pagi Bude," sapaku pada wanita paruh baya itu. Bude menoleh kaget padaku. Kepalanya yang tadi kulihat bergoyang mengikuti irama lagu dangdut dari mini compo langsung berhenti. "Eh, Mas Revi. Pagi.." jawabnya malu. "Bude masak apa?" Aku melongok ke balik bahunya. Sebuah wajan panas yang berisi potongan cabai dan bawang sedang ditumis olehnya. "Nasi goreng Mas. Kata Ibu semalam, masak nasi goreng aja pagi ini. Ibu bilang Mas Revi suka sekali makan nasi goreng." "Oh.." Aku mengangguk. Aku cukup senang mendengar calon Mamaku itu begitu perhatian padaku. Dia bahkan tahu makanan favoritku. "Oh iya Mas, Bude minta maaf soal kemarin. Bude ndak tahu kalau Mas Revi ini beneran perempuan." Aku tersenyum kecil melihat wajah Bude yang berubah gugup. "Gak apa-apa Bude. Tapi kok manggilnya masih pake Mas?" "Hehe. Habis gimana ya Mas. Bude agak ngerasa aneh gitu lho manggil Mas Revi pake 'Mbak' atau 'Non'. Rasanya gimanaaaa gitu." Sambil berkata demikian, Bude memperhatikan penampilanku sejenak. "Habis Mas ini kaya laki-laki tulen. Bude saja ndak bakal percaya kalau bukan Ibu yang bilang." "Memangnya Ibu bilang apa ke Bude?" tanyaku penuh selidik. Bude berbalik lalu memasukkan bumbu nasi goreng yang sudah disiapkannya ke dalam wajan. "Ibu marah waktu dengar Bude manggil Mas Revi pakai sebutan 'Mas' semalam. Ibu bilang kalau Mas Revi itu perempuan tulen." Aku melirik Bude sambil senyum-senyum mendengar penuturannya. Tanpa sadar, tanganku sudah bergerak membantunya mengocok telur. "Jadi, gak apa-apa kan Mas kalau Bude manggilnya tetap pakai sebutan 'Mas'? Wong Bude enaknya manggil begitu." "Iya gak apa-apa kok Bude." "Syukurlah kalau begitu. Habis Bude takut kalau Ibu marah lagi. Ibu itu jarang marah Mas. Jadi setiap marah, Bude ngerasa ndak enak gitu," tuturnya sambil tangannya bergerak di atas wajan. Dengan sekali gerakan, Bude mengambil nasi putih yang sudah disiapkannya kemudian memasukkannya ke dalam bumbu yang sudah dipanaskan. "Biar aku yang aduk nasinya. Bude goreng telornya aja. Biar cepat selesai." Bude membiarkan saja ketika tanganku bergerak mengambil alih spatula di tangannya. "Ternyata Mas Revi ini juga bisa masak ya. Bude kira tahunya cuma benerin genteng atau otak-atik motor kayak anak tetangga Bude yang di kampung. Penampilannya ya kayak Mas Revi ini. Seperti laki-laki. Tapi Mas Revi lebih laki. Kok bisa ya dadanya rata begitu." Aku tertawa kecil mendengar ucapan Bude yang blak-blakan dan terkesan jujur itu. "Aku gak tau Bude. Mungkin karena aku sering fitness. Jadi dadanya susah tumbuh. Yang tumbuh justru otot-ototnya. Bude mau lihat?" Tanganku bersiap hendak membuka kaos yang kukenakan. "Walaaaah. Gak usah Mas. Isin Aku. Berasa ngelihat badan laki-laki. Nanti suami Bude yang di alam sana cemburu. Kalau kata Non Jess, bahasa gaulnya itu jeleees Mas. Jeleees. Mas tau jeles kan?" tanyanya sambil mengucapkan kata jealous dengan cukup keras. "Iya aku tau. Bude belajar bahasa inggrisnya dari Jessica?" "Bude kan dulu pernah sekolah juga Mas. Sampai tamat SD," akunya sedikit menyombongkan diri. "Kadang juga Non Jess ngajarin bahasa-bahasa gaul zaman sekarang. Katanya biar Bude dapet julukan Bude gaul sekomplek." "Kalau Bude mau, aku juga bisa ngajarin Bude. Biar Bude dapet dua julukan. Bude gaul sekomplek dan Bude paling bule sekomplek." Aku bisa melihat Bude tersenyum cerah mendengar tawaranku. Setelah mengangkat telor dadar dari dalam wajan, tangannya bergerak memasukkan beberapa kerupuk. "Kalau yang ajarinnya bule kayak Mas Revi, Bude pasti ikutan jadi bule juga Mas. Anak-anak dan cucu Bude bisa pangling nanti kalau Bude ngomong cas cis cus kayak bule-bule di tipi itu Mas." "Kalau begitu ngomongnya jangan cas cis cus Bude. Supaya anak-anak dan cucu-cucu Bude gak pangling," kataku iseng. Tanganku mulai sibuk mengambil rancang nasi dan memasukkan nasi goreng yang sudah selesai dimasak kedalamnya. "Lha, kalau bukan cas cis cus Bude harus ngomong apa tho?" "Ngomong cap cip cup Bude." "Wuedaaaan tenan Mas iki." Bude tertawa terpingkal disampingku. Setelah menyelesaikan tugasku memasak nasi goreng, aku berpaling melihat Bude yang masih sibuk menggoreng kerupuk. "Bude, aku pamit ke atas ya. Mau mandi. Badanku sudah gerah." "Baru berasa sekarang tho Mas? Bude sih sudah dari tadi nyium bau gak enak." Aku menatapnya dengan senyum jenaka. "Kenapa gak bilang dari tadi Bude kalau badanku bau?" "Bukan bau Mas. Cuma gak enak aja. Lagipula Mas kan lagi sibuk bantuin Bude masak. Mosok Bude usir." "Lain kali bilang aja Bude. Aku kan gak tau." "Wis, nanti Bude bilangin. Sudah sana mandi dulu Mas," sahutnya sambil memasukkan kerupuk-kerupuk yang dimasaknya kedalam wadah yang terbuat dari plastik. Aku hendak naik ke lantai atas setelah berpamitan pada Bude begitu kulihat Mama keluar dari kamarnya. "Revian? Kamu sudah bangun rupanya," sapanya lalu bergerak mencium pipiku. "Barusan Papa kamu telpon. Dia ngajak kita jalan sama-sama. Berempat sama Rekas." "Jalan-jalan kemana?" tanyaku berusaha menghilangkan rasa risih karena kecupannya. "Ke ragunan. Wisata keluarga. Sayang Jess gak bisa ikut kita." Ia hendak bergerak ke dapur ketika aku berusaha menahan langkahnya. "Uhm, Ma?" Ia menoleh menatapku. "Panggil aku Rev atau Revi aja seperti Papa dan yang lainnya. Revian itu terlalu.." Aku tidak meneruskan kalimatku ketika kulihat Mama hampir saja meneteskan air matanya. "Terima kasih Rev. Mama senang akhirnya kamu mau membuka hati kamu untuk menerima Mama. Kamu manggil Mama dengan sebutan 'Mama' saja Mama sudah bahagia. Kamu malah mengijinkan Mama untuk memanggil kamu dengan nama kecilmu. Mama sebenarnya ingin sekali memanggilmu dengan nama itu. Hanya saja Mama takut kamu merasa tidak nyaman. Papa kamu cerita kalau kamu sedikit kurang nyaman dengan orang asing." Aku tersenyum kikuk mendengar penuturannya. Hati kecilku semakin merasa tidak enak. "Uhm.. Kita kan akan jadi keluarga. Jadi kupikir.. Gak masalah." Mama langsung memelukku begitu aku menyelesaikan ucapanku. Sebuah pelukan hangat dan penuh kasih sayang yang tidak pernah kudapat dari Mama kandungku. Ada perasaan aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Jadi, apakah begini rasanya dipeluk oleh seorang ibu? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD