Dokter panggilan baru saja memeriksa Kejora, begitu dokter tersebut pergi Kejora segera sadar.
"Aku dimana?" tanya Kejora kebingungan.
"Kamu di kamarku," jawab Blue Sea.
"Bagaimana aku bisa di sini?" tanya Kejora tak mengerti.
"Apakah kamu lupa? Jika tadi kamu memelukku kemudian jatuh pingsan?" ucap Blue Sea balik bertanya.
Kejora mencoba mengingat kembali kejadian tadi, dan benar saja. Dia tadi memang memeluk pemuda tersebut karena saking senangnya.
"Untung aku bertemu denganmu," kata Kejora bersyukur.
"Kenapa tadi kamu di sana sendirian? Dan kenapa dengan lehermu itu? Apakah ada orang yang berbuat jahat padamu?" tanya Blue Sea secara beruntun.
Kejora tidak ingin menceritakan kehidupannya pada orang lain, karena baginya semua itu tidak akan merubah keadaan. Pada akhirnya dia akan kembali ke rumah suaminya dan menjalani hari - hari yang berliku.
Blue Sea sedih dan kesal sebab Kejora hanya membisu.
"Sudahlah jika kamu tak ingin menceritakan padaku, sekarang kamu makan dulu. Kata Dokter kamu kelelahan dan perutku kosong. Aku sudah menyiapkan berbagai makanan semoga kamu suka," pinta Blue Sea bersimpati.
Kejora terharu, sebab masih ada orang yang begitu baik padanya. Padahal mereka berdua baru beberapa hari bertemu.
"Kenapa kamu begitu baik padaku?" tanya Kejora.
"Karena aku memang orang yang murah hati dan dermawan," jawab Blue Sea tanpa basa - basi.
Kejora tersenyum, dia langsung tidak sabar untuk menyantap makanan yang sudah tersaji. Sejujurnya perutnya sudah melilit sekali. Sejak pagi dia memang belum makan.
Di sisi lain Blue Sea menjadi melamun, dia masih bertanya - tanya dalam hati tentang gadis yang kini di hadapannya.
"Siapakah gadis ini? Kenapa takdir mempertemukan dia denganku? Lalu kalau dia sudah menikah kenapa selalu sendirian. Atau dia ini perempuan binal? Tapi seandainya dia gadis seperti itu pasti sudah merayuku untuk mendapatkan uang yang banyak. Nyatanya dia aku peluk saja sudah marah. Jangankan memberi tahu tentang dirinya… Namanya saja dia tidak mau menjawab," batin Blue Sea.
"Blue Sea…" panggil Kejora lembut.
"Ada apa?" tanya Blue Sea menoleh ke wajah Kejora.
"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Kejora.
"Aku hanya sedang bingung, beberapa kali kita bertemu dan kamu masih saja tidak mau memberitahukan namamu padaku. Apakah kamu masih menganggap aku ini orang jahat?" tanya Blue Sea menatap kedua bola mata Kejora dengan serius.
Kejora seketika bergetar hatinya mendapatkan tatapan maut dari pemuda bermata biru itu.
"Kejora..." jawab Kejora spontan.
"Jadi namamu Kejora ya? Venus, bukankah juga disebut bintang kejora?" gumam Blue Sea.
"Iyap… Ayo makan," ajak Kejora nafsu sekali makannya.
"Kamu seperti orang yang beberapa hari tidak makan saja," ledek Blue Sea.
"Aku memang sejak pagi tadi belum makan," jawab Kejora.
"Lalu kenapa tadi kamu jalan kaki di jalanan seperti itu? Dalam kondisi menyedihkan lagi," tanya Blue Sea.
"Jangan tanya lebih lanjut lagi! Karena aku tidak akan pernah mau menjawab. Tapi aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Nanti akan aku ganti biaya makan dan pemeriksaan Dokter tadi," kata Kejora.
"Tak perlu kamu kembalikan, karena kita sudah akrab begini mulai sekarang kita adalah teman. Aku sudah memasukkan nomorku di ponselmu, lain kali kalau kamu sedang kesulitan bisa menghubungiku," jawab Blue Sea serius.
"Tidak, aku tetap akan mengembalikan uang yang sudah kamu keluarkan untukku. Aku nantinya tidak enak hati," balas Kejora.
"Terserah kamu sajalah, cepat habiskan makananmu," perintah Blue Sea.
"Kamu juga, mana mungkin aku bisa menghabiskan sendiri," rengek Kejora.
Mereka berdua mulai makan bersama. Ah… Andaikan dia menikah dengan seseorang yang dicintai mungkin hidupnya akan seperti ini. Makan bersama dan menjalani hari - hari dengan penuh kasih sayang.
Setelah makan Blue Sea segera mengambilkan minuman untuk Kejora.
"Terima kasih banyak, kamu sangat baik sekali. Apakah dengan orang lain kamu juga seperti ini?" tanya Kejora penasaran.
"Tidak, justru aku tipe pemuda yang tidak peduli pada orang lain. Hanya saja kamu ini terlihat sangat menyedihkan. Jadi aku tidak tega saja membiarkan kamu tergeletak di jalanan," jawab Blue Sea santai.
"Terima kasih," ucap Kejora tulus.
"Kamu berat tahu, tadi aku menggendongmu dari bawah sampai ke sini," keluh Blue Sea.
"Iyakah? Bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu?" tanya Kejora polos.
"Peluk aku dengan erat seperti yang tadi di jalanan itu," goda Blue Sea.
"Tidak! Kamu jangan bertindak sembrono padaku," pekik Kejora.
Blue Sea tertawa terbahak - bahak melihat ekspresi Kejora yang panik dan ketakutan.
"Aku hanya bercanda, jangan di anggap serius," kata Blue Sea.
"Tapi bercandamu keterlaluan deh, aku malah sempat berpikir jika kamu ini bule m***m," jawab Kejora.
"Jika kamu berpikir seperti itu aku jadi ingin menjadi bule m***m beneran," goda Blue Sea.
"Akan aku pukul kamu!" jawab Kejora galak.
"Wih... Mentang - mentang sudah kenyang dan punya tenaga jadi ingin memukul orang yang sudah menolongmu," ejek Blue Sea.
"Bercandamu keterlaluan," jawab Kejora.
"Kamu sendiri yang lebih dulu keterlaluan! Aku ini pemuda baik - baik dan terhormat," balas Blue Sea.
"Baiklah aku yang minta maaf, sekarang aku sudah kenyang. Berapa biaya makan dan Dokter tadi?" tanya Kejora.
"Dokter lima ratus ribu dan makanan ini satu juta," jawab Blue Sea santai.
"Apa? Satu juta harga makanan ini?" Pekik Kejora.
"Kalau nggak percaya cek saja. Tapi aku sudah bilang untuk tidak usah mengembalikan," jawab Blue Sea santai.
Kejora langsung bangkit dan kembali ke kamarnya sendiri, tapi ternyata kunci kamarnya hilang entah kemana.
"Bagaimana ini?" batin Kejora.
Saat Kejora membalikkan badannya tapi tiba - tiba saja dahinya menabrak d**a bidang milik Blue Sea.
"Kenapa kamu bisa di sini?" pekik Kejora kaget.
"Karena aku tahu kamu tidak akan bisa membuka kamarmu," jawab Blue Sea.
"Iya, kunciku hilang. Bagaimana ini?" tanya Kejora panik.
"Tenang, sebaiknya kita bertanya pada petugas saja meminta kunci cadangan," jawab Blue Sea menenangkan kepanikan Kejora.
"Iya," jawab Kejora patuh.
Mereka berdua segera turun ke lantai pertama dan menanyakan tentang kunci kedua.
"Maaf, tapi kami hanya menyediakan dua kunci. Sedangkan kunci yang satunya sudah di bawa oleh suami Anda."
Seketika Blue Sea terkejut, pemuda tersebut begitu terpukul mengetahui jika Kejora memang sudah punya suami.
"Ya sudah terima kasih," jawab Kejora kecewa.
Bingung malam ini suaminya pasti tidak akan pulang, belum lagi uang yang harus dia kembalikan pada Blue Sea. Uang yang ada dalam lipatan bajunya hanya sejuta saja.
"Dimana suamimu?" tanya Blue Sea.
Kejora hanya menundukkan wajahnya yang masih pucat.
Entah kenapa melihat Kejora seperti itu Blue Sea ikut merasakan sedih.
"Tidurlah di kamarku malam ini, dan tentang uang itu kamu tidak perlu kamu kembalikan," bujuk Blue Sea.
"Aku masih ada simpanan satu juta, nanti kalau aku sudah punya aku akan mengembalikan sisa kekurangan padamu. Soal menginap kamu tahu sendiri kan jika aku sudah bersuami? Mana mungkin aku tidur dengan pemuda lain?" ucap Kejora meminta pengertian.
"Aku tidak meminta kamu tidur denganku! Tapi tidur di kamarku. Malam ini aku juga ada keperluan di luar jadi aku tidak tidur di hotel," jawab Blue Sea.
"Benarkah? Baiklah…" jawab Kejora tersenyum malu.
"Nah… ayo kembali ke kamarku saja. Satu jam lagi aku akan berangkat," ajak Blu Sea ramah.
Mereka saling tersenyum menghormati tapi dalama hati mereka saling bertanya - tanya.
Kejora penasaran kemana perginya Blue Sea makam ini?
Sedangkan Blue Sea lebih penasaran ada apa hubungan antara Kejora dan suaminya. Seharusnya bisa saja Kejora menghubungi suaminya kalau ada masalah. Tapi kenapa Kejora justru menderita seperti ini.
Haidar merasa sedikit menyesal menyusul Clarissa ke Singapura. Karena sesampainya di sana dia hanya berbaring saja di kamar hotel seorang diri. Sebab kekasihnya tersebut sibuk bersama - temannya.
Tiba - tiba saja Haidar teringat pada istrinya. Dia mengira - ngira apakah Kejora sedang melakukan apa?
Walaupun dia tidak mencintai Kejora tapi tubuh istrinya tersebut membuat dirinya benar - benar ketagihan. Bahkan saat dia tiduran seperti ini tubuhnya merasa butuh belaian.
Saat malam sudah larut Clarissa baru saja pulang ke kamar hotel.
"Maaf sayang, tadi terlalu asyik jadi lupa waktu," ucap Clarissa dengan nada manja.
"Tak apa," jawab Haidar menahan kesal.
Clarissa yang tahu jika kekasihnya ngambek langsung menindih tubuh Haidar dan mencium bibir kekasihnya mesra.
Saat itu Haidar merasa terkejut, sebab ciuman yang diberikan Clarissa dan Kejora memiliki sensasi yang berbeda.
"Apa karena aku sudah bertahun - tahun merasakan bibir Clarissa. Jadi saat merasakan yang baru aku jadi seperti ini?" batin Haidar.
Tapi saat hatinya bertanya - tanya orang yang dicintainya masih saja Clarissa.