10. Dewa Penolong

1249 Words
Blue Sea baru bangun pukul sembilan siang, matanya masih merasa pedih padahal semalam tidurnya cukup lama. Setelah mandi Blue Sea mengintip keluar, akan tetapi pintu kamar Kejora masih tertutup rapat. "Apakah gadis itu belum bangun? Atau sudah pergi? Ah, sudahlah… Kenapa aku tiba - tiba saja memikirkan dia. Bukankah dia sendiri bilang kalau sudah menikah? Tapi kenapa dia selalu bepergian sendirian dan bahkan mau saja kemarin bermainlah denganku?" batin Blue Sea dengan banyak Pertanyaan yang tidak bisa terjawab. Blue Sea menjadi resah sendiri, sebab gadis yang bernama Kejora tersebut begitu misterius. Tiba - tiba saja ponsel miliknya berbunyi lagi, rupanya dari papanya. Blue Sea dengan agak malas akhirnya mengangkat ponsel tersebut. "Ada apa, pa?" tanya Blue Sea. "Papa tahu kamu masih belum berminat menggantikan posisi papa, tapi setidaknya pulanglah sebentar! Papa merindukanmu," bujuk papanya Blue Sea. "Pa, biarkan aku mengembara dulu. Setelah aku tahu apa yang aku inginkan aku akan pulang ke rumah," jawab Blue Sea langsung mematikan ponselnya. Rumah? Blue Sea jadi teringat ucapan Kejora semalam. Ada banyak tempat yang banyak di singgahi tapi tidak ada rumah untuk kembali. Rumah yang sesungguhnya bukan hanya sekedar bangunan tinggi, tapi juga sesuatu untuk menjatuhkan segara tumpuan hidup. Selama ini Blue Sea belum pernah merasakan bagaimana rasanya menaruhkan harapan. Sebab dia bisa mendapatkan apapun dengan mudah. Dan sesuatu yang mudah didapatkan akan terasa cepat membosankan. "Sebaiknya aku jalan - jalan saja mencari pemandangan yang bagus," kata Blue Sea sambil mengambil tas nya. Saat berada di titik puncak kenikmatan Haidar mengerang penuh kepuasan, dia lepaskan seluruh cairan cintanya di rahim Kejora. Saat itu tanpa sadar Haidar memeluk Kejora penuh gairah, dan beberapa kali dia mencium kening istrinya tersebut. Kejora tersentak kaget, sebab perlakuan suaminya itu semakin manis. Mereka berdua masih tiduran dalam posisi telanjang, Haidar juga tiduran di kedua p******a Kejora yang berisi. Karena kelelahan keduanya sama - sama tertidur pulas. Di luar pemilik perahu yang juga mengemudikan perahu tersebut hanya tersenyum - senyum saja. Sebab sebagai orang yang pernah merasakan jadi pengantin baru pasti masih dalam puncak semangat untuk memadu kasih. Pemilik perahu tersebut memilih berhenti di tengah lautan karena tidak tahu tujuan kemana. Dua jam kemudian Haidar dan Kejora dibangunkan oleh suara nada dering ponsel yang ternyata milik Haidar. Pemuda itu langsung saja meraih ponsel tersebut dan mengangkatnya. "Ada apa sayang? Apa sudah sampai di Singapura?" tanya Haidar mesra. "Iya, sudah dari tadi. Tiba - tiba saja aku merindukanmu," jawab Clarissa. "Lalu apa kamu ingin aku ke sana sekarang juga?" tanya Haidar. "Kalau aku bilang iya, apa kamu mau?" tanya Clarissa dengan nada manja. "Baiklah, tunggu aku ya?" ucap Haidar santai. "Benarkah?" pekik Clarissa senang. "Apa aku pernah berbohong padamu?" goda Haidar. "Pernah, bahkan sering. Dulu sewaktu SMA katanya hanya mau menikahiku," rengek Clarissa. "Maafkanlah, kalau soal ini bukan kehendakku. Kuharap kamu bisa mengerti," pinta Haidar. "Iya, yang terpenting hatimu hanya untukku," jawab Clarissa. "Kalau begitu kamu istirahat dulu, sayang. Akun akan bersiap - siap dulu," balas Haidar. Kejora sebenarnya mendengar semua obrolan mereka, karena posisi Haidar juga masih berada di sampingnya. Namun, Kejora pura - pura tidur karena tidak ingin terlihat menyedihkan. "Aku kira sikapnya itu mulai berubah, ternyata sama saja. Aku hanya alat pemuas nafsu belaka. Tapi aku harus tegar, karena jika nanti aku hamil masa depan anakku yang dipertaruhkan. Jangan sampai anakku nanti mengalami hal yang sama sepertiku. Terlahir tanpa kasih sayang dari orang tua," batin Kejora menahan pilu. Kejora memejamkan matanya, tapi dia bisa merasakan saat Haidar bangun secara perlahan - lahan. Setelah memakai baju lagi suaminya tersebut keluar dari kamar dan beberapa saat kemudian Kejora merasakan jika perahunya bergerak. Kejora tahu jika perahu ini pasti bergerak pulang, sebab tujuan mereka ke sini hanya demi mendapatkan sebuah foto yang bagus untuk dikirim kepada papa mertua. Kejora segera memakai bajunya dan mengambil buku di tasnya. Dear Diary Beginikah nasibnya diriku? Diinginkan hanya saat dibutuhkan. Kebahagiaan yang kukira sudah di depan mata, ternyata begitu jauh saat kudekati. Aku hanya meyakinkan pada diriku sendiri … ingin kulihat sampai batas mana aku mampu bertahan. Aku ingin menantang diriku sendiri, sampai batas kelelahan. Kejora memang tidak akan menyerah begitu saja, biarpun dia sendiri juga belum bisa mencintai suaminya tapi dia sadar jika dia dan Haidar sudah terikat dalam pernikahan. Kejora tetap tiduran sampai perahu mendarat di tepi pantai. Kemudian Haidar masuk dengan wajah datar dan tanpa perasaan bersalah. "Kamu bisa pulang sendiri kan? Aku ada urusan sebentar," kata Haidar. "Iya," jawab Kejora. Setelah itu Haidar pergi begitu saja. Kejora menjadi semakin kesal. "Dia benar - benar menyebalkan. Demi kekasihnya dia sampai tega meninggalkan istrinya di tempat asing ini," umpat Kejora. Beberapa detik kemudian Kejora ingat jika dia sama sekali tidak membawa uang. Dia langsung melesat untuk mengejar suaminya. Mana mungkin nanti Kejora pulang sendirian dan jalan kaki menuju hotel. Namun sekuat tenaga Kejora mengejar akan tetapi suaminya sudah terlihat jauh, saat Kejora berteriak - teriak memanggil nama Haidar tapi suaminya masuk ke taxi dan berlalu pergi. Sebenarnya saat baru masuk mobil Haidar samar - samar mendengar istrinya memanggil namanya, tapi karena ada telepon dari kekasihnya dia memilih untuk mengangkat panggilan telepon Clarissa dan menyuruh pak sopir untuk menjalankan taxinya. Kejora masih berusaha berlari sambil berderai air mata, betapa kejamnya suaminya tersebut. Dia yang masih merasa remuk tubuhnya setelah diharap suaminya habis - habisan tadi kini harus berjalan pulang menuju hotel. "Sial sekali, kenapa aku menyimpan uang tersebut di lipatan baju," rengek Kejora yang sudah tidak mampu berjalan lagi. Sampai petang Kejora belum sampai juga, dia masih berada di pinggir jalan seorang diri. Tiba - tiba saja dia teringat Blue Sea. Seandainya dia punya nomor ponsel pemuda bermata biru tersebut dia ingin sekali meminta bantuan. Karena hanya pemuda itu saja yang dikenalnya di pulau Bali ini. Kejora merasa kelaparan, dan kakinya kram. Hatinya masih bisa bersabar tapi raganya yang sudah tidak mampu. Jika dia saat ini istirahat takutnya nanti akan tidur di jalanan seperti gelandangan. Blue Sea tengah berada di dalam perjalanan pulang menuju hotelnya. Saat tiba - tiba matanya melihat sosok tubuh perempuan dari belakang yang mirip dengan Kejora dia segera meminta solo taxi untuk menghentikan mobilnya. Blue Sea keluar dan mendekati gadis tersebut, tapi saat gadis tersebut menoleh ke belakang dan rupanya benar - benar wajah Kejora. Blue Sea kaget, kenapa gadis itu bisa berada di jalanan dalam kondisi yang berantakan dan mata membengkak merah. Kejora sendiri begitu tahu ada Blue Sea di belakangnya seolah merasa melihat seorang malaikat penolong. Kejora langsung berlari dan memeluk Blue Sea. Blue Sea kaget, semalam saat dia memeluk Kejora dia sudah menyatakan pukulan. Tapi kenapa sekarang justru Kejora yang duluan memeluknya. "Haruskan aku memukulmu karena berani - beraninya memelukku?" canda Blue Sea. Tapi kemudian Kejora malah rubuh dan tak sadarkan diri. Untung saja saja itu Blue Sea sigap menangkap tubuh lemah tak berdaya itu. Blue Sea bingung mau membawa Kejora kemana. "Ya ampun! Bagaimana ini?" Blue Sea segera mengangkat tubuh wanita yang tidak diketahui namanya tersebut menuju taxi. Setelah sampai di hotel Blue Sea masih menggendong Kejora. Tadi dia sempat meminta bantuan pada karyawan untuk memanggilkan dokter. Namun, begitu sampai di depan kamar milik Kejora akan tetapi tidak ada kunci kamar. Dengan terpaksa Blue Sea membawa Kejora menuju kamarnya sendiri. Blue Sea memposisikan tubuh gadis tersebut agar bisa tidur nyaman. Saat melihat leher Kejora yang penuh tanda merah seketika hati Blue Sea memanas hatinya. "Kenapa dengan lehernya? Seperti bekas cupang." Blue Sea tiba - tiba saja menjadi frustasi. "Apakah kamu benar - benar sudah menikah? Tapi kenapa kamu berjalan seorang diri tadi? Atau kamu tadi mengalami hal yang buruk?" Tiba - tiba saja Blue Sea merasakan perasaan yang tidak enak. Rasanya tidak terima jika memang gadis yang kini tidur di ranjangnya mengalami hal buruk tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD