9. Awal Perjuangan Kejora

1223 Words
Kejora tidak tahu akan diajak kemana oleh Suaminya, dia hanya pasrah saja. Kejora justru sibuk bermain dengan Hanphone jadulnya, jaman sekarang disaat anak TK sudah tahu berbagai media sosial sedangkan Kejora sama sekali tidak punya. Haidar melirik istrinya dengan terkejut, sebab masih saja ada orang yang membawa handphone kuno. "Apa yang dilakukan dengan Hanphone seperti itu?" batin Haidar. Sedangkan Kejora senyum - senyum sendiri, kadang juga tampak kesal ataupun senang. Kelakuan Kejora membuat Haidar menjadi semakin penasaran. "Apakah kamu sedang asyik kirim pesan dengan kekasihmu?" tanya Haidar. Kejora terkejut, karena tiba - tiba saja suaminya menanyakan sesuatu tentang kehidupan pribadinya. "Aku hanya bermain permainan ular saja," jawab Kejora polos. "Astaga… Gadis dari jaman mana ini?" batin Haidar kaget. Kejora sendiri sudah terlalu asyik dengan permainannya, sebab jika semakin panjang maka harus semakin hati - hati dan butuh konsentrasi lebih tinggi. Haidar melirik istrinya dengan sejuta pertanyaan. Apakah Kejora sudah memiliki kekasih sebelumnya? Baru saja mulutnya mau membuka tapi ponsel miliknya berbunyi. Haidar langsung mengangkatnya karena panggilan tersebut dari Clarissa. "Pagi, sayang?" sapa Clarissa manja. "Pagi juga. Wah… Sepertinya kamu lagi bahagia," jawab Haidar senang sebab kekasihnya sudah tidak marah lagi. "Iya, hari ini aku di ajak teman - teman travelling di Singapura," kata Clarissa riang. "Baiklah, sekarang juga aku akan transfer uang padamu. Bersenang - senanglah di sana ya?" ucap Haidar. "Thanks, Baby. Aku tutup dulu mau siap - siap ya?" pamit Clarissa. "Iya, emmuachhh…" balas Haidar tanpa memperdulikan jika istrinya berada di sampingnya. Kejora mendengar, tapi dia pura - pura tidak tahu dan memang tidak mau tahu. Karena dia sadar tidak ada tempat baginya di hati suaminya. Setelah telephone ditutup Haidar memencet angka dengan nominal yang tinggi untuk ditransfer pada kekasihnya. Setelah itu Kejora dan Haidar saling diam lagi, akan tetapi tak lama kemudian Haidar beralih menatap istrinya. "Kejora, Apa kamu tidak marah aku berhubungan dengan wanita lain?" tanya Haidar. "Untuk apa marah, karena kamu juga tidak akan mendengarkan kata - kataku," jawab Kejora fokus dengan permainannya. "Baguslah, kamu harus sadar posisimu. Status istri memang milikmu. Tapi yang bertahta dihatiku hanyalah Clarissa." balas Haidar santai. "Tidak perlu kamu ulangi berkali - kali, aku sudah tahu dan aku juga tidak akan mau membahas hal yang tidak penting ini," jawab Kejora berpura - pura tegar. Sangat dusta, biarpun Kejora tidak memiliki cinta pada suaminya tapi saat ini dialah tempatnya untuk bersinggah. Kejora juga wanita biasa yang ingin hidup bahagia layaknya orang lain yang diperhatikan suaminya. Mereka saling diam membisu lagi, Kejora merasa terhina dan malu. Ingin rasanya dia menangis. Akan tetapi Kejora tidak mau terlihat lemah dihadapan Haidar. Akhirnya mereka sampai juga di pantai, di sana Haidar mengajak Kejora masuk ke perahu yang lumayan besar. "Ayo kita segera berfoto! Setelah aku akan tidur!" ajak Haidar tanpa merasa sungkan. Kejora hanya mengangguk saja. Dengan wajah yang dipasang seceria mungkin keduanya saling berfoto mesra. Bahkan Haidar tanpa basa - basi memeluk pinggang istrinya dan mencium kening Kejora. Kejora terkejut, alangkah bahagianya jika semua itu adalah kenyataan. Menjadi pasangan yang saling mencintai dan mengharapkan. Namun hatinya terasa hampa dan kesepian, mana mungkin dirinya bisa mencintai seseorang yang tak pernah memberikan kesempatan baginya untuk jatuh cinta. Setelah mendapatkan foto yang banyak Haidar meninggalkan Kejora tanpa pamit. Haidar sengaja memesan perahu mini yang ada kamarnya. Sehingga dirinya bisa tiduran di dalamnya. Kejora sangat kesal, sungguh menyebalkan sekali suaminya tersebut. Setelah mendapatkan apa yang di mau kemudian langsung membuangnya seperti ampas. "Sendirian aku juga bisa hidup bahagia," batin Kejora. Kejora menatap langit dan lautan yang berwarna biru. Tiba - tiba dia teringat dengan pemuda asing yang pernah membuat dia merasa senang. "Blue Sea, bukankah artinya laut biru ya? Aku penasaran kenapa orang tuanya bisa memberikan nama itu," batin Kejora. Yah, seandainya saat ini dia berpergian dengan pemuda itu pasti akan terasa berbeda. Satu jam tertidur Haidar sudah bangun lagi, dia mendapatkan telephone dari papanya. "Haidar, mana foto kalian?" tanya Imron tanpa basa - basi. "Iya, papa. Akan aku kirimkan foto kita hari ini," jawab Haidar merasa lega. "Jangan lupa besok kirimkan lagi ya? Papa berharap setelah kalian bulan madu nanti akan segera mendapatkan kabar baik. Papa sudah sangat ingin menggendong cucu sebelum papa meninggal," bujuk Imron. "Papa jangan berkata seperti itu lagi! Sekarang papa istirahatlah, aku akan menemani Kejora terlebih dahulu," kata Haidar. "Memangnya sekarang Kejora sedang apa?" tanya Imron penasaran. "Dia sedang memancing ikan, papa" jawab Haidar berbohong. "Baiklah, kalau begitu selamat bersenang - senang. Papa tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Imron tertawa senang. "Iya, papa," jawab Haidar senang. Memang, semenjak Imron mengidap penyakit jantung papanya Haidar tersebut jarang tersenyum karena selalu merasa jika hidupnya sudah tidak akan lama lagi. Semenjak itu pula, Haidar menggantikan posisi papanya sebagai kepala perusahaan keluarganya. Meskipun Haidar sangat mencintai Clarissa tapi dia tetap memprioritaskan papanya. Baginya papanya adalah segalanya. Karena selama ini yang sudah memberikan dirinya kehidupan adalah orang tuanya. Haidar ingin tidur tapi sudah tidak bisa lagi. Kemudian dia mengintip ke jendela kaca. Dia penasaran juga dengan apa yang sedang dilakukan oleh istrinya. Matanya langsung tertegun melihat Kejora sedang berdiri dan bersandar pada besi pinggiran kapal. Sehingga posisi Kejora agak membungkuk. Karena angin yang bertiup kencang sampai gaun yang dipakai Kejora berkibar menyingkap tak beraturan. Saat itu paha mulus istrinya terlihat jelas. Dan seketika barang miliknya langsung menegang. "Sial… Kenapa wanita culun itu bisa dengan mudah membuat tubuhku bereaksi seperti ini," batin Haidar kesal. Dia sudah tidak mampu menahannya, karena sangat menyiksa. "Bukankah papa minta cucu," batin Haidar langsung berdiri dan menarik tangan Kejora secara tiba - tiba. "Ada apa?" tanya Kejora kaget. "Masuklah!" kata Haidar mendorong Kejora masuk ke kamar yang tidak besar itu. "Kenapa kamu mendorongku kesini?" tanya Kejora marah. "Papa minta cucu," jawab Haidar dingin. "Kalau hanya cucu kamu juga bisa memberinya dengan kekasihmu kan? Kenapa harus denganku?" Pekik Kejora. "Kamu istriku! Kamulah yang harus melahirkan anakku!" jawab Haidar sambil mencium bibir Kejora dengan paksa. Kejora sangat marah dan merasa tidak adil. Sebab setiap saat dia mengingatkan tentang statusnya yang tidak ada artinya bagi Haidar. Dan setelah itu mengingatkan juga bagaimana tanggung jawab seorang istri. "Sungguh tidak adil!" teriak Kejora. "Itu sudah menjadi resiko kamu menjadi istriku," kata Haidar. "Aku tidak pernah mau menjadi istrimu! Kalau aku bisa, saat ini juga aku ingin bercerai darimu dan pergi sejauh mungkin," teriak Kejora penuh amarah. Baru kali ini Kejora berani melampiaskan kemarahannya. Akan tetapi semakin Kejora menolak membuat Haidar semakin ingin memakannya. Haidar tak peduli dengan umpatan istrinya, dia terus saja mencium secara paksa dari bibir dan seluruh tubuh Kejora penuh birahi. "Baiklah, aku akan melahirkan anakmu! Tapi jangan lakukan disini. Aku tidak enak dengan pemilik perahu ini," kata Kejora memohon. "Dia tidak akan tahu apa yang sedang kita lakukan, lagi pula seandainya tahu juga tidak masalah. Karena dia tahu kita adalah pengantin baru," jawab Haidar melanjutkan aksinya. Kejora sudah tak berdaya mendapatkan berbagai serangan yang juga membuat dirinya mulai merasakan sensasi kenikmatan. "Kalau memang tidak bisa terlepas dari rantai pernikahan ini, apakah sebaiknya aku berusaha mengambil hatinya? Bagaimanapun juga nanti aku harus hamil. Bagaimana anakku nanti jika ikutan tersiksa karena hubungan yang tidak jelas ini," batin Kejora. Kejora mulai membalas ciuman Haidar, wanita itu ingin memberikan pelayanan terbaik sehingga nanti suaminya bisa berubah dan menerimanya secara perlahan. Mau tak mau Haidar juga merasa kelojotan, tidak disangka jika Kejora mampu membuat dirinya sampai ketagihan seperti ini. "Wajahmu cantik, aroma tubuhmu wangi, masakanmu juga enak. Tapi aku tetap mencintai Clarissa," batin Haidar. Namun, sedetik kemudian wajah kekasihnya lenyap tergantikan oleh setiap kenikmatan yang diberikan oleh istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD