Sesampainya Kejora dan Blue Sea di hotel sudah larut malam, mereka yang memiliki kamar bersebelahan berjalan beriringan dengan tawa yang renyah.
"Hari ini aku dapat gambar yang bagus - bagus banyak sekali," ucap Blue Sea senang.
"Seharusnya kamu memotret wajahmu sendiri saat ketakutan di dalam rumah hantu itu," sindir Kejora.
"Sial, jangan bicarakan itu lagi. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan," balas Blue Sea membela diri sendiri.
"Kamu benar, tapi sebagai seorang lelaki sangat memalukan jika seperti itu. Untung saja kamu pergi denganku, coba jika pergi dengan wanita yang sedang kamu kejar akan gagal total," kata Kejora tertawa.
"Percayakah? Jika seumur hidup aku belum pernah mengejar wanita?" ejek Blue Sea membanggakan ketampanannya.
"Mana aku tahu, lidah tidak memiliki tulang yang pandai bersilat," jawab Kejora ketus.
"Baiklah, aku kan hanya orang asing bagimu! Jadi kamu tidak akan percaya pada ucapanku. Ayo sebaiknya kamu istirahat, pasti lelah sekali kan?" goda Blue Sea menekankan kata terakhirnya.
Kejora kesal sekali, dia memang sangat kelelahan.
Blue Sea langsung masuk ke kamarnya sambil tertawa puas, sedangkan Kejora masih mematung di depan kamarnya sendiri.
"Biarpun kakiku sangat pegal, tapi aku bahagia sekali. Baru kali ini aku bisa tertawa tanpa tekanan," batin Kejora sambil mencari kunci kamarnya.
Namun, betapa terkejutnya jika kamarnya sudah tidak terkunci.
"Padahal tadi pagi aku sudah menguncinya, apa di dalam ada Haidar?" batin Kejora panik.
Dan benar saja, saat dia masuk ke dalam kamar lampu sudah menyala. Sedangkan Haidar sedang rebahan di ranjang sambil memainkan ponselnya.
Kejora melangkah masuk secara perlahan, dia begitu takut jika ketahuan bepergian dengan pemuda lain. Namun jangankan marah, menyapa Kejora saja tidak.
"Sebaiknya aku berpura - pura bersikap biasa saja, lagi pula dia juga tidak peduli padaku," batin Kejora langsung mengambil baju ganti. Kemudian masuk ke kamar mandi.
Kejora sengaja berlama - lama mandinya, berharap setelah keluar suaminya sudah tertidur.
Akan tetapi saat Kejora membuka pintu kamar mandinya Haidar masih terjaga dan seperti posisi semula.
Kejora merasa bimbang, dia tidak tahu akan tidur di ranjang atau di sofa.
"Apa sebaiknya aku tidur di sofa saja ya? Sepertinya dia sama sekali tidak bisa menerima kehadiranku. Nyatanya sejak menikah dia masih bersikap acuh padaku," batin Kejora ragu - ragu sambil merebahkan diri di sofa.
"Dari mana saja kamu?" tanya Haidar dingin tanpa menoleh ke arah Kejora.
"Jalan - jalan," jawab Kejora juga melakukan hal yang sama, bersikap dingin.
"Papa minta foto kita berdua yang sedang berbulan madu, besok pagi kita akan jalan - jalan," kata Haidar dingin.
"Ya," jawab Kejora tak bersemangat.
Haidar kesal juga diperlakukan seperti itu oleh istrinya. Apalagi saat Kejora justru tidur di sofa.
"Bukankah ini yang aku inginkan? Tidak ada kedekatan apapun di antara kita. Tapi kenapa aku tidak terima. Seharusnya akulah yang mengabaikan dia," batin Haidar kesal.
Mereka berdua saling membisu di ruangan kamar itu, padahal mereka adalah sepasang suami istri. Namun, diantara mereka tidak ada hubungan yang hangat.
Karena kelelahan Kejora sudah tertidur duluan, sedangkan Haidar masih saja bengong dengan perasaan yang tersiksa.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼ðŸŒ
"Aku merasa jengah sekali tinggal dengan wanita ini, sampai kapan aku bisa bertahan? Aku mencintai Clarissa dan hanya ingin hidup bersamanya selamanya," batin Haidar sambil memanggil kekasihnya lewat telepon.
Akan tetapi Clarissa tak kunjung juga mengangkat teleponnya. Sebab tadi mereka sempat bertengkar karena Haidar izin menginap bersama Kejora.
Haidar sangat memahami perasaan kekasihnya tersebut, seandainya dia yang diperlakukan seperti ini pasti juga akan terluka.
Menjelang pagi Haidar masih belum bisa tidur, akan tetapi Kejora masih pulas dengan ekspresi yang imut seperti bayi.
"Sebenarnya kamu cantik juga, tapi sayangnya hatiku hanya milik Clarissa. Kedatanganku sungguh tidak tepat," batin Haidar.
Pemuda itu lalu bangkit dan mengambil selimut yang terjatuh di lantai. Tiba - tiba saja ada perasaan ingin menyelimuti istrinya. Haidar ragu, tapi pada akhirnya dia tetap menyelimuti Kejora juga.
Kejora tidur dengan posisi miring, menampakkan telinga dan leher yang mulus. Haidar teringat kembali saat dia mencium bagian tersebut. Saat itu Kejora hanya memejamkan mata dengan wajah yang memerah.
"Tidak, kenapa hasrat ini begitu kuat? Padahal selama ini aku mampu menahannya saat bersama Clarissa," batin Haidar memilih untuk pergi agar bisa mendinginkan birahinya.
Haidar benar - benar frustasi, hatinya menolak tapi tubuhnya bereaksi. Mungkin karena dia pernah melakukan hubungan badan dengan Kejora jadi ingin merasakan lagi.
"Tidak boleh! Aku jangan sampai melukai Clarissa lagi."
Sekuat tenaga Haidar menahan gejolak dalam dirinya, akan tetapi saat membuka pintu secara tidak sengaja dia bertabrakan dengan Kejora.
"Ahh…" teriak Kejora merdu.
Seketika Haidar tertegun, rambut Kejora yang acak - acakan serta teriakan barusan membuat nafsunya tidak terkendali.
"Maaf, aku kebelet pipis," ucap Kejora sambil masuk ke kamar mandi dan mendorong tubuh suaminya secara paksa.
Setelah itu Kejora menutup pintunya rapat - rapat. Gadis itu begitu ketakutan melihat ekspresi aneh pada wajah suaminya.
"Kenapa seolah - olah dia hendak memakanku hidup - hidup?" batin Kejora merinding ngeri.
Sedangkan di luar Haidar meringis karena barang miliknya sudah mengeras.
"Sial! Aku tidak tahan lagi," batin Haidar sambil memukul tembok beberapa kali.
Antara kesetiaan pada Clarissa dan keinginan birahinya pada Kejora. Haidar memukul tembok beberapa kali, berharap luka di tangannya bisa membuat dia segera sadar.
Cukup lama Kejora mandi, saat dia keluar suaminya sudah memakai pakaian rapi.
"Apa kamu tidak ada pakaian yang bagus? Bikin malu saja," sindir Haidar dingin.
Kejora tersenyum, dia menertawai ucapan suaminya. Jangankan memiliki baju bagus, untuk kebutuhan pribadinya dia seringkali harus menabung dari uang jajan ataupun bekerja terlebih dahulu.
"Ayo, kita cari baju dulu," ajak Haidar.
"Ya," jawab Kejora santai.
Saat Kejora keluar dia milirik ke kamar Blue Sea, akan tetapi pemuda bermata biru tersebut sepertinya belum bangun.
"Mungkin dia sudah lelah," batin Kejora menahan tawa.
Mengingat semua tentang Blue Sea membuat Kejora seketika senang.
Haidar menoleh ke arah istrinya yang senyum - senyum sendirian.
"Apa istriku ini bahagia ya mau aku belikan baju? Aku tidak boleh terlihat baik. Nanti bisa - bisa dia salah paham dan mengira aku perhatian padanya. Bisa gawat nanti, aku akan lebih sulit menyingkirkan dia dari hidupku," batin Haidar tak suka.
"Kamu ingat ya! Aku melakukan ini semua karena tidak mau dipermalukan oleh penampilanmu," tegas Haidar.
"Ya, aku tahu. Dan aku juga tidak meminta semua ini," jawab Kejora tenang.
Haidar berlalu tanpa menghiraukan istrinya tersebut. Dia semakin heran terbuat dari apakah hati Kejora sehingga sama sekali tidak merasa keberatan.
Hanya saja, Kejora berpura - pura tegar. Sesungguhnya dirinya ingin menangis. Wanita mana di dunia ini yang rela diperlakukan oleh suaminya tersebut seperti ini. Tentu saja Kejora juga berharap seperti perempuan lain yang dimanjakan serta di beri kebahagiaan.
Kejora jadi merasa heran, kemarin bersama Blue Sea Dirinya bisa mencurahkan segala perasaannya. Namun, di depan Haidar dirinya ingin selalu tampak kuat dan bisa seorang diri menghadapi semua ini.
Kejora melangkah di belakang Haidar, sampai mereka naik taxi dan berhenti disebuah butik.
"Pilihlah sesuka hatimu!" perintah Haidar.
Kejora patuh, dia meminta bantuan pada pelayan untuk memilihkan yang sekiranya pantas untuk dirinya. Sebab, Kejora memang tidak punya keahlian dalam hal mempercantik diri.
Pelayan memilihkan Kejora gaun berwarna biru muda. Kejora pertama kali melihat langsung menyukainya.
Setelah di coba, ternyata sesuai dengan ukuran tubuhnya. Hanya saja Kejora merasa risih sebab di tas lutut. Selama ini dia tidak pernah memakai pakaian mini yang menampakkan pahanya.
Sedangkan Haidar terpana dengan bentuk tubuh Kejora yang begitu bagus. Biarpun sudah dua kali Haidar menyetubuhi istrinya tapi saya itu dirinya terpengaruh oleh alkohol.
"Aku akan ganti sebentar," ucap Kejora.
"Jangan buang - buang waktu lagi!" jawab Haidar ketus.
"Sudahlah! Aku berpakaian seperti apapun juga tidak akan mempengaruhi keadaan. Lagi pula suamiku juga tidak akan pernah tertarik padaku. Dia sudah ada wanita yang segalanya jauh lebih dariku," batin Kejora pasrah.
Kejora langsung nyelonong pergi begitu saja, Haidar buru - buru membayar tagihan dan mengikuti istrinya dari belakang.
"Kita mau kemana?" tanya Kejora.
"Terserah kamu!" jawab Haidar.
"Jujur saja aku tidak berminat pergi kemanapun, bagaimana jika kamu bilang pada papa kalau aku tidak enak badan sehingga kita tidak pergi kemana - mana?" tanya Kejora serius.
"Jangan bodoh! Nyawa papa yang saat ini dipertaruhkan!" jawab Haidar kesal.
Kejora menarik napas berat, dia terpaksa mengikuti suaminya.
"Jalan - jalan? Tapi dalam suasana seperti ini?" batin Kejora menggerutu.
Kejora merasa sangat tidak nyaman dan tegang. Membayangkan saja sudah malas jika hanya ada kecanggungan di antara mereka.
"Haidar suamiku, tapi aku merasa asing padanya. Sedangkan Blue Sea adalah orang asing, tapi aku lebih merasa nyaman dengannya," batin Kejora.
Setelah mereka masuk lagi ke taxi yang tadi di pesan, dengan tanpa menoleh ke arah Kejora Haidar mengucapkan sesuatu yang membuat Kejora terpukul.
"Jangan salah artikan kebaikanku hari ini! Semua ini hanya kemauan papa. Aku tidak ingin kamu salah paham dan mengira aku memperhatikanmu," kata Haidar tajam.
"