7. Malam Yang Panjang

1499 Words
Malam ini Kejora melepaskan ekspresi yang sesungguhnya dari karakternya, dia berlarian ke sana - kemari melihat berbagai penjual makanan dan asessoris. Bahkan dia sampai lupa jika kepergiannya untuk membuat pemuda bermata asing itu kapok. Namun, jika di lihat dari wajah Blue Sea yang masih tersenyum hangat sama sekali tidak ada keluhan biarpun sudah berjalan sampai berjam - jam. Justru Blue Sea terus mengikutinya sambil sesekali memotretnya. Dari jarak Lima meter Kejora menatap tubuh tegap milik Blue Sea yang tengah mengarahkan kamera padanya. "Stop! Pertahankan posisi seperti itu!" teriak Blue Sea. Entah kenapa juga Kejora menuruti permintaan pemuda yang bersamanya. "Seandainya aku menikah dengan orang yang aku cintai mungkin saat ini orang yang akan menemaniku adalah suamiku sendiri. Sungguh malang, justru aku kini bersama pemuda asing sedangkan suamiku bersama kekasihnya. Takdir apa ini?" batin Kejora sambil melamun. Blue Sea yang melihat Kejora merenung langsung mendekat. "Kenapa? Apakah kamu kelelahan atau ingin sesuatu?" tanya Blue Sea. Kejora semakin berkaca - kaca. Sebab baru kali ini ada seseorang yang menanyakan kabarnya ataupun perasaanya. Tanpa sadar gerimis turun rintik - rintik ke bumi. Kejora menengadahkan wajahnya ke atas langit. Air mata yang sedari tadi di pendam dia tumpahkan seiring tetesan air hujan yang mengalir di wajahnya. "Kejora! Ayo kita berteduh!" teriak Blue Sea. Akan tetapi Kejora tidak juga merespon, dia begitu nyaman dengan posisi seperti itu. "Biarlah… Biarlah hujan ini mengiringi air mataku ini. Sebab besok aku tidak akan punya kesempatan untuk menangisi kepedihan dalam hidupku," batin Kejora. Kejora sedari kecil selalu bersikap seolah semuanya baik - baik saja. Padahal hatinya rapuh dan jiwanya butuh sandaran. Akan tetapi tidak ada satupun yang bisa memahami tentang dirinya. Hanya adiknya saja yang selama ini perhatian, akan tetapi Levian masih terlalu muda untuk mengerti arti kehidupan. Blue Sea melihat Kejora penuh rasa iba. Ada luka… yang sedang gadis itu sembunyikan. "Sepahit itukah hidupmu? Apa yang terjadi? Apa saja yang sudah kamu alami sampai kamu seperti ini? Aku ingin bertanya, tapi mengetahui namamu saja sangat sulit. Karena aku sadar aku hanyalah orang asing bagimu," batin Blue Sea menyesali kelemahan dirinya. Karena gerimis berganti hujan, Blue Sea menarik tangan Kejora dan mengajaknya berlarian menembus kabut malam. Kejora berada di selangkah di belakang Blue Sea dan menatap punggung pemuda itu. "Akankah kelak ada seseorang yang membawaku lari dari nestapaku?" batin Kejora semakin tersayat hatinya. Blue Sea mengajak Kejora mampir ke tenda. pemuda itu tidak sadar jika tenda yang dihampirinya adalah jalan masuk menuju rumah hantu. Baju mereka terkena tetesan air hujan, akan tetapi tidak sampai basah kuyup. Akan tetapi hujan menjadi semakin deras. "Dari pada kehujanan bagaimana kalau kita masuk?" tanya Kejora. "Apa kamu tidak takut?" tanya Blue Sea memastikan. "Kamu bercanda? Tidak ada hal yang aku takutkan di dunia ini," jawab Kejora santai. Memang benar, Kejora yang mengalami berbagai rintangan dalam menjalani kehidupannya membuat dia menjadi sosok gadis yang tegar dan pemberani. Akan tetapi justru Blue Sea yang terlihat ragu, pemuda itu sudah agak seram melihat patung pocong dan kuntilanak di sampingnya. "Jangan bilang kamu takut?" ledek Kejora. "Aku … " jawab Blue Sea malu. "Ayo dicoba dulu, masa iya lelaki kalah sama gadis kecil sepertiku," tantang Kejora. Karena tidak tahan di rendahkan seperti itu Blue Sea memberanikan diri sendiri untuk menerima tantangan Kejora. "Baiklah," jawab Blue Sea. Mereka membeli dua karcis, setelah itu mereka melangkah maju secara bersamaan. Baru masuk saja sudah ada kepala berambut panjang yang tiba - tiba muncul dari atas dan jatuh tepat di wajah mereka. Biarpun hanya sebuah patung akan tetapi Blue Sea langsung berteriak kaget dan menggenggam lengan Kejora dengan erat. Kejora sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman Blue Sea. "Hey, Sea. Kamu mencari kesempatan dalam kegelapan ya?" bentak Kejora. Blue Sea sangat senang mendengar Kejora memanggilnya dengan sebutan Sea, sebab dulu Mamanya juga memanggil begitu. Entah kenapa tiba - tiba Blue Sea merindukan mamanya yang sudah meninggalkannya sejak kecil. "Kamu ini seorang gadis atau bukan sih? Kenapa kamu sama sekali tidak takut?" ujar Blue Sea pura - pura kesal. "Kamu ini memalukan, sebagai lelaki sejati tapi penakut seperti ini!" sindir Kejora. Blue Sea diam, sebab dia memang takut dan ngeri. Apalagi hantu yang tiba - tiba muncul membuat dia berterima kaget. "Ahh… pocong!" Teriak Blue Sea kaget. Sebab tiba - tiba pocong boneka tersebut bergerak. "SEA! Semua itu hanya patung," ucap Kejora menahan amarah. Suara Kejora yang lembut membuat Blue Sea bergetar, pemuda itu benar - benar teringat mamanya. Tanpa sadar Blue Sea memeluk erat tubuh Kejora dan menghirup ubun - ubun gadis di sampingnya. Kejora kaget, dia tidak menyangka jika Blue Sea berani melakukan itu padanya. Walaupun sesungguhnya Kejora merasa tubuhnya menjadi hangat akan tetapi dia tidak rela dilecehkan. Apalagi dia seseorang yang sudah bersuami. Kejora mencubit pinggang Blue Sea dengan keras, membuat pemuda itu berteriak kesakitan. "Maaf... Aku hanya takut saja!" teriak Blue Sea. "Dasar m***m! Semua itu hanya akal - akalan kamu saja kan? Menyesal aku masuk ke sini bersamamu," bentak Kejora. "Hey, bukankah kamu sendiri yang mengajak aku ke sini?" balas Blue Sea tidak terima di sebut m***m. "Tapi kamu kenapa tadi mencium rambutku?" teriak Kejora tidak terima. "Siapa yang mencium rambutmu? Aku reflek karena takut saja! Lagi pula jika aku akan melakukan hal seperti itu pasti mencari gadis yang cantik dan sexi," jawab Blue Sea tidak mau kalah. "Hallah…" dengus Kejora kesal. "Ketampanan ku ini setara dengan model papan atas, masa iya aku mendekati seorang gadis dengan cara memalukan seperti ini. Sungguh bukan gayaku," kata Blue Sea ketus. "Sudah diam!" Ayo cepat kita keluar," ajak Kejora kesal. Rupanya terowongan panjang di dalam rumah hantu tersebut masih panjang. Blue Sea tak henti - hentinya berteriak kaget dan memeluk Kejora. Setelah keluar dari ruangan tersebut berubah menjadi terang. Kejora langsung memukul lengan Blue Sea berkali - kali. "Hey, kenapa kamu memukulku?" tanya Blue Sea mencoba menghindar. Akan tetapi Kejora masih saj terus memukulnya. "Kedua tanganmu ini memang pantas di pukul! Berani sekali kamu memelukku sampai tujuh kali!" bentak Kejora marah. "Aku kan tidak sengaja," jawab Blue Sea membela diri sendiri. "Kalau tidak sengaja kenapa diulangi terus?" kata Kejora kesal. "Aku benar - benar tidak ada maksud jahat! Aku memang takut," jawab Blue Sea memohon ampun. Kejora berhenti memukul lengan kekar Blue Sea. Sebab justru tangannya sendiri yang kesakitan dan ngelu. "Kenapa tanganmu?" tanya Blue Sea beneran cemas. "Bilang saja mau mengejekku kan?" Bentak Kejora. "Hay gadis! Kenapa kamu selalu menuduhku yang enggak - enggak. Aku hanya khawatir padamu," jawab Blue Sea tegas. Seketika Kejora bengong, dia menatap wajah tampannya Blue Sea. "Khawatir? Benarkah? Bahkan kedua orang tuaku saja tidak pernah khawatir padaku," batin Kejora terpana. "Iya… Aku memang tampan! Wajar saja semua gadis senang menatapku seperti itu," sindir Blue Sea tertawa geli. "Kamu minta di pukul lagi?" teriak Kejora. "Aku beri tahu ya? Pukulanmu itu tidak akan bisa menyakiti tulang besiku. Justru nanti kamu sendiri yang akan kesakitan," jawab Blue Sea santai. Memang benar, di sini justru tangan Kejora yang kesakitan. Kejora memilih diam, dia tidak mau menyiksa diri sendiri. "Kalau diam seperti ini kamu tampak anggun! Dari tadi berterik - teriak terus sampai kupingku mau pecah!" sindir Blue Sea. Kejora sendiri tidak tahu mengapa dengan Blue Sea dia bisa mengungkapkan isi hatinya. Entah itu marah, senang, ataupun sedih. Sedangkan di depan orang lain saat marah dia tersenyum, saat bahagia juga tersenyum, apalagi sedih, kejora juga akan menunjukkan senyum palsunya. Hanya di depan Blue Sea saja Kejora bisa menangis, berteriak dan bahkan tertawa terbahak - bahak. Namun, jujur saja Kejora merasa lega saat bisa mengekpresikan apa yang memang saat ini dirasakan. "Hujan sudah reda, mau pulang apa bagaimana?" tanya Blue Sea. "Jam berapa sekarang?" tanya Kejora. "Sebelas malam," jawab Blue Sea. "Wah, rupanya kita sudah lama sekali di sini," ucap Kejora terkejut. "Hal yang membahagiakan memang akan terasa singkat," jawab Blue Sea. "Ayo kita pulang sekarang," ajak Kejora. Jalanan menjadi becek, mereka berdua harus berhati - hati kalau tidak bisa terpeleset dan terkena lumpur ataupun genangan air hujan. "Kamu tidak takut dimarahi suamimu?" tanya Blue Sea. "Tidak," jawab Kejora singkat. "Apa kalian sedang marahan?" tanya Blue Sea penasaran. "Tidak juga," jawab Kejora santai. "Kalau begitu kenapa bisa aneh? Seharusnya kamu mau kemana saja di antar suamimu bukan selalu sendirian," tanya Blue Sea tidak mengerti. "Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?" kata Kejora ketus. "Baiklah, aku hanya orang asing bagimu. Tapi aku sudah memelukmu tujuh kali," goda Blue Sea. "Kamu ini mau aku tendang ya?" teriak Kejora kesal. "Hati - hati, kalau terpeleset nanti kamu kotor seperti belut," kata Blue Sea sambil memegang tubuh Kejora yang tadi hampir oleng. "Mulutmu itu yang kotor!" bentak Kejora melepaskan tangan Blue Sea. "Iya... " jawab Blue Sea mengalah. Setelah sampai di jalan raya mereka segera naik ke taxi. Kejora merasa bahagia sekali, dia selama ini bagaikan merpati dalam sangkar. Keluar rumah hanya untuk sekolah dan bekerja. Selain itu dia akan menghabiskan waktu di rumah dan mengerjakan berbagai tugas sebagai seorang perempuan. Keluarganya benar - benar menganut adat kuno, sehingga di rumahnya yang cukup besar tidak ada pembantu. Bahkan sebagai seorang perempuan Kejora selalu merasa direndahkan. "Kenapa kamu melamun lagi?" tanya Blue Sea. "Aku hanya lelah," jawab Kejora. Dan akhirnya, yang benar - benar lelah dan capek adalah dirinya sendiri. Sebab Blue Sea masih tampak ceria dan bugar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD