Kejora bangun di sore hari, tubuhnya terasa segar bugar karena bisa mendapatkan istirahat yang cukup.
"Kenapa hidup sendirian seperti ini malah terasa lebih enak ya? Tidak ada yang mengatur ini itu, dan bisa bebas melakukan apapun juga yang aku mau," gumam Kejora pada diri sendiri.
Kejora segera mandi dan berganti pakaian, setelah itu dia segera keluar dari kamar untuk mencari udara segar.
Di sekeliling hotel rupanya juga menarik, sebab tempatnya sangat mewah. Kejora berjalan melewati pinggiran kolam renang.
Di sana ada banyak sekali pekerja yang berlalu lalang sedang mendekorasi tempat tersebut untuk pesta pernikahan. Pandangan mata Kejora tidak berkedip melihat lilin - lilin yang sedang di pasang membentuk hati. Hanya saja lilin tersebut belum dinyalakan.
"Kalau sudah dinyalakan pasti akan terlihat bagus," batin Kejora senang.
"Maaf, Nona. Tempat ini sedang di booking. Jadi Anda bekum diizinkan untuk datang kemari," tegur seorang karyawan dengan sangat sopan.
"Iya, maaf. Saya tidak tahu," jawab Kejora segera meninggalkan tempat itu.
Kejora memilih keluar dari hotel lagi sambil mencari jajanan di pinggir jalan. Dia dengan senang hati membeli sempol dan sosis goreng.
"Ini berapa satu tusuknya, Pak?" tanya Kejora bersemangat.
"Seribu," jawab bapak tua tersebut ramah.
"Kalau begitu beli sepuluh tusuk, yang ini sama yang ini," pinta Kejora sambil menunjukkan dua makanan yang sangat diinginkannya.
Sambil menunggu pesanannya di goreng Kejora duduk di emperan jalan dan membuka tasnya. Dia mengambil buku diary dan pulpennya.
Dear Deary
Sebahagiakah ini diriku? Hanya makan jajanan sosis dan sempol yang sejak masa sekolah aku ingin membelinya tapi kutahan. Hidupku sulit, jika tidak menabung sendiri aku tidak akan mampu untuk membeli buku.
"Ini, nona. Silahkan ambil saos sendiri!" kata penjual tua sambil menyerahkan bungkusan plastik berisi jajanan itu.
Kejora segera memasukkan bukunya dan menerima jajanan tersebut dengan senang hati. Dia tidak suka pedas, jadi dia tidak berminat mengambil saos.
"Terima kasih banyak ya, Pak. Tapi saya tidak suka pedas," jawab Kejora riang.
Bapak tua itu juga ikut senang dengan pelanggan yang terlihat begitu sumringah.
Ketika Kejora sedang asyik - asyiknya makan tiba - tiba saja sebuah taxi berhenti tepat di depannya. Kemudian keluar Blue Sea yang masih berpakaian sama seperti tadi pagi saat mereka berjumpa di pasar tradisional.
"Yo! Sendirian lagi, di mana suamimu?" sapa Blue Sea sok kenal.
Kejora diam saja tanpa menjawab, dia fokus menikmati jajanan yang terasa begitu enak.
Karena kesal Blue Sea merebut plastik yang sedang di pegang Kejora.
"Makanan menjijikkan seperti ini kenapa kamu suka?" goda Blue Sea sambil menenteng tinggi - tinggi di atas kepala Kejora.
Kejora melirik ke arah tempat penjual tadi mangkring, untung saja bapak tua itu sudah pergi. Kalau tidak betapa sakit hatinya penjual itu mendengar ucapan barusan yang keluar dari mulut pemuda asing.
"Dasar mulut kotor! Wajahmu itu lebih menjijikan dibanding Sempol ini," umpat Kejora.
"Apa? Sempol? Makanan apa itu?" tanya Blue Sea yang benar - benar baru kali ini melihat.
"Kasihan sekali! Rasanya saja tidak tahu tapi sudah berani berkomentar buruk!" ejek Kejora luas sekali.
"Kalau begitu aku akan mencoba satu saja," kata Blue Sea penasaran.
"Beli sendiri!" bentak Kejora tidak rela.
"Harganya berapa sih? Kenapa kamu pelit sekali," sindir Blue Sea.
"Bukan masalah harga, tapi aku tidak Sudi memberikan pada orang asing yang tidak memiliki etika sepertimu!" jawab Kejora ketus.
"Orang asing? Kalau begitu mari kita kenalan… Namaku Blue Sea, kamu siapa?" ucap Blue Sea tersenyum manis.
Wajah Blue Sea memang sangat tampan, hampir saja Kejora terlena.
"Aku tidak mau tahu siapa kamu! Kembalikan makanan punyaku," bentak Kejora.
Blue Sea memiliki tinggi badan 189 cm, sedangkan Kejora hanya 165 cm. Sangat sulit bagi dia untuk merebut makanan tersebut.
Karena kesal Kejora lebih memilih masuk lagi ke dalam hotel.
"Harganya hanya sepuluh ribu, aku tidak akan menukar dengan harga diriku," batin Kejora kesal.
"Nanti malam aku akan mengajak kamu makan sepuasnya," teriak Blue Sea tertawa senang.
Kejora sama sekali tidak menanggapi ucapan pemuda yang ternyata bernama Blue Sea tersebut.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Blue Sea merasa kepalanya pening, sejak tadi papanya menelpon terus tapi tidak di angkat. Dia berniat pulang dan ingin istirahat. Namun, begitu turun dari taxi dia langsung disuguhi pemandangan yang unik. Dia melihat gadis itu lagi tengah menikmati makanan di pinggir jalan.
Biasanya seorang gadis akan bersikap hati - hati agar tidak merusak citranya. Akan tetapi gadis itu justru sembarangan seperti seorang gelandangan.
Blue Sea masih mengingat wajah kesal kejora saat makanan yang sedang di pegang gadis tersebut direbutnya.
"Dia semarah itu hanya demi makanan seperti ini?" batin Blue Sea tersenyum geli.
Blue Sea tidak bisa berhenti tertawa dengan tingkah Kejora yang seperti anak kecil bertengkar hanya karena berebut makanan.
Tapi Blue Sea penasaran juga dengan apa yang kini sedang dipegangnya.
Dengan tanpa rasa bersalah dia memakan makanan milik Kejora.
"Lumayan, tapi lebih enak kalau pakai saos," batin Blue Sea.
Bertemu dengan Kejora Blue Sea merasa terhibur juga, sebab gadis itu satu - satunya yang tidak terpesona dengan dengannya. Biasanya gadis yang didekatnya akan langsung jatuh cinta dan tidak bisa menahan diri.
Blue Sea segera mandi, setelah itu dia melihat - lihat lagi hasil foto yang dia kumpulkan siang tadi. Sebenarnya dia hanya ingin melihat foto unik milik Kejora yang sedang naik Andong.
Saat petang Blue Sea baru beranjak dari kamarnya untuk makan siang. Lagi - lagi dia berpapasan dengan Kejora.
"Hay… Katanya sudah menikah, tapi kenapa kamu sendirian terus?" sapa Blue Sea.
"Bukan urusanmu!" jawab Kejora cuek.
Blue Sea tertawa, dia justru semakin penasaran ingin mendekati gadis tersebut.
"Siapa namamu?" tanya Blue Sea mengekori tubuh Kejora.
"Aku tidak mau memberi tahu," jawab Kejora judes.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika malam ini kita makan di luar?" ajak Blue Sea bermuka tebal.
"Aku tidak punya uang," balas Kejora tanpa ketus.
Dalam hati Blue Sea menahan tawa, dia tidak habis pikir dikacangin oleh gadis yang berpenampilan biasa - biasa saja.
"Aku akan traktir sepuasmu," bujuk Blue Sea.
Kejora menoleh ke belakang dan menatap tajam mata Blue Sea penuh rasa kesal.
"Benarkah sepuasku? Kamu akan menyesal" sindir Kejora.
"Iya... Kamu akan makan semua seisi restoran aku tidak akan mengeluh," jawab Blue Sea.
Kejora berpikir sejenak.
"Dia sudah mengambil makananku! Malam ini aku harus balas dendam padanya! Tingkahnya juga sangat menjengkelkan sekali," batin Kejora penuh dengan rencana licik.
"Ayolah ikut aku!" kata Blue Sea sambil menarik lengan kejora secara paksa.
"Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri," protes Kejora.
Blue Sea segera melepaskan tangannya sambil memasang wajah tanpa dosa.
"Apakah kamu kesal padaku karena makanan tadi sore yang ku ambil?" tanya Blue Sea.
"Kamu tidak tahu apa - apa. Hal sekecil apapun terkadang sangat berarti bagi orang lain," jawab Kejora dingin.
Blue Sea sendiri kebingungan, dia tidak menyangka jika gadis tersebut beneran marah karena hanya sebuah jajanan murahan itu.
Sesampainya di depan hotel Blue Sea segera memesan taxi.
"Mau ke restoran yang mana?" tanya Blue Sea.
"Aku tidak nyaman, kita ke sebelah sana saja," jawab Kejora.
Kejora berpikir jika masuk ke restoran yang mahal tidak akan membuat pemuda itu jera, sebab jika dilihat dari penampilannya saja sudah jelas jika Blue Sea pemuda kaya.
"Pak, kita berhenti di sana saja!" perintah Blue Sea.
"Baik, Tuan," jawab Sopir taxi ramah.
Ternyata yang dimaksud Kejora adalah pasar malam. Di sana begitu ramai sekali sehingga berjalannya saja harus berdesak - desakkan.
Entah kenapa melihat keramaian ini Kejora begitu bahagia sekali.
"Aku mau kembang gula, jagung bakar, sosis bakar, martabak telur dan kebab," kata Kejora antusias.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu. Kamu ambil saja apapaun yang kamu mau, nanti aku yang bayar," teriak Blue Sea.
Kejora memanfaatkan kesempatan ini untuk bersenang - senang. Di sisi lain Blue Sea mengambil kameranya yang diletakkan di dalam tasnya.
Kejora terlalu asyik memesan ini dan itu, gadis itu tidak sadar jika sedari tadi di foto oleh Blue Sea.
Saat Kejora menatap dirinya, Blue Sea pura - pura mengambil gambar ke arah lain.
"Hay... Bayarlah!" Perintah Kejora.
"Sudah? Apa masih ada lagi?" tanya Blue Sea.
"Nanti kita lihat - lihat ada makanan apa lagi yang menarik," jawab Kejora senang.
"Ayo... Lanjutkan perjalanan lagi. Aku juga ingin memotret suasana malam yang ramai ini," jawab Blue Sea.
"Kamu belum makan kan?" tanya Kejora.
"Wihh... Kamu perhatian sekali padaku," goda Blue Sea.
"Aku hanya tidak ingin kamu pingsan di jalan, nanti aku yang repot," balas Kejora sambil memakan makanannya dengan lahap.
"Seandainya itu terjadi apa yang akan kamu lakukan?" tanya Blue Sea serius.
"Tentu saja meninggalkanmu, mana mau aku menggendongmu," jawab Kejora tertawa.
Blue Sea baru kali ini melihat gadis itu tertawa lepas, sangat cantik sekali.
"Kamu kejam sekali," kata Blue Sea pura - pura kecewa.
Blue Sea sama sekali tidak tahu siapa nama gadis yang kini ada di depannya. Akan tetapi dia percaya jika takdir pasti kelak akan bertemu lagi.
"Apa kamu sungguh tidak ingin memberi tahukan namamu?" tanya Blue Sea.
"Tidak, itu percuma saja. Setelah ini pasti kita tidak akan bertemu lagi dan akan saling melupakan," jawab Kejora.
"Apa rumahmu jauh?" tanya Blue Sea penasaran.
"Rumah? Bukankah rumah itu adalah tempat berlindung? Sayang sekali banyak yang bisa aku singgahi tapi tidak ada tempat untukku kembali," jawab Kejora menatap langit yang tinggi.