Kejora berlalu pergi menghindari pemuda tersebut, dia tidak ingin menjadi mangsa orang jahat. Bertemu beberapa kali merupakan suatu kebetulan yang patut dicurigai.
"Aku harus lebih berhati - hati, karena aku hanya seorang diri. Kalau bukan bergantung pada diri sendiri siapa lagi nanti yang akan menolongku," gumam Kejora.
Tiba - tiba ponsel miliknya berdering, dia segera mengangkat karena yang menelepon adalah adik laki - lakinya.
"Ada apa, Levian?" tanya Kejora lewat telepon.
"Bagaimana kabar kakak? Katanya sekarang sedang di Bali ya?" tanya Levian.
"Baik, kenapa memangnya?" tanya Kejora lagi.
"Bagaimana dengan suami kakak? Apakah dia baik terhadapmu?" tanya Levian cemas.
Kejora memang memiliki sedikit rasa iri pada adiknya yang mendapatkan perhatian lebih dari orang tuanya, tapi sebagai seorang kakak dia tetap menyayangi adiknya satu-satunya. Kejora tidak ingin adiknya yang masih remaja itu mengetahui kebenaran, karena untuk memikirkan pelajaran sekolah saja adiknya sudah kewalahan.
"Tentu saja baik, kakak cantik jadi suami kakak langsung menyukai. Ngobrolnya disambung nanti ya? Kakak mau bersenang - senang dulu dengan suami kakak. Jangan Lupa kamu harus giat belajar, sekarang sudah tidak ada lagi yang membantu kamu mengerjakan PR!" kata Kejora dewasa.
"Iya, kakak. Jangan lupa oleh - olehnya ya?" jawab Levian senang.
"Kalau kakak ingat loh," goda Kejora.
"Kakak mah payah, bilang saja tidak punya uang," balas Levian.
Kejora hanya tertawa dan segera menutup teleponnya.
Begitu ponselnya disimpan kembali di dalam tas kecil, tawa yang tadi menghiasi bibirnya lenyap seketika.
Dia meneruskan lagi melihat - lihat jualan yang di pajang di pasar tradisional tersebut. Walaupun hanya muter - muter tanpa membeli barang apapun dia merasa sudah terhibur.
Sinar mentari yang mulai terik membuat Kejora kepanasan, apalagi dia juga belum makan siang. Perutnya sudah melilit minta di isi.
"Sebaiknya aku makan di restoran hotel yang gratis saja. Uang ini akan aku simpan jika sewaktu - waktu nanti ada keperluan mendadak. Apalagi sekarang aku sudah tidak bisa bekerja lagi," batin Kejora sambil memanggil sopir andong.
Kejora yang ingin naik kendaraan tersebut akhirnya tercapai juga, angin yang berhembus membuat rambutnya panjangnya berkibar. Rasa gerah di tubuhnya juga mulai berkurang.
Sesampainya di hotel dia langsung makan dan rebahan di dalam kamarnya. Tak lupa juga dia mengambil buku diary untuk menceritakan isi hatinya.
Dear Diary
Terkadang setelah menikah seseorang masih bisa merasa kesepian...
Mungkinkah kelak aku bisa merasakan cinta?
Ataukah cinta itu seperti yang dikatakan dalam sebuah novel?
Berdebar saat bertemu, rindu saat berpisah, sakit saat pujaan bersama yang lain?
Entahlah, aku hanya menjalani kehidupan sesuai skenario yang sudah ditakdirkan.
Akan bagaimana kedepannya aku hanya bisa pasrah.
Kejora mulai memejamkan matanya dan tidur siang. Dia akan menggunakan waktu seminggu ini untuk bersantai dan bersenang - senang. Karena jika kembali di rumah sangkar emas itu dia pasti nanti kan mulai terkekang.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸ðŸ
Pemuda bermata biru yang beberapa kali bertemu dengan Kejora itu bernama Blue Sea, dia memiliki paras yang tampan bak malaikat. Dan juga tatapan yang memikat serta senyuman yang memabukkan.
Dia tengah makan di restoran luar sendirian sambil melihat hasil jepretan kameranya tadi di pasar tradisional. Akan tetapi matanya terbelalak saat menemukan gambar gadis yang tinggal di hotel sebelahnya.
Saat itu kejora sedang naik Andong, Blue Sea ingat tempatnya. Sebenarnya yang dia tuju adalah seorang kakek tua yang menjual berbagai souvenir dari kayu.
"Jika kamu tahu ini pasti kamu akan menuduh aku sebagai penguntit," gumam Blue Sea tertawa lirih.
Tubuh kejora hanya terlihat dari samping, tapi gadis itu sedang menoleh ke arah kamera. Posenya sangat alami karena memang tidak di sengaja pengambilan gambarnya.
Pemuda itu memperbesar bagian wajah Kejora yang ayu. Dia penasaran kenapa pandangan mata Kejora begitu dalam. Seolah ada banyak rahasia yang tersimpan dan tidak terungkap dalam kata - kata.
Blue Sea sudah hari tinggal di Bali. Dia baru saja lulus sekolah di Amerika Serikat. Dalam usianya yang 29 tahun dia sudah menyandang gelar Doktor.
Akan tetapi dia masih belum berminat untuk melanjutkan usaha papanya di perusahaan besar Indonesia. Karena dia sedang ingin mencari tahu apa tujuan hidupnya yang sebenarnya.
Blue Sea merasa hampa dan kesepian, padahal di dekatnya dia dikelilingi banyak wanita yang siap menghiburnya. Akan tetapi Blue Sea masih belum bisa menemukan jati diri ataupun seseorang yang dicintai. Padahal usianya sudah matang.
Blue Sea terlahir dari keluarga kaya raya dan terhormat. Dia mendapat anugerah paras yang menawan serta otak yang gemilang. Akan tetapi Blue Sea selama ini selalu menyendiri. Dia sangat kecewa pada Papanya. Karena belum genap setahun mamanya meninggal tapi papanya sudah menikah lagi. Yang lebih menyakitkan lagi adalah papanya tersebut menikahi adik mamanya sendiri. Waktu itu Blue Sea baru berumur 12 tahun, dia masih sekolah di bangku 6 SD. Karena kecewa dia memutuskan melanjutkan sekolah di luar negeri seorang diri.
Butuh keberanian besar bagi Blue Sea menginjakkan tanah kelahiran Mamanya di Indonesia. Terlebih lagi dia harus berhadapan dengan tante yang menjadi ibu tirinya.
Tiba - tiba ponselnya bergetar. Rupanya ada pesan dari papanya.
PAPA
Dua hari sudah di Indonesia, kenapa tidak ke rumah papa?
Blue Sea hanya membaca tanpa mau membalas, dia lebih memilih untuk menikmati makan siangnya sambil melihat hasil fotonya hari ini.
Setelah makan Blue Sea segera melanjutkan perjalanannya menuju berbagai lokasi yang menarik. Selama ini hidupnya penuh tekanan dengan mata pelajaran, sekarang dia benar - benar ingin menikmati hidupnya untuk sesaat.
Haidar sedang di kamar hotel bersama Clarisa, kekasihnya yang paling dicintai sejak mereka sekolah.
Haidar sedang membujuk kekasihnya yang marah.
"Risa, kamu tahu kan kalau yang aku cintai hanyalah kamu," bisik Haidar sambil memeluk kekasihnya erat.
"Aku tahu, dan sekarang dibalik. seandainya aku yang berhubungan dengan pemuda lain apa kamu tidak akan marah?" rengek Clarissa.
"Stop… jangan pernah katakan itu lagi! Aku tidak akan sanggup walau hanya membayangkan saja," sela Haidar frustasi.
"Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku! Kita sudah bertahun - tahun pacaran tapi tidak pernah melakukan hubungan intim. Sedangkan kamu dan istrimu setiap malam tidur bersama," bentak Clarissa sambil menangis pilu.
Haidar tak kuasa melihat kekasihnya yang berderai air matanya, dia sendiri juga merasa gundah gulana memikirkan jalan yang terbaik.
"Aku melakukan hubungan intim dengan istriku karena terpaksa. Papaku sudah ingin aku memberikan cucu, kalau tidak nanti papaku bisa kambuh penyakitnya," jawab Haidar memberi penjelasan.
Haidar memang saat melakukan hubungan dengan Kejora di bawah pengaruh minuman alkohol, jika tidak dia takkan mampu memeluk gadis yang sama sekali tidak dicintainya.
"Kalau begitu, mari kita buat anak. Dengan begitu pasti Papa kamu akan bisa menerima hubungan kita," bujuk Clarissa.
"Tidak, ini terlalu berisiko. Aku tidak mau papa syok. Ku harap kamu bisa mengerti," bujuk Haidar memegang kedua tangan Clarissa dengan erat.
"Mana ada seorang wanita yang membiarkan orang yang dicintai memiliki status dengan orang lain. Kalau begini sama saja kamu menjadikan aku sebagai wanita simpanan yang murahan!" bentak Clarissa menghempaskan tangan Haidar lumayan keras.
Haidar sangat pusing, dia tidak tahan lagi jika wanita yang dicintainya itu menderita karena ulah dirinya.
"Kamu bukan wanita simpanan, karena gadis yang aku cintai adalah kamu. Bukan istriku," bisik Haidar sambil memeluk Clarissa dengan erat.
"Kamu seharusnya tahu bagaimana aku mencintaimu," teriak Clarissa sambil menangis.
"Iya, aku tahu. Akupun juga sama, aku sangat mencintaimu dan hanya kamu yang ada di hatiku," jawab Haidar lembut.
"Itu saat ini, bagaimana jika nanti kamu mulai jatuh cinta pada istrimu?" tanya Clarissa dengan tatapan memelas.
"Tidak akan mungkin terjadi, makanya sejak awal aku menganggap dia orang asing. Kita bahkan tidak saling menyapa, jadi aku rasa tidak akan pernah ada perasaan di antara kita," jawab Haidar yakin.
"Kamu janji?" Pinta Clarissa berubah manja.
"Iya, aku janji. Lihatlah! Matamu sudah bengkak seperti ini karena kebanyakan menangis," goda Haidar sambil menghapus kedua mata kekasihnya yang memerah.
"Semua itu karena salahmu," ucap Clarissa manja sambil memukul d**a Haidar.
"Iya, semua salahku. Setelah ini aku akan lebih menyayangimu lagi," jawab Haidar menenangkan kekasihnya.
Mereka berdua berpelukan erat, setelah itu wajah mereka saling mendekat dan berciuman bibir dengan mesra. Lidah mereka saling melumat satu sama lain. Saat Haidar memejamkan matanya tiba - tiba wajah Kejora yang memerah malu karena di gerayanginya semalam muncul dalam ingatannya.
"Kamu kenapa?" tanya Clarissa heran, sebab Haidar menghentikan ciumannya secara mendadak.
"Aku lapar sekali," jawab Haidar mencoba tertawa.
"Ayo kita makan sekarang," ajak Clarissa sambil bergelayut manja di lengan Haidar.
Haidar merasa lega sebab kekasihnya itu mau mengerti, tapi jauh di lubuk hatinya dia merasa cemas. Entah kapan dia bisa segera hidup bersama dengan Clarissa sebagai pasangan yang sah.