Kejora merasa jenuh berada di dalam kamar sejak seharian, dia tidak ingin berpikiran sempit. Dari pada meratapi ketidak beruntungannya dia lebih memilih jalan-jalan saja untuk menikmati pemandangan. Karena baru pertama kali ini dia bisa pergi ke pulau Bali.
Kakinya melangkah tanpa tujuan yang pasti, tapi matanya terpukau melihat pemandangan sekeliling. Di sana banyak sekali orang-orang asing, dia justru merasa bukan sedang berada di indonesia.
Kejora baru menyadari jika hotelnya tersebut tidak jauh dari pantai. Dia dengan senyumnya yang cerah langsung menuju suara ombak tersebut.
Memang jarak jalannya untuk sampai tempat tujuan masih lumayan jauh, tapi Kejora memilih jalan kaki karena dalam sakunya hanya ada uang sedikit. Suaminya itu dengan tega meninggalkan dirinya tanpa sepeser uang. Kejora kembali kesal jika melihat sikap suaminya tersebut.
Namun sesampainya di pantai rasa kesalnya langsung lenyap. Kejora memejamkan mata dan merasakan setiap angin yang berhembus menerpa tubuhnya. Rambut lurus sepinggangnya yang dibiarkan terurai berkibar seperti bendera. Kejora merentangkan kedua tangannya dan dia mendongakkan wajahnya ke atas langit. Perasaan ini sungguh membuat dirinya merasa damai.
Cukup lama dia berada dalam posisi seperti itu, saat kupingnya mendengar suara seperti jepretan yang halus membuat matanya seketika terbuka dan menoleh ke arah samping.
Kejora terkejut, sebab sepuluh meter darinya ada seorang pemuda asing bermata biru yang sedang membidikkan kamera ke arah dirinya. Kejora merasa tersinggung dan mendekati pemuda tersebut.
Pemuda asing itu hanya tersenyum saat menuju ke arahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pemuda asing dengan sopan.
Untuk beberapa saat Kejora terpesona pada ketampanan pemuda tersebut. Tubuh yang tegap tinggi dan wajah tampan berwarna biru, serta rambut sedikit pirang membuat dia terpana. Namun beberapa detik kemudian Kejora sadarkan diri. Dia terkejut jika pemuda asing itu bisa berbahasa Indonesia.
"Anda sungguh tidak sopan! Kalau mau mengambil gambar seseorang harus minta izin terlebih dahulu!" kata Kejora dengan nada tajam.
"Maaf, tapi aku lebih tertarik mengambil gambar pemandangan dibanding gambar seorang gadis," jawab Pemuda itu santai.
Kejora semakin kesal dan tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh pemuda di hadapannya.
"Dasar pendusta," batin Kejora.
Pemuda itu langsung menunjukkan hasil bidikannya tadi agar hadis di depannya bisa percaya.
Kejora melihat beberapa foto yang ditunjukan untuk memastikan. Ternyata gambar-gambar yang di ambil adalah matahari yang akan tenggelam di lautan, dan kebetulan objek tersebut berada di samping Kejora di posisi tadi.
Wajah Kejora langsung memerah, dia tidak tahan lagi berada disitu. Rasa malu yang memenuhi pikirannya membuat kakinya reflek berlari secepat kilat.
Pemuda yang masih berada di tempat semula hanya terbengong melihat gadis tersebut.
"Gadis aneh," gumam pemuda itu.
Sedangkan Kejora tanpa pikir panjang langsung memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.
Namun beberapa menit kemudian di belakangnya ada suara andong. Kejora sekilas menoleh dan alangkah terkejutnya jika penumpang andong itu adalah pemuda asing tadi.
"Kenapa dia mengikutiku?" batin Kejora kaget.
Kejora langsung berlari lagi agar cepat sampai, tapi andong yang tadi masih terus berada di belakang dia.
Sesampainya di hotel Kejora menyelinap dan masuk menuju kamarnya sendiri, tapi saat dia memutar kuncinya tiba-tiba pemuda asing itu berada tak jauh darinya.
"Hei, kenapa kamu mengikutiku terus?" bentak Kejora marah.
Pemuda tersebut hanya melirik ke arah Kejora dengan pandangan tak mengerti, sesaat kemudian pemuda itu membuka pintu yang berada tepat di samping kamar Kejora dan masuk tanpa sepatah kata.
Ya ampun… Untuk kedua kalinya Kejora merasakan malu, dia tidak mengerti kenapa bisa gegabah seperti itu. Biasanya Kejora bisa menahan diri saat ada seseorang yang memakinya sekalipun.
Kejora langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring di tempat tidurnya untuk istirahat. Napasnya sudah ngos-ngosan karena tadi berlarian cukup jauh.
Baru saja matanya terpejam pintu kamarnya sudah terbuka, ternyata suaminya yang sejak dari tadi pagi pergi sudah pulang.
"Mandilah!" perintah Haidar dingin.
Kejora yang masih mengantuk langsung bangun dan mengambil handuk serta baju tidurnya. Dia tidak ingin mengganti baju di depan suaminya.
Baru saja Kejora selesai mandi, suaminya tersebut sudah menggedor-gedor pintu dengan suara yang lumayan keras. Kejora langsung memakai handuk dan mendekati pintu tersebut.
"Sebentar," kata Kejora lembut. Padahal hatinya sangat dongkol.
Namun, suaminya tersebut tidak mau tahu. Pintu kamar mandi masih terus-terusan digedor. Kejora sadar jika dia tidak segera membuka pastinya Pitu tersebut akan rubuh.
Dengan cepat kejora membuka pintu, tapi dia masih menyembunyikan tubuhnya yang hanya berbalut handuk di belakang pintu.
"Ada apa? Aku ganti pakai baju dulu," ucap Kejora dengan nada memohon.
Siapa sangka jika kemudian Haidar masuk dan menarik tangan Kejora secara paksa. Kejora hanya bisa pasrah saat tubuhnya di dorong ke ranjang dan handuknya di tarik sampai seluruh tubuhnya terlihat jelas tanpa sehelai benang.
Kejora merasa malu dan terhina, tapi untuk melawan dia juga tidak punya hak. Sebab dia adalah istri sah dari Haidar.
Haidar melumat bibir Kejora dan mempermainkan bukit indah miliknya. Jujur saja diperlakukan seperti ini semakin Kejora terbawa sensasi yang luar biasa, tapi begitu ingat jika suaminya itu mencintai wanita lain membuat dia merasa tidak rela.
"Haidar, kenapa kamu kesini? Bukankah kamu seharusnya bersama kekasihmu?" tanya Kejora memberanikan diri.
Haidar terkejut, pemuda itu tidak menyangka jika istrinya tahu mengenai itu.
"Jangan mengurusi kehidupanku! Yang harus kamu pikirkan hanyalah bisa hamil secepatnya," jawab Haidar dingin.
Biarpun Kejora belum memiliki perasaan pada Haidar tapi hatinya juga terluka jika suaminya sendiri berkata seperti itu.
"Aku tahu, dia ingin aku hamil hanya demi membahagiakan papa mertua," batin Kejora pedih.
Karena sudah terlanjur seperti ini Kejora mengikuti alur saja. Legipula dia juga tidak bisa melepaskan diri dari ikataan pernikahan yang baru saja dibangunnya. Kejore memutuskan untuk mencoba membangun rumah tangganya.
Haidar semakin terkejut saat istrinya itu membalas ciumannya. Bahkan Kejora yang awalnya tampak malu seolah terhina kini berani melawan serangannya.
Setelah puas akhirnya mereka kelelahan, masih seperti biasanya Haidar tidur sambil memalingkan tubuhnya dan tanpa mengucapkan sepatah kata.
Malam ini tubuh Kejora terasa remuk, sebab suaminya melakukannya sampai berkali-kali. Dia heran kenapa jika suaminya tidak mencintainya tapi masih memiliki hasrat padanya.
Pagi harinya saat Kejora bangun rupanya suaminya itu sudah mandi dan berpakaian rapi.
"Seminggu lagi akan aku jemput, jangan bilang papa mengenai ini!" kata Haidar dingin dan berlalu pergi keluar dari kamar.
Kejora sama sekali tidak keberatan, dia justru merasa senang bisa bebas dan menikmati liburan seorang diri. Baginya uang yang berada di atas meja yang ditinggalkan oleh suaminya tersebut lebih menarik.
Setelah kepergian suaminya Kejora berniat untuk tidur lagi, tapi perutnya sudah keroncongan dan minta diisi.
Kejora bangun dan segera mandi, setelah itu berganti pakaian dan mengantongi lembaran uang ratusan tersebut.
"Lumayan, bisa buat jalan-jalan," gumam Kejora senang.
Kejora keluar dari pintu, tak lupa mengunci lagi demi menjaga keamanan di kamarnya. Namun, ternyata pemuda yang tinggal di ruang sebelah juga sedang melakukan hal yang sama. Kedua orang tersebut kemudian juga melangkah menuju tempat yang sama, yaitu restoran hotel.
Tempat sudah penuh, kini hanya ada sisa satu meja kosong. Mau tidak mau Kejora dan pemuda bermata biru tersebut duduk semeja.
"Jangan bilang aku mengikutimu lagi!" sindir pemuda itu.
"Jangan kepedean deh, aku saja tidak mengatakan apa-apa," balas Kejora menahan malu.
Pemuda itu diam dan tersenyum simpul. Kejora buru-buru menghabiskan makanan gratisnya dan segera pergi dari hadapan lelaki tersebut.
Namun lagi-lagi takdir mempertemukan mereka kembali, mereka bersenggolan di kerumunan orang-orang yang sedang berdesakan di pasar tradisional yang terkenal di Bali. Mereka berdua juga merasa heran karena tadi berangkatnya tidak sama.
"Hey, apa kita ini berjodoh? Kenapa di mana - mana selalu bertemu," goda pemuda bermata biru.
"Mana mungkin? Aku sudah menikah!" jawab Kejora ketus.
"Benarkah? Kalau sudah menikah kenapa selalu sendirian? Apa kamu ini seorang gadis simpanan?" ejek pemuda itu.
"Mulutmu pedas sekali," balas Kejora kesal.
"Di mana - mana orang yang sudah menikah akan berpergian bersama, kecuali kalau sedang marahan," ujar pemuda itu tertawa lucu.
"Kenapa kamu sepertinya bahagia sekali ya mendengar orang lain menderita?" kata Kejora balik menyindir.
"Aku hanya tidak tega ada orang cantik yang bersedih," jawab pemuda itu santai.
Kejora ketakutan, dia yang pengalamannya belum luas selalu berpikiran sempit.
"Jangan - jangan dia adalah seorang penipu, bisa saja aku diculik ke luar negeri dan di jual di sana sebagai artis video porno," batin Kejora bergidik.