PART : 8

1066 Words
Anggi merasa sesuatu memasuki badannya. Bukan, lebih tepatnya ada sesuatu yang menyusup ke hatinya. Entah apa itu, yang pasti rasanya sangat nyaman. Merasakan itu, kedua matanya sampai terpejam seolah menikmati. Tapi, ia kembali tersadar. Dengan cepat ia langsung saja mendorong tubuh Yoga dari hadapannya. Membuat sentuhan, atau lebih tepatnya sebuah ciuman yang ia rasakan, terlepas begitu saja dari dahinya. "Kenapa?" tanya Yoga. Heran saja, tadinya ia merasa Anggi menerima perlakuannya, tapi tiba-tiba berubah. "Apa yang kamu lakukan?" "Bukannya kamu menginginkan agar bekas luka itu menghilang tak berbekas? Aku harus melakukan itu untuk menghilangkannya," jelas Yoga. "Nggak perlu. Biar bekasnya tetap ada," balas Anggi kembali menutupi bekas luka itu dengan rambutnya. "Kenapa?" ''Tidak apa-apa. Hanya mau kelihatan normal saja. Nanti aku bingung menjelaskan pada orang tuaku tentang luka ini kalau tiba-tiba saja sudah hilang tak berbekas." Yoga tersenyum mendengar penjelasan Anggi. "Kenapa kamu malah tersenyum?" "Nggak." Anggi beranjak dari duduknya, menuju ke tempat tidur dan segera berbaring tanpa memperdulikan adanya Yoga di sana. "Hei ... aku masih di sini, dan dengan tak sopannya kamu malah mengacuhkan ku begitu saja." Yoga berdiri di samping tempat tidur sambil bersedekap tangan. Anggi tak menanggapi perkataan Yoga. Ia malas. Ya, malas kalau sudah berurusan dengan hantu ini. Dia, laki-laki yang sudah merubah alur kehidupannya menjadi tak normal lagi. Semoga saja otaknya tak ikut-ikutan jadi tak normal. Satu lagi yang membuat mood-nya menjadi turun drastis, apalagi kalau bukan chat-nya yang tak direspon oleh Ivan. ''Anggi ..." "Kamu kenapa, sih?" "Ada masalah?" Telinganya tak henti-hentinya mendengar suara bising dari Yoga. Tak bisakah mulutnya berhenti bicara? Haruskah ia mengunci bibir Yoga agar tak mengeluarkan suara apapun? Masalahnya adalah, kunci nomer berapakah yang akan ia gunakan? Di situlah ia merasa galau. "Mau ku cium lagi?" Anggi yang tadinya rebahan, langsung bangun seketika saat mendengar perkataan Yoga. "Apa, sih, Ga?" "Kamu yang kenapa? Dari tadi diem Mulu. Kamu nggak lihat, mulutku sampai berbusa memanggilmu." "Sabun colek dijadiin camilan, ya gitu jadinya," balas Anggi. Akhirnya Yoga merasa situasi wanita itu sudah agak baikan. "Ada apa?" Sebenarnya Anggi tak ingin bercerita, tapi entah kenapa ia merasa kalau Yoga sangat tepat menjadi tempat curhatnya. "Ivan nggak ngebales chat-ku," ungkapnya sedikit mengeluh. "Boleh ku kasih saran?" "Hmm ... apa?" "Jauhi Ivan!" Ada sedikit penegasan pada perkataan Yoga. Mendengar saran Yoga, membuat Anggi bereaksi tak suka. Apa-apaan dia memintanya menjauhi Ivan. Toh, ia sudah mengenal kekasihnya itu dari semenjak masuk SMA. "Kenapa?" "Jauhi dia! Dia bukan cowok baik-baik. Jangan berpikir kamu sudah mengenalnya jauh, Nggi. Nggak, dia nggak pantes buat kamu." "Diem!" bentak Anggi berdiri di hadapan Yoga. Bahkan saat ini ia tak merasa takut sedikitpun mengingat kalau posisi Yoga bukanlah manusia. "Aku kenal Ivan. Dia cowok baik-baik. Harusnya perkataan itu tertuju buat kamu. Kamu yang baru mengenalku, dan begitu juga sebaliknya." "Kamu nggak mempercayaiku?" "Seperti yang ku katakan barusan. Aku baru mengenalmu, bahkan aku hanya tahu namamu saja. Apa salah, kalau aku merasa was-was juga padamu?" Yoga menggeleng. Sedikit sakit memang, saat mendengar kalau Anggi tak mempercayainya. Tapi kembali sadar, ia bukanlah siapa-siapanya. Jadi, pantas saja kalau ia mendapatkan sikap seperti itu. Yoga menghembuskan nafas beratnya. "Oke ... aku paham," lirihnya. Anggi masih berdiri tegak dihadapannya. "Good night." Tiba-tiba ia semakin mendekat dan langsung saja mencium bibir gadis itu sekilas dan menghilang dalam sekejap mata. Mendapatkan ciuman tiba-tiba ... di bibir, sontak membuat Anggi shock. Saking tak percayanya, ia tak bisa berkata apa-apa. Ingin berteriak, mengumpat kesal atas perlakuan Yoga padanya, tapi lidahnya seolah mati rasa untuk mengeluarkan umpatan itu. Ia hanya bisa menyentuh bibirnya, bekas ciuman yang ia terima. Ya, mungkin ini bukanlah kali pertama laki-laki melakukan itu padanya, tapi bedanya kali ini ia menerima ciuman itu di saat dirinya sadar-sesadar sadarnya. Tentu saja ini memang nyata adanya. ---000--- Pagi ini Anggi sekolah seperti biasa. Sesampainya di sekolah, ia langsung menuju ke ruang kelasnya dengan langkah malas. Ya, malas, kenapa ruang kelasnya harus berada di posisi paling ujung. Tak tahukah para guru kalau kakinya sampai gempor setiap hari karena harus maraton. "Awas!!!!" Teriakan beberapa orang mengusik pendengarannya. Tapi, ia bingung, apa yang mereka teriaki? Saat menyadari, ternyata sebuah bola basket dengan cepat sedang menuju ke arahnya. Bola itu sudah sangat dekat dengannya, bahkan untuk melangkah maju ke depan satu langkahpun, sepertinya akan sia-sia. Sudah bisa dipastikan kalau benda budar ini akan berakhir di kepalanya. Matanya terpejam menunggu akhir dari kepalanya. Paling tidak ia akan pingsan, gegar otak ringan, atau yang lebih buruk lagi ya, amnesia. Matanya terpejam, menunggu pukulan keras itu. Tapi, ini sudah beberapa saat, kenapa ia belum merasakan benda itu membentur kepalanya? Apa di perjalanan tiba-tiba bola itu pecah? Oh ... ayolah, ini bola, bukan balon. Perlahan ia mulai membuka mata. Penglihatannya langsung berfokus pada dua bola mata yang sedang berhadapan dengannya, dekat, sangat dekat. Ya, setidaknya ia mengenal dengan baik siapa pemilik bola mata itu. Siapa lagi kalau bukan makhluk halus itu-- Yoga. Sedangkan bola tadi, sudah berbalik terlempar ke asalnya. Bukan balik ke pabriknya ya, tapi ke arah lapangan. "Aku memang bukan siapa-siapa bagimu. Tapi setidaknya, aku ada di saat kamu membutuhkan," bisiknya. Dengan posisi yang sangat dekat seperti ini, tentu saja Anggi bisa mendengar ucapan itu dengan jelas, meskipun lirih. "Anggi ... lo nggak apa-apa kan?" Pertanyaan itu langsung membuyarkan lamunannya. Pandangannya yang tadi hanya berfokus pada Yoga yang ada dihadapannya, kini beralih ke sumber suara. "Nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Erika mengulangi pertanyaan Ismi yang tak mendapatkan jawaban. "Ah, enggak, kok. Kan nggak kena," jawabnya. ''Kok aneh, ya. Harusnya itu bola tadi endingnya di kepala lo. Ini bolanya malah balik terlempar ke lapangan," heran Ismi. "Lo pingin bola itu nabrak kepala gue?" dengus Anggi. "Ish ... bukan gitu juga kali." Mereka bertiga melanjutkan langkah menuju kelas. "Tapi gue juga heran, Nggi." Bahkan Erika yang pemikirannya lebih normal dripaa Ismipun masih memikirkan kejadian barusan. "Heran apalagi, sih?" Erika yang tadinya berjalan seiring dengan Anggi dan Ismi, sekarang melangkah lebih dulu dan berdiri di hadapan Anggi. Membuat langkah gadis itu terhenti. "Jangan bilang kalau tadi itu lo dibantuin sama ..." "Iya," jawab Anggi langsung tanpa menunggu selesainya perkataan Erika. Erika sampai ternganga mendapatkan jawaban itu. Sementara Anggi, kembali berlalu pergi. "Iya apanya?" tanya Ismi tak peka kemana arah dan tujuan omongan kedua sahabatnya itu. Erika menarik Ismi agar sedikit mendekat padanya. "Hantu," bisiknya pada Ismi. "Hantu!!" teriak Ismi langsung ngacir begitu saja meninggalkan Erika tanpa jejak. Erika hanya menyaksikan tingkah bodoh Ismi. Padahal ia hanya mengucapkan kata 'hantu', dia langsung lari ngibrit. Bagaimana kalau ketemu beneran ya? Membahas hantu, sebenarnya ia juga merasa agak parnoan, sih. Melihat keadaan di sekitarnya yang tak ada siapa-siapa, langsunglah, tingkah Ismi yang ia anggap bodoh tadi, ia lakukan juga. Lari ngibrit, tapi tanpa teriakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD