PART : 7

1043 Words
'Plakk...' Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Yoga. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Meskipun ia bukanlah manusia, tapi ia juga punya perasaan. "Pergi dari kehidupanku!" Bentak Anggi. Sebenarnya ia sedikit tak tega melayangkan tamparan itu, tapi kalau itu bisa membuat Yoga pergi, terpaksa ia lakukan. Senyuman tersungging dari sudut bibir Yoga mendengar perkataan Anggi. "Aku berada di sini karena kamu dan aku juga akan pergi karena kamu. Tapi, bukan dengan cara seperti ini. Lagian, ini bukanlah waktunya. Terlalu cepat rasa itu hadir," terangnya. Anggi semakin tak paham dengan apa yang di maksud Yoga. "Aku berharap, ini pertama dan terakhir kalinya kamu melakukan ini padaku. Sakit memang, tapi lebih ke perasaan," ungkapnya hilang dari hadapan Anggi begitu saja. Anggi tersandar di dinding. Semenjak kehadiran Yoga, ia malah bingung sendiri menghadapi kehidupannya. Setelah selesai mengenakan pakaian, ia segera turun ke bawah, menghampiri kedua orang tuanya yang saat itu berada di ruang keluarga sedang mengobrol. Rita dan Adrian saling pandang melihat raut wajah putri mereka yang tak seperti biasanya. "Kamu kenapa?" tanya Rita. "Nggak kenapa-kenapa," jawabnya seadanya. "Kalau nggak kenapa-kenapa, tumben banget wajah ditekuk gitu," komentar papanya. Ia menarik nafas dalam untuk memulai perkataannya. "Hantu itu terus saja berkeliaran di sekitarku," ujarnya. Keduanya saling pandang, karena Anggi masih terus membahas yang namanya hantu. Entah apa yang sedang terjadi pada putri mereka. "Sayang ... bukannya kami nggak percaya dengan apa yang kamu katakan. Tapi ..." "Iya, aku paham. Intinya, kalian nggak percaya dengan apa yang ku katakan." Niatnya ingin curhat, eh, yang diajak curhat malah nggak percaya. Ya gimana ia akan mendapatkan solusi. "Mau ikut Mama sama Papa?" "Kemana?" "Makan malam di luar." "Nggak, males," jawabnya melongos berlalu dari hadapan kedua orang tuanya. Bingung harus ngapain. Mau jalan keluar, pasti nggak bakalan dikasih ijin. Kecuali keluarnya di kawal sama Mama dan Papanya. Yang ia lakukan hanya duduk di kursi yang ada di teras samping rumah, berniat chattingan dengan Ivan. Kesalnya saat pesannya tak di baca oleh si penerima. Padahal statusnya masih online. Ini masih jam 7 malam, dan nggak mungkin kalau dia sudah tidur. "Kenapa?" Di saat lagi galau, tiba-tiba seseorang, eh, maksudnya sebuah suara mengagetkannya. Bagaimana ia tak kaget. Anggi tak menjawab pertanyaan itu. Bahkan ia seolah membuang muka dari hadapan cowok yang membuat hari-harinya seolah berantakan. "Anggi ..." Tak ada respon .... Yoga mengulurkan tangannya ke arah Anggi. "Aku minta maaf," ujarnya. "Atas?" ''Apapun itu. Kalau menurutmu aku memang salah," ujarnya. Sebenarnya ingin sekali ia marah pada Yoga. Tapi tak tahu kenapa ia malah merasa tak tega. Apalagi tadi ia sudah menamparnya. Tak mendapat balasan, Yoga kembali menarik uluran tangannya. Tapi, tiba-tiba Anggi menyambar tangan itu. "Jangan bersikap seperti itu lagi, jangan menganggu dan menjahiliku lagi." Tak menjawab, Yoga malah menarik Anggi ke pelukannya dan memeluknya erat seolah tak ingin ia lepas. Tentu saja mendapat perlakuan seperti itu membuat Anggi kaget. Karena dalam hidupnya, ia tak pernah dipeluk oleh cowok lain selain papanya. Tapi sekarang, Yoga malah memeluknya, bahkan ciumannya pun dia yang mengambil. Jantungnya berdegup kencang saat berada dalam pelukan Yoga yang baru beberapa hari muncul di hidupnya. Anehnya, ia tak pernah merasakan hal ini saat bersama dengan Ivan. Mau lepas dari pelukan itu, tapi seolah menikmati. Rasanya sangat nyaman dan hangat. Beberapa saat kemudian, Anggi melepaskan diri dari pelukan Yoga. Berlama-lama di posisi itu, bisa-bisa membuat otaknya seakan gila. Ia jadi salah tingkah. ''Hmm ... aku mau ke dalam dulu, minum," ujar Anggi segera berlalu dari hadapan Yoga dengan wajahnya yang memerah. Sesampainya di dapur ia mencoba mengatur detak jantungnya yang seolah bertedak tak beraturan. "Ya ampun. Kenapa gue malah jadi deg-deg'an gini, sih. Benar-benar memalukan," gumamnya langsung meneguk segelas air mineral. Ia tak kembali ke teras, melainkan menuju kamar. Apalagi yang akan ia lakukan? Toh, Mama dan papanya tak ada di rumah. Saat tidur-tiduran, ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk. Saat ia lihat, ternyata Erika lah yang menelepon. "Ya," jawabnya. "Lagi dimana?" "Di rumahlah, mau kemana lagi gue." "Jangan lupa, tugas kelompok tadi lo kerjain," ingatkan Erika. "What?" Anggi yang posisinya lagi rebahan, langsung duduk. "Jangan bilang kalau lo lupa dengan tugas kita?" ''Ya ... begitulah kenyataannya." "Gimana, sih. Sono cepetan kerjain. Bukannya lo yang bilang mau ngerjain sendiri aja." "Buat besok?" "Iya," jawabnya. "Kerjain yang bener, kalau salah, kita kena damprat bareng sama Bu Arni," peringatkan Erika. "Ck ... ya udah, gue coba dulu. Kalau otak gue nyampe, tugasnya selesai. Kalau enggak, habislah kita besok." "Jangan gitu dong. Kita ..." ''Tutt ... tutt ..." Padahal Erika masih berbicara, Anggi malah langsung memutus percakapan dengannya. Ia melempar ponselnya sembarangan dan beranjak dari tempat tidur menuju meja belajar sambil menenteng tas sekolah. Satu persatu buku ia keluarkan dari dalam tas. Mencoba mengerjakan tugas yang diberikan Bu Arni. Bodohnya ia, dengan sok pintarnya malah menginginkan mengerjakan tugas ini sendiri. Tentu saja Erika dan Ismi sangat setuju. Ia sudah membolak-balik buku untuk mencari keberadaan jawaban dari pertanyaan, tapi nihil. "Gila! Malah susah-susah semua lagi. Fix ... bakalan kena omel sama Bu Arni besok," umpatnya kesal. Ia mencoba mengerjakan beberapa pertanyaan, tapi apa hasilnya? Hanya dua yang berhasil ia tuntaskan dari 10 pertanyaan. "Kyaaa!!!!" Teriaknya histeris sambil mengacak-ngacak rambutnya karena frustasi. Niatnya ingin mengacak otaknya, tapi nggak mungkin. "Berisik." Karena kaget, Anggi langsung saja memukul Yoga dengan buku yang ia pegang. "Kalau muncul, jangan tiba-tiba gitu dong. Bikin jantungan tahu, nggak," kesalnya pada Yoga yang berhasil membuatnya kaget. "Aku munculnya kan biasa saja, bukan niat ngagetin kamu juga," bantahnya. "Iya. Tapi kalau kamu muncul, jangan seperti hantu," komentarnya. "Maksudnya?" "Eh, salah ngomong. Kamu kan memang hantu ya," ralatnya. Yoga terus menatap ke arah Anggi yang sibuk dengan tugasnya. Tentu saja itu membuatnya risih. "Ngapain ngeliatin aku gitu amat, sih. Ntar suka beneran loh,'' ujar Anggi. "Kamu pikir ucapan sukaku ke kamu waktu itu bukan beneran ya?" Anggi mengangkat kedua bahunya, seolah tak ingin menanggapi dan membahas masalah suka-sukaan itu. Ia terus lanjut mengerjakan tugas sekolahnya, dengan Yoga yang berdiri di sampingnya. Agak risih, sih, tapi setidaknya Yoga bukan vampir yang tiba-tiba berniat menggigit lehernya. "Apa ini masih sakit?" Saat lagi konsentrasi penuh dengan tugasnya, tiba-tiba Yoga malah bertanya seperti itu, sambil menyentuh bekas jahitan di dahinya. Tentu saja itu langsung membuat fokusnya buyar seketika. "Ah, nggak sakit lagi, kok," jawabnya sambil hendak beranjak dari kursinya, menghindar dari hadapan Yoga. Tapi, Yoga menahannya agar tak pergi. "Sepertinya, ini bisa hilang," ujarnya sambil menyentuh bekas luka itu dengan lembut. "Bekasnya nggak akan bisa hilang," balas Anggi. "Bisa." Yoga mendekatkan wajahnya ke arah Anggi yang saat itu duduk di kursi yang berhadapan dengannya. "Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Anggi heran. Yoga tak menjawab, ia malah langsung saja mencium dahi Anggi. Tepatnya di bagian bekas lukanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD