Anggi hanya berdiri mematung dengan tatapan kosong. Hanya air mata yang masih terus mengalir di kedua pipinya untuk mengisyaratkan kalau dirinya dalam keadaan bersedih. Pintu yang tadinya tak bisa dibuka dari arah luar, hingga orang-orang hanya bisa menggedor-gedor dan khawatir dengan keadaan Anggi, kini terbuka dengan sendirinya. "Sayang ... apa yang terjadi? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" Mamanya langsung berlari menghampirinya yang masih berdiri dalam diam. ''Nggi ... lo kenapa?" giliran Erika yang bertanya. "Kenapa semuanya jadi berantakan gini, kayak habis terjadi angin topan saja," tambah Ismi memperhatikan keadaan di ruangan itu. Anggi hanya diam, sementara beberapa cleaning service sedang membersihkan tumpahan air, dan beberapa pacahan piring dan gelas yang hancur berserakan

