PART : 5

948 Words
Teriakan Anggi menggelegar seantero penjuru kelas, bahkan semua mata memandang aneh ke arahnya. "Lo kenapa, Nggi?" tanya salah satu dari mereka. "Ah, enggak. Cuman ada lalat lewat di depan gue, pengen nabok, eh tiba-tiba aja langsung ngilang. Kan gue kesal," elaknya. "Kirain lo lagi mabok," balasnya berlalu pergi. "Ck, gue kayak orang stress," gumamnya merutuki. Anggi masuk kelas, dan ternyata kedua sahabatnya sudah datang terlebih dahulu. "Gue bete tau nggak,'' ujarnya langsung duduk di antara Ismi dan Erika. "Bete kenapa?" "Pasti ini masalah, hantu," tebak Erika. "Pinter lo." "Memangnya dia masih sering gangguin lo?" "Tiap hari, tiap waktu, tiap menit. Bahkan, di saat gue lagi mandi pun, dia muncul. Gimana gue nggak kesel sama tu orang," terang Anggi. "Orang? Inget Nggi, dia hantu, bukan orang." Ismi mencoba mengingatkan. "Aih, gue lupa," ralat Anggi sambil menepuk jidatnya. "Oiya, Nggi, barusan Ivan nyariin lo kesini." Raut wajah Anggi yang tadinya murung, kusut, bak kain yang belum disetrika, langsung berubah drastis saat mendengar nama itu di sebut. "Serius? Dia udah balik?" "Iya," jawab Ismi dan Erika serentak. Anggi beranjak dari duduknya hendak menemui Ivan. Tapi, saat baru melangkah, Guru keburu masuk, membuat niatnya tertunda. Kedua sahabatnya malah tertawa, karena Anggi tak bisa menemui Ivan. "Ketawa lu pada," dengusnya kesal sambil kembali duduk. Jadilah, Anggi hanya mengirim pesan pada Ivan agar menemuinya nanti di kantin saat jam istirahat. Dua jam berlalu, dan itu berasa sangat lama. Anggi merindukan Ivan yang berstatus sebagai kekasihnya. Sudah dua minggu mereka tak bertemu. Seminggu karena dirinya masuk rumah sakit, dan saat sembuh, Ivan ternyata sedang diutus oleh pihak sekolah untuk mengikuti olimpiade sains. Loncengpun berbunyi, itu tandanya waktu istirahat sudah tiba. Anggi bergegas mengemasi alat-alat tulisnya. "Tau lah, yang mau nemuin kekasih tercintanya," ledek Ismi. "Melepas rindu, kangen-kangenan, peluk-pelukan, cium-ciuman," tambah Erika. "Apasih, ah. Nggak mungkinlah gue sampe ciuman segala. Karena apa? Karena ciuman gue cuman berlaku untuk cowok yang bakal jadi suami gue. Paham!" "Yakin?" Di saat itu, Anggi langsung terdiam. Diamnya ia karena si hantu sudah mengambil ciuman itu. "Idih, dianya bengong. Yakin nggak, kalau tu bibir masih suci sampe ijab kabul?" "Ya ... yakinlah," jawabnya. "Dah, gue mau ke kantin dulu." Ia langsung berlalu pergi dari hadapan Ismi dan Erika. Dengan perasaan yang berbunga-bunga, ia berjalan menuju kantin. Tapi, saat melewati ruang olah raga, ia malah ditarik oleh seseorang untuk masuk ke ruangan itu. "Heii ..." Saat ia lihat siapa yang menariknya, ternyata siapa lagi biang keroknya kalau bukan Yoga. "Eh, mau kamu apa, sih? Udahlah, berhenti mengikuti dan mengangguku." "Aku menyukaimu," ujarnya. Seorang cowok, tiba-tiba mengatakan kalimat itu padanya, bagaimana ia tak kaget. "Apa? Kamu bilang menyukaiku? Kamu sehat, kan? Ah, aku melupakan kalau kamu adalah hantu. Mana bisa sakit. Tapi, kenapa bisa punya rasa suka. Sulit dipercaya," balas Anggi seolah menganggap ungkapan Yoga barusan hanya gurauan semata. Kesal, Anggi hanya meninggalkan Yoga dan berlalu begitu saja. Ia kembali melanjutkan niatnya yang tertunda menuju kantin. Dan itu semua hanya gara-gara hantu. "Ivan ...," hebohnya saat sampai di hadapan pacarnya. "Anggi ..." Ivan ingin memeluknya, tapi Anggi menolak. Ada raut kekecewaan terpancar dari wajah cowok itu. "Gimana kabar kamu?" tanya Anggi duduk di kursi yang berhadapan dengan Ivan. "Aku baik. Dan aku juga minta maaf, di saat kamu sakit, aku nggak bisa berada di sampingmu." Anggi tersenyum, setidaknya Ivan masih mengingat kalau dirinya pernah sakit. "Iya, nggak apa-apa." Jadilah, mereka berdua ngobrol hingga jam istirahat berakhir. Pulang sekolah, saat ia menunggu Pak Amir datang menjemputnya, Ivan menghampirinya. "Ayo, ku antar pulang," ajaknya dari balik helm-nya. "Maaf, Van, tapi aku lagi nungguin jemputan. Lagian, kamu kan tahu kalau orang tuaku nggak tahu kalau kita pacaran," jelasnya. "Menolak ku?" ''Bukan begitu. Tapi ... "Iya, nggak apa-apa kok. Aku paham. Kalau gitu, aku duluan ya?" Anggi mengangguk tanda setuju. Sebenarnya ia merasa tak enak hati. Selama menjalin kasih dengan Ivan, bisa dibilang mereka jarang jalan berdua. Kalaupun jalan, pasti ia harus berbohong dulu pada kedua orang tuanya. Apalagi alasannya kalau bukan belajar bareng atau menginap di rumah Ismi atau Erika. "Sudahlah, jangan merasa tak enak seperti itu,'' ujar Yoga yang tiba-tiba muncul dan sudah berada di samping Anggi. "Ish ... apaan, sih ni hantu," dengus Anggi. Kebetulan Pak Amir datang, jadi, dia bisa langsung berlalu masuk mobil tanpa harus mencari cara agar menghindari Yoga. "Siang, Ma," sapanya pada Rita yang saat itu sedang duduk di ruang tengah sambil membaca majalah. "Siang, Nak. Gimana, sekolahmu?" "Sekolahku? Hmm ... biasa saja. Masih sama seperti hari-hari sebelumnya," jawabnya sambil melanjutkan langkah menuju kamar yang berada di lantai atas. Sama seperti sebelumnya? Yang benar saja, justru hari-harinya jadi menyebalkan karena kehadiran makhluk bernama Yoga. Saat langkahnya sudah berada di penghujung anak tangga, tiba-tiba Yoga langsung muncul dan berdiri tepat di hadapannya. Tentu saja, itu membuat langkahnya terhenti. "Kyaaa!!!!" Ia berteriak saat meyakini kalau ia akan jatuh dan berguling-guling di anak tangga. Tapi, itu semua tak terjadi, karena Yoga sudah terlebih dahulu memegangi dan menariknya. "Mau jatuh ke bawah, atau berpegangan padaku?" tanya Yoga. Di saat nyawanya sudah berada di ujung anak tangga, masih sempat-sempatnya Yoga mempermainkannya. Anggi masih berpikir, mau mati mengenaskan, atau berpegangan pada mahkluk ini. Yang jelas, rasanya pastilah menyakitkan berguling hingga anak tangga paling bawah. Ia tak ingin merasakan sakit itu lagi. "Tiga ... dua ... sa ..." Sebelum Yoga menyelesaikan hitungannya, Anggi langsung melingkarkan tangannya di pinggang Yoga. Mau tak mau ia harus memeluknya. Mendapat perlakuan seperti itu, tersirat senyuman di bibir Yoga. Terlalu menikmati, membuat Yoga mengacuhkan posisinya saat ini. Apalagi dengan keadaaan Anggi yang masih memeluknya, beban di badannya bertambah. Ia roboh dengan Anggi yang masih memeluknya. 'Brughhh...' Pandangan keduanya beradu, dan terdiam dengan posisi Anggi yang berada di atas tubuh Yoga. Jujur saja, Anggi merasakan ada yang salah dengan jantungnya. Kenapa tiba-tiba degubannya jadi makin kerasa. "Anggi ...!!! Kamu ngapain?" tanya Rita berteriak dari arah bawah karena mendengar suara sesuatu jatuh. Keduanya tersadar. Anggi langsung beranjak dari badan Yoga dengan salah tingkah. Iapun heran, kenapa sikapnya jadi begitu. "Iya, Ma, nggak ada apa-apa," jawabnya membalas pertanyaan mamanya, dan segera berlalu pergi dari sana menuju kamar. Yoga masih terduduk di lantai dengan senyum mengembang di bibirnya. "Lumayanlah, untuk permulaan," gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD