PART : 4

1037 Words
Ternyata dengan bawang putih dan garam, tak mempan sama sekali untuk membumihanguskan makhluk itu. Cara satu-satunya yang tersisa adalah, kertas mantra. Untung saja pesanannya sudah datang terlebih dahulu sebelum si hantu muncul. "Pergi dari hidupku!!!" teriak Anggi sambil menempelkan selembar kertas di dahi si hantu. Dan lihatlah, sepertinya ia berhasil. Buktinya, ia langsung menghilang dari hadapan Anggi. Anggi langsung tertawa kegirangan saat ia berhasil membuat hantu yang menyebalkan itu pergi. "Uyeee ..., gue berhasil," teriaknya heboh sambil jingkrak-jingkrak di atas tempat tidur. We are the champion.... "Siapa bilang kamu berhasil?" Suara itu sukses membuat Anggi kembali kaget, dan nyaris jatuh dari atas tempat tidur kalau saja cowok yang berstatus sebagai hantu itu tak menangkapnya. Pandangan mereka bertemu, menciptakan keheningan sesaat hingga akhirnya Anggi tersadar dan melepaskan diri darinya. "Kyaaa ....!!!" "Kamu nggak akan bisa membuatku pergi," ucapnya. "Terserah, tapi jangan menganggu hidupku. Cari manusia lain saja yang mau menjadi temanmu, jangan aku," terang Anggi heboh. "Tidak bisa! Harus kamu! Aku inginnya, kamu," tunjuknya pada Anggi. Anggi bersandar di dinding, sambil menepuk jidatnya. Kenapa hidupnya jadi seperti ini. Berhubungan sama hantu, membuatnya seolah jadi orang stress. Ia menghampiri Anggi, selangkah demi selangkah. "Namaku, Yoga," ucapnya memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan. Tapi, Anggi tak semudah itu mau menerimanya. "Aku nggak mau tahu namamu, atau apapun itu," responnya. Ia langsung keluar dari kamar dengan tampang kesal. "Gimana, Non. Hantunya udah pergi atau belum?" tanya Bibik. "Nggak mempan sama sekali, Bik." Bibik malah senyum-senyum mendengar perkataan Anggi. Seolah tak percaya dengan masalah hantu yang merecoki hidupnya beberapa hari kebelakang. "Ck, jangan tersenyum, Bik. Aku tau kok kalau Bibik nggak percaya dengan apa yang ku katakan. Bahkan menganggap ku gila. Tapi itulah kenyataannya. Hantu sialan itu terus menggangguku," terangnya. "Iya, Non," balas Bibik. "Iya, apa? Menganggap ku gila?" "Lah, kan Non sendiri yang barusan bilang," jawab Bibik. "Ish, majikan sendiri di bilang gila," dengus Anggi yang berlalu pergi menuju teras belakang. Ia merasa parnoan untuk masuk kamar, karena sepertinya itu hantu menyukai kamarnya. Buktinya, ia lebih sering muncul di kamarnya. "Anggi, kamu ngapain disini. Udah malam loh," ujar mamanya yang menghampirinya di teras belakang. "Ma, ntar tidurnya bareng aku ya?" "Jangan bilang kalau kamu masih ngebahas masalah hantu hantu itu lagi," tebak mamanya. "Ya emang kenyataannya gitu. Dia gangguin aku terus, Ma," rengek Anggi. "Udahlah, itu cuman mimpi kamu yang kamu bawa sampai ke dunia nyata." Tuh, kan. Mamanya saja malah mengeluarkan pendapat sama persis seperti Bu Arni. Semua orang sampai beranggapan ia hanya berhalu saja. "Ayo, makan. Bibik udah siapain," ajaknya. Dengan langkah malas, Anggipun mengekor di belakang mamanya. "Makan yang banyak, biar pemulihan kamu bisa cepat," ujar sebuah suara yang berasal dari sampingnya. Saat ia edarkan pandangan ke asal suara, ia langsung kaget. Bahkan nyaris tersedak. "Anggi, kalau makan hati-hati dong. Pelan-pelan aja, jadi tersedak, kan," omel Rita. "Aku bukan tersedak karena makanan, Ma, tapi karena kaget. Dia muncul tiba-tiba," jelas Anggi sambil menunjuk ke arah sampingnya. Orang tuanya malah menunjukkan tampang bingung. Pasalnya, tak ada siapapun yang berada di samping putri mereka. "Jangan mulai lagi deh, Nggi," ujar Rita. "Ya ampun, semua orang tak mempercayaiku," kesal Anggi sambil geleng-geleng. Nafsu makannya tiba-tiba jadi hilang di bawa angin ribut. "Udah, ah. Aku mau tidur," ujarnya beranjak dari kursinya. "Abisin makanannya, Anggi." Ia tak menghiraukan ucapan mamanya, dan berlalu begitu saja menuju kamarnya. Setibanya di dalam kamar, ia malah disuguhi pemandangan si hantu yang ia akui bernama Yoga itu, malah asik tidur-tiduran di atas kasurnya. "Aku kan sudah bilang, jangan menggangguku lagi!" bentak Anggi. "Siapa yang mengganggumu, sih. Aku kan muncul biasa saja," bantahnya. "Kamu membuatku kaget." "Ya, maaf, tapi itu hanya terjadi hingga kamu terbiasa saat melihatku muncul tiba-tiba," jelasnya. "Sekarang, aku tanya sekali lagi. Kenapa kamu malah menampakkan diri di hadapanku? Kenapa bukan pada yang lain?" tanya Anggi berdiri di depan pintu sambil berpangku tangan. ''Karena aku menyukaimu, Anggi," jawabnya sambil bangkit dari tidurnya, dan berjalan menghampiri Anggi. "Terlebih, aku sangat menyukai bibirmu yang manis ini. Mungkin, kapan-kapan aku akan mendapatkannya lagi," tambahnya sambil menyentuh bibir Anggi dengan telunjuknya. Anggi kesal dan langsung menjauhkan tangan Yoga dari hadapannya. "Jangan menyentuhku!" bentaknya. "Baiklah, tapi ku ingatkan sekali lagi. Aku akan tetap ada di sampingmu, apapun alasanmu menolakku," ucapnya mengingatkan. "Dasar hantu!!!" kesal Anggi menyiapkan tinjunya untuk memukul Yoga. Tapi yang bersangkutan keburu menghilang dari hadapannya. "Jangan kabur!!!" teriaknya geram. "Anggi, jangan teriak-teriak!" seru mamanya dari luar kamar. Ya ampun, otaknya berasa mau pecah memikirkan hal yang tak masuk akal ini. Kemungkinan besar, kalau ini terus berlanjut, ia bisa benar-benar jadi gila. Semoga saja malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak, tanpa gangguan hantu jadi-jadian itu. ---000--- Suara alarm membangunkan Anggi dari tidurnya. Ya, ia merasa semalam tidurnya sangat nyenyak, bahkan ia tak terjaga di tengah malam. "Hah, bisa tidak, aku tidur beberapa menit lagi," gumamnya bicara sendiri dengan suara serak khas bangun tidur. Ia merasa ini adalah tidur ternyamannya. "Tentu saja," balas seseorang tepat di telinga Anggi. Kedua matanya langsung melek seketika. Ia kaget dan berteriak histeris saat Yoga berada tepat di hadapannya dengan posisi memeluk pinggangnya. "Lepas!!!" Ia mendorong tubuh Yoga dari hadapannya. Tapi, bukannya Yoga yang menjauh darinya, justru ialah yang bergerak mundur dan jatuh ke lantai. "Ya ampun," ujar Yoga segera menolong Anggi. "Aduh, punggungku," ringisnya. "Kamu sih, pake sok kaget, sok histeris," ujar Yoga membantu Anggi untuk bangun. Anggi langsung memukuli Yoga dengan semangat menggebu. Gara-gara dia, dirinya jatuh ke lantai. "Jangan pegang," dengusnya menyingkirkan tangan Yoga saat membantunya berdiri. "Sok nggak butuh. Semalaman tidur dipelukanku, kamu nggak komplen. Malah menikmati," terang Yoga. "Apa. Aku tidur dipelukanmu? Hello ... kalau ngomong yang bener dong. Dasar hantu!" "Ya udah kalau nggak percaya. Lagian, aku juga nggak maksa kamu buat percaya," balas Yoga sambil duduk di sofa. Anggi langsung bangkit dari duduk santainya di lantai, dan menyambar handuk serta seragam sekolahnya yang tergantung di lemari. "Sampai ketemu nanti," ucap Yoga. ''Nggak usah balik!" balas Anggi. Tapi, Yoga keburu menghilang. Kali ini Anggi tak merasa kaget seperti sebelum-sebelumnya. Ia seolah mulai terbiasa dengan hilangnya Yoga dengan tiba-tiba dari hadapannya. "Apa bener gue semalam tidur di pelukannya?" Anggi bertanya-tanya sendiri saat berada di kamar mandi. "Ah, tapi nggak mungkinlah," jawabnya sendiri. "Nggak percaya?" Sebuah suara mengagetkannya. "Yoga!!! Jangan muncul disini," teriaknya dengan kesal sambil segera melilitkan handuk di badannya. Hantu yang satu ini benar-benar membuat kesabarannya habis. "Awas saja kalau ketemu," ancam Anggi yang seolah ingin membabat habis kepala Yoga saat itu juga. Seperti kemarin, hari inipun ia berangkat sekolah masih diantar oleh Pak Amir. Rengekannya untuk kembali mendapatkan mobil, tak mempan sama sekali. "Haii ..." "Kyaaaa!!!" teriakannya langsung menggelegar seantero lorong kelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD