PART : 3

887 Words
"Lepasin aku! Aku nggak pernah memintamu untuk menggangguku," teriak Anggi histeris sambil terus mencoba melepaskan diri. Bahkan, saking takutnya, ia tak berani membuka kedua matanya. Dia langsung membekap mulut Anggi dengan tangannya karena terus berteriak. Mendapatkan sikap seperti itu, Anggi langsung membuka kedua matanya. Pandangan mereka bertemu. "Bisa diem? Kalau enggak, aku nggak akan ngelepasin kamu. Posisi kita akan tetap seperti ini," ancamnya. Tentu saja Anggi merasa resah. Tiba-tiba seorang, ah ... tidak, sepertinya dia bukan orang, menindihnya dengan posisi yang menyebalkan ini. "Berjanjilah, nggak akan ada teriakan," pintanya. Awalnya ia tak menjawab, tapi, posisi ini membuatnya mau tak mau harus setuju. Ia mengangguk cepat. "Bagus," balasnya langsung melepas bekapan tangannya di mulut Anggi, dan menghilang tiba-tiba dari hadapannya. Anggi ingin segera kabur dari kamarnya yang berasa menakutkan itu. Tapi, saat membuka pintu hendak kabur, tiba-tiba igu pintu terkunci dengan sendirinya. Baru kali ini ia mengalami ketakutan yang teramat sangat. Ia berusaha dengan hantu. "Apa wajahku sangat menakutkan? Kenapa kamu harus lari dariku?" Dia kembali muncul, dan berjalan mendekati Anggi yang berada di depan pintu. Anggi yang tadinya sibuk dan berusaha membuka pintu tapi hasilnya nihil. Ia mengarahkan pandangan pada sosok itu masih dengan kecemasan penuh. Pertanyaan macam apa yang dia tanyakan. Memang, wajahnya tak menakutkan layaknya hantu yang ada di film-film horor. Tapi, tetap saja yang namanya hantu pastilah menakutkan. "Berhenti!" pinta Anggi. Bentakan itu membuatnya langsung menghentikan langkahnya yang saat itu hanya berjarak dua langkah dari Anggi. "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Anggi sembari mencoba menenangkan hatinya yang sedang ketakutan. "Apa itu artinya kamu sedang menanyakan namaku?" tanya dia kembali mencoba melangkah mendekati Anggi. "Apa menurutmu aku masih sempat menanyakan namamu saat takut? Tentu saja tidak. Yang aku tanyakan kamu ini makhluk apa? Apa benar kalau kamu, hantu?" Dia menatap tajam ke arah Anggi. Seolah tak suka dengan sebutan itu. "Aku bukan hantu, aku hanya arwah yang masih bergentayangan di dunia manusia," terangnya. "Lah, apa bedanya? Tetap saja itu namanya, hantu," balas Anggi. Ia langsung menarik tangan Anggi, membuat Anggi langsung tertarik ke arahnya. "Aku bukan hantu," bisiknya di telinga Anggi. "Lepasin!" bentak Anggi. Sungguh, ia takut, jantungnya seolah sudah bergelindingan ke lantai. "Bisakah kamu bersikap lebih baik padaku. Setidaknya, aku telah membantumu," ucapnya. "Membantu? Kapan kamu membantuku? Aku merasa tak berhutang apa-apa padamu," balas Anggi tak mau kalah. "Waktu kecelakaan," ucapnya. Anggi mencoba mengingat-ingat kejadian itu. "Jangan coba melewatkannya," bisiknya mengingatkan. Anggi ingat, saat kecelakaan ia ditolong oleh seseorang. Tapi ia tak melihat dengan jelas, wajahnya. Anggi juga ingat, saat ia mulai tak sadar, ia merasakan sesuatu yang dingin seolah masuk kedalam mulutnya. "Jangan bilang kalau kamulah orangnya." Dia mengangguk. "Memang akulah yang menolongmu," balasnya sambil menyentuh bibir Anggi dengan telunjuknya. Anggi langsung melepaskan diri dari dekapan si hantu yang menurutnya sedang dalam keadaan tak waras. "Dan jangan bilang kalau waktu itu kamu juga sudah ..." "Yap, benar sekali," timpalnya langsung. "Aku memang menciummu. Kalau tidak, aku tidak bisa menolongmu," jelasnya, yang langsung mendapat pelototan tajam dari Anggi. Rasanya, ia ingin menggampar makhluk yang ada dihadapannya itu dengan sepatu yang ia pakai. "Berani sekali mencuri ciumanku!!!" "Apa kamu akan mengambil ciuman itu kembali dariku? Boleh saja, silahkan. Tapi, tentunya itu tak akan kamu lakukan. Lagian, aku kan sudah bilang, kalau bukan begitu aku tak bisa membantumu. Aku tidak mungkin membiarkanmu mati begitu saja, karena mungkin saja kamu adalah jodohku," terangnya panjang, hingga Anggi tak dapat mencerna perkataannya sedikitpun, kecuali kata 'jodoh'. "Tunggu. Apa kamu bilang barusan, aku adalah jodohmu?" Anggi langsung tertawa. Ia merasa rasa takutnya tadi, hilang begitu saja. "Yang benar saja, aku manusia, bukan hantu. Jadi, jangan berharap kalau kita berjodoh." "Kita lihat saja nanti. Baru beberapa kali aku menghampirimu, sudah membuat harimu tak tenang. Sebentar lagi, hatimulah yang akan kubuat jadi tak tenang karena memikirkan ku," jelasnya dengan sangat percaya diri dan langsung menghilang dari hadapan Anggi begitu saja tanpa jejak. Tetap saja, Anggi kaget saat dia menghilang dalam hitungan detik dari hadapannya. "Astaga! Gue nggak nyangka bakal berurusan sama makhluk seperti itu. Dia benar-benar sangat menyebalkan," gumam Anggi masih memeriksa keadaan sekelilingnya. Ya, siap tahu si hantu tiba-tiba muncul lagi. Jujur saja, untuk kategori cowok, dia memang berada di peringkat atas. Tapi, meskipun begitu, tetap saja statusnya adalah hantu. Anggi segera mengganti seragam sekolahnya, dan menemui Bibik yang ada di dapur. "Bibik, aku mau nanya sesuatu," ujarnya pada wanita paruh baya, yang saat itu sedang berada di dapur. "Mau nanya apa, Non?" "Tau nggak, apa yang paling di takutin sama hantu?" "Hah?" Bibik Sampai menghentikan tangannya yang sibuk memotong bawang mendengar pertanyaan majikannya. "Apa pertanyaanku kurang jelas, Bik?" "Apa ya? Bibik juga nggak tahu, Non," jawab Bibik sambil mencoba berpikir. "Ahaa. Coba Non siram pake garem, bawang putih, atau kertas mantra kayak di film Cina itu loh, Non," saran bibik. "Oke, ide bagus," balas Anggi yang langsung merogoh ponsel yang ada di sakunya. "Non mau ngapain?" "Siapa tahu ada yang jual kertas mantra di situs online," jawab Anggi masih fokus ke layar ponselnya. Beberapa saat, tergurat senyuman di bibirnya, saat ia menemukan apa yang ia cari. "Bik, ntar kalau ada paketan, tolong ambil dan bawa ke kamarku ya," pinta Anggi sambil mengambil beberapa buah bawang putih, dan setoples garam. "Baik, Non." Bibik merasa, setelah mengalami kecelakaan membuat majikannya punya masalah pada otaknya. Anggi sudah mempersiapkan semuanya. Menggantung bawang putih di setiap sudut kamarnya, menaburi garam di penjuru kamarnya, dan duduk menunggu. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tiba-tiba, makhluk yang berniat ia musnahkan, muncul. Spontan, ia langsung melemparinya dengan garam dan menggantung bawang putih di lehernya. "Heiiii .., apa-apaan ini?" tanyanya bingung saat mendapat serangan garam dari Anggi. "Pergilah wahai hantu, tempatmu bukan disini,'' ujar Anggi sambil terus melemparinya dengan garam. Dan hasilnya ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD