Chapter 8

2286 Words
Dua bulan berlalu dengan cepat, semakin ke sini Keenan dan Dheera semakin dekat. Ken masih terus mengantar jemput Dheera, meski menurut Dheera mereka belum berpacaran. Personal chat, ken-dheera. Keenan aldric : Dmn? Dheerandra aadhira : Masih di kelas Keenan aldric : Udh beres kls? Dheerandra aadhira : Udah, ini lagi jlan keluar Keenan aldric : Buruan! Dheerandra aadhira hanya membaca chat dari Ken. Tak lama sejak Dheera membaca pesan dari Ken, Dheera muncul di loby gedung kampusnya. Awalnya Ken menatap Dheera dengan tatapan datar, bertanya mengapa bisa wanita itu berjalan sangat lambat disaat ada singa yang menunggunya di mobil. Namun tatapan mata Ken mulai menajam saat melihat dengan siapa Dheera berjalan, seorang pria. Kedua nya tampak sangat dekat saat bercerita satu sama lain, kemarahan Ken memuncak saat menatap keduanya yang memakai pakaian dengan warna senada, biru bercampur hitam. Setelah berpamitan dan tersenyum pada pria yang menjadi lawan bicara nya, Dheera masuk mobil disambut dnegan tatapan tajam dari Ken. “Siapa cowok yang sama lo tadi?” tanya Ken sambil menatap tajam Dheera. “Temen sekelas Dheera, kenapa?” tanya Dheera dengan wajah polos. “Ini yang terakhir!" tegas Ken. Dheera bergumam bingung bingung. "Jangan sampai gue liat lo jalan sama cowok lain!” ujar Ken tegas. Dheera menatap Ken polos sambil mengedipkan matanya berkali-kali. Sedikit bingung dengan apa yang maksud Ken melarangnya jalan bersama temannya. “Kenapa?” tanya Dheera bingung. “Gue gak suka!” ujar Ken menunjukkan ketidaksukaannya. “Kita kan gak pacaran.” Ujar Dheera dengan nada polos. Ken menoleh pada Dheera dan menatap tajam wanita muda yang ada di sebelahnya. Dia sangat takjub dengan entengnya rahang wanita itu bicara hal itu dengan mudah. “Emang Ken suka sama Dheera?” tanya Dheera yang tak paham arti sorot mata tajam Ken. “Astaga!” kesal Ken sambil meremas setir mobil kuat dengan tatapan geram pada Dheera. “Kenapa?” tanya Dheera dengan nada polos. “Polos kelewat bego lo!” kesal Ken yang sangat ingin menelan wanita itu hidup-hidup. “Kok marah-marah sama Dheera?" tanya Dheera bingung. “Kalau gak suka ngapain gue nganter jemput elo tiap hari kayak gini?” tanya Ken geram. “Tapi kan Ken gak ada bilang suka,” jawab Dheera dengan nada yang benar-benar polos, semakin membuat darah Ken mendidih, geram dengan otak wanita disebelahnya itu. “Gak semuanya mesti dibilang pakai kata-kata Dheera! Harusnya lo paham sama apa yang gua lakuin ke lo,” geram Ken. Dheera diam sambil memainkan jarinya dengan bibir yang dimajukan beberapa senti. Hari ini dia kembali mendengar Ken yang mengomel panjang lebar. “Dan satu lagi kalau gue gak suka, ngapain gue tidurin elo!” kesal Ken lagi. Dheera hanya diam sambil menundukkan kepalanya. “Ini terakhir ya Dheera.” Ujar Ken setelah keduanya diam beberapa saat. “Apanya?” tanya Dheera samil menatap Ken polos. “Gue liat lo sama cowok kayak tadi!” Dheera kembali diam dan tak menjawab, bertanya dalam hati mengapa dia harus menjauh dari semua cowok saat dia hanya berteman dengan orang-orang tersebut. “Masih belum jelas Dhee?” tanya Ken. “Belum,” ujar Dheera jujur dengan nada pelan. Ken menghela nafas kasar sembari mengusap wajahnya kasar, tak mengerti apa yang harus dilakukannya pada Dheera agar dia paham dan mengerti. “Mulai sekarang lo punya gua Dheera!” tegas Ken membuat Dheera menatapnya penuh tanya. “Jadi jangan gue liat lo kayak tadi! Udah jelas?!” tanya Ken lagi tanpa menjelaskan semua hal yang membuat Dheera bingung. “Kita pacaran sekarang?” tanya Dheera ingin memastikan apa yang ada di pikirannya. “Astaga! Iya Dheera pacaran.” Ujar Ken geram. Dheera tersenyum tipis. Setidaknya dengan begini, hubungan mereka sudah maju satu langkah. Setidaknya Dheera tau, untuk sekarang Ken tidak akan meninggalkannya begitu saja setelah mengambil miliknya yang paling berharga. “Awas aja kalau gue liat lo dekat sama cowok lain!” ancam Ken dengan tegas. “Enggak.” “Enggak apa?” “Gak dekat-dekat cowok lain,” ujar Dheera sambil menatap Ken dengan senyum merekahnya. “Mau langsung pulang kan?” tanya Ken dengan nada yang mulai normal. “Iya.” “Ke rumah gue aja ya.” Ujar Ken. “Kenapa?” tanya Dheera bingung. “Di apartemen lo gak bebas,” ujar Ken santai sambil melajukan mobilnya keluar dari pekarangan kamus Dheera. “Haa?” bingung Dheera. “Gak bebas mainin elo!” ujar Ken menjelaskan. Dheera yang mendengar itu diam dengan pipinya yang sudah merah seperti tomat. “Mikir apa lo?” tanya Ken saat melihat Dheera yang diam dengan pipi yang merah layaknya tomat. “Haa, apa?” tanya Dheera meminta Ken mengulang pertanyaannya. “Mikir yang enggak-enggak kan lo!” tebak Ken. “Enggak, gak ada,” ujar Dheera menolak tuduhan Ken. “Halah, ketara banget itu pipi lo merah. Pasti mikir yang aneh-aneh kan lo,” ujar Ken lagi. “Enggak, beneran deh.” “Iya gua yakin,” ujar Ken tak mau mengiyakan penolakan Dheera. Keduanya terus berdebat tentang iya tau bukan tuduhan Ken pada Dheera di sepanjang jalan sampai keduanya sampai di pekarangan rumah Ken, Ken langsung memarkirkan mobilnya dan langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan Dheera duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Personal chat, Dheeraandra Aadhira-Clareta Victory. Clareta victoria : Dhee dmana? Kok blum plg? Dheerandra aadhira : Di rmah temen Clareta victoria : Nanti plg atau nginep? Dheerandra aadhira : Blm tau nih Clareta victoria : Yaudah, gue nginep diapart gio Clareta victoria : Nanti klau balek blg biar gua balik aja Dheerandra aadhira : Iya clara. “Chat sama siapa lo?” tanya Ken yang muncul entah dari mana. “Haa?” gumam Dheera dengan raut wajah terkejutnya. Ken menaikkan alisnya, merasa curiga dengan Dheera. Curiga jika dia sedang chat dengan laki-laki lain selain dirinya. “Clara,” ujar Dheera menjawab pertanyaan Ken sebelumnya. “Kalau Clara kenapa terkejut lo?” tanya Ken menatap Dheera curiga. “Ngagetin sih, nanya tiba-tiba,” ujar Dheera jujur. Ken diam sambil memperhatikan Dheera, masih merasa curiga dengan Dheera. “Clara loh Ken, beneran," ujar Dheera lagi, paham maksud tatapan Ken padanya. Ken ngambil ponsel Dheera dan membaca chat Dheera. “Kayak anak kecil lo!” cerca Ken setelah membaca chat diantara Dheera dan Clara. “Apanya?” tanya Dheera bingung. Ken berjalan mengabaikan pertanyaan Dheera. “Mau kemana?” tanya Dheera saat melihat Ken mengambil sepatunya seperti ingin pergi. “Keluar bentar.” jawab Ken. “Ken,” panggil Dheera dengan nada manja. Ken hanya melihat Dheera dengan tangan yang terus memasang sepatunya. “Di sini aja yaa,” ujar Dheera lagi. Ken hanya diam tak menjawab, tak lama Ken berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Dheera, Ken mengecup kening Dheera lembut. Dheera memegang tangan Ken guna menahan Ken yang hendak pergi. “Sayang," panggil Dheera lagi dengan nada manja. “Bentar doang Dhee,” ujar Ken tak terbujuk dengan nada manja Dheera padanya. Dheera hanya diam, dia tau dia tak akan bisa untuk membujuk Ken. Dheera melepaskan tangannya dari Ken dan menatap Ken yang pergi keluar meninggalkan dirinya sendiri di dalam rumahnya. Dheera menghela nafas panjang sambil meratapi perginya Ken. “Ngapain coba Dheera diajak ke sini kalau dia pergi?” tanya Dheera dalam hati. === == = One lounge and bar Ken pergi ke bar milik Arga untuk bertemu dengan teman-temannya seperti biasa, itu alasannya mengapa Ken tidak membawa Dheera ikut bersamanya. Lagipula selama 2 bulan ini tidak ada yang mengetahui kedekatan mereka, begitu juga dengan Arga. Akan sangat aneh jika tiba-tiba dia membawa Dheera bersamanya. “Kenapa lo Ken diem mulu gua liat dari tadi?” tanya Darel yang tengah memperhatikan Ken dan keanehannya. Ken menoleh pada Darel yang sedari tadi sedang memperhatikannya, namun tidak menjawab apapun. “Belum dibelai dia kayaknya,” ujar Dean asal. “Anj!” kesal Ken tak terima. “Selo brother, jangan emosi,” ujar Dean sambil tersenyum pada Ken. “Nah tuh tukang belai lo datang,” ujar Arga sambil menunjuk seseorang dengan dagunya. Ken hanya diam sambil menatap seorang wanita yang tengah berjalan ke arah mereka sambil tersenyum. “Hai sayang,” sapa wanita tersebut sambil duduk di paha ken. Ken hanya diam sambil tersenyum miring pada wanita tersebut, dia adalah Lisa, wanita yang bisa disebutkan FWB atau friend with benefit Ken belakangan ini. “Dari mana aja kok baru datang sih?” tanya Lisa dengan nada manja sambil mengelus pundak Ken. “Sibuk.” Ujar Ken beralasan. Lisa menangkup pipi Ken lalu mencium bibir Ken dengan penuh nafsu, tak butuh waktu lama Ken langsung membalas ciuman Lisa. “Aku mau kamu, sekarang ya sayang.” ujar Lisa manja. “Hm.” Gumam Ken sambil mengecup gundukan kenyal milik Lisa. Lisa mendesah pelan menikmati kecupan Ken. “Gue balik.” Ujar Ken berpamitan pada ketiga temannya. “Lis yang lama belai dia,” ujar Dean. “Dia kurang belaian itu," sambung Darel. Lisa tersenyum lebar pada Dean dan Darel sambil menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan keduanya. “Sialan lo pada!” ujar Ken kesal pada kedua temannya. Ken dan Lisa keluar dari bar milik Arga untuk pergi ke hotel. === == = Setelah sampai di hotel tersebut, tanpa menunggu waktu lama Ken mencium bibir Lisa begitu juga dengan Lisa yang tak mau menunggu lama, Lisa langsung membalas ciuman Ken. Keduanya saling mencecap dan saling menikmati ciuman tersebut, ditambah tangan Ken yang bergerayang meremas tubuh bagian atas Lisa. Ken melepaskan ciumannya dengan Lisa karena ingin mengambil nafas sejenak. Perlahan ciuman Ken mulai turun ke leher Lisa. Mengisapnya kuat memberi tanda merah pada leher mulus Lisa. Saat hasrat Lisa sudah benar-benar sudah naik dan menikmati setiap ciuman dan sentuhan Ken, Ken menghentikan aktifitasnya. Lisa memandang Ken dengan tatapan bingung. “Sayang kok berhenti?” tanya Lisa menatap Ken yang terlihat sedikit gelisah. Ken diam tidak menjawab ucapan Lisa. “Lanjutin yaa.” pinta Lisa sambil mengelus tangan Ken. Ken masih diam tak menjawab. Detik selanjutnya Lisa mencoba mencium Ken, tapi Ken terus menghindar. “Sayang," panggil Lisa dengan wajah bingung. Ken menghela nafas panjang dan menatap Lisa. “Gue balik," pamit Ken sambil berdiri. “Sayang aku udah naik loh,” Ujar Lisa tak terima Ken yang hendak pergi begitu saja. “Gak urusan gue kan?” ujar Ken sebelum akhirnya pergi meninggalkan Lisa yang terdiam sambil menatap Ken yang pergi begitu saja. === == = Ken langsung melajukan mobilnya ke arah rumahnya setelah keluar dari hotel di mana dia dan Lisa sebelumnya. Ken tidak melanjutkan aktifitasnya dengan Lisa karna selama dia mencium dan membelai Lisa, Ken selalu terbayang wajah polos Dheera. Ken menghela nafas panjang saat masuk ke dalam kamarnya dan menatap Dheera yang tidur dengan sangat tenang. Dheera tidur dengan menggunakan kemeja putih milik Ken. “Gue gak tenang main di sana, dia malah enak tidur di sini,” batin Ken sambil berjalan ke arah Dheera. Ken duduk sembari merapikan rambut Dheera yang menutupi wajah polosnya lalu mencium kening Dheera lama. Dheera menggeliat dari tidurnya sambil membuka matanya dan menatap Ken. “Eh kebangun?” tanya Ken tanpa rasa bersalah telah membangunkan bayi nya itu. “Kamu baru pulang?” tanya Dheera sembari duduk dengan tangan yang mengucek matanya. Ken bergumam pelan. Dheera yang masih merasa mengantuk menjatuhkan badannya di d**a Ken. Dheera mengernyit heran saat hidungnya mencium bau asing di badan Ken. “Kok bau parfum cewek ya?” tanya Dheera dalam hati. “Katanya tadi perginya bentar.” Ujar Dheera sambil memanyunkan bibirnya. “Kelepasan tadi,” ujar Ken. “Apanya?” tanya Dheera bingung. “Napsu gue kelepasan,” batin Ken. “Waktu,” ujar Ken sambil berdiri dari duduknya. “Mau kemana lagi?” tanya Dheera sambil menatap Ken. “Mandi,” ujar Ken sambil membuka bajunya di hadapan Dheera. Dheera diam tak menanggapi ucapan Ken. “Mau ikut?” tanya Ken lagi. “Enggak, Dheera udah mandi.” Ujar Dheera menolak. “Bisa mandi lagi.” “Gak mau.” “Ayolah, gue mau.” ujar Ken membujuk Dheera. “Gak mau Ken, dingin mandi malam," ujar Dheera sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Kan ada gue.” “Gak mau Ken.” Tolak Dheera kekeh. Ken pergi ke kamar mandi, tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Dheera. Dheera menatap Ken sambil memanyunkan bibirnya. “Marah ya dia?” tanya Dheera sambil menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. “Tau ahh, mending tidur aja,” sambung Dheera malam ambil pusing akan tingkah Ken dan memilih untuk tidur. Setelah selesai mandi Ken merebahkan badannya di sebelah Dheera. Ken menarik Dheera agar mendekat padanya dan juga menghadap dirinya. Dheera yang sedang tertidur sampai tersentak karna ulah Ken tersebut. “Iihhh Ken.” Kesal Dheera dengan nada manja. “Kenapa?!” tanya Ken dingin. “Tersentak Dheera kamu tarik kayak gitu,” ujar Dheera sambil memanyunkan bibirnya. “Siapa suruh memunggungi!” ujar Ken membuat Dheera mengendus kesal dengan wajah cemberutnya. Ken memeluk tubuh Dheera erat dengan mata tertutup. Ken sangat malas untuk berdebat dengan Dheera yang kini tengah menatapnya dengan wajah manyunnya. Beberapa menit berlalu, namun Dheera masih setia menatap Ken yang sudah menutup mata untuk tidur terlebih dahulu. “Tidur!” perintah Ken yang tau jika Dheera masih menatapnya. Bukannya menuruti perintah Ken untuk menutup mata dan tidur, Dheera malah mengecup bibir Ken lembut. Ken membuka matanya dan menatap Dheera, merasa sedikit asing dengan hal yang dilakukan Dheera. Dia biasa melakukan hal itu, namun dia tak biasa melakukan hal itu dengan Dheera terlebih Dheera yang memulai menciumnya. “Gak usah ganjen lo,” ujar Ken dengan nada dinginnya. Dheera mengulum bibirnya sambil merapatkan tubuhnya pada Ken dan mempererat pelukannya. Setelahnya Ken hanya tersenyum miring melihat yang dilakukan Dheera padanya. Detik selanjutnya Ken mengecup kening Dheera cukup lama dan setelahnya keduanya memejamkan mata dan masuk ke dalam dunia mimpi mereka masing-masing. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD