Chapter 9

2538 Words
Keesokan harinya Dheera bangun lebih dahulu, dia bahkan sudah mandi dan sudah rapi. Berbanding terbalik dengan Dheera, Ken si tuan rumah masih tidur dengan nyenyak. Dheera menatap Ken lama memikirkan tentang apa yang mengganggunya kemarin malam, yaitu bau parfum cewek yang tercium dari Ken saat pulang tadi malam. Dheera menghela nafas panjang, Dheera tau jika dia tak akan mendapatkan jawaban atas apa yang ditanyanya itu dan bertanya pada Ken hanya akan mempersulit segalanya. Setelah berdebat dengan pikirannya, Dheera menggoyangkan Ken guna membangunkan pria yang tengah tidur dengan sangat nyenyak itu. “Ken.” Panggil Dheera lembut. Ken diam tidak memberikan respon pada panggilan yang dilayangkan Dheera. “Ken bangun.” panggil Dheera lagi sambil menggoyangkan tubuh Ken. Ken masih diam tak bereaksi. “Sayang.” Panggil Dheera lagi. Ken bergumam pelan. “Bangun.” Pinta Dheera. “Nanti.” Jawab Ken singkat. “Sekarang.” Ujar Dheera manja. “Ngantuk loh Dhee,” balas Ken mengeluh dengan mata yang masih tertutup rapat. “Aku mau sarapan.” Ujar Dheera pelan. Ken kembali diam dan tak menggubris Dheera. “Sayang.” Panggil Dheera dengan nada manja. “Aarrg! Ganggu lo sumpah!” kesal Ken dengan mata yang menatap tajam Dheera yang sudah memanyunkan bibirnya panjang. “Apa?!” tanya Ken dengan wajah kesal yang masih mengantuk. “Sarapan," jawab Dheera manja dengan wajah cemberutnya. Detik ini Ken menyesali keputusannya membawa Dheera ke rumahnya. Pasalnya wanita itu sangat mengganggu waktu tidurnya. Namun meski begitu Ken berdiri sembari menghela nafas kasar lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. “Ayok buruan!” ujar Ken saat keluar dari kamar mandi. Dheera menatap Ken dengan wajah cemberutnya, dia takut pada Ken akan memarahinya lagi karena sudah menganggu tidur pria itu. “Gak jadi?” tanya Ken sambil menatap kesal Dheera. “Jadi.” Ujar Dheera manja. “Buruan!” “Gak bisa lembut apa ngomongnya?” tanya Dheera dengan nada pelan, namun masih bisa terdengar oleh Ken. “Gak bisa!” kesal Ken. Dheera kembali memanyunkan bibirnya. “Astaga! Buruan Dheera sebelum mood gue hilang!” “Emang kamu lagi mood sekarang?” tanya Dheera dengan raut wajah polos. Ken menoleh pada Dheera dan menatapnya sinis, Dheera yang tak merasa bersalah hanya tersenyum menunjukkan deretan gigi rapinya pada Ken. “Dosa apa gue punya pacar kayak gini?” ujar Ken dengan wajah frustasinya. “Iihh kok gitu?" tanya Dheera tak terima. Ken hanya menatap Dheera dan berlalu pergi dari hadapan Dheera. Dheera mengendus kesal karna Ken tidak menghiraukan pertanyaannya, namun kakinya berjalan mengikuti Ken. “Dosa apa Dheera punya pacar kayak kulkas,” ujar Dheera mengikuti ucapan Ken sebelumnya. “Gua dengar Dhee!” sahut Ken sambil menatap tajam Dheera. Dheera kembali menatap Ken dengan senyum cerah memamerkan gigi rapinya. Sungguh sangat membuat Ken stress bukan? === == = Ken dan Dheera sudah berada di sebuah caffe yang tidak jauh dari rumah Ken. Setelah beberapa saat menunggu pesanannya kini Ken dan Dheera sedang duduk sambil menatap makanan mereka. Keduanya langsung menyantap makanan mereka. “Tadi kan dheera mau masak.” Ujar Dheera sambil mengunyah makanannya. “Terus Ken buka kulkas, tapi di kulkas gak ada apa-apa.” Sambung Dheera sambil menatap Ken yang berada di seberangnya. “Dhee.” Panggil Ken. “Hmm.” Gumam Dheera. “Gak usah ngoceh bisa?” tanya Ken sambil menatap Dheera. Dheera mengendus kesal, namun tidak mengindahkan ucapan Ken, Dheera kembali berbicara tentang hal yang mau di bicarakannya. “Yang, nanti ke supermarket dulu ya.” Ujar Dheera. Ken menutup matanya singkat meredam emosinya. Ken masih mengantuk dan sangat melas untuk berbicara hal yang tidak penting. “Ngapain?!” tanya Ken kesal karna wanita yang berstatus pacarnya itu terus mengoceh panjang lebar. “Mau ngisi kulkas kamu.” Jawab Dheera sambil tersenyum lebar. “Gak usah.” Tolak Ken tegas. “Ihh, kenapa? Kan bagus yang, dari pada makan diluar terus.” Ujar Dheera. “Gak kerjaan gue msak dhee.” Ujar Ken menahan kekesalannya untuk kesekian kalinya. “Kan aku yang masak.” Ujar dheera. “Kayak lo tinggal disitu aja!” kesal Ken. Dheera diam sambil berfikir akan omongan Ken. “Oh iya ya.” Ujar Dheera. “Bego nya dikurangi ya.” Ujar Ken sarkas. “Apa Dheera tinggal dirumah kamu aja?” tanya Dheera asal. Ken mengalihkan pandangannya pada dheera dan melihat wanita itu lama, lalu bibirnya tersneyum miring. “Tinggal sama gue aja yaa.” Ajak Ken dengan nada yang menggoda Dheera. “Dheera bercanda tadi.” Ujar Dheera gelagapan karna respon Ken akan ucapannya. “Tapi gua enggak.” Ujar Ken. “Mana dibolehin clara.” Ujar Dheera menanggapi ucapan Ken serius. “Jadi kalau clara ngizinin lo mau?” tanya Ken. Dheera menggelengkan kepalanya. Ken menaikkan alisnya, bukankah wanita ini yang bicara tentang tinggal di urmahnya mengapa dia yang menarik ucapannya lagi. “Kamu kerjaannya pergi terus, nanti Dheera ditinggalin.” Ujar Dheera sambil menatap polos Ken. “Kalau di rumah ada mainan ngpain gua pergi.” Ujar Ken asal. “Mainan?” tanay Dheera bingung. “Hm.” “Apa?” tanya Dheera. “Elo kan.” Ujar Ken sambil menunjuk Dheera dengan dagunya. “Kok.” “Gue jadi pengen mainin sakarang. Boleh gak?” tanya Ken menggoda Dheera. Dheera membelalakkan matanya mengerti apa yang dimaksud oleh Ken. “Gak!” tolak Dheera cepat. “Boleh ya.” Ujar Ken sambil tersenyum genit pada Dheera. “Gak mau Ken.” Tolak Dheera dengan nada manja. “Mauin lah.” Ujar Ken, tidak mau berhenti disini. “Ihh ken.” Ujar Dheera manja. “Apa sayang?” tanya Ken tak berhenti menggoda Dheera. “Jangan godain dheera gitu ihhh>” ujar Dheera manja dengan pipinya yang sudah merah layaknya tomat. “Gak godain sayang.” Ujar Ken semakin menggoda Dheera. “Ihhh ken malu.” Ujar Dheera sambil menutup wajahnya karna malu akan godaan yang diberi pleh Ken padanya. Setelah mereka menikmati sarapan dan sesekali melempar canda gurau dan sesekali Ken kembali menggoda Dheera. Selesai makan ken mengantar dheera kembali apart nya dan diriny akembali ke rumahnya. === == = One lounge and bar. Malamnya, Ken pergi ke bar milik Arga seperti biasa, disana sudah ada Darel, Dean dan Arga tentunya. “Yang lain mana?” tanya Dean sedikit berteriak. “Lagi dijalan.” Ujar Darel menjawab pertanyaan Dean. “Jam segini?” tanya Arga. Ken hanya diam, pikirannya sedang bercabang saat ini. “Kelamaan bujuk dheera katanya.” Ujar Dean menjawab pertanyaan Arga. Ken yang semula tidak perduli dengan obrolan ketiga temannya kini menoleh pada Dean dengan rasa penasaran yang tinggi. “Kenapa dheera susah bener diajak kesini?” tanya Darel bingung. “Dia gak suka tempat kayak gini. Tau sendiri tu anak polosnya gimana.” Jawab Arga. “Kalau dia dapat cowok kayak si ken gimana ya?” tanya Dean asal. Arga dan Darel menoleh pada Ken sambil memikirkan jawaban yang tepat. “Kenapa kalau dapat cowok kayak gue?” tanya Ken tak terima pernyataan Dean. “Ternodai kepolosannya ken.” Ujar Dean jujur. “Kenapa gue?” tanya nya lagi masih tak terima. “Kerjaan lo one stand night. Lah dia ciuman aja gak pernah. Kalau gak lo cium waktu itu.” Ujar Darel menjelaskan secara singkat. Ken menatap kedua temannya itu dnegan tatapan kesal. “Gak tau aja lo dia udh gue tandai!” kesal Ken dalam hati. “Hai sayang.” Sapa Lisa sambil duduk di paha ken. Ken hanya diam tak menjawab. “Kamu kemaren kemana? Padahal kan aku udah naik, kamu malah ninggalin.” Ujar Lisa dengan nada manja. “Dheera dheera, rasa lo ngotak trus di gue.” Batin Ken geram. “Lo balik sebelum selesai ken?” tanya Darel terkejut. “Hm.” Gumam Ken. “Lagi gak mood gua.” Ujar Ken beralasan. Tangan lisa menjelajahi d**a ken dan meneruskan ke perut. Mendekatkan bibirnya pada leher Ken dan membuat kissamark disana. “Sekarang yaa, gue pengen ngerasai lo.” Ujar Lisa berbisik di telinga ken lalu menciumnya. Bibir Ken tersenyum mencetak smirk sambil meremas gundukan kenyal milik Lisa yang sudah lama tidak di nikmati Ken. “Lo mau disni?” tanya Lisa sambil mendesah nikmat. Ken hanya diam dan terus meremas milik Lisa. “Dihh si ken. Mesti disini banget ya lo ninaninu nya?” sambar Bella yang baru saja samoai di table Ken dan yang lain. Dheera membulatkan matanya saat melihat Ken yang sedang memangku perempuan lain di pangkuannya. Ini adalah hal yang di takuti pleh Dhera. Ken yang pergi dengan wanita lain setelah dia memberikan miliknya yang paling berharga. Dheera mengalihkan wajahnya dari pemandangan yang menyakitkannya, dalam diam Dheera menahan air matanya yang hendak mengalir keluar. “Hai dhee, susah ya bujuk lo kesini.” Ujar Dean menyapa Dheera. Dheera hanya tersenyum canggung. Mendengar nama Dheera disebut Ken membelalakkan matanya kaget. Spontan Ken mendorong Lisa yang sedang menciumnya. “Anj! Ada Dheera lagi!” batin Ken memaki dirinya. “Sayang.” Panggil Lisa bingung. Dheera menatap Ken setelah mendengar kegaduhan disebelah sana. “sayang?” tanya Dheera dalam hati. Ken melihat Lisa dan mengode meminta Lisa untuk pergi. Dengan perasaan kesal Lisa pergi meninggalkan Ken dan teman-temannya. Dia tidak bisa memaksa Ken meski dia sedang naik-naiknya. Ken menoleh pada Dheera ingin melihat bagaimana reaksi Dheera akan hal yang dilihatnya. Dheera tersenyum pada Ken, seakan tidak terjadi apa-apa di antara mereka yang mengharuskan Dheera untuk tidak cemburu akan apa yang dilihatnya barusan. “Marah ni anak pasti, sialan si lisa!” kesal Ken dalam hati sambil terus menatap senyum Dheera yang di bencinya saat ini. Ken yang merasa bersalah, langsung membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Dheera dan menjelaskan hal yang di lihatnya beberapa menit yang lalu. Personal Chat, Keenan Aldric – Dheerandra Aadhira. Keenan aldric : Dhee Keenan aldric : Dhee Dheera hanya membaca pesan dari Ken tanpa menjawabnya. Keenan aldric : Dheera jangan ngeread aja Keenan aldric : Ayok ngomong, dengerin gue dulu Dheera kembali hanya membaca chat tersebut. Keenan aldric : Dhee Lagi-lagi Dheera hanya membaca pesan tersebut. “Anj!” bentak Ken kesal. Dheera menatap Ken kaget, bukan hanya Dheera, Arga dan yang lain juga kaget dengan bentakkan Ken yang tiba-tiba. “Kenapa lo?” tanya Arga sambil menatap bingung Ken. Ken berdiri dari duduknya dan pergi keluar tanpa pamit dengan siapapun yang ada di tabel itu. “Kok dia yang marah?” tanya Dheera sedih dalam hati. “Kenapa tu bocah?” tanya Arga dengan mata yang menoleh Dheera dari ekor matanya. Darel menggedikkan bahunya singkat. “Lagi gak mood kali.” Ujar Darel. “Dheera.” Panggil Clara. “Iya.” Jawab Dheera sambil menoleh pada Clara. “Kenapa?” tanya Clara. “Ngantuk.” Ujar dheera berbohong. “Bentar lagi yaa.” Ujar Clara. Dheera hanya menganggukkan kepalanya. Personal Chat, Keenan Aldric – Dheerandra Aadhira. Keenan aldric : Dheera Keenan aldric : Jangan diread aja! Bales! Dheerandra aadhira : Knapa? Keenan aldric : Keluar! Keenan aldric : Gue tunggu dimbil Dheerandra aadhira : Buat apa? Keenan aldric : Buruan! G dtang 10 mnit lagi gue seret lo! Dengan berat hati dheera keluar dari bar ke parkiran di mana mobil Ken terparkir. Dheera menatap mobil Ken lama menimbang haruskah dia pergi ke mobil itu atau pergi dari situ tanpa menemui Ken. Dheera mengehla nafas panjang. “Dheera dilarang dekat sama cwok lain. Tapi dia nya kayak gitu ke cewek.” Batin Dheera tertahan. Dheera berjalan menuju mobil Ken dan masuk. Setelah masuk Dheera hanya melihat keluar jendela tanpa menoleh pada Ken sama sekali. “Dhee.” Panggil Ken dengan nada lembut. Dheera hanya diam tak menjawab. Ken menarik tangan Dheera dan menggenggamnya, namun Dheera menarik kembali tangannya. Ken menatap kesal Dheera namun berusaha untuk menahannya. “Dengerin gue dulu Dhee.” Ujar Ken. Dheera diam sambil menahan tangisnya. “Yang lo liat tadi gak kayak yang lo pikirin. Gue gak ada apa-apa sama cwek tadi.” Ujar Ken menjelaskan. Dheera masih diam tanpa memperdulikan Ken yang menjelaskan situasi tadi pada Dheera. “Dheera.” Panggil Ken. Namun Dheera masih diam tak menjawab. “Anj! Kalau gue ngomong dijawab!” bentak Ken tak bisa menahan amarahnya. Ken lebih suka jika Dheera bicara dan memukulnya ketimbang hanya diam. “Kalau ada apa-apa sama dia juga gak apa-apa kok.” Ujar Dheera buka suara. Ken menoleh pada Dheera. Wanita memang makhluk yang aneh, bicara tidak apa-apa dnegan nada yang terdengar seperti ada apa-apa. Dheera menatap Ken dengan senyum sendunya. “Dhee.” Panggil Ken dengan nada lembut. “Dheera ngantuk, bisa anterin Dheera pulang gak?” tanya Dheera. Ken hanya diam sambil menatap Dheera. Dheera tidak berbohong, wajah Dheera terlihat benar-benar sangat mengantuk. “Gak bisa?” tanya Dheera, “Yaudah Dheera pulang naik taxi aja.” Ujar Dheera namun belum juga di respon oleh Ken. “Bukain kuncinya.” Pinta Dheera pada Ken. Ken menjalankan mobilnya tanpa mengabulkan permintaan Dheera. “Dheera tau kamu mau berduaan sama yang tadi, Dheera pulang naik taxi aja.” Ujar Dheera lagi. “Jangan pancing marah gue dhee!” ujar Ken mengultimatum Dheera. “Dheera pancing apa?” ujar Dheera polos. “Dheera!” bentak Ken. Dheera tersentak kaget mendengar bentakan Ken. Mata Dheera kembali penuh dengan air mata yang sudah hendak turun. Ken menoleh pada Dheera dan menghela nafas panjang melihat Dheera yang sudah menutup wajahnya dengan bahu yang bergetar. Ken menepikan mobilnya dan menatap Dheera. Sesekali terdengar isakan dari Dheera yang masih menutup wajahnya dengan tangan kecilnya. “Dhee.” Panggil Ken sambil megang tangan dheera. Dheera tidak menjawabnya dan masih terisak sedih. Ken menarik dheera ke dalam pelukan nya dan mengelus punggung Dheera lembut. “Maaf ya.” Ujar Ken lembut. Dheera masih dengan air matanya dan isak tangisnya. “Sayang.” Panggil Ken. Dheera menangis semakin kencang membuat Ken bingung dimana letak salahnya. “Dhee uda yaa, maaf.” Ujar Ken. Dheera masih menangis. Ken melepaskan pelukannya dan memundurkan jok mobilnya dan menarik Dheera untuk naik ke pangkuannya dan memeluk Dheera dengan mengelus punggung Dheera lembut. “Dheera gak boleh dekat sama cowok lain selain kamu. Tapi kamu kayak gitu sama cewek lain selain Dheera.” Ujar Dheera dengan nada terisak. “Maaf.” Ujar Ken. “Kamu yang dekat sama cewek lain tapi Dheera yang dimarahin.” Ujar Dheera lagi “Maaf.” Ujar Ken lagi. Dheera tidak menjawab ucapan Ken dan terus terisak. “Berhenti ya nangis nya.” Ujar Ken. “Gak bisa.” Ujar Dheera terisak. Ken mencium bibir dheera singkat. Dheera hanya diam sambil menatap Ken. “Gak dibalas nih?” tanya Ken sambil mengelus pipi Dheera. “Masih mau nangis.” Ujar Dheera manja. “Udah lah nangis nya!” kesal Ken. “Kan dimarahin lagi.” Rengek Dheera. Ken menggaruk garuk kepala bingung harus berbuat apa. “Gak di marah Dhee.” Ujar Ken lembut. Dheera menatap Ken sambil sesengukan. Ken hanya diam dengan mata yang menatap Dheera dan mengelus punggung Dheera. “Ini apa?” tanya Dheera sambil menunjuk tanda merah yang ada dileher Ken. “Sialan si lisa bikin kissmark lagi!” kesal Ken dalam hati. Dheera menatap Ken dengan wajah sedih mengingat tanda merah ini pernah ada di lehernya saat mereka berhubungan waktu itu. “Kan!” ujar Dheera kembali menangis. Ken menghela nafas berat, sepertinya dia harus mendengarkan tangisan Dheera lebih lama. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD