Chapter 6

1240 Words
“Ken, jangan yaa, tolong.” Ujar Dheera dengan nada yang sangat memelas. Ken menatap Dheera dan tersenyum miring lalu menggelengkan kepalanya. “Gua gak bisa berhenti kali ini, jadi berhenti minta tolong sama gua Dhee,” ujar Ken dengan tangan yang kembali berada di tubuh Dheera. “Gua akan main sama yang ini sebentar, lo nikmati aja, sebelum gua masuk ke inti.” Ujar Ken meremas bagian tubuh atas Dheera. Seperti yang di ucapannya, Ken benar-benar bermain di bagian tubuh atas Dheera, meremasnya dengan gemas, memilin dan menggigitnya setelah membuka penutup yang menutupi hal yang kini sangat disukainya. Setelah puas dengan bagian atas Dheera, Ken turun ke bawah, mengecup perut datar Dheera dan semakin turun ke bawah ke bagian sensitif Dheera yang masih berbalut celana pendek. “Ken jangan.” Ujar Dheera setelah mendesah pelan. “Jangan? Setelah lo mendesah gitu lo minta gua berhenti?” tanya Ken sambil membuka celana pendek Dheera. Dheera meneguk saliva-nya kasar saat Ken mengelus bagian sensitifnya lembut. Dia berusaha keras untuk tidak menikmati perlakuan Ken padanya namun hal itu sangat susah. “Gua mau ini, dan lo gak bisa untuk berhenti di sini.”ujar Ken dengan penuh penekanan. Tubuh Dheera menggelinjang hebat ketika tangan Ken masuk ke dalam kain yang membalut bagian sensitifnya. Dheera menahan tangan Ken yang masih bertengger di bagian sensitifnya wajah memelas. “Just enjoy it.” Ujar Ken mengelus bagian sensitif Dheera. “Kennhh.” Panggil Dheera sembari mendesah pelan. Bibir Ken mencetak smirk mendengar desahan Dheera yang terdengar sangat merdu di telinga Dheera. Tubuh Dheera kembali tersentak saat Ken jari telunjuk dan jari tengah Ken bermain di titik sensitif Dheera. Belum selesai Dheera terkejut dengan perlakuan Ken, Dheera kembali tersentak saat lidah Ken ikut bermain disana. Bianca tidak bisa menahan desahannya akibat seragan bertubi yang dilakukan oleh Ken pada dirinya. Desahan Dheera semakin lama semakin banyak terdengar, Ken benar-benar tak mau membiarkan Dheera beristirahat saat Dheera mendapat pelepasannya. Ken menambah satu jarinya lagi kedalam sana, membuat Bianca meram melek akan hal tersebut. Ken benar-benar menarik keluar semua gairah dan nafsu dari dalam diri Bianca. Desahan Dheera terus terdengar sampai Dheera mendapatkan pelepasannya untuk yang kedua kalinya. Ken mengisap kuat cairan o*****e Dheera sebelum mengangkat wajahnya dan menatap Bianca yang terkulai lemas akibat ulahnya. Dheera menatap Ken yang kini tengah menatapnya. “Ken udah ya.” Ujar Dheera memohon. Ken menggelengkan kepalanya dengan smirk yang tercetak di bibirnya. “Ini baru pemnasan Dheera, kita belum masuk ke inti.” Ujar Ken lembut. “Ken, tolong.” Ken berdiri dan membuka pakaiannya dengan mata yang menatap tubuh Dheera yang polos tanpa sehelai bennag. Dheera yang menyadari ke mana arah mata Ken, mencoba menutupi bagian tersebut. “Gua udah nikmati itu Dheera, jadi lo gak perlu tutupin kayak gitu.” Ujar Ken sembari tertawa renyah. Mendengar ucapan Ken, air mata Dheera kembali turun membasahi pipi putihnya. Dheera merasa sudah dilecehkan berkali-kai hari ini oleh Ken. Belum sempat Dheera melakukan hal yang seharusnya dia lakukan, Ken sudah kembali menaiki tubuh Dheera dengan tubuh polosnya. Ken menghapus air mata yang berada di pipi Dheera. “Gak perlu nangis Dhee, lo cuman perlu nikamtin kayak yang lo lakuin sebelumnya.” Ujar Ken remeh. Ken mendekatkan wajahnya pada Dheera dan kembali mencium bibir Dheera. Ken menggigit bibir Dheera karna tak kunjung mendapatkan balasan dari Dheera. Mau tak mau Dheera membalas ciuman tersebut. Perlahan ciuman Ken mulai turun ke leher jenjang Bianca. Dibawah tangan Ken memegang miliknya dan mengusapnya pada bagian sensitif Dheera. Dheera mencengkram bahu Ken kuat saat tubuhnya tersentak kaget. Perlahan tapi pasti, Ken mulai memasukkan miliknya pada milik Dheera. Dheera mencengkram punggung Ken kuat. “Ken jangan, sakit.” Ujar Dheera dengan air mata yang keluar akibat menahan sakit. Enggan menuruti ucapan Dheera, Ken meraup bibir Dheera saat dirinya mendorong miliknya masuk. Ken menarik keluar kejantanannya dan memasukkannya kembali beberapa kali. Sampai akhirnya Dheera memekik saat milik Ken menerobos masuk kedalam miliknya. Ken tersenyum saat merasa merobek sesuatu didalam sana. Ken diam sejenak tidak langsung menggerakkan benda pusakanya didalam sana. Ini yang pertama kali bagi Dheera, Ken ingin membiarkan milik Dheera terbiasa dengan miliknya terlebih dahulu. Dheera memejamkan matanya kuat dan menggigit bibir bawahnya kuat. Rasanya sangat sakit saat milik Ken menerobos masuk kedalam miliknya. Dalam diamnya, air matanya menetes karna menahan sakit. Ken mengecup mata, hidung dan bibir Dheera, mencoba mengalihkan perhatiannya pada rasa sakit nya. Ketika Dheera mulai hanyut dalam ciumannya. Ken mulai menggerakkan pinggangnya perlahan, Dheera berdesis nyeri. Ken menggerakkan pinggangnya pelan, lalu semakin lama semakin cepat dan menuntun. Perlahan-lahan Dheera mulai terbiasa, desis sakit yang keluar dari bibirnya mulai berubah menjadi desahan nikmat. Dheera memeluk erat punggung Ken, membiarkan Ken memompanya dengan keras dan menuntun. Ken benar-benar merasa sangat bahagia, bagaimana tidak Ken berhasil mendapatkan hal yang diinginkannya yaitu membuat Dheera mendesah nikmat dibawah kuasanya. Ken terus memompa Dheera dengan bersemangat, Dheera tentu saja menikmatinya. Sampai akhirnya Dheera merasa pelepasannya sudah hampir sampai, namun tidak dengan Ken. Dheera menatap Ken dan menahan d**a Ken pelan. "Ken.. berhenti.." Ken tidak mengindahkan ucapan Dheera, dirinya masih terus menggempur Dheera dengan keras. Ken menatap Dheera dengan dahi berkerut. "Akhh.. Dheera Akkhh Ken." Desah Dheera nikmat sambil melengkingkan tubuhnya. Membuat pa****ra nya yang sudah tegang mengacung keras menantang Ken. "Berh---Akhhh.." Ucapan Dheera berubah menjadi desahan saat tangan Ken yang meremas kuat pa****ra Dheera. Ken menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Dheera, menggigitnya kecil-kecil dan berbisik erotis ditelinga Dheera. "Keluarkan saja sayang, itu tidak masalah." ujar Ken lalu mengulum daun telinga Dheera. Dheera tidak bisa berhenti mendesah, tidak bisa dengan semua perlakuan Ken pada dirinya. Ken memberikan serangan nikmat yang beruntun pada Dheera. Selain karna miliknya yang tidak berhenti bergerak kuat memompanya, tangan Ken tidak berhenti bergerak meremas pa****ra Dheera dan ditambah bibirnya yang memberikan kecupan bahkan gigitan kecil pada lehernya. Dheera menyerah, Dheera sudah tidak tahan akan ini. Dheera memeluk Ken erat, meremas kulit punggung Ken kencang saat pelepasannya tiba. Ken tersenyum puas saat Dheera meneriaki namanya saat pelepasannya, Ken merasa ini kemenangannya. Ken masih terus memompa miliknya dibawah sana, Ken terus mendorong masuk miliknya sampai menyentuh titik sensitif Dheera. Terkadang miliknya sampai keluar dan kembali masuk karna kuatnya pompaan Ken. Ken mengernyit saat ada dorongan didalam dirinya saat memompa dalam milik Dheera. Ken menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Dheera. Dirinya sudah tidak tahan lagi, milik Dheera menjepit miliknya dengan kuat. Ken semakin menambah tempo hujamannya dan akhirnya Ken menghentak kuat miliknya masuk menyentuh titik terdalam Dheera. "s**t Dheera Ahhh." Ken mengeram nikmat, Ken menekan miliknya semakin dalam dan menyemburkan cairannya bergabung dengan cairan o*****e Dheera. Saling berbaur saling memberi kehangatan. Ken menaikkan wajahnya dan menatap wajah Dheera. Iris mata Ken bertemu dengan iris coklat Dheera. Tanpa sadar bibirnya tersenyum menatap Dheera. Ken mendekatkan wajahnya pada bibir Dheera, kembali melumat bibir ranum Dheera. Ken menggerakkan tubuhnya perlahan, menarik keluar miliknya. Terasa sangat lengket namun sangat nikmat. Dheera melepaskan ciumannya dan melenguh saat Ken menarik keluar miliknya. Ken tersenyum menatap Dheera yang masih dibawah kuasanya. Dengan lembut Ken mengusap keringat yang ada pada dahi Dheera. "Lo bisa hubungin gua kalau terjadi sesuatu sama lo setelah malam ini. Gua gaka akan kabur." Ujar Ken dengan wajah datar. Dheera yang telah kembali pada kesadarannya hanya diam. Jika tadi Dheera sangat menikmati setiap sentuhan yang diberi Ken untuknya. Kini dia merasa jijik pada Ken yang menyentuhnya dengan begtu liarnya. Ken berguling kesebelah Dheera dan memeluk wanita itu sembari menaikkan selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Dalam diamnya Dheera mulai menangisi apa yang terjadi pada dirinya sebelumnya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD