Ken dan teman-temannya yang lain sudah kembali ke Villa di mana mereka menginap sebelumnya. Ken bersama Darel, Arga dan Dean sedang duduk di ruang tamu sembari bermain ps. Clara dan Bella sedang berada di dapur untuk membuatkan keempat pria itu makanan dan minuman. Sedangkan Dheera tidak berada antara teman-temannya, dia sedang berada di kamarnya.
“Btw, si Dheera mana ya? Gua gak liat dia dari tadi,” tanya Dean membuka percakapan.
“Gak tau, gua juga gak ada lihat dia sejak pulang dari pantai tadi.” Jawab Darel.
Arga menoleh pada Ken sekilas, pria dengan cover dingin pada dirinya itu terlihat sangat menyimak obrolan. Arga menebak jika Ken sama penasarannya dengan Dean akan keberadaan Dheera.
“Palingan Dheera lagi di kamarnya, tau sendiri kan si Dheera paling gak suka kalau ngumpul sama lo lo pada yang bau alkohol.” Ujar Arga dengan mata yang melirik Ken dari ekor matanya.
“Iya juga ya,” ujar Dean sembari menganggukkan kepalanya singkat. “Tapi gua kasihan deh sama Dheera.” Sambungnya lagi.
“Kasihan kenapa?” tanya Arga dengan kedua alis yang menyatu.
“Bisa-bisanya dia punya teman kayak Clara sama Bella, terus harus gabung sama kalian yang doyan alkohol lagi. Apalagi yang doyan nina-ninu kayak Ken," ujar Dean dengan mata yang melirik Ken.
“Sialan! Ngapain bawa-bawa gua lo!” kesal Ken tidak terima namanya dibawa-bawa.
Dean hanya tertawa renyah sambil mengangkat dua jarinya membentuk sign peace pada Ken. Ken menatap Dean dengan tatapan tajam seperti ingin menguliti Dean hidup-hidup.
“Tapi bener juga si yan, kasihan Dheera ya. Mana dia harus sekamar sama Ken lagi.” Ujar Darel seperti tidak mengerti situasi.
“Udah-udah gak usah bahas Dheera lagi, makin kasihan gua sama dia karena dibahas sama kalian bertiga.” Ujar Arga setelahnya.
Ken, Darel dan Dean melemparkan tatapan tajam pada Arga. Namun Arga memilih mengabaikan hal terebut dan kembali fokus pada layar televisi.
Hari semakin malam, Ken dan kelima orang temannya masih berada di ruang tamu. Karna tak kunjung melihat Dheera keluar dari kamar dan bergabung dengan yang lain, Ken memilih untuk masuk ke kamar dan memastikan keberadaan wanita yang mukanya sangat mengganggu pikiran dan kenyamanannya.
Dheera sedang tidur dengan selimut yang tersingkap dari tubuhnya saat Ken masuk ke dalam kamar di mana keduanya tidur. Wanita itu terlihat sangat kepanasan karna pendingin ruangan terlihat tidak menyala.
Ken berdecak sebal melihat pakaian yang sedang digunakan Dheera, kaos yang sangat ketat membentuk tubuh atasnya dan celana pendek yang benar-benar memancing hasratnya yang sudah berusaha diredamnya kemarin malam.
“Lo benar-benar mancing gua Dheera,” Kesal Ken dengan nada pelan yang berat.
Ken berdiri dengan memandangi tubuh putih mulus Dheera dengan tatapan penuh nafsu cukup lama. Mencoba menimbang akan dilakukannya wanita yang ada di depannya ini. Memangsanya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya atau kembali menahan hasratnya seperti sebelumnya.
“Kali ini bukan gua yang mancing lo Dheera, lo yang mancing hasrat gua.” Ujar Ken dengan mata yang masih memperhatikan kaki mulus Dheera.
Ken berjalan ke arah Dheera dengan tatapan mata gelap akan napsu. Ken berjalan mendekat pada Dheera sembari mengelus kaki mulus Dheera dengan jari telunjuknya. Dheera menggelinjang kaget saat jari Ken menyentuh bagian sensitifnya. Namun kedua matanya masih tertutup rapat, rasa kantuk masih menguasai dirinya.
Ken tersenyum miring, bagaimana bisa wanita di depannya memilih untuk berada di dalam rasa kantuknya disaat ada predator yang siap memangsanya. Jari telunjuk Ken berjalan dan menyentuh bagian atas tubuh Dheera, dengan gemas Ken meremas benda itu.
Bagai mendapat serangan fajar, Dheera membuka matanya lebar dan menghalau rasa kantuknya. Manik mata Dheera terbelalak lebar ketika matanya tak sengaja bertemu dengan manik mata Ken yang gelap penuh nafsu.
“Ken ngapain di depan Dheera?” tanya Dheera dengan nada panik.
“Menurut lo?” tanya Ken dengan jari telunjuk yang kembali bergerak membelai setiap inchi tubuh Dheera.
“Ken," tegur Dheera dengan nada tertahan dan berusaha menepis tangan Ken yang terus membelainya.
“Lo benar-benar mancing gua Dheera," ujar Ken menatap Dheera.
“Dheera mancing apa? Dheera gak mancing Ken kok," ujar Dheera takut.
“Apa maksud lo pake baju yang nyetak bentuk tubuh lo gini?” tanya Ken sembari membelai bagian atas tubuh Dheera dengan gerakan yang lembut.
Dheera diam, otak nya memerintah untuk menepis tangan Ken yang membelai bagian atas tubuhnya. Namun tangannya sangat takut melakukan hal itu, Dheera menatap Ken memohon.
“Apa maksud lo pake celana pendek kayak gini kalau bukan mau mancing nafsu gua haa?” tanya Ken dengan tangan yang menyentuh bagian sensitif Dheera.
Spontan Dheera menyentuh tangan Ken menahan perlakuan ken agar tidak berlanjut jauh. “Ken jangan,” ujar Dheera takut.
“Jangan apa hmm?” tanya Ken dengan nada yang lembut, namun kelembutan yang keluar dari bibir Ken tidak membuat Dheera nyaman akan kehadiran Ken, hal tersebut malah membuat Dheera bergedik ngeri.
“Ken," panggil Dheera memelas sembari menggelengkan kepalanya.
“Lo yang mancing gua Dheera, jadi lo harus tanggung jawab,” ujar Ken dengan nada yang lembut namun muka datar dan tatapan penuh nafsu.
Dheera menggelengkan kepalanya kuat saat Ken menggenggam kedua lengan Dheera dan menaikkan kedua tangan tersebut ke atas kepala Dheera sembari menaiki tubuh Dheera.
“Ken, tolong jangan. Dheera pake baju ini bukan buat mancing Ken. Dheera gak punya baju lagi buat di pakai hari ini.” Ujar Dheera memelas pada Ken.
Mereka akan pulang besok jadi Dheera memang tidak membawa baju banyak dan sangat pas-pasan terlebih sialnya Clara memasukkan sepasang baju yang kekecilan ini untuk dirinya. Dengan terpaksa Dheera memakai pakaian kekecilan itu malam ini.
“Whatever. Gua gak perduli lo mau bilang apa, tapi yang jelas lo udah mancing gua dengan pakai ini. Dan lo harus bertanggung jawab atas itu,” ujar Ken pasti.
“Tap---
“Dan!” Potong Ken tegas.
Dheera menatap Ken dengan wajah takut.
“Gua gak nerima penolakan kali ini, seperti yang gua bilang kemarin. Lo bebas kemarin tapi enggak ke depannya. Who knows hal itu saat ini," ujar Ken menatap Dheera.
"Ke----
"Gua gak akan lepasin lo lagi kayak kemarin malam Dheera," potong Ken mantap.
Pria yang biasanya berbicara singkat itu kali ini terlihat sangat vokal, Ken benar-benar sangat berbeda dengan dirinya biasanya.
Ken memajukan wajahnya mendekat pada wajah Dheera dan meraup bibir Dheera. Ken mencium Dheera dengan tangan yang masih menahan kedua tangan Dheera di atas. Cukup lama Ken mencium Dheera tanpa balasan. Ken melepaskan ciumannya dan menatap tajam Dheera yang sedang menangis menerima perlakuan dari Ken.
“Balas ciuman gua!” ujar Ken dengan kesal.
“Jangan Ken, tolong jangan.” ujar Dheera dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Gak perlu nangis Dheera, lo cuman perlu nikmatin aja.” Ujar Ken dengan nada yang kembali melembut.
Dheera menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menikmati hal yang tidak seharusnya dilakukannya, terlebih dengan lelaki yang bukanlah pacar atau suaminya.
“Berhenti nangis, balas ciuman gua dan nikmati semuanya.”perintah Ken tegas dengan tatapan mata tajam mengisyaratkan tidak menerima penolakan.
Belum sempat Dheera menolak perintah tersebut Ken sudah kembali meraup bibir Dheera dan menciumnya kasar. Dheera yang semua diam tak mau, perlahan mulai membalas ciuman tersebut. Bukan karna Dheera mau, tapi karna Dheera benar-benar takut dengan Ken.
Ciuman Ken mulai melembut ketika Dheera membalasnya, perlahan Ken mulai menuntun ciuman tersebut pada ciuman panas penuh hasrat. Dan perlahan Dheera mulai menikmati ciuman itu dan terbawa suasana.
Setelah cukup lama Ken melepaskan ciuman panasnya dengan kecupan kecil pada bibir Dheera, dan perlahan turun pada leher jenjang Dheera yang mulus.
Tangan Ken yang semula menggenggam tangan Dheera diatas kepala dilepas, tangan Ken turun pada bagian atas tubuh Dheera. Ken meremasnya sambil memberi kecupan di leher jenjang Dheera.
“Ken.” Tegur Dheera dengan nada tertahan.
Ken tidak memperdulikan panggilan Dheera dan melanjutkan kegiatannya. Perlahan tangan besar Ken masuk kedalam kaus polos Dheera dan menggapai pa***ra Dheera yang masih berbalut kain.
Dheera sekuat tenaga untuk tidak mendesah akan perlakuan Ken padanya. Namun seakan tau Ken mengangkat kepalanya dan menatap Dheera.
“Gak perlu ditahan Dheera, gua udah bilang kan nikmati aja.” Ujar Ken sembari menyingkap kaus polos Dheera keatas dan melepaskannya.
“Ken, jangan yaa, tolong.” Ujar Dheera dengan nada yang sangat memelas.
Ken tersenyum miring lalu menggelengkan kepalanya. “Gua gak bisa berhenti kali ini, jadi berhenti minta tolong sama gua.” Ujar Ken dengan tangan yang kembali berada di tubuh Dheera.
“Gua akan main sama yang ini sebentar, lo nikmati aja, sebelum gua masuk ke inti.” Ujar Ken meremas bagian tubuh atas Dheera.
Seperti yang diucapkannya, Ken benar-benar bermain dibagian tubuh atas Dheera, meremasnya dengan gemas, memilin dan menggingitnya setelah membuka penutup yang menutupi hal yang kini sangat disukainya.
Setelah puas dengan bagian atas Dheera, Ken turun kebawah, mengecup perut datar Dheera dan semakin turun kebawah ke bagian sensitif Dheera yang masih berbalut celana pendek.
“Ken jangan.” Ujar Dheera setelah medesah pelan.
“Jangan? Setelah lo mendesah gitu lo minta gua berhenti?” tanya Ken sambil membuka celana pendek Dheera. Dheera meneguk salivanya kasar saat Ken mengelus bagian sensitifnya lembut.
“Gua mau ini, dan lo gak bisa untuk berhenti disini.”ujar Ken dengan penuh penekanan.
Besambung