10

1026 Words
Mendengar Jesse berbohong, Anne memandang Jesse seraya berbisik "Novelis?" Jesse segera menyenggol kaki Anne—memberi isyarat agar Anne mengikuti sandiwaranya. "Wow, seorang Novelis!" Pria tersebut berseru. "Jadi, apa yang bisa kubantu Jes?" "Erick, kamu tahu kan mengenai kasus Saint Andrews lima tahun lalu?" kata Jesse balik bertanya. "Tentu, yang akhirnya membuat Ayahmu menjadi …"-pria bernama Erick Allen tersebut menghentikan kalimat, mecoba berhati-hati dengan ucapannya-"berbeda." "Iya. Anne ingin menulis cerita tentang Alien. Kamu tahu kan sebagian orang mengatakan kasus itu terkait dengan Alien, dan ia ingin bertanya pada Tony Elliot, sebagai bahan untuk novelnya. Bukan begitu Anne?" ucap Jesse seraya menyenggol kaki Anne sekali lagi. "Oh, ya … ya betul. Temanya Alien dan Kurcaci—aoow!" Anne menjerit kecil, ketika Jesse menginjak kakinya, "Kurcaci … ya, kamu tahu kalau Alien itu kecil seperti Kurcaci," terang Anne berusaha menutupi kebohongannya. "Oh ok, aku tidak tahu banyak mengenai Alien. Aku mungkin bisa membantumu untuk bertemu dengan Tony. Tapi syaratnya." "Syarat?" tanya Jesse. "Ya. Jes aku punya dua tiket konser Diorra Summer, kalau kamu mau menemaniku, aku akan membantumu," ucap Erick, penuh harap. "Konser? Kenapa aku harus menerima sya—aow!" Kali ini giliran Anne yang menginjak kaki Jesse. "Ok, ok. Aku setuju," ujar Jesse setuju, meski dengan nada enggan. "Well, jujur saja aku tidak mengenalnya, sehingga aku tidak tahu dia sekarang bertugas di mana. Tapi aku bisa mencarinya," terang Erick, tersenyum. "Aku ada piket malam, jadi aku akan mengabarimu kalau sudah mendapatkan kabar tentang Tony," lanjutnya, seraya berdiri. "Aku tunggu kabar darimu," kata Jesse, menyalami Erick. "Iya tentu. Dan aku tunggu kencan pertama kita," timpal Erick seraya mengedipkan mata pada Jesse. "Kalau begitu aku harus pergi. Sampai ketemu lagi Jes, Anne," ujarnya, sebelum berlalu. Setelah Erick menghilang dari pandangan, Jesse menatap tidak percaya pada Anne. "Kurcaci?! Oh please Anne, tidak bisakah kamu berbohong lebih baik daripada itu?" "Sama seperti kebohonganmu tentang profesiku. Novelis?!" timpal Anne dengan nada mengikuti suara Erick, seraya tertawa kecil dan diikuti tawa Jesse. "Jadi … itukah laki-laki yang membuatmu malas?" goda Anne, sambil senyum-senyum. Jesse menghela napas. "Itulah dia." "Karena selalu mengajakmu kencan?" "Yeah." jawab Jesse singkat. "Dia tampan, dan atletis. Jadi kenapa kamu keberatan?" "Dia juga telmi. Sama sekali bukan seleraku," jawab Jesse. "Ok. Jadi seleramu itu seorang pria jenius, berambut hitam, tampan, ketus, dan hebat di atas ranjang?" tanya Anne, kembali menggoda. Wajah Jesse bersemu merah. Ia tahu pria yang dimaksud Anne. "Ok, ayo kita pulang," ajak Jesse, sekaligus mengalihkan pembicaraan. Mereka memang baru saling mengenal, tetapi sifat keduanya yang supel, membuat keduanya seakan-akan sudah bersahabat sejak dulu. Sayangnya, kedua sahabat baru itu tak tahu bahaya yang sedang menanti mereka .... *** Sementara itu di Amerika. Di bagian utara Washington D. C. sirine meraung-raung di sepanjang jalan. Minggu dini hari yang biasanya senyap, berubah gaduh. Para petugas medis, dan kepolisian hilir mudik di dalam area yang dibatasi oleh garis polisi. Orang-orang yang berkerumun di luar garis, saling berbisik, dan berspekulasi soal kejadian di sana. Di balik kerumunan, muncul pria jangkung yang bergegas melintasi garis kuning. Pupil cokelatnya menyapu keadaan sekeliling. Cuaca bersalju, hampir membuatnya beku. Ia menarik kerah baju ke atas, dan merapatkan mantel. Ketika melewati tiga Polisi yang berjaga di depan rumah, salah seorang di antaranya memanggil, "Detektif Al Bureau, Komisaris sudah menunggumu di halaman rumah." "Yeah, aku tahu," ujar Al Bureau, tanpa menoleh. Al Bureau berjalan lurus, lalu berbelok memasuki pekarangan rumah megah. "Al, kamu terlambat," seru pria buncit, memandang kesal pada anak buahnya tersebut. "Aku terlambat bangun, karena semalam ha—" "Ya, aku tahu. Tidur dengan perempuan jalang lagi, kan?!" sergah Jim Murray, kesal. "Cara efektif mengatasi cuaca dingin, Komisaris," sahutnya, kemudian mengalihkan pandangan pada jenazah yang tertutup kain putih. "Kapan jasad Samantha Hill ditemukan?" "Satu jam lalu." "Forensik?" tanya Al. "Belum muncul hasilnya, tetapi ditemukan luka sayat pada pergelangan tangan. Dugaan sementara, penyebab kematiannya karena—" "Bunuh diri, kan?!" Al menginterupsi. Jim menatap Al sesaat, sebelum akhirnya mengedarkan pandangan ke arah jenazah. "Perilaku para artis yang depresi selalu seperti itu." Al kembali tersenyum, seraya mengambil bungkus rokok dari dalam kantung. "Ada korek?" "Bulan lalu hal yang sama terjadi pada Andrew Knox," ujar Jim, sembari memberikan korek pada Al. "Thank’s … polanya sama," tukas Al, setelah menyulut rokok di tangannya. "Well, kamu selalu berpendapat kematian para artis ini bukan karena bunuh diri." Al menarik kain putih yang menutupi jasad. Hidungnya yang mancung, dan bengkok ke bawah, mencium bau tidak sedap yang menguar dari tubuh biduan cantik tersebut. Matanya menyelisik dengan teliti satu sayatan di pergelangan tangan kiri yang menyebabkan uratnya terpotong. Setelah itu, Al meraba jasad, hingga berhenti pada paha sebelah kanan. "Tulang spiralnya patah, kakinya dipelintir. Ini jelas pembunuhan." Kemudian menekan lengan korban dengan ibu jarinya. "Kematiannya kuperkirakan kurang dari tiga jam lalu." "Dari mana kamu tahu?" "Tekanan ibu jariku pada kulitnya hanya mengubah warna sesaat, sebelum menghilang. Ini menunjukkan pembuluh kapiler belum benar-benar rusak." Jim tidak terkejut mendengarnya. Ia sangat paham kemampuan deduksi[1] anak buahnya tersebut. "Menurutmu siapa yang membunuh Samantha?" "Aku akan menemukannya," jawab Al, lantas kembali memusatkan perhatian pada Samantha Hill. Cincin bermata merah yang melingkar di telunjuk korban, menarik perhatiannya. Ukuran cincin ini terlalu kecil. Sepertinya sengaja dijejalkan ke dalam telunjuknya. Al menyelisik kerutan kulit di seputar cincin. Ia pun mengambil cincin bermata merah, lalu memasukkannya ke dalam kantung. "Al, jangan diambil—" "Aku membutuhkannya," ucap Al, seraya berlalu. "Hei, mau ke mana?" seru Jim, melihat Al menjauh. "Kantor." "Al, ada gadis baru yang kupasangkan denganmu!" "Cantik?" tanya Al dari kejauhan. Alih-alih menjawab, ia hanya menggumam, "Hanya perempuan yang kamu pikirkan. Tapi aku membutuhkanmu, Al." Al Bureau memang eksentrik. Sikapnya selalu mengikuti naluri. Itulah yang membuatnya kerap melanggar aturan. Beruntung, ia memiliki Jim Murray yang menjadi atasannya. Mungkin kalau bukan karena Jim, Al sudah tidak bekerja di Kepolisian Washington D. C.. Seringkali tindakan Al yang melampaui aturan, ditutupi oleh Jim. Bagi Jim, melindungi Al sama dengan menjaga aset Kepolisian. Kecerdasan Al tak ada bandingannya di instansi yang ia pimpin. Banyak kasus rumit yang sudah berhasil diungkapnya. Namun, kasus-kasus rumit yang terjadi belakangan, masih menjadi teka-teki yang belum berhasil diungkap—seperti kasus Andrew Knox. Namun, Jim percaya kelak Al dapat menuntaskan 'pekerjaan rumah' yang masih menjadi misteri. bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD