1
Di mana ujungnya? batin seorang pria, sambil terus berlari di lorong yang nyaris tanpa cahaya.
Napasnya terengah-engah, lututnya bergetar, pun tenaganya berangsur-angsur melemah. Namun, ia tidak dapat berhenti berlari, atau nyawanya tak selamat. Apalagi terdengar suara langkah sang pemburu yang sudah semakin dekat. Beruntung, beberapa kali timah panas meleset karena kegelapan di dalam lorong tersebut. Lain soal jika jarak keduanya semakin dekat, tentu nasib nahas yang menimpanya. Namun, raganya yang sudah senja, sebentar lagi akan mengakhiri keberuntungan pria tersebut. Sebab sang pemburu sudah berada dekat sekali di belakangnya. Mendadak terdengar suara letupan di lorong tersebut.
"Aaargh!" Pria tersebut berteriak, tatkala peluru tajam berhasil menggores lengannya cukup dalam, tetapi itu tak cukup membuatnya menyerah. Ia terus berlari, sambil menahan rasa sakit.
Sekali lagi suara tembakan kembali terdengar. "Aaaaargh!" Timah panas kembali melesat, dan kali ini berhasil menghunjam d**a di sebelah kiri—hanya meleset beberapa millimeter dari jantungnya.
Tembakan yang baru saja mendera memang tak mampu mengeliminasi asa untuk tetap bertahan, tetapi tidak demikian dengan raganya. Tenaganya semakin melemah, bahkan pandangannya mulai kabur. Kini ia bagaikan buruan di dalam sangkar. Hanya dengan satu tembakan, harapannya akan pupus.
"Selamat tinggal, Peter." Si pemburu menarik pelatuk pistol, dan membuat timah maut menghunjam kepala pria nahas tersebut.
***
Di tengah Kota London, sirine meraung-meraung di sepanjang Aldwych Street. Suasana menjelang fajar yang biasanya senyap, berubah gaduh. Para petugas medis, dan kepolisian hilir-mudik di dalam area yang dibatasi oleh police line. Demikian pula dengan suara riuh para warga yang berkerumun di sekitarnya.
Di antara kerumunan, tampak seorang pria senja berkulit gelap, berjalan tergesa melintasi police line. Sesekali jemarinya menyisir rambut keriting yang berwarna perak. Matanya yang cekung dengan kantung mata gelap, menyapu sekeliling. Alisnya yang tebal dan perak mengerut, menyiratkan betapa serius peristiwa yang terjadi di sana.
"Hei, Anda tidak boleh melewati garis ini!" teriak seorang polisi, tidak ramah.
Pria berkulit gelap itu pun mengerenyitkan dahinya yang keriput. "Aku ingin bertemu dengan Komisaris," jawabnya, yang tampak sabar menghadapi polisi tersebut.
"Tidak, Anda tidak bo—"
"Sean, biarkan dia! Dia itu,"—tiba-tiba terdengar seruan seorang pria berbadan gelap dan tegap, sambil berjalan mendekati mereka—"temanku, Eddie Hoskins."
"Well, sedang sibuk Komisaris Derek Hall?" tanya si pria tua yang bernama Eddie Hoskins, seraya menjabat tangan laki-laki besar di hadapannya.
"Seperti yang kamu lihat," jawab pria atletis bernama Derek Hall, sambil mengedarkan pandangan.
"Pembunuhan?"
Derek Hall mencerna pikirannya sejenak, sebelum akhirnya membalik badan. "Ayo ikut aku, Ed. Tapi ingat—"
"Jangan menulis tentang ini," sergah Eddie Hoskins menggenapi kalimat Derek. "Tenang, aku hanya kebetulan melewati jalan ini ketika mendengar suara sirine yang akhirnya mengundang rasa penasaranku."
Derek pun tersenyum. "Pantas. Aku tadi merasa heran, untuk apa seorang Kepala Redaksi turun langsung meliput berita."
"Darah jurnalis yang menuntunku, Kawan."
"Tentu, tentu …. Well, kita sudah sampai," ujar Derek, seraya melayangkan pandangan pada jasad yang tergeletak di sebuah jalan.
Jasad itu adalah seorang pria berusia enam puluhan. Terdapat lubang di kepala, dan beberapa bagian tubuhnya yang lain.
"Peter Ramsey, ia seorang Ilmuwan Kimia tersohor," gumam Eddie Hoskins.
"Kalau tidak salah kamu pernah mewawancarainya?"
Alih-alih menjawab, Eddie mengambil saputangan dari kantung, lalu menutup hidungnya—agar bau tidak sedap yang menguar dari tubuh jasad, tak terlalu tercium.
"Iya, aku mewawancarainya beberapa tahun lalu," tukas Eddie, "Sudah dapat motifnya?"
"Belum. Tapi kalau melihat jasadnya, ia tewas sekitar tiga jam lalu."
"Forensik?"
"Masih menunggu hasil," jawab Derek, seraya menoleh pada seorang Polisi yang baru saja datang. "Ada apa Luke?"
"Sir, Walikota baru saja tiba, dan ingin bertemu."
"Baiklah aku segera ke sana. Dan kamu, tolong tanyakan petugas forensik berapa lama lagi hasilnya."
"Baik, Sir," ucap Polisi tersebut, yang segera berlalu.
"Maaf, Ed, aku harus menemui perempuan jalang itu."
"Tidak perlu meminta maaf, justru aku yang berutang segelas anggur karena kamu telah mengizinkan untuk melihat lokasi ini," tukas Eddie.
"Akan kutagih nanti." Derek tersenyum, lantas meninggalkan tempat itu.
Eddie yang merasa penasaran, menyelisik jasad Peter dengan matanya yang sudah senja.
Peter memegangi kancing itu ..., mungkin bukan suatu kebetulan, batin Eddie.
Eddie mengedarkan pandangan ke sekeliling. Setelah yakin tidak ada yang memperhatikan, ia pun melepas kancing, memasukkannya ke dalam kantung celana, lalu bergegas pergi.
Setelah berjalan cukup jauh, Eddie mengeluarkan kancing itu. Firasatku mengatakan kancing ini memiliki petunjuk berarti.
Tatkala mata tuanya berupaya mengamati kancing itu dengan teliti, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ah, dia …, batin Eddie, lantas menerima panggilan tersebut.
"Halo, Wayne Reece ... ah, tidak menggangguku Sobat. Ada yang bisa kubantu?... anakmu sudah menemuiku di kantor tadi pagi, dan aku terkesan dengannya. Dia cekatan, dan cerdas. Apalagi dia lulusan Felician University di Amerika. Jadi mulai besok dia sudah bisa bekerja di Daily Britain ... hei, kita sahabat karib. Aneh rasanya mendengar basa-basimu ... tentu. Oh iya, besok jangan sampai kita tidak jadi ke Saint Andrews, karena aku sudah meminta izin untuk tidak masuk kerja ... bagus ... tunggu jangan ditutup dulu. Tolong sampaikan pada anakmu untuk mewawancarai Diorra Summer besok pukul sepuluh pagi … betul, ia dapat ke kantor setelah wawancara usai. Aku khawatir, jika besok pagi tidak lekas mewawancarai Diorra, akan sulit mendapatkan jadwal wawancara lagi ... ah, Saint Andrews … tenang istriku akan menyiapkan bekal untuk kita ... jangan lupa membawa A. P. E. … kalau begitu sampai besok, Sobat."
Setelah mengakhiri pembicaraan, Eddie masuk ke dalam mobil Fiat-nya yang sudah tua, kemudian mengemudi meninggalkan Aldwych Street.
***
Cahaya matahri masuk melalui jendela sebuah unit apartemen tua, yang terletak di salah satu blok Fleet Street. Pada bagian dalam, tampak perabotan-perabotan yang telah dimakan usia. Kendati demikian, penataan yang rapi dan resik, membuat ruangan terlihat nyaman. Senyaman seperti saat memandang si pemilik yang tengah duduk menghadap meja rias.
Sambil menatap bayangannya di cermin, ia menyisir rambut keemasan, panjang, dan berombak, yang dibiarkan tergerai.
"Oke, kurasa harus merapikan sedikit," gumamnya, seraya berdiri dan merapikan blus merah marun yang membungkus tubuh eloknya. Sekali lagi dipandangi bayangannya pada cermin. "Kurasa cukup untuk hari pertamaku."
Ia memang perempuan yang sangat cantik. Wajar jika banyak laki-laki yang terpesona, pun tak sedikit perempuan yang mengaguminya. Apalagi kecerdasan yang diwarisi dari ayahnya, membuat perempuan itu nyaris sempurna.
Setelah merasa semuanya telah siap, ia pun keluar dari unitnya menuju tempat parkir. Tersirat rasa antusias yang tinggi dari retina zamrud, miliknya. Dadanya pun dipenuhi gairah yang membumbung, sebab sekarang adalah hari pertamanya bekerja sebagai seorang wartawan dari harian terkemuka, Daily Britain.
Bersambung ke chapter berikutnya