2

1011 Words
Wartawan merupakan profesi yang diidamkannya sejak masih belia. Baginya, kecerdasan, keuletan, ketelitian, serta kegigihan, terangkum dalam profesi tersebut. Sebuah hal menarik, bagi perempuan mandiri dan bertalenta seperti dirinya. Selepas setengah jam berkendara, akhirnya ia tiba di depan sebuah kafe, yang merupakan tempat tujuannya. "Mudah-mudahan mereka sudah tiba," gumamnya, seraya menekan tombol pada layar ponsel. "Halo Henry … aku baru saja sampai di La Denissa Café … ok, aku segera menemuimu di dalam." Wartawati cantik tersebut, keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam kafe. Setibanya di dalam, ia mengedarkan pandangan sampai berhenti pada seorang pria buncit yang sedang melambaikan tangan. Ia pun tersenyum, lalu menghampiri pria tersebut. "Henry Jones, maaf aku datang terlambat," tukasnya, seraya menyambut jabat tangan pria bernama Henry. "Ah, tidak apa-apa. Kami juga belum lama tiba." Henry berkata, "Oh iya, ini klien-ku, Diorra Summer," ucap Henry, mengenalkan perempuan yang berada di sebelahnya. Perempuan belia itu pun tersenyum ramah. "Diorra." "Jesse Reece, dari Daily Britain." Wartawati tersebut berkata, memperkenalkan diri. Diam-diam Jesse merasa kagum pada perempuan di hadapannya. Selain berrsuara emas, Diorra juga memiliki fisik yang menarik. Walaupun demikian, penampilannya terbilang cukup sederhana untuk ukuran seorang diva kelas dunia. "Ayo duduk," ucap Henry, kemudian melambaikan tangan pada Pelayan Café, yang segera datang menghampiri. "Selamat pagi, ada yang ingin dipesan?" tanya pelayan kafe. "Apa minuman favorit di sini?" Diorra bertanya. "Saya merekomendasikan Splash Sea. Minuman tersebut sangat digemari di sini." "Oh, apa itu Splash Sea?" "Splash Sea adalah minuman yang bahannya terdiri dari jeruk, vodka—" "Ah, tidak, tidak …, aku tidak minum alkohol." Diorra menginterupsi, "Kalau jus?" "Jus stroberi kami sangat spesial, dan tidak ada di tempat lain." "Aku pesan itu saja." "Aku juga memesan yang sama," tukas Jesse. "Baik." Pelayan kafe menulis pesanan pada buku kecil. "Di mana area merokok?" Henry bertanya, tiba-tiba. "Di sebelah sana, Sir," jawab Pelayan Café, seraya menunjuk area yang dimaksud. Henry pun tersenyum. "Aku pesan kopi hitam, dan nanti tolong antarkan ke sana." Pelayan kafe mengangguk. "Mohon ditunggu pesanannya," ujar Pelayan Café, lantas bergegas pergi. "Oh, please Henry … kamu tahu ‘kan, kalau merokok tidak baik untuk kesehatan?!" "Kamu makin mirip dengan ibumu, Didi," sahut Henry, kemudian berlalu menuju area merokok. "Didi?" tanya Jesse. "Itu nama panggilanku. Well, sebelum bekerja sebagai Manajer-ku, ia pernah bekerja sebagai sekretaris ibuku," ujar Diorra, seraya melayangkan pandangan pada Henry. "Semalam saat aku meneleponnya untuk memastikan jadwal wawancara ini, ia mengatakan kalau dulu pernah bekerja pada Lucy Summer—Gubernur Arizona. Apakah ia Ibumu?" Pertanyaan Jesse tampaknya membuat Diorra merasa canggung, walau ia tak menampik dugaan tersebut. Diorra pun buru-buru mengalihkan topik pembicaraan. "Bisa kita mulai?" "Iya, tentu," jawab Jesse, kemudian menekan tombol rekam pada layar ponsel. "Ok Diorra, bagaimana kamu mengawali karier sebagai penyanyi?" "Semua bermula ketika aku berusia sepuluh tahun … terima kasih,"—kalimat Diorra tersela oleh kedatangan pelayan kafe yang membawa pesanan—"saat itu aku sering mengikuti kompetisi lokal, maupun internasional, dan memenangkan beberapa di antaranya. Rupanya prestasiku membuat Utopia Animation Studio tertarik untuk mengontrakku." "Sebagai pengisi suara dalam film animasi musikal?" "Tepat sekali. Dan ternyata film tersebut meraih kesuksesan, sehingga mereka kembali mengontrakku untuk film lain. Ini terjadi dari tahun ke tahun, sampai akhirnya sebuah label besar—iGlobe, mengontrakku untuk album pertama yang berjudul 'Summer'." "Apakah judul itu diambil dari namamu, atau karena jadwal rilisnya di musim panas?" "Aku pikir keduanya. Produser-ku yang memberi judul tersebut. Dan aku menyukainya," jawab Diorra, antusias. "Bisa kamu jelaskan mengenai album pertamamu? Tentang genre-mu, dan alasanmu memilih genre tersebut." "Pop. Tapi, aku lebih menyukai pop yang ceria. Kamu tahu, seperti lagu-lagu Count Bessie, Glenn Miller—" "Woody Herman, Artie Shaw—" "Wah! Kamu banyak tahu juga mengenai musisi!" Diorra bekata, dengan mata berbinar-binar. Jesse pun tertawa kecil. "Kebetulan aku penggemar genre tersebut." Jesse memang luwes dan cerdas, sehingga Diorra terlihat nyaman ketika diwawancarai. Kini ia pun mulai berani bertanya seputar kehidupan pribadinya. "Yang aku tahu, kamu banyak digosipkan dekat dengan seorang atlet basket. Benarkah demikian?" "Ah, tidak. Kalau yang dimaksud adalah Fred Bouvle, dia adalah sahabatku. Dan aku tidak mungkin berpacaran dengan laki-laki beristri." "Tapi, ada pria yang sedang dekat denganmu, ‘kan?" Diorra tak lekas menjawab. Ia tampak mencerna pikirannya selama beberapa saat, sebelum menjawab dengan ragu-ragu, "Mmm … ya ...." "Ayo dong ceritakan, please ...." Gadis manis itu, mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Tapi jangan tulis dalam artikel naanti." "Ya, aku berjanji." Jesse berkata, sembari tersenyum simpul. "Well, aku percaya padamu, Jess. Aku tahu kamu bukan Paparazzi yang selalu menguntit, dan menungguku melakukan hal-hal gila seperti sebagian artis lainnya. Tapi percuma, karena aku tidak akan melakukan kebodohan seperti itu." "Aku senang kamu percaya padaku. Pertanyaan ini hanya untuk menjawab rasa penasaranku saja, dan bukan untuk dimuat ke dalam artikel." Penegasan Jesse membuat Diorra lega. Ia pun mulai menceritakan kehidupan pribadinya, "Jadi ada seorang pria yang satu label denganku. Awalnya kami sering bertemu di studio, dan membicarakan tentang musik. Namun perlahan, intensitas pertemuan kami yang terbilang cukup sering, menumbuhkan perasaan di antara kami." "Siapa nama pria beruntung itu?" Diorra kembali tersenyum, sambil menatap Jesse. Kedua pipinya bersemu merah. "Aaron." "Maksudmu, Aaron Iago Hosea?" Mendengar tebakan Jesse, Diorra pun mengangguk. "Oh Tuhan! Kamu membuat seluruh perempuan di dunia cemburu padamu!" kata Jesse, "Lalu, apakah ada momen spesial dengannya?" "Banyak, tapi yang paling spesial ialah ketika ia mengajakku makan malam di suatu tempat yang tinggi—hingga pemandangan Los Angeles dapat terlihat dari sana. Suasananya sangat romantis, kemudian hal itu pun terjadi." "Ranjang?" "Ah, bukan itu. Maksudku, pada malam itulah ia menyatakan perasaannya padaku." "Dan kalian merahasiakan hubungan kalian?" "Benar, karena kami tidak ingin karir yang sedang kami rintis terganggu oleh pemberitaan media yang seringkali berlebihan." "Kurasa cukup mengenai kehidupan pribadimu. Aku harus melakukan pekerjaanku." Jesse berucap, seraya tertawa kecil. "Yeah, apa lagi yang ingin kamu tanya—" "Obrolan perempuan?" tanya Henry, yang baru saja kembali. "Ah, Henry. Sama sekali tidak," jawab Jesse. Waktu berlalu, hingga tak terasa siang hari telah tiba. Jesse yang telah selesai melaksanakan tugas pertamanya, mengemudi menuju Kantor Harian Daily Britain. Sementara itu di tempat lain, ayah Jesse tengah dalam perjalanan bersama kedua sahabatnya. Bersambung ke chapter berikutnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD