Perjalanan ke Saint Andrews dari London, terbilang cukup jauh. Sehingga mereka membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai di tujuan. Namun mereka sudah berada di Saint Andrews,tepatnya di sebuah jalan kecil yang di apit oleh hutan.
"Well, sebentar lagi kita sampai, Kawan." ayah Jesse berujar, sembari melihat keluar jendela.
"Syukurlah, badan tuaku ini sudah merasa letih. Oh iya, Wayne, apakah ada kabar dari anakmu?" tanya Eddie Hoskins, pada Wayne Reece—ayah Jesse.
"Baru saja ia mengirim pesan, dan mengatakan wawancaranya berjalan lancar. Semula aku khawatir ia merasa canggung pada tugas pertamanya."
Mendengar itu, Eddie menghela napas. "Aku tahu kamu sudah lama tidak bersamanya, karena ia tinggal bersama mantan istrimu di Amerika. Tapi kekhawatiranmu terlalu berlebihan, Wayne. Ia sudah dewasa, dan mewarisi kecerdasanmu. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
Wayne Reece tertegun, memikirkan kata-kata Eddie selama beberapa saat. "Mungkin kamu benar. Ta—"
"Sial!" gerutu teman Wayne yang sedang mengemudi.
"Kenapa, Mark?" tanya Wayne pada kawannya yang bernama Mark Walker.
"Ada mobil yang dari tadi membayangi di belakang, dan mencoba menyusul."
"Mudah, biarkan ia lewat," tukas Eddie.
"Jalan ini hanya cukup satu mobil, bagaimana caranya menepi?!" Baru saja Mark selesai berkata, mendadak mobil di belakangnya menyusul dan menyenggol mereka.
Kendaraan mereka pun hilang kendali, lalu terperosok hingga menabrak sebuah pohon besar dengan keras.
Mark Walker mengerjap, sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Sayup-sayup ia mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Mark …, Mark ...."
"Di mana kita?" Mark memandang kedua sahabatnya yang telah siuman terlebih dahulu.
Beruntung, ketiganya tak mengalami luka serius. Hanya beberapa luka memar, dan sedikit luka gores di beberapa bagian.
"Apakah kamu tidak ingat kejadian yang tadi menimpa kita?" tanya Wayne.
Mark terdiam, berupaya mengulas memorinya. "Sial! Gara-gara mobil itu kita …. Sebaiknya kita coba lihat mobil ini, apakah masih bisa diperbaiki," ujarnya, kemudian keluar dari mobil, diikuti kedua sahabatnya.
Langit telah gelap, dan jam pun telah menunjukkan pukul sebelas malam. Angin malam yang dingin, seakan mencengkram tubuh mereka, meski sudah dibalut oleh mantel tebal. Ditambah lagi, suasana yang hening semakin memperburuk keadaan.
"Tidak pernah aku merasakan cuaca sedingin ini," gumam Wayne, seraya menarik kerah mantelnya ke atas.
"Daripada mengeluh, lebih baik bantu aku memeriksa mesin." Mark berkata, lalu mengangkat kap mobil yang melesak akibat tabrakan tadi.
Eddie melirik pada kedua temannya, kemudian menghela napas. "Maaf, aku tak tahu mengenai mesin mobil, jadi ti—"
"Dengan mengambil kotak peralatan di bagasi mobil, sudah cukup membantu kami, Ed," sela Mark.
"Ok."
Eddie mencoba membongkar barang-barang yang menumpuk di bagasi mobil, namun ia tak juga menemukannya. "Hei Mark, di mana kotak itu?"
"Aku letak—"
"Ah, sudah ketemu. Kotak berwarna me …" tiba-tiba Eddie tertegun, tak melanjutkan kalimatnya.
"Ed, cepat bawakan ke sini!" seru Mark, tetapi Eddie tak menjawab. "Ed!"
"Oh iya, aku mendengarmu, tapi … ada yang baru saja datang …" jawab Eddie dengan nada mengambang.
"Bagus! Kalau begitu ada yang bisa kita mintai bantuan!" seru Wayne.
"Klingon tidak mungkin tahu mengenai mesin mobil," tukas Eddie.
"Klingon? Jangan bergurau, Ed."
"Aku tidak bercanda, Kawan! Ini adalah alasan kita ke Saint Andrews! Cepat bantu aku membawa A. P. E.! Pesawat itu terbang ke dalam hutan!"
Wayne, dan Mark paham dengan maksud Eddie, dan bergegas menghampiri.
"Hahaha! Siapa sangka ini akan terjadi!" seru Wayne.
"Di balik kemalangan, selalu ada keberuntungan!" Mark pun tak kalah gembira dibandingkan kedua rekannya.
Ketiganya berlari masuk ke dalam hutan. Kegembiraan mereka membuat alat A. P. E. yang berat, seolah-olah tak berarti.
Sudah bertahun-tahun mereka menantikan saat pertemuan pertama dengan piring terbang misterius tersebut. Bahkan Mark dan Wayne yang berprofesi sebagai ilmuwan, sampai membuat alat bernama A. P. E., agar dapat berkomunikasi dengan pengendara pesawat antariksa tersebut. Tanpa diduga, di saat kecelakaan seakan menipiskan harapan mereka, justru pertemuan itu terjadi.
Akhirnya mereka berhenti di bawah piring terbang yang mengapung di udara. Jarak antara mereka dengan benda tersebut hanya sekitar sepuluh meter.
"Luar biasa …," gumam Eddie, memandang takjub.
Wayne pun terperangah. "Baru kali ini aku melihat piring terbang,"
"Hei, cepat bantu aku memasang A. P. E.!" seru Mark, yang tengah mendirikan tiang penyangga pada alat itu.
Meskipun besar, alat tersebut praktis dan mudah untuk dipasang, sehingga tak memerlukan waktu lama untuk menyiapkannya.
"Well, ayo kita berbincang dengan para Klingon," gumam Mark, seraya menekan tombol merah di sebelah layar, akan tetapi alat itu tak jua menyala. Mark mencoba menekan berulang kali, dan hasilnya tetap sama. "Sial!"
"Kenapa, Kawan?" tanya Wayne.
"A. P. E. kita tak bisa menyala."
"Coba kulihat," tukas Wayne, sembari memeriksa alat tersebut.
"Teman-teman …." Tiba-tiba Eddie memanggil.
"Ed, kami sedang sibuk memasang a—"
Eddie segera menyergah ucapan Mark, "Cahaya pada pesawat itu semakin terang …."
Mendengar hal itu, Mark dan Wayne pun mendongak ke atas. Mereka melihat cahaya putih berpendar pada bagian bawah pesawat. Sementara pada sisinya terdapat bulatan-bulatan cahaya merah yang berputar berlawanan arah jarum jam. Semakin lama, cahaya putih berpendar semakin terang, pun cahaya merah berputar semakin cepat.
"Wow! Apakah ia mau pergi?"
Baru saja Wayne selesai berbicara, tiba-tiba selarik cahaya putih melesat sangat cepat ke arah mereka.
"Awaaas!"
Mereka merasakan tubuhnya melayang. DAlam sekejap semua tampak putih. d**a mereka sesak, bagaikan terhimpit besi puluhan kilogram. Otot, dan urat seperti ditarik kuat-kuat ke luar. Hingga akhirnya mereka tak sadarkan diri ....
***
Lima tahun setelah sejak kejadian di Saint Andrews ....
Di sebuah pemukiman sederhana di Kota Sheffield, tampak sebuah rumah kayu tua dan berdebu, yang berada agak jauh dari deretan rumah di sekelilingnya. Rumah mungil itu seperti tidak berpenghuni, hanya aroma kopi, dan kepulan asap rokok yang berasal dari teras depan, menunjukkan adanya penghuni di sana.
Seorang pria berusia tiga puluh lima tahun sedang duduk bersandar pada kursi rotan sambil mengisap rokok di tangannya. Pandangannya menyapu halaman koran harian Daily Britain. Wajahnya yang tirus dan ditumbuhi jenggot, terlihat serius. Sesekali ia menyisir rambutnya yang hitam dengan jari-jari tangan, agar tak menutupi pandangan. Ia mengenakan kaus hitam lusuh, dan celana jeans kusam. Jelas sekali kalau ia lebih peduli pada apa yang dibaca, daripada mengurus dirinya.
Mendadak suasana tenang itu terusik dengan kedatangan seorang pria besar berambut pirang, yang memasang wajah marah.
"Mark Walker, harusnya kamu ingat tanggal berapa sekarang?!"
Bersambung ke chapter berikutnya
Keterangan:
*A. P. E. adalah singkatan dari Atomic Physic Electromagnetic—Fisika Atom Elektromagnetik