"Oh, halo Jack!" sapa Mark seraya melipat koran, lalu berjalan menghampiri Jack di halaman depan.
"Hutangmu sudah terlalu banyak!"
"Bukankah sudah aku lunasi sebulan lalu?!" tukas Mark dengan tenang.
"Itu hanya pokok, kamu belum lunasi bunganya!"
"Jack, kamu tidak pernah mengatakan bahwa pinjamannya berbunga. Yang kamu katakan adalah pinjaman tanpa bunga untuk seorang tetangga baik sepertiku," ucap Mark, menjelaskan.
Jack terlihat bersungut-sungut, dan langsung mencengkram kerah baju Mark. "Bollocks! Kamu seharusnya tahu konsekuensi berutang padaku! Kalau aku jadi kamu, aku akan meminta bantuan teman khayalanmu dari Planet Venus untuk membantu melunasinya!"
"Jack, temanku dari Venus sudah datang," ujar Mark seraya melayangkan pandangan dari balik tubuh besar Jack.
Jack menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang perempuan cantik yang mengenakan kemeja merah muda, dan rok putih sebatas lutut, sedang berjalan ke arah mereka. Perempuan tersebut ialah Wartawan Daily Britain kenamaan, Jesse Reece.
"Ingat, bulan depan! Atau jual rumahmu dengan harga rendah seperti yang aku inginkan!" kata Jack seraya melepaskan cengkramannya, lalu bergegas pergi.
Mendadak ekspresi Mark berubah dingin melihat Jesse yang baru saja datang. Sangat jelas terlihat bahwa ia tidak mengharapkan kedatangannya.
"Well, rupanya kunjungan bulanan dari tetanggamu, Mark," sindir Jesse seraya melempar pandangan ke arah Jack yang berjalan menjauh.
"Jesse, kamu seorang Wartawan hebat. Rasanya tidak ada yang bisa aku berikan sebagai bahan beritamu."
Mendengar kata-kata Mark, Jesse tersenyum. "Banyak Mark. Kalau saja kamu mau menceritakan kejadian lima tahun lalu di Saint Andrews."
Mark menatap Jesse dengan dingin, kemudian berjalan menuju rumah tuanya. "Pulanglah, Jes."
Jesse tak meghiraukan kata-kata Mark. Ia justru berjalan mengikuti Mark hingga keduanya tiba di teras rumah.
"Dengar Jes, orang-orang menyebutku Ilmuwan gila. Sesuatu yang keluar dari mulutku tidak akan menarik untuk dibaca."
"Iya, mungkin kamu memang seperti yang mereka katakan. Tapi aku juga seorang Wartawan gila yang tetap menemuimu, meski sudah puluhan kali kamu tolak. Dan aku tak peduli jika tidak ada yang membaca artikelku. Yang aku pedulikan adalah ceritamu yang mungkin bisa membantu Ayahku di dalam Rumah Sakit Jiwa."
Kata-kata Jesse membuat Mark tertegun selama beberapa saat. Ia menatap nanar wajah Jesse. "Aku menyesal atas apa yang terjadi dengan Wayne. Tapi maaf aku tidak bi—"
"Mark, kalau kamu memang peduli pada Ayahku, sudah semestinya kamu membantuku," sergah Jesse, memotong ucapan Mark.
"Jes, kejadian itu benar-benar membuat hidup kami hancur. Wayne sekarang sedang dalam perawatan, sementara aku kehilangan pekerjaan. Bahkan tidak ada yang mau menerimaku bekerja sejak kejadian tersebut. Sekarang aku sudah tidak peduli dengan hal-hal semacam itu."
Mendengar kata-kata Mark, Jesse menghela napas seraya menoleh pada halaman koran Daily Britain yang bertuliskan 'Fenomena Crop Circle'. "Benarkah?" tanya Jesse, tidak percaya.
Mark mengerling pada koran tersebut, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. "Maaf Jes, aku tidak punya waktu untuk omong kosong ini. Kalau kamu ingin tahu, tanyakan pada atasanmu yang oportunis itu," ucap Mark ketus, seraya menutup pintu rumahnya.
Jesse kembali menghela napas, lantas berjalan menuju mobilnya. Ketika berada di dalam mobil, tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk. Usai membaca, ia memacu kendaraan meninggalkan tempat itu.
***
Sore hari di Kantor Daily Britain yang berada di pusat Kota London, Eddie Hoskins terlihat sedang duduk di ruangannya, sambil membuka sebuah album foto dengan tangannya yang keriput. Dahinya mengerut, membuat guratannya semakin kentara. Sesekali ia membetulkan posisi kacamata yang melorot, seraya matanya menyisir halaman demi halaman album foto tersebut. Matanya berkaca-kaca, melihat foto dirinya bersama Wayne Reece, dan Mark Walker. Bibirnya yang tebal tersenyum getir, menyiratkan perasaan rindu bercampur sesal yang berkecamuk dalam hatinya. Rambutnya semakin memutih, seiring usianya yang semakin senja.
Foto-foto itu mengulas kembali kenangan-kenangan di masa lampau. Kejadian ketika hubungan mereka belum memburuk. Bayang-bayang keceriaan yang mereka lalui bersama, hilir mudik di dalam pikirannya.
Kisah indah yang telah dinodai pengkhianatan demi sesuatu yang ia inginkan. Tetapi bukan posisinya saat ini—sebagai Kepala Redaksi, yang dulu diinginkan, melainkan suatu hal yang ia kunci rapat di ujung memorinya yang terdalam.
Lamunannya buyar seketika, tatkala mendengar suara ketukan di pintu ruangan.
"Masuk!" seru Eddie.
Jesse muncul dari balik pintu ruangan yang baru saja terbuka, lalu berjalan menghampiri Eddie. "Ada apa kamu memanggilku, Ed?"
"Jes, kamu beruntung batas naik cetak begitu sempit, sehingga aku terpaksa menyetujui artikelmu yang berjudul 'Fenomena Crop Circle'. Tapi itu adalah yang pertama, dan terakhir kalinya kamu mengulas mengenai hal-hal tersebut. Harusnya pagi ini yang kamu serahkan adalah liputan mengenai Diorra Summer dan album barunya," kata Eddie, "Dari mana kamu tadi pagi?" tanya Eddie sambil menatap tajam pada Jesse.
Ditatap demikian, Jesse membuang pandangannya tanpa berkata-kata.
"Ah, aku tahu kalau kamu tadi berada di mana …"-Ed berhenti sejenak, sebelum melanjutkan-"kamu harus hentikan semua omong kosong ini, dan jangan temui Ilmuwan gi—"
"Ilmuwan gila itu adalah sahabatmu," sergah Jesse kesal, kemudian kembali berkata, "Dengarkan aku, Sir. Eddie Hoskins. Aku tidak tahu alasanmu membenci Ayahku dan Mark, tapi aku sudah lama mengenalmu, dan meyakini kalau kamu memiliki alasan tepat untuk melakukan hal itu pada mereka. Dan kalau aku benar mengenai dirimu, tolong jangan larang aku untuk mengungkap kejadian di Saint Andrews."
"Tidak, kamu salah Jes. Aku memang oportunis seperti yang dikatakan Mark."
"Ed, ini bukan tentang dirimu. Ini tentang bagaimana mengeluarkan Ayahku dari Rumah Sakit Jiwa, dan mengungkap kebenaran di balik kejadian Saint Andrews. Sudah lima tahun Ed! Dan kamu bersikap seolah kejadian itu tidak pernah terjadi!"
Mendengar itu, Eddie tertegun selama beberapa saat. Hatinya perih mendengar kata-kata Jesse. Tapi ia tahu, itulah harga yang harus dibayar atas perlakuan pada kedua sahabatnya.
"Besok pagi kutunggu liputanmu mengenai Diorra Summer, atau terpaksa aku harus—"
"Harus apa, Ed? Memecatku?" tanya Jesse menginterupsi ucapan Eddie.
Eddie diam seraya menatap nanar Jesse yang berjalan ke arah pintu.
"Baiklah. Selamat sore Sir. Eddie Hoskins," ujar Jesse ketus, lantas membanting pintu ruangan.
Eddie Hoskins menghela napas, seraya mengeluarkan kotak dari dalam kantung. "Hanya dengan cara itu aku dapat menyelamatkan kalian," gumamnya, sambil melihat kancing di dalam kotak.
Di dalam rumah kecil yang berada di sudut pemukiman kumuh, di Kota Rio De Janeiro, tampak cahaya remang menyelimuti sebuah ruangan sempit. Ruangan itu terlihat sederhana dan tua, sama seperti perabotan yang berada di sana. Bahkan beberapa perabotan terlihat lapuk, dan rusak.
Seorang perempuan paruh baya dan berpakaian lusuh terbaring di sebuah sofa tua. Matanya yang cekung, sedang terpejam rapat, sementara bibirnya yang pucat bergetar. Keringat membasahi tubuhnya yang kurus, dan lemah.
Di sebelahnya, duduk seorang lelaki bertubuh besar dan berkulit gelap yang terlihat sangat cemas. "Bagaimana keadaan Dolores, Miss. Lawrence?" tanyanya pada perempuan bernama Anne Lawrence, yang duduk di hadapannya.
Bersambung ke chapter selanjutnya