Di sebelahnya, duduk seorang lelaki bertubuh besar dan berkulit gelap yang terlihat sangat cemas. "Bagaimana keadaan Dolores, Miss. Lawrence?" tanyanya pada perempuan bernama Anne Lawrence, yang duduk di hadapannya.
Anne berusia sekitar tiga puluh tahun. Wajahnya yang cantik, tidak dapat menutupi rasa lelah yang tampak dari kantung matanya yang menghitam. Tubuhnya kurus dibungkus oleh kulit putih bak porselen, yang mengenakan kaus abu-abu dan celana jeans sobek-sobek.
Ia berambut hitam, dan lurus sepundak, yang diikat di bagian belakang. Matanya yang lebar, dan indah memandang Dolores dari balik kacamata kotak yang bertengger di atas hidungnya yang mancung.
Sesekali ia menyentuhkan ujung pulpen ke bibirnya yang merah, sedangkan tangannya yang lain memegang sebuah buku catatan kecil.
Anne mengerling, memberi sinyal agar laki-laki itu jangan berbicara. Kemudian ia menoleh pada Dolores.
"Dolores, apa yang kamu alami?" Perempuan cantik itu bertanya.
Bibir Dolores bergetar semakin hebat. Dengan terbata-bata ia pun bersuara, "Aku tersesat, cahaya itu menyedotku. Hilang. Tampak. Semakin jelas … tapi tetap samar. Sosok bayangan … dua, bukan ... tapi lima, mereka berbicara dengan mulut tertutup, entah dengan bahasa apa,”-suaranya tercekat, napasnya menderu, tubuhnya gemetar-"mulut terkatup itu menyeringai. Aku ingin lari, tapi tubuhku terkunci. Mereka menarik, menyeret, membetot nadiku … tulangku bergemeletak." Tiba-tiba matanya terbelalak, seakan melihat sesuatu yang sangat mengerikan di hadapannya. Kemudian duduk dengan tubuh berguncang hebat, lantas menjerit histeris, "Mata merah! Enyaaah … enyaaaaaaaaah!"
"Dolores! Dolores!" seru lelaki bertubuh besar cemas, sambil memeluk Dolores erat-erat.
Anne bergegas mengambil segelas air putih, lalu berjalan menghampiri Dolores. "Minumlah Dolores," tukasnya, menyodorkan gelas ke ujung bibir Dolores.
Setelah beberapa teguk, Dolores mulai bisa menguasai diri kembali—meski napasnya masih tersengal-sengal.
"Miss. Lawrence, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya lelaki bertubuh besar dengan cemas.
"Aku tidak tahu, Bruno,"-jawab Anne, seraya menghela napas-"sepanjang karierku sebagai Hipnoterapis, aku belum pernah menangani kasus seperti yang dialami sebagain besar penduduk di sini. Mimpi buruk, kasus bunuh diri, dan banyak hal lain yang tidak aku ketahui sebabnya," lanjut Anne, sambil menatap nanar pada Dolores. "Bruno, aku masih memerlukan waktu untuk menyembuhkan Dolores. Kupikir sekarang yang terbaik adalah membawanya pulang untuk berisirahat. Jangan lupa berikan obat penenang yang kuberikan semalam," kata Anne.
Bruno mengangguk, sambil memapah istrinya. "Baiklah Miss. Lawrence, aku rasa Anda benar. Terima kasih, mudah-mudahan Anda mendapatkan cara untuk menyembuhkan istriku."
Anne tersenyum gamang, kemudian berjalan mengantarkan keduanya keluar dari rumah. Setelah menutup pintu, ia menghempaskan diri pada sofa. Kepalanya bersandar sambil menengadah ke atas, seraya melepaskan kacamatanya. Jemarinya memijit-mijit dahi, sedangkan tangannya yang lain mengambil sebungkus rokok dari dalam kantung. Perasaan tidak berdaya menggelayut di benaknya.
Selama tujuh tahun Anne berkeliling dunia, untuk membantu berbagai macam pasien—dari pecandu n*****a, korban kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual, bahkan hingga trauma akibat peperangan, tetapi semua bisa ia selesaikan, kecuali kasus yang terjadi di sini. Sudah setahun lebih ia mencoba, namun jerih payahnya berujung pada kegagalan. Hampir-hampir ia putus asa kalau tidak ada Dolores yang selalu menyemangatinya. Kini penyemangat itu mengalami kondisi mengenaskan, bisa dibilang ia kehilangan sahabat yang kini bagaikan hidup tanpa nyawa.
Di tengah kegundahannya, tiba-tiba ia teringat sesuatu yang mungkin bisa menjadi secercah harapan. Anne berjalan menuju lemari pakaian, lalu mengambil koran Daily Britain dari atas lemari. Matanya menyusuri halaman demi halaman lembaran yang ada di hadapannya, hingga terpaku pada sebuah artikel yang ia cari.
Menguak Tabir Saint Andrews
9 Juni 2015,
Oleh: Eddie Hoskins
Masih jelas dalam ingatan kita mengenai kejadian tiga hari lalu di Saint Andrews, yang menggegerkan publik. Tak ayal berbagai teori, dan spekulasi bermunculan di tengah-tengah kita. Ada yang berpikir kejadian itu adalah sebuah percobaan senjata militer, ada yang berpendapat kejadian itu hanyalah kejadian alam biasa yang terlalu dibesar-besarkan, ada juga yang menyatakan kejadian itu melibatkan pesawat super canggih milik ekstraterestrial, bahkan ada yang mengatakan bahwa kejadian itu merupakan serangan Voldermort kepada para Muggle. Kalau ditinjau dari berbagai teori yang diungkapkan, semua kemungkinan di atas dapat saja terjadi, kecuali kemungkinan terlibatnya Voldermort—jangan ditanggapi serius candaan ini.
Pada kesempatan ini, saya akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya, agar berbagai spekulasi tidak berkembang semakin liar, dan membuat keresahan di tengah-tengah kita. Kenapa saya? Pertama, karena saya adalah salah satu orang yang mengalami kejadian itu. Kedua, karena saya yang paling memungkinkan untuk menceritakan kejadian tersebut—sedangkan kedua sahabat saya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menjelaskannya. Baiklah, saya akan menceritakan kejadian tersebut dari awal.
Saya, dan kedua sahabat saya—Prof. Mark Walker, dan Prof. Wayne Reece, sudah belasan tahun menjalin persahabatan. Sudah sejak dulu saya tertarik dengan Jurnalistik, sementara mereka menaruh minat yang besar pada Ufologi. Minat kami itulah yang akhirnya mengantarkan kami pada profesi kami saat ini—seperti Anda ketahui, saya sekarang bekerja sebagai seorang Wartawan di koran yang Anda cintai ini, sedangkan Mark bekerja sebagai seorang Dosen Ilmu Fisika Inti, dan Wayne merupakan Dosen Ilmu Meteorologi—sekarang keduanya bekerja di Universitas Oxford. Akan tetapi, minat kedua sahabat saya terhadap Ufologi, membuat mereka ingin mengungkap misteri piring supersonic dan makhluk kecil tak dikenal, sehingga seringkali saya menemani mereka untuk melakukan penelitian.
Bagi saya yang mencintai kedua sahabat saya dan dunia Jurnalistik, menemani mereka dalam melakukan penelitian, dapat menambah wawasan saya dalam menyajikan berita menarik untuk Anda. Sudah di berbagai tempat kami melakukan penelitian—dan Saint Andrews adalah salah satu tempat favorit kami, karena di sana sudah beberapa kali dilaporkan adanya jejak makhluk cerdas tak dikenal— seperti penampakan U. F. O., Crop Circle, dan sebagainya.
Semula saya tak menyadari kalau minat besar mereka terhadap Ufologi berubah menjadi sebuah obsesi. Setiap percakapan kami selalu mengenai hal-hal yang berkaitan dengannya—walaupun seringkali saya berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Hingga akhirnya, tibalah malam terjadinya kejadian Saint Andrews.
Malam itu kami melakukan penelitian dengan membawa sebuah alat ciptaan mereka, yang sebut dengan A. P. E.(Atomic Physics Electromagnetic). Saat itulah pertama kalinya kami menggunakan alat itu. Tetapi sayang, daya besar yang dibutuhkan alat tersebut di luar perhitungan kedua sahabat saya, sehingga malapetaka itu terjadi. Pada awalnya, A. P. E. berfungsi dengan baik selama kurang lebih tiga puluh menit, setelah itu alat tersebut mulai tidak stabil, hingga akhirnya memicu hubungan arus pendek. Inilah yang menyebabkan ledakan sehingga keduanya tersetrum listrik berdaya tinggi—bahkan membuat Wayne terlempar jauh dari lokasi kejadian. Ketika kejadian tersebut berlangsung, saya berada cukup jauh dari lokasi ledakan, sehingga saya hanya mengalami luka ringan. Selama satu hari, Polisi tidak berhasil menemukan Wayne, dan seperti kita ketahui Wayne baru saja ditemukan kemarin. dalam kehilangan akal sehat.
bersambung