Chapter 5. Menahan Rasa Cemburu

1428 Words
“Eh, El, aku pikir kamu bakalan langsung resign setelah nikah sama Kapten Arka,” celetuk Sinta, sahabat pramugari Elma, tangan kanan merapikan rambut dan tangan kiri memegangi kaca kecil. “Resign-nya setelah hamil aja lah. Aku masih pengen jadi wanita karier. Lagian juga kaptennya kan suami aku sendiri. Pas transit bisa sekalian honeymoon.” jawab Elma tersenyum santai. "Ya ampun." Sinta melotot kecil. "Apa kalian sengaja nunda? Pake alat kontrasepsi, ya?" "Nggak, kok." Elma menggeleng. "Kita nggak pake pengaman. Kalau dikasih anak langsung ya syukur, kalau belum dikasih anak juga syukur. Pokoknya dibikin happy aja sambil terus honeymoon." Beberapa pramugari lain yang mendengar ucapan Elma hanya saling lirik-lirikan. Rani yang duduk di samping Elma malah merasakan jari-jarinya dingin. "Malam itu kita nggak pake pengaman, Ran. Gimana kalau kamu hamil anak aku?" Ucapan Arka itu berputar di kepala, seolah ditampar dengan kenyataan pahit. Gadis itu jadi teringat sepuluh merk tespek yang masih tergeletak di kamarnya. “Ran?” panggil Elma tiba-tiba, membuat Rani tersentak. “Eh, ya?” "Kamu kenapa sih?" Elma menyipitkan mata. "Mukamu kok pucat banget. Gimana, kamu udah jadian kan sama Kapten Gavi?" “Itu … aku ....” Rani menunduk, suaranya tercekat. Sebelum sempat menjawab, pintu ruang briefing terbuka. Arka masuk dengan langkah tegap, ia seragam pilot putih, dasi hitam membingkai lehernya, dan wibawanya otomatis menyelimuti ruangan. “Pagi semua. Kita langsung mulai aja, ya.” “Baik, Kapten!” jawab para crew kompak. Arka meletakkan tablet di meja, suaranya terdengar penuh wibawa. “Penerbangan hari ini di rute Jakarta – Bangkok – Jakarta. Jadwal berangkat jam 09.25, sampai di Bangkok sekitar 12.05 waktu setempat. Estimasi perjalanan kurang lebih tiga jam empat puluh menit.” Para awak kabin serentak membuka catatan kecil mereka, siap menulis poin-poin penting. Rani ikut menunduk pada catatannya, meski matanya sesekali curi pandang ke wajah Arka. “FOO, silakan laporan cuaca!” perintah Arka tegas. Rani berdiri, menyerahkan lembar print-out sekaligus menunjukkan tablet di tangannya. “Berdasarkan data terbaru, cuaca sepanjang rute relatif baik. Hanya ada potensi guncangan sedang saat melewati Laut Andaman di ketinggian tertentu. Kalau ada keadaan darurat, bandara alternatif yang disiapkan adalah Phuket dan Kuala Lumpur.” Arka mengangguk. “Bagus. Sekarang cabin crew?” Elma menjawab dengan senyum percaya diri. “Persiapan kabin sudah sesuai prosedur. Penumpang hari ini hampir penuh, 178 orang. Ada dua vegetarian meal dan satu diabetic meal, semuanya sudah dipastikan ke catering.” “Baik,” jawab Arka mengangguk. “Bahan bakar sudah dicek, berat pesawat aman. Setelah pushback kita pakai runway 25R untuk take off. Kita cruising di ketinggian 34.000 kaki. Kalau ada apa-apa, alternate sesuai yang tadi sudah disebutkan FOO Rani. Ada pertanyaan?” Seisi ruangan menggeleng. “Kalau begitu, mari kita jalani penerbangan ini dengan profesional. Utamakan keselamatan.” “Siap, Kapten!” jawab semua crew serempak. Saat Briefing selesai. Para crew mulai bersiap, ada yang sudah berdiri sambil bercanda sebelum keluar menuju ruang ganti. Elma melangkah ke arah Arka yang masih duduk. Dengan santai ia menepuk lengan suaminya. “Aku paling suka pas kamu mimpin briefing. Kamu kelihatan keren banget.” Arka menoleh, bibirnya terangkat tipis. “Thanks, El. Kan emang kewajiban aku mimpin breafing.” Tangan Elma refleks merapikan kerah seragam Arka. “Masih nggak percaya aku, akhirnya aku yang jadi istrimu.” Sinta yang berdiri di dekat pintu langsung nyeletuk. “Ih ... kalian tuh, malah pamer kemesraan.” "Enggak apa-apa. Sengaja emang, biar kalian pada nyusul nikah." Elma menoleh dengan senyum puas. "Karena pernikahan itu indah." Rani yang masih duduk pura-pura sibuk merapikan kertas. Tapi matanya sempat menangkap jelas momen kemesraan Elma dan Arka. Rasanya seperti ada duri menusuk di d**a. "Kenapa aku malah cemburu, sih? Arka udah jadi milik orang. Aku harusnya udah nggak peduli lagi! Tapi kenapa … susah banget ngelupain dia?" batinnya sambil mengigit bibir bawah. Tangan Rani meremas kertas sampai berkerut, lalu buru-buru ia selipkan ke dalam map agar tidak ada yang sadar betapa kesalnya dia. "Aku harus cepat-cepat keluar sekarang!" Rani melangkah keluar dari ruang briefing, berharap bisa menghirup udara segar setelah melihat kemesraan Elma dan Arka barusan. Tapi baru beberapa langkah di koridor, suara yang sangat familiar menghentikan langkahnya. “Ran, tunggu dulu!” Tubuh Rani menegang, ia menoleh dan mendapati Arka berjalan cepat menghampirinya. Tatapan mata pria terlihat jelas ingin membicarakan sesuatu yang penting. “Ada yang mau aku—” Namun, sebelum kalimat itu selesai, suara riang lain memotong. “Rani!” Rani refleks menoleh ke arah berlawanan. "Ya?" Gavi muncul dari ujung koridor dengan seragam pilot, wajahnya tampak segar meski baru saja pulang dinas dengan senyum lebar dan mata berbinar. Pria itu mendekat, tanpa ragu segera menyodorkan sebuah paperbag berlogo duty free. "Aku bawain oleh-oleh buat kamu." Mata Rani terbelalak. “Eh ... untuk saya?” “Iya, dong. Masa buat orang lain?” jawab Gavi enteng, lalu terkekeh. Beberapa pramugari yang kebetulan lewat langsung bersuit-suitan. “Cie, Kapten Gavi manis dan romantis banget, deh.” Rani tersenyum kikuk, menerima paperbag itu dengan tangan sedikit gemetar. “Makasih, Kapten.” Sementara itu, dari sisi lain, Arka berdiri kaku. Rahang mengeras dan kedua tangan terkepal. Tatapannya jatuh pada paperbag yang kini dipegang Rani, lalu bergeser ke arah Gavi yang masih santai menatap penuh perhatian ke gadis itu. Suasana mendadak jadi canggung. Rani bisa merasakan hawa panas di antara dua kapten itu, meski tak ada kata-kata yang terucap. “Semoga kamu suka, Ran,” ucap Gavi santai, suaranya cukup keras untuk terdengar siapa pun di sekitar. "Iya, Kapten. Saya pasti suka. Sekali lagi terimakasih." Rani semakin salah tingkah. Sementara Arka yang berdiri tak jauh dari Rani, tiba-tiba menyahut dengan nada datar tapi menusuk. “Kapten Gavi, saya rasa oleh-oleh seperti itu tidak seharusnya diberikan kepada pribadi langsung di depan umum saat jam kerja. Karena bisa menimbulkan salah paham dan rasa iri di antara crew.” Senyum di wajah Gavi menipis, lalu matanya menatap Arka dengan tenang. “Salah paham? Rasa iri? Rasanya nggak ada yang salah, Kapten. Menurut saya itu wajar.” Arka menatap balik, tatapannya dingin, penuh tekanan. “Menurut saya hal itu tidak wajar. Berikan oleh-oleh itu kepada Rani secara pribadi saja di luar jam kerja dan jangan di depan publik!” Suasana koridor mendadak hening. Beberapa pramugari yang tadi berbisik-bisik langsung terdiam, pura-pura sibuk dengan tablet masing-masing. Rani, yang berdiri di tengah-tengah mereka, bisa merasakan jantungnya berdegup kencang dan tangan yang tiba-tiba berkeringat saat menggenggam paperbag itu. "Ya ampun … kenapa aku harus ada di antara mereka berdua?" Gavi akhirnya mengangkat kedua tangan seolah menyerah. Senyumnya tipis, tapi nadanya jelas mengandung sindiran. “Baik kalau begitu, Kapten Arka. Mulai besok, saya akan mengantarkan oleh-oleh langsung ke rumah Rani saja. Jadi tidak akan menimbulkan salah paham atau rasa iri di antara para crew.” Beberapa pramugari yang masih berdiri nyaris tersedak karena tak menyangka Gavi berani bicara seperti itu di depan Arka. Arka justru tampak semakin menegang, rahang mengeras, dan matanya gelap menatap Gavi. “Bagus, lebih baik seperti itu memang. Belajarlah profesional, Kapten Gavi!” Tapi Gavi tak menanggapi ucapan Arka lagi, ia justru menatap wajah Rani. “Kamu udah selesai briefing? Ayo, aku temani kamu coffee break.” “Sa–saya … masih ada yang harus dikerjain dulu, Kapten,” tolak Rani sopan. Gavi mengangkat alis, senyumnya tetap ramah tapi nadanya terdengar menekan. “Masa sih? Cuma sepuluh menit aja kok. Kamu kan butuh rileks juga, Ran.” "Rani sudah menolak Anda, Kapten." Suara Arka terdengar, tegas dan tanpa kompromi. “FOO masih harus mempersiapkan banyak hal sebelum boarding. Jangan ajak dia pergi seenaknya.” Gavi menoleh, menatap lurus ke arah Arka. “Kapten Arka, bukankah penerbangan selanjutnya masih 2 jam lagi. Setahu saya, coffee break sebentar tidak akan mengganggu persiapan boarding. Atau … ada alasan lain kenapa Rani tidak boleh pergi sama saya? Jangan mentang-mentang Anda teman akrabnya, lalu Anda melarang dia. Ingat, Anda kan sudah menikah. Lebih baik Anda bersama Elma dan jangan dekati Rani lagi!” Arka terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya, ucapan Gavi bukan tanpa alasan. Hampir semua orang di lingkungan crew tahu, dulu Kapten Arka memang paling sering terlihat dekat bersama Rani dengan alasan karena mereka sahabat semasa sekolah. Bahkan gosip sempat beredar kalau mereka berdua pacaran diam-diam. Banyak pramugari yang percaya, cepat atau lambat Rani bakal jadi istri Kapten Arka. Tapi nyatanya, semua orang terkejut ketika undangan pernikahan Arka dan Elma tiba-tiba tersebar. Gosip pun langsung berbalik arah — Rani dianggap hanya “korban PHP”, sementara Elma keluar sebagai pemenang. Terlebih ketidak hadiran Rani di pernikahan Arka dan Elma. Merasa muak karena menjadi pusat perhatian, Elma segera undur diri. "Maaf, saya permisi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD