Chapter 4. Sepuluh Merk Tespek

1349 Words
Ruang briefing pagi itu dipenuhi suara riuh para pramugari. Topiknya bukan lagi soal pernikahan Arka dan Elma, tapi gosip paling hot Minggu ini. “Aku dikirimin beberapa foto sama Elma, foto Kapten Gavi sama Rani lagi makan malam berduaan di hotel bintang lima tempat Kapten Arka dan Elma honeymoon!” bisik salah satu pramugari, disambut tawa cekikikan. “Masa sih? Ih … beruntung banget lah Rani bisa makan malam bareng Kapten Gavi. Padahal banyak pramugari yang cantik, kenapa dia malah pilih FOO, sih?” sahut pramugari yang lain, dengan expresi kesal karena cemburu. "Ya mungkin seleranya Kapten Gavi yang keliatan polos dan lugu macam Rani itu. Tapi ... menurut aku Kapten Gavi nggak serius deh sama dia. Mungkin Rani cuma buat mainan aja kali. Tau sendiri, kan? Kalau Kapten Gavi itu play boy. Dia penasaran sama rasa FOO kali." Ucapan salah satu pramugari itu membuat semua pramugari tertawa. Rani yang baru saja masuk, langkahnya otomatis terhenti di ambang pintu. Dadanya langsung mengencang, seolah udara di ruangan itu mendadak habis. Ia menunduk, pura-pura tak mendengar, lalu berjalan cepat menuju kursinya. Tapi bisik-bisik itu bukannya mereda, malah makin kencang. “Eh, tuh orangnya datang!” “Cieee, duh senengnya jadi calon istrinya Kapten Gavi.” “Udah terima aja, Ran! Jangan sampai lepas spek Kapten Gavi itu langka, loh.” "Bener banget, nanti pernikahan kalian bisa tuh lebih mewah dari Kapten Arka sama Elma." "Pokoknya selamat deh buat kamu, Ran." "Pajak jadiannya, ya! Traktir kita makan-makan!" Rani memaksakan senyum tipis, meski pipinya merona panas menahan malu. Tangannya bergetar ketika membuka jadwal penerbangan, padahal tulisan di kertas itu sama sekali tidak terbaca oleh matanya yang kabur. Ia ingin menjelaskan. Ingin bilang kalau dia dan Gavi tidak memiliki hubungan istimewa. Tapi suaranya tercekat di tenggorokan, dan rasa takut jadi bahan tertawaan membuatnya memilih diam. Pintu ruang briefing kembali terbuka Gavi masuk dengan langkah tegap, senyumnya otomatis melebar. “Good morning, everyone.” Para pramugari tampak heboh menyambut Gavi, bahkan ada yang sengaja melirik ke arah Rani sambil tersenyum penuh arti. "Cie ... cie ... couple baru kita nih." Gavi berjalan ke kursi Rani, dia juga sempat menepuk pundak Rani sekilas. “Pagi, Ran.” "Pagi, Kapten Gavi." Rani tersenyum dengan wajah memerah. Di dalam hati, Rani menjerit, "Tolong … jangan deket-deket aku, Gavi! Jangan kasih perhatian ke aku di depan umum. Please banget, karena aku benci jadi pusat perhatian!" Ruang briefing berubah hening ketika Gavi berdiri di depan layar proyektor, rute penerbangan hari itu sudah terpampang jelas. “Selamat pagi, semuanya.” Suara Gavi tegas tapi tetap ramah. “Hari ini kita akan terbang dengan rute Jakarta – Singapura. Estimasi cuaca cerah, hanya ada potensi turbulence ringan saat mendekati perairan Selat Malaka. Saya minta komunikasi antar crew tetap solid. Jika ada perubahan kondisi, segera laporkan. Jangan ambil keputusan sendiri tanpa koordinasi.” Para crew kabin mencatat serius, beberapa mengangguk sambil menatap layar. “Untuk take off, saya butuh laporan cuaca terakhir dari FOO sebelum kita push back. Pastikan data update sudah masuk ke flight deck,” lanjut Gavi, sesekali melirik ke arah Rani. “Baik, Kapten,” jawab Rani singkat. Gavi kemudian membagi instruksi detail pada pramugari, siapa yang bertugas di kabin depan, kabin tengah, hingga galley belakang. Semua berjalan sesuai prosedur, profesional, dan disiplin. Di saat itu, pikiran Rani justru berkelana. Matanya menatap Gavi yang berdiri tegap dengan penuh percaya diri. "Kalau dilihat-lihat … wajah Kapten Gavi memang lebih ganteng dari Kapten Arka. Senyumnya juga lebih manis dan ramah, selain itu, cara bicaranya juga bikin semua orang nyaman." Rani menghela napas pelan, batinnya masih terus berbicara, "Tapi kenapa aku masih susah move on, ya? Kenapa masih ada bayangan Kapten Arka setiap kali aku mencoba membuka hati?" Tangan Rani meremas bolpoin. "Apa karena … karena aku sudah suka Arka terlalu lama? Dari kelas 1 SMP sampai sekarang, sampai aku kerja? Astaga! Please … aku cuma ingin Arka hilang dari hati dan pikiranku!" Briefing akhirnya selesai, semua awak kabin mulai berkemas, sebagian masih bercanda sambil menutup tablet dan kertas catatan mereka. Rani juga berdiri, buru-buru merapikan map di tangannya, berharap bisa segera keluar ruangan. Namun, langkahnya terhenti saat suara berat tapi santai itu memanggilnya. “Ran?” Rani menoleh. "Ya, Kapten?" Gavi berdiri di samping Rani, senyumnya terbit penuh percaya diri. Sambil menunduk sedikit, suaranya diturunkan — tapi cukup keras untuk bisa didengar seisi ruangan. “Tunggu aku pulang, ya. Jangan pergi-pergi sama cowok lain selama aku lagi tugas!” Sejenak, Rani membeku, matanya membesar, dan pipinya merona semerah tomat. Seketika, ruangan briefing meledak dengan riuh sorakan para pramugari. “Cie … ada yang mulai posesif, nih!” “Ya ampun, Kapten Gavi! Romantis banget, deh!” “Fix! Ini couple baru kita!” “Ran, kamu beruntung banget, sumpah!” "Iya, ih ... astaga! Bikin aku iri aja, deh." Rani benar-benar ingin bersembunyi. Tangan gadis introvert itu gemetar, senyum kikuk terpaksa ia pasang untuk meredam perhatian itu. Ia menunduk, berharap lantai terbuka dan bisa menelan tubuhnya bulat-bulat. “Kapten ... ja–ngan bercanda, dong!” "Aku serius, kok." Gavi malah terkekeh, dengan santainya pria itu menepuk pundak Rani sebelum melangkah pergi, meninggalkan Rani yang nyaris pingsan karena jadi pusat perhatian. *** Setelah seharian bekerja, Rani sibuk beres-beres rumah. Tangannya lincah menyapu lantai, mengepel, memasukan baju ke mesin cuci, hingga melipat pakaian. Aktivitas itu selalu jadi cara terbaiknya untuk menenangkan diri dari rasa sesak yang terus menghantui. Tapi, tiba-tiba saja, suara ketukan pintu terdengar. Tangan Rani yang sedang menyetrika pakaian berhenti, keningnya berkerut. “Siapa ya?” Dengan sedikit ragu, ia berjalan ke depan dan membuka pintu. Seketika tubuhnya membeku saat melihat tamu yang datang ke rumahnya. “Arka …?” Ya, di hadapannya berdiri Arka, dengan kemeja santai dan tatapan yang sulit di jelaskan. “Hay, Ran. Aku mau balikin baju dan celana milik almarhum Ayahmu.” Arka menyerahkan paperbag ke arah Rani. "Terimakasih, ya." Rani tercekat, ia menerima paperbag itu dengan tangan bergetar. “Oke … sama-sama.” Gadis itu lalu buru-buru menutup pintu, tapi tangan Arka menahan. Sentuhan itu membuat jantung Rani berdentum kencang. “Boleh aku masuk?” tanya Arka penuh harap. "Eh ...?" Rani tersentak, lalu kemudian dia cepat-cepat menggeleng. "Jangan, Ar. Lebih baik kamu jangan masuk. Nggak baik. Kamu kan suami orang sekarang sedangkan aku tinggal di rumah ini sendirian. Aku nggak mau difitnah jadi pelakor.” “Ran, tolong. Aku cuma mau ngomong penting.” Arka bersikeras. "Kamu ngomong aja di sini!" tolak Rani tegas. "Nggak usah masuk." Arka menatap Rani dalam. Bibir pria itu menegang sebelum akhirnya kalimat itu meluncur. “Ini soal malam itu ....” Darah Rani seakan berhenti mengalir. “Ma–malam itu?” suaranya nyaris berbisik. Arka mengangguk, matanya menahan gelisah. “Ran ... kita ngelakuin itu nggak pakai pengaman. Gimana kalau kamu ... hamil?” Mata Rani membelalak, kata-kata Arka menghantam kepalanya bagai palu godam. Arka menatap paperbag yang tadi ia serahkan kepada Rani. “Di dalam sana bukan cuma baju dan celana Ayahmu. Ada sepuluh test pack dari berbagai merek. Seminggu lagi, tolong kamu tes, ya! Dan tolong foto plus kirim hasil semua tespek itu ke aku!” Rani terpaku, tenggorokannya mendadak kering, tak ada satu pun kata keluar. Akhirnya ia hanya mengangguk kaku lalu menutup pintu rumahnya pelan. Begitu pintu menutup rapat, perlahan ia melangkah ke kamar, paperbag itu masih tergenggam di tangannya. Begitu duduk di tepi ranjang, Rani membuka isi paperbag. Ucapan Arka benar, di dalamnya memang ada banyak sekali tespek dari berbagai merek. Tangan gadis itu otomatis gemetar saat menyentuh salah satunya. “Arka ... apa yang sebenarnya kamu pikirkan?” Rani menatap deretan tespek itu lama sekali. Kepalanya penuh pertanyaan yang menyesakkan. “Kalau aku beneran hamil ... aku harus gimana? Harus cerita ke siapa? Apa aku beneran harus bilang ke Arka? Tapi dia udah jadi suami orang. Kalau Elma sampai tahu, habislah aku. Sudah pasti aku ... aku jadi pelakor, kan?” Air mata Rani jatuh tanpa bisa ia tahan. “Astaga, kenapa hidupku jadi serumit ini? Aku cuma pengen kerja tenang, hidup normal, nggak digosipin, nggak jadi bahan tertawaan. Ya Tuhan ... please, tolong banget semoga aku nggak hamil anak Arka.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD