“Tenang saja,” bisik Gavi, seolah membaca kegugupan Rani. “Kamu terlihat paling anggun di ruangan ini.”
"Ma–makasih." Wajah Rani merona Semerah tomat karena pujian Gavi.
Restoran hotel bintang lima itu berkelas, Rani menelan ludah ketika melangkah masuk bersama Gavi. Ia tidak menyangka pria itu memilih tempat semewah ini. Gaun biru sederhananya terasa terlalu polos dibandingkan para tamu yang sebagian besar berdandan glamour. Mereka kemudian duduk di meja dekat jendela besar dengan pemandangan lampu kota berkelap-kelip.
Baru saja mereka memesan makanan, suara familiar membuat Rani kaku.
“Rani? Kapten Gavi! Wah, kebetulan banget ketemu kalian di sini!”
Rani menoleh. matanya membelalak saat melihat Elma berjalan mendekat. Wanita itu tampak cantik dan anggun dengan gaun malam berwarna hitam, sementara di sampingnya ada Arka dengan setelan santai yang tetap membuatnya menonjol.
“Hay, Elma,” sapa Gavi tersenyum lebar. "Kalian ternyata honeymoon di sini."
“Iya, Gav. Aku kaget banget, ternyata kalian ada di sini. Cie ... cie ... lagi diner romantis nih ceritanya?” Elma tersenyum penuh arti.
Rani tersipu, buru-buru menunduk. “Nggak, kok. Kita … cuma makan malam biasa aja.”
“Ah, pake nggak ngaku segala! Mana ada makan malam biasa, Gavi aja pakai jas malam ini.” Elma tertawa kecil.
Gavi menimpali dengan nada santai, “Kalau lagi sama Rani aku harus kelihatan keren, El. Makanya aku pake jas, karena dia adalah orang yang spesial bagiku.”
Ucapan Gavi membuat wajah Rani makin panas.
Elma dan Gavi terus saja bercanda gurau.
Sementara itu, Arka hanya diam berdiri di belakang Elma, kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Tatapannya tak bisa lepas dari Rani, meski ia berusaha keras menjaga ekspresi tetap datar. Tapi, sekali mata mereka beradu, dan saat itu terjadi, Rani buru-buru menunduk lagi, atau berpura-pura sibuk dengan gelas di depannya.
Tiba-tiba Elma menepuk lengan suaminya. “Arka, kamu lihat kan? Cocok banget mereka berdua. Dari dulu aku udah nebak, pasti Gavi bakal berhasil ngedeketin Rani. Ternyata bener kan tebakan aku.”
Arka hanya mengangguk singkat, bibirnya tertarik membentuk senyum tipis yang terlalu kaku untuk disebut senyum.
“Ya sudah, aku nggak akan ganggu ganggu kalian lagi. Selamat dinner, ya. Have fun, guys.” Elma melambaikan tangan sebentar sebelum menggandeng Arka menuju meja mereka sendiri.
Namun sebelum benar-benar pergi, Arka sempat menoleh sekilas. Tatapan matanya dan Rani bertemu sekali lagi — hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat d**a Rani berdegup kencang, dan membuat Arka menelan keras-keras sisa kata yang tak pernah bisa ia ucapkan.
Setelah Elma dan Arka berlalu, suasana meja Rani dan Gavi mendadak terasa hening.
Rani menggenggam erat garpu di tangannya, matanya fokus menatap piring, padahal makanan di depannya bahkan belum disentuh.
“Ran ...?” Suara Gavi memecah keheningan, terdengar ramah dan hangat seperti biasa. “Aku senang banget akhirnya kamu mau makan malam bareng aku. Akhirnya perjuangan aku membuahkan hasil.”
Rani mengangkat kepala sebentar, lalu buru-buru menunduk lagi. “Maaf, Kapten. Bukan maksud aku nolak. Aku cuma, ya ... baru sempat sekarang.”
“Kapten? Aduh, jangan panggil aku itu di luar jam kerja, dong.” Gavi terkekeh pelan. “Panggil aku Gavi. Okey, only Gavi!”
Rani tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. “Baiklah, Gavi.”
Sejenak hening lagi.
Rani memainkan tisu, mencoba menenangkan diri. Tapi di kepalanya, bayangan tatapan tajam Arka yang barusan terus berputar. Tatapan yang terlalu singkat, tapi cukup untuk mengacaukan isi hati.
Gavi seolah sadar Rani sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, dia mencondongkan tubuh sedikit lalu berkata, “Kamu tahu, nggak? Tadi waktu Elma godain kita, wajahmu merah banget. Lucu banget deh kamu.”
Rani terkesiap, buru-buru meneguk air bening di gelasnya. “Maaf, kalau tingkah aku aneh. Aku nggak pernah makan di tempat seperti ini.”
“Justru itu yang bikin aku suka sama kamu, Ran.” Gavi tersenyum lebar, tatapannya tulus. “Di antara perempuan yang ada di tempat kita kerja, kamu itu yang paling lugu, kalem, pendiam dan menggemaskan.”
Rani terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Bagian dirinya ingin membuka diri, ingin mencoba memberi Gavi kesempatan. Tapi bagian lain masih dipenuhi bayangan pria yang baru saja ia lihat menggandeng wanita lain.
Malam itu, percakapan mereka berjalan tak seimbang. Gavi lebih banyak bercerita — tentang penerbangan terakhir, tentang hobi, hingga tentang rencana liburannya. Sementara Rani lebih banyak mendengarkan, hanya sesekali menanggapi singkat dengan anggukan atau senyum samar.
"Gav, aku ke toilet dulu, ya." Rani berjalan menuju toilet dengan langkah hati-hati, berusaha menenangkan pikirannya.
Begitu ia keluar dari bilik, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, berdiri sosok yang paling ingin ia hindari malam itu.
Arka.
Tatapan mata pria itu terlihat lebih tajam dari biasanya, rahang mengeras, seolah dia sedang menahan sesuatu yang mengganjal di d**a.
“Arka ...?” Suara Rani tercekat, hampir berbisik.
Tanpa banyak bicara, Arka tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Rani. Sentuhannya kuat, membuat Rani tak bisa bergerak. “Jangan dekat-dekat Gavi!” Suaranya rendah, nyaris mendesis, penuh emosi yang ia sembunyikan.
Rani menatap Raka dengan mata membelalak, lalu berusaha menarik tangannya. “Itu bukan urusanmu!”
“Ran, dengar aku! Dia itu playboy. Dia pasti cuma mau mainin kamu aja!” Raka semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Rani. "Please, kamu harus jauhi dia!"
Jantung Rani berdegup kencang. Bukan karena peringatan Arka, tapi karena ironi yang ia rasakan. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya satu kalimat meluncur. “Sama kan kayak kamu yang pernah mainin aku!?”
Arka terdiam. Kedua matanya membulat, lalu melembut, seolah kehilangan tenaga. Tangannya sedikit merenggang, meski belum melepaskan Rani. “I–itu … maaf, Ran. Maafin aku.”
Rani tersenyum miris, air mata hampir menetes di sudut matanya. “Oh, kamu baru minta maaf sekarang?” Suaranya terdengar penuh kepahitan. “Nggak perlu, Ar. Itu semua salahku kok. Aku yang bodoh karena aku pasrah waktu itu.”
Dengan sekali hentakan, Rani menepis tangan Arka hingga terlepas. "Seharusnya kamu yang aku jauhin!" Tanpa menunggu reaksi Arka, ia berbalik dan melangkah cepat meninggalkan pria itu.
Arka berdiri terpaku di depan pintu toilet, mengepalkan tangannya erat-erat, menahan gejolak yang bergemuruh di d**a. Ia ingin mengejar Rani, ingin menjelaskan, tapi langkahnya seakan terpaku ke lantai.
Sementara itu, Rani kembali ke meja dengan senyum tipis yang ia paksakan saat Gavi menyambutnya. Hanya saja, getar di matanya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
“Rani, kamu nggak apa-apa?” tanya Gavi perhatian.
Rani memaksakan diri untuk tersenyum lagi. “Aku baik-baik saja, Gav.”
Saat perjalanan pulang suasana di mobil Gavi berlangsung hening. Hanya suara pelan musik dari radio mobil yang menemani. Rani menatap keluar jendela, lampu jalan yang berkelebat terasa lebih menarik daripada menatap pria di sampingnya.
Sesekali, Gavi melirik. Senyumnya tipis, tapi sorot matanya jelas menyimpan sesuatu.
Begitu mobil berhenti di depan rumah Rani, suasana semakin kaku. Gavi menoleh sepenuhnya, menatap wajah Rani yang masih setia menunduk.
“Ran ...?” suara Gavi nyaris bergetar.
"Ya?" Rani mendongak, menatap balik. Ada jarak yang terasa begitu dekat di antara mereka.
Tanpa peringatan, wajah Gavi mendekat. Hidungnya hampir menyentuh wajah Rani, jemarinya terangkat seolah ingin membingkai pipi gadis itu.
Hal itu membuat Rani membeku. Napas tercekat dan jantungnya berpacu. Dalam kebingungan, ia akhirnya memejamkan mata, membiarkan apa pun yang akan terjadi.
Namun, di balik kelopak mata yang tertutup, bukan wajah Gavi yang muncul. Melainkan wajah Arka dengan tatapan yang hangat, lalu berubah dingin. Bahkan Rani juga bisa mendengar suara Arka saat pria itu meminta maafnya, semua berputar cepat di kepalanya.
Hati Rani berdenyut nyeri.
Tiba-tiba dia menggeleng kuat, hingga membuat Gavi gagal melakukan rencana nakalnya.
“Maaf, Ran.” Gavi buru-buru menarik diri, suaranya terdengar canggung. “Aku ... aku malah kebablasan mau cium kamu.”
Rani buru-buru membuka pintu mobil. “Terima kasih makan malamnya, Gav. Aku masuk dulu.”
Tanpa menoleh lagi, Rani berlari kecil menuju pintu rumahnya. Tangannya gemetar saat membuka kunci, dan begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, barulah ia menempelkan punggung ke kayu pintu. Air matanya akhirnya tumpah — bukan karena kelakuan Gavi, tapi karena bayangan suami orang lain yang terus menghuni hatinya.