Bertemu Abang Tria 2

1476 Words
Paginya, seperti yang sudah-sudah. Bersiap-siap ke kampus, kuliah. Siangnya, kembali ke aktivitas dinas lapangan di rumah sakit lagi. Yaaa... lagi. Ini masih Minggu ke-2 kami dinas lapangan. Berarti masih ada daftar panjang tuk 2 minggu ke depan lagi, sebelum mengikuti ujian Mid semester. Seperti biasa, aku berangkat dinas naik angkot, sendirian. Karena kata si Tria, dia hari ini di antarkan Abangnya. Katanya aku disuruh berangkat lebih cepat, supaya bisa ketemu sama Abangnya yang ganteng itu. Sampai di rumah sakit, aku berjalan mengarah bagian teras samping rumah sakit, karna disitu katanya dia menunggu bersama Abangnya. Dari jauh Tria melambaikan tangannya sambil memanggil ku tuk mendekatinya. "Buk, lama kali kau??" "Namanya aku naek angkot, ya lama laaahhhh... Mana rame lagi tadi lagi di jalan!" Sungutku. "Hehehe... Makanya punya Abang kayak aku, biar ada yang antar jemput" Enak kaliiiii lah muncuungnya asal nyeploss. "Gila' kau ya?! Dah tau aku anak pertama. Mau dapat darimana lagi aku punya Abang coba? Maksudmu masuk lagi aku ke perut mamak ku, trus ku suruh mamak ku lahirin Abang tuk ku dulu, gitu?! Pengerrr kau yaaa?!" Balasku. "Hahahaha... Ya udahlah, gak usah ngegas gitu ngomong mu. Hehehe... Nih, ku kenalin sama Abangku. Kau bilang semalam ngebet kali kau mau kenalan sama Abangku" Buat malu aja si Tria ahh... Refleks aku pun melotot ke arahnya. Tong sampah mana tong sampah... Mau ngumpetin muka dulu sejenak ke dalamnya. Malunya ya Allah... Nanti di kira Abangnya yang ke semsemm kali aku samanya. Punya kawan satu kok nyeplos gak kira-kira. Hadeeeehhhhh... Abangnya pun ketawa-ketawa liat tingkah kami. Aku cuma bisa senyum sambil cengengesan. Sedangkan si Tria dah puas kali ketawanya karena berhasil membuat ku maluuuu. "Ya udah. Bang, ini temen adek yang adek bilang semalam yang penasaran mau kenalan sama Abang. Gak percaya dia bang, kalo' adek memang punya Abang kandung beneran, di kiranya adek itu punya abang-abangan" Jelasnya panjang lebar. "Ya namanya awak belom kenal ya kan bang? Jadi gak salah loohhh kalo' awak jadi nerka-nerka gak jelas gitu, kan bang?" Aku pun cuma bisa mencari pembelaan kepada Abang Tria. Yang di balas cuma dengan tawanya doang. "Yang ku tau kan slama ini kau pigi-pigi kalo' gak sama orang si Sri, ya sama si Yunek. Mana pernah aku liat Abangmu". "Ya udah sini, biar tak kenalken". "Bang, ini kawan adek kuliah. Namanya Aida. Dan kami juga 1 ruangan dinasnya. Sama dia inilah bang, adek Abang ini gentayangann di rumah sakit tiap hari. Jadi, Abang gak usah mikir yang enggak-enggak. Karna kawan adek ini pun anaknya gak tukang macam-macam kok, cukup satu macam aja, ya kan buk???" Ujarnya. Abangnya cuma manggut-manggut sambil senyum doang. Manis baaanget cuy. Hehehehe... Aku pun cuma bisa senyum-senyum dengar penjelasan ngalorr ngidull si Tria. "Ya udah kan, dah jumpa klen. Gak penasaran lagi kau kan buk sama Abangku?? Nanti ke bawa-bawa mimpi pula karna sangkingkan penasarannya kau liat Abangku yang hemsem ini. Hahaha..." Puas kali dia ngolok-ngolokk aku yaaa daritadi depan abangnya. "Cemana?? Gak bohong aku kan??? Memang ganteng Abangku kan???" "Iya, ganteng. Gak kayak kau yang pas-pasan. Hahaha..." Balasku. "Yakin Abang kalo' si Tria ini adek Abang??? Gak ke tukar bang, pas dulu dia lahir di rumah sakit??? Aku aja masih ragu bang, soalnya klen gak mirip ku tengok" Ujarku sambil memperhatikan muka si Tria dan Abangnya bergantian. "Enak aja muncungg mu asal nyeplos ya buukkk!!! Sodara kami yaaa!! Lahir dari mamak yang sama kami yaaa!! Masih gak caya ko??? Nanti kalo' pas ibukku datang, ku jumpakan yaaa sama mu?!" Ngototnya. "Dah ku bilang, kalo' Abangku ini mirip ibukku. Kalo' aku mirip sama ayahku. Ya kan bang?" Cari pembelaan dia dari Abangnya. Abangnya sambil cekikikan liat kami betekak, cuma bilang " iya dek". "Udah-udah. Dah jam berapa ini?? Gak telat nanti klen masuk ruangan? Nanti kena' marah?" Peringat abangnya. "Eh, iya buk. Ayok masuk kita. Bentar lagi absen loh, dah mau jam 2 soalnya". "Ya udah, ayok" "Bang, kami masuk dulu lah yaaa... Abang nanti jadi jemput adek pas pulangnya kan?? Kalo' gak jadi pun jangan lupa kabari adek, biar gak lama-lama nunggu Abang datang nanti adek disini". "Nanti Abang kabari lagi yaaa". "Ya udah yok buk, masuk kita" Sambil berlalu tak lupa menyalim Abangnya si Tria. Aku pun ikut pamitan, "Bang, masuk dulu kami yaaa". Ujarku sambil berlalu menyusul langkah si Tria. Tapi minus salim yaaa sama Abangnya. Kan bukan mahrom. Hihihi... Sambil berjalan beriringan, si Tria berucap, "Dah percaya kau kan buk, kalo' Abangku ganteng?? Hem... hemmm..." Naik turun alisnya sambil nyoba ngegodain aku. "Iya-iyaaa percaya aku". "Putih kan Abangku kayak oppa-oppa Korea?? Aku aja heran, kok bisa yaaa Abangku seputih itu?? Padahal Abangku tiap hari motoran loh buukkk. Maksudku kalo' kemana-mana pakek kereta, tapi kok ya tetep putih ya??" Bingungnya. "Karna pakek jaket mungkin makanya bisa gak item" Jawabku. "Ihh jarang loh Abangku pakek jaket buk. Emang sih keseringannya dia pakek baju lengan panjang". "Mungkin karna itu kali" Timpalku. "Mungkin juga sih. Ehh kau buk, kok bisa putih coba cem orang cina??" Tanyanya penasaran. "Aku tuh emang dah dari orokk putih loh buuukkk. Kan emang ada turunan chines nya aku mah" Jawabku jumawa. "Iyanya buk?? Pantesan putih x kau, tros matamu pun sipit. Cuma semekott. Hahahaha..." "Bonengg lah kau" Sungutku. Kami pun sampai di ruangan. Meletakkan tas pada tempatnya, baru setelah itu melipir lagi ke Nurse station tuk absen hadir. Karena kami dinas sore, jadi agak lebih santai. Pasien pun jam segini lagi pada istirahat tidur siang. Kami pun memutuskan menulis laporan kami selama di ruangan ini. Kadang kami juga di mintai tolong oleh kakak pegawainya tuk bantu-bantu di Nurse station. Seperti menuliskan askep pada buku status pasien. Atau ikut merapikan Nurse station, kalo' lagi senggang karna tidak ada kegiatan. Daripada bengong-bengong gak jelas and menggosipi hal yang tak baik, kan lebih baik mengerjakan hal-hal yang lebih bermanfaat. Kami pun tidak pernah merasa keberatan kalau di mintai tolong oleh kakak pegawainya, itung-itung bisa sambil mengakrabkan diri dan belajar hal-hal yang belum kami ketahui. Kalo' katanya kan 'sambil menyelam minum air'. Asalkan jangan sampek tenggelam aja karna lupa bergerak and kehabisan nafas. Hehehe... Banyak hal yang kami dapatkan dari kegiatan dinas lapangan selama di rumah sakit. Karna benar adanya yang mengatakan kalo' 'teori dan prakteknya kadang tak sejalan'. Mengapa demikian??? Karna berdasarkan teori kita berpedoman pada apa yang di terapkan dalam buku, yang menuntut kesempurnaan dalam prakteknya. Nyatanya, setelah kita terjun langsung ke lapangannya, misalkan rumah sakit nih yaaa. Belum tentu alatnya lengkap. Dan terkadang cara kita menghadapi pasien pun harus pintar-pintar kita. Tidak sedikit pasien yang kadang membandel karna menolak suatu tindakan keperawatan yang akan kami lakukan. Contohnya nih yaaa, menginfus. Yang sudah dewasa aja kesakitan loh di cucuk jarum gitu. Konon lagi yang anak-anak, buanyaaakkk x dramanya. Baru nampak kita bawa alat-alat aja, si anak kadang dah histeris. Belom di apa-apain tuh looohhhh. Sampek kadang aku gak tega liatnya weee... nangis sampek mbeker-mbeker gitu anaknya. Hati eyke yang lembut inikan meronta-ronta bok. Jadi narik ke diri sendiri, 'Ya Allah... nanti kalo' aku punya anak, misalkan anakku sakit. Ku usahakan dirawat dulu semampuku di rumah. Kalo' emang gak membaik juga baru tindakan akhir ku bawa ke rumah sakit'. Gak tega aja liat anaknya di cucuk gitu. Belom lagi namanya anak-anak, pasti lasak kan??? Gak bisa diem karena gelisah, nangis, ngeluh sakit. Kadang infusnya di cabutnya sendiri, karna menurutnya gak buat nyaman, yang ada malah tambah sakit. Makanya banyak pasien yang anak-anak gak hanya sekali di infus, ada yang berulang kali. Karna gitu tadi kasusnya. Yang akhirnya banyak infusnya di buat di kaki si anak. Infus itukan tujuannya tuk memasukkan cairan ke tubuh. Supaya apa??? Biar yang sakit gak dehidrasi. Namanya orang sakit, pasti gak selera makanlah karna lidahnya pahit. Trus juga jadi malas minum air putih. Jadi, infus itu salah satunya membantu memberikan nutrisi juga ke tubuh kita, walaupun kita makannya sedikit, ataupun kurang minum. Bisa juga menjadi perantara masuknya obat ke tubuh si pasien. Bayangin yaaa kalo' obatnya si pasien bukan cuma obat makan doang. Tau kan obat makan??? Obat yang di konsumsi dengan dimasukkan melalui mulut, di telan, dan nanti bakal di cerna oleh tubuh kita. Kalo' si pasien dapat obat injeksi gimana??? Obat yang merupakan cairan yang di masukkan melalui jarum suntik, yang kemudian di suntikkan ke tubuh kita. Bayangin, kalo' 1 hari itu 3 kali si pasien harus menerima obat injeksi?? Apa gak kabur pasiennya??? Di cucuk sana-sini. Hiiiiii... Aku pun tak mau!! Hehehehe Kalo' klen, cemana woy??? Mau gak di cucuk sana-sini??? Gak kaaannn??? Maka dari itu setiap pasien di rumah sakit pasti di infus, karna itu juga termasuk tindakan awal. Gak semua juga sih di infus. Tapi, kebanyakannya kan emang di infus. Pernah dengarkan ada yang bilang 'Sehat itu Mahal'. Atau ada juga kata-kata motivasi yang mengatakan 'Sehat itu bukan kemewahan. Sehat itu murah, tetapi menjadi mahal ketika sehat berubah menjadi sakit'. Sooo... Ingatlah selalu untuk menjaga kesehatan, jangan sampai menyesal ketika berbagai penyakit mulai muncul dalam tubuh. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD